
"Tidak semua orang pantas di cintai. Jangan mencintai orang yang melukai dan merugikan orang lain. Cinta bagi mereka hanyalah permainan_Vincenzo"
✨✨✨
Seberapa jauh pun kau memijakkan kaki, tak sedikit jejak juga yang sudah membekas dalam perjalanan. Tak ada yang bisa kau rubah lagi setelah semuanya sudah terlewati dan berujung jadi kenangan yang tertinggal.
Karenanya, mari kita menyikapi cinta ini dengan baik.
"Haii, udah lama?" Sena.
"Halo kak. Iya sih. Kakak habis dari mana?" Ivan.
"Oh, itu. kakak habis ketemu kawan tadi," Sena
"Hm, gue sendiri di rumah, makanya ke sini. gapapa kan?" Ivan menunjukkan senyumannya.
"Gapapa, bagus malah. si Selly kemana?" tanya Sena.
"Noh, di dapur. Katanya mau ambil minum buat gue!" ucap Ivan tertawa ringan.
"Sumpah bikin gemas!!" ucap Sena yang sudah menarik pipi juniornya itu.
"Sakiit kak!" teriak Ivan yang sudah bangkit dan mengejar Sena yang berlari ke dapur.
"Sell.... tolongin gue, ivan mau ngebunuh gue!!" ucap Sena yang sudah bersembunyi di belakangnya.
"Stress Lo berdua. Baku bunuh sekalian!" seru Selly.
"Kak Sell, masa gue di aniaya sama dia!" lapor Ivan.
"Udah van, Lo pukul aja dia sampai mampos. Malas gue liat dia tiap hari," Selly
"Tega Lo berdua!" ucap Sena yang sudah beralih ke kulkas untuk mengambil minum.
"Gue minum juga kak. Haus nih," ucap Ivan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Gak ada. Lo udah ngejar gue dari tadi, sekarang minta minum kan lo!" ucap Sena yang sudah menoyor kepala Ivan.
"Tega banget Lo kak!" ucap Ivan cemberut.
"Dih, cowok ko ngambekan. Gak asyik!" seru Sena yang sudah berlalu menuju sofa di ruang keluarga.
"Dek, ambil minum sendiri sana!" ucapnya lagi yang melihat Ivan masih berdiri memandang Selly yang tengah mengupas buah dan sesekali memakan potongan buah.
"Iya!!. Aw!!" jerit Ivan setelah menjawab teriakan Sena, namun punggungnya di tepuk oleh Selly.
"Kenapa lo, orang gue cuma nepuk doang punggungnya udah histeris gak jelas lo!" ucap Selly sebal.
"Sakit kak. Ada lu-" namun ia tidak meneruskan kata-katanya karena merasa salah dengan ucapannya.
"Aneh lo. Mana sini gue liatin punggungnya!" seru Selly yang sudah mendekat.
"Gak kak!. Gue samperin kak Sena aja ya," ucap Ivan gugup seakan ada yang dia sembunyikan.
"Dih, kenapa tu anak?" gumam Selly.
.
.
.
"Kak!" panggil Ivan.
"Hm?" Sena masih fokus ke ponselnya.
"Gue boleh gak sering ke sini?" tanya Ivan yang sudah duduk di sebelahnya.
"Boleh. Tapi, kenapa Lo kek aneh gitu?" Sena merasa ada yang beda dari raut wajahnya.
"Sell, Lo apain adek gue nih??" teriak Sena.
__ADS_1
"Gak gue apa-apain bego," teriak dari dapur.
"Kak!!" Ivan yang sudah menggenggam tanganya.
"Gue boleh gak peluk kakak!" seru Ivan takut.
"Lo kenapa sih, hm?" tanya Sena yang sudah menaruh tangannya di kening Ivan.
"Gue takut kak!" seru Ivan dengan raut wajah yang ketakutan.
"Gak ada hantu disini, gak usah takut lo!" ucap Sena yang sudah menepuk pelan punggungnya
"Aw!!" Ivan menjauhkan diri dari tepukkan tersebut.
"Kenapa tuh punggung?" Sena penasaran.
"Gak, pura-pura aja biar di kasihani!" ucap Ivan dengan senyum nakalnya yang sudah berhasil merengkuh tubuh Sena dengan pelukan hangat dan nyaman.
"Dasar adek gak ada ahklak Lo!" ucap Sena yang membiarkan Ivan memeluknya.
Ding dong!!!
Ding dong!!!
"Eh dek, liat gih siapa yang datang!" seru Sena yang menyuruhnya untuk membuka pintu.
"Hmm," jawabnya dan berjalan ke depan.
"Eh, kak Rey! Masuk kak," sapa Ivan.
"Hai, Lo di sini juga?" Rey.
"Iya kak. Bentar gue panggilin kak Sena ya!" Ivan menuju ke ruang keluarga tempat sena sedang berbaring di sofa.
"Kak, ada kak Rey tuh!" ucap Ivan yang sudah bergabung dengan Selly yang tengah bermain game.
"Hah, kak Rey di mana?" Sena.
"Noh, di ruang tamu, ku suruh duduk tadi!" Ivan.
.
.
.
"Haiii, gue ganggu ya?" Rey tersenyum
"Hai, gak kok. kita lagi santai aja di sebelah! Kakak ke sini gak bilang dulu!" Sena tak enak.
"Kan kakak juga udah sering ke sini!" Rey yang sudah duduk di samping Sena.
"Eh kak, ngapain?" Sena canggung.
"Gak. Cuma mau duduk sini kok!" Rey tersenyum hangat.
"Kan masih bisa duduknya di sofa sebelah tuh!" Sena makin gugup di tambah rona merah di wajahnya.
"Mau dekat kamu doang kok, gapapa kan?" Rey yang menatapnya lembut.
"I-iya gapapa deh!, Duduk ya gue buatin minum dulu!" Sena.
"Gak usah, kan kita mau jalan. Jangan bilang lo lupa dek!" Rey masih menatapnya.
"Ya ampun, gue lupa kak. Habisnya dari tadi lagi seru main sama Selly dengan Ivan," Sena.
"Jangan keseringan main sama Ivan, kakak cemburu!" Rey terang-terangan.
"Maksudnya?" Sena bingung.
"Udah sana cepatan siap, kakak tunggu gak pake lama!" Rey yang mendorongnya pelan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit....
"Lho kak, Selly sama Ivan mana?" Sena tidak melihat keberadaan mereka.
"Udah balik tadi, katanya gak mau ganggu kita berdua!" Rey yang sudah bangkit meraih tangannya.
"Kok gitu sih mereka!" Sena.
"Mana kakak tahu, mereka peka juga ya!" Rey tersenyum mengingat bagaimana ia memberitahu kedua juniornya tadi agar memberi waktu untuknya dan Sena.
"Kakak gak ngomong sembarang ke mereka kan?" Sena memastikan.
"Nggak sayang!" Rey yang sudah menggandengnya.
"Kakak aneh deh, gak lagi sakit kan?" Sena yang sudah jinjit untuk menyentuh kening seniornya.
"Sehat gue. Ayok!!" Rey.
Di pantai.........
"Kak, ngapain kita ke sini malam-malam? Tapi rame banget ya!" Sena yang sudah duduk di kursi yang di sediakan di bibir pantai tersebut.
"Mau ngapain lagi, kan kitanya mau jalan-jalan!" ucap Rey sambil mengacak rambutnya.
"Gue baru tahu lho, disini ternyata rame banget kalau malam!" Sena tersenyum senang.
"Makanya sering-sering ke luar rumah!" ucap Rey yang fokus menatapnya.
"Ga ada yang ajak gue mah, takut sendiri. Nanti deh lain kali gue ajak Ivan sama Selly ke sini!" Sena yang masih fokus melihat ke arah laut dengan angin yang berhembus pelan.
"Sama gue aja ya, jangan mau di ajak sama orang lain!" Rey yang sudah memesan makanan.
"Iyain biar diam!" Sena menatap kearahnya
"Cantik!" gumam Rey yang juga tengah menatapnya.
"Iya gue tahu kak, gue emang cantik!" seru Sena percaya diri.
"Dek!" panggilnya.
"Hmm?" Sena tengah menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tetap seperti ini ya, gue nyaman!" ucap Rey ambigu.
"Maksud kakak?" tanya Sena yang menatapnya.
"Gue gak tahu ini kapan, tapi gue udah sadar sekarang!" seru Rey tersenyum.
"Apaan coba!" Sena penasaran.
"Nggak! udah makan lanjut!" ucapnya sambil mengacak rambut juniornya yang masih kebingungan.
Namun,,,
Mereka berdua tak menyadari seseorang yang sudah menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.
Ia ternyata berada di sebelah meja mereka berdua. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Namun, haruskah ia tetap bertahan dan menunggu seperti yang ia lakukan saat ini? atau berhenti dan pergi tanpa ada yang tahu perasaannya.
"Bagaimana gue bisa meyakinkan diri, jika ini akan terlihat baik-baik saja. Haruskah gue benar-benar mengistirahatkan diri? Atau apa gue sedang di permainkan oleh perasaan gue sendiri?. Dari awal gue emang gak suka jika ia tumbuh sebesar dan sedalam sekarang tentang perasaan gue ke lo. Tapi gimana buat gue atasi lagi, gue bahkan udah terlarut terlalu dalam sekarang," batinnya.
Entah sadar atau tidak ia sudah berdiri dan menghampiri mereka berdua yang tengah bercanda ringan.
Sampai......
"Senaa...!" panggilnya dan,
Cup !!!
Ya, ia sudah mencium pipi Sena yang tengah mematung sekarang. Tidak berbeda juga dengan Rey yang menatap tajam terhadap pelakunya.
Ia yang kembali sadar pun, tiba-tiba lidahnya menjadi kelu, dan tak bisa mengucapkan apa-apa lagi yang pada akhirnya.
__ADS_1
"Maaf!!" ucapnya pelan dan meninggalkan kedua orang yang dibuatnya memantung dengan apa yang sudah terjadi.
_11 Juni 2021