Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Bergumam-gumam


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Nana dan Bian akhirnya memutuskan untuk berdiskusi dengan seluruh anggota keluarganya. Termasuk juga keluarga Han.


Mereka semua menanggapinya dengan serius. Yang kemudian sepakat untuk membicarakannya pada pihak hotel.


Mereka memutuskan agar pernikahan tidak jadi dilaksanakan di hotel tersebut dan tetap akan bertanggung jawab penuh pada pembayaran.


Meskipun segala persiapannya telah rampung di selesaikan .


Namun bukan berati pernikahan batal dilakukan, melainkan hanya mengundur waktunya untuk mencari tempat baru yang lebih privasi dan aman dari hal yang di khawatirkan.


Tentu saja, pihak hotel mau mengerti setelah tau apa penyebabnya. Pemilik hotel kemudian merekomendasikan tempat yang sekiranya bisa dijadikan alternatif.


Sebuah penginapan yang letaknya sedikit jauh dari pusat kota. Yang ternyata masih berada dibawah naungan pemilik yang sama.


Menurut penuturan mereka, meskipun sederhana namun mereka menjamin jika tempat dan suasananya akan sangat sesuai dengan yang dibutuhkan.


Karena penginapan tersebut tak begitu dikenal banyak orang.


Mereka pun siap menambah personil keamanan dan juga akan bekerja sama dengan pihak kepolisian.


Dengan demikian ,acara pernikahan Han dan Cecilia tetap dapat terlaksana sesuai jadwal yang sudah ditentukan .


* * *


Hari yang dinanti pun tiba.


Sejak pagi semua orang sudah sibuk mempersiapkan diri .


Terlebih kedua calon mempelai yang berada diruang rias.


Mereka semua nampak begitu antusias menyambut hari ini. Senyum sumringah tak sedetikpun luntur di wajah - wajah yang akan menjadi saksi dua insan mengikat janji sehidup semati.


Mereka bahagia.


Tapi suasana sedikit berbeda pada Nana dan Bian.


Mereka masih merasa was-was dan tak tenang.


Meskipun pihak hotel berkali-kali meyakinkan jika mereka akan bertugas menjaga keamanan dengan baik.


Tapi tetap saja, pasangan suami istri itu gelisah.


Di ruangan yang telah disulap dengan indah.


Dekorasinya di dominasi warna putih. Tirai-tirai putih bergelombang mengitari dindingnya. Ornamen dedaunan merambat dan bunga berwarna pink dan putih pun menjadi pelengkap dari pernikahan yang mengusung tema natural.


Meja - meja bundar yang hanya berjumlah sepuluh , di alasi taplak berwarna senanda .


Di atasnya diletakkan pot berisikan beberapa perpaduan bunga berwarna putih dan pink.


Aura bahagia terpancar di wajah setiap orang yang telah bersiap di posisi mereka masing-masing.


Mereka semua mengenakan pakaian serba putih, berdiri dengan pandangan mengarah ke pintu masuk.


Jam menunjuk pukul 6 tepat.


Sang mempelai masuk secara bersamaan.


Han dengan stelan navy tanpa dasi, yang tiga kancing kemeja dalamnya dibiarkan terbuka. Dan sebagai pemanis, setangkai bunga mawar putih diselipkan disaku kanan jasnya .


Sementara Cecilia yang menggandeng lengannya, mengenakan gaun kemben berwarna peach yang hanya sepanjang mata kaki . Cecilia berjalan anggun dengan kedua kaki dibalut heals berwarna putih.


Wajahnya yang putih di poles dengan hiasan natural . Mahkota coklatnya disisipi bunga berwarna putih ditiap lipatan rambut yang terbagi tiga ,yang kemudian di satukan menjadi sebuah kepangan.


Helaian rambut pendek dibiarkan bergelantungan di tepian, membuat tampilannya kian sempurna.


Han meliriknya.


Sempat terbesit minder dalam benaknya.


Ia yang tak seberapa, baik dari segi tampilan maupun materi bisa menikahi Cecilia yang nyaris sempurna.


Namun segera ia tepis perasan tak mengenakkan itu.


Acara sakral itupun dimulai.


Seluruh prosesinya berlangsung lancar tanpa halangan.


Semua menyambut senang sekaligus lega. Karena hal yang dikhawatirkan tak terjadi.


Hingga Han dan Cecilia dinyatakan sah sebagai suami istri, dan acara pernikahan tersebut berakhir dan di tutup dengan makan malam bersama.


* * *


'' Pagiiiii.. '' sapa Nana pada semua orang yang telah lebih dulu duduk mengitari meja makan.


Mereka bersiap untuk sarapan bersama dihari pertama mereka setelah disatukan menjadi satu keluarga.


Nana menebar senyum sambil menatap satu-persatu wajah mereka. Kedua mertuanya, keluarga Han , dan -


Nana terpaku sesaat melihat pasangan pengantin baru yang tak ia sangka ada.


Han dan Cecilia duduk bersebelahan dengan ekspresi datar.


Tak seperti pasangan yang baru saja menghabiskan malam pertama sebagai suami istri.


Tak ada aura khusus seperti seri-seri khas pengantin baru.


'' *M*ungkin kelelahan '' begitu yang kompak ada dipikiran mereka. Nana pun berpikir sama.


Padahal ia berniat menggoda Han. Tapi sepertinya harus ia urungkan.


" Bian sama Dion mana ? " tanya Natasya saat sang menantu mendudukkan diri di sampingnya.


" Masih tidur, Mi . Gak mau dibangunin.


Jadi sarapannya tadi Nana pesenin biar diantar dikamar aja "

__ADS_1


Natasya mengangguk lalu terlihat berbicara pada Conor. Sepertinya Conor bertanya hal yang tadi Natasya tanyakan .


Nana lalu melirik lagi pasangan yang masih saling diam . Bahkan duduk mereka pun berjarak dan terlihat menghindari tatapan satu sama lain.


Selama sarapan, Han dan Cecilia masih seperti itu.


Nana heran.


Apalagi saat sarapan selesai .


Cecilia pamit dan beranjak lebih dulu.


Mereka yang mengira jika mungkin Cecilia masih merasa lelah pun memaklumi dan tak curiga.


Berbeda dengan Nana yang penasaran dan mulai menebak - nebak. Ada apa gerangan dengan mereka.


Rasa curiga Nana semakin menjadi - jadi. Sebab Han tak menyusul dan justru terlihat menuju ke meja prasmanan untuk mengambil kopi.


- -


Han terlihat menghela nafas dengan tangan memegang wadah cangkir kopi hitamnya.


Saat berbalik , ia yang tengah hanyut dalam pikirannya tersentak .


Pak Tole berada dibelakangnya.


Supir Bian itu sepertinya juga hendak mengambil kopi.


" Penganten baru kok ngela nafas, den " celetuk pak Tole yang sejak tadi memperhatikan gelagat Han.


Pak Tole terkekeh melihat wajah Han yang murung.


Ia sudah bisa menduganya.


Pasti ada sesuatu yang membuat seseorang yang seharusnya dalam keadaan on justru terlihat off.


" Apalagi kalau bukan masalah malam pertama "


Pak Tole mengulum senyum. Menahan tawa yang ingin meledak. Namun tak mungkin ia lakukan karena pasti dianggap tak sopan .


Apalagi melihat Han masih murung dan bergeming.


" Maaf, ya den kalau bapak sudah lancang.


Bapak permisi dulu " pamit Pak Tole yang sudah mengambil kopi pesanannya.


" Eng - pak " panggil Han setengah sadar .


Pak Tole berbalik dan tersenyum .


Didapatinya wajah Han yang merona malu.


" Khe khe khe khe.. gak papa, den. Kalau emang gak bisa jangan dipaksa..


Sekali lagi maaf kalau perkataan saya tadi menyinggung.


Soalnya raut muka den muram gitu.. Jadi saya nebak ,mungkin masalah klise penganten baru "


Dalam hati pak Tole terkekeh lagi.


Tebakannya ternyata sama sekali tak meleset.


" Ba- bapak bilang apa ?


Ma-masalah klise penganten baru ? '' Han bertanya dengan nada serendah mungkin .


Ia tak mau sampai ada yang mendengarnya.


'' Saya ini sudah banyak pengalaman, den.


Sudah pernah dan dua kali menikah . Jadi hal begituan saya paham ''


Han menarik pak Tole dengan memegang ujung lengan bajunya menuju ke meja yang ada dipojokan.


Han lalu meminta pak Tole duduk . Ia berniat melanjutkan pembicaraan .


'' Emmm... '' gumam Han dengan mengedarkan netranya ke sekitar yang tak begitu ramai.


Pak Tole tau, jika pria dihadapanya ini masih ragu.


'' Ah, si den.


Tadi narik. Sekarang diam.


Kalau masih ragu gak usah dipaksain, den ''


Han menarik nafas.


'' Maksudnya masalah penganten baru yang bapak bilang tadi itu, gimana ya ? ''


'' Ooo jadi bener, to. Ada masalah sama malam pertamanya... ''


Han mengangguk samar.


'' Tap-tapi .. Apa saya bisa percaya sama bapak ''


Pak Tole mengangguk. Lalu terkekeh lagi dalam hati.


'' Jadi keingat mister dulu ''


'' Emmm... Jadi, gini pak .


Saya mau tanya apa semua perempuan merasa sakit saat pertama kali melakukannya ? ''


" Nah, lo kan.. bener ! ckckck..


Nemu lagi laki-laki yang kaya begini.


Masa iya mereka sama sekali gak tau menahu soal begituan ?


Dasar para perjaka ting-ting "

__ADS_1


" Begitulah kira-kira den " pak Tole mengangguk lagi . Beberapa saat ia menunggu apa yang selanjutnya yang akan dikatakan Han.


Di perhatikannya Han yang nampak berpikir dengan serius.


Dan sekarang tiba-tiba Han menatapnya. Menarik nafas sekali hirup dan menghembuskan dengan tegas.


Han pun melanjutkan apa yang sejak semalam mengganjal dihatinya.


" Janji, ya pak. Ini cuma antara bapak sama saya "


" Sama yang diatas juga, den " pak Tole menunjuk dengan ke dua bola mata naik ke atas.


* * *


Disaat yang bersamaan.


Nana memutuskan kembali ke kamar untuk siap-siap berkemas pulang.


Nana yang baru keluar dari lift langsung melanjutkan langkah menuju kamar yang ia tempati bersama suami dan anaknya.


Dari jarak yang tak jauh lagi, langkah Nana tiba-tiba melambat . Ia menajamkan penglihatan dengan tatapan lurus ke sana.


Seseorang berdiri didepan pintu kamarnya.


Itu Adit.


Mengenakan sweater hitam dengan penutup kepala yang menutupi wajahnya. Adit menatapnya dengan kepala miring dengan senyum menyeramkan.


Langkah Nana terhenti.


Entah apa mau pria itu.


Keduanya sama-sama bergeming beberapa saat.


Hingga terlihat Adit yang mulai berjalan ke arahnya. Nana pun sepontan berbalik dan langsung mengambil langkah seribu.


' Bruk ' Nana menabrak seseorang.


'' Dedi '' Nana lega melihat ayah mertuanya .


Conor mengulurkan tangan, membantu Nana berdiri sambil bertanya apakah ia baik-baik saja atau tidak.


Conor nampak heran melihat Nana celingukan seperti mencari sesuatu.


Tak mendapat jawaban, Conor lalu ikut mengedarkan pandangan.


Dilihatnya seseorang dengan tampilan yang begitu mencurigakan sedang berlari .Namun tiba-tiba berhenti dan berbalik arah.


Conor merasa seperti pernah melihatnya .


Ia pun coba mengingat-ingat .


Tak salah lagi. Dialah pria yang mencurigakan waktu itu.


Conor menyuruh Nana untuk mencari bantuan dengan menunjuk seorang petugas housekeeping yang kebetulan baru saja keluar dari salah satu kamar tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Tak sulit bagi Nana untuk mengerti apa yang Conor maksud.


Meski ia tak mengerti semua ucapannya, namun kata ' help ' dan kemana telunjuk itu mengarah, cukup membuat Nana paham akan maksudnya.


Baru saja Nana akan mengangguk, Conor sudah berlari meninggalkannya . Conor pergi mengejar Adit.


Nana panik.


Ia pun segera menghampiri wanita yang tengah mendorong troli berisi peralatan kebersihan dan langsung memintanya untuk mengubungi pihak keamanan.


Satu jam kemudian.


Sebuah ambulance memburu masuk ke kawasan hotel dan berhenti tepat didepan pintu masuk tangga darurat.


Nampak pula dua buah mobil polisi yang lebih dulu datang berada tak jauh dari tempat ambulan terparkir.


Samar terlihat seseorang yang duduk di dalamnya, tengah memperhatikan sekitarnya.


Pandanganya kemudian fokus saat pintu ambulans terbuka . Dua orang pria petugas medis mengeluarkan tandu dan masuk dengan langkah cepat melewati pintu yang di jaga oleh pria berseragam.


Tak berselang lama, dua petugas medis tadi keluar dengan menggotong seseorang yang dibaringkan di atas tandu.


Sosok yang terbujur dengan darah menetes entah berasal dari bagian tubuh yang mana, langsung di bawa masuk ke bagian belakang mobil.


Belum sempat pintu ditutup, terlihat beberapa orang mendekat dan mengerumuninya.


Adit yang telah diamankan dan sedang di jaga seorang petugas polisi di dalam mobil pun semakin memperjelas penglihatannya .


Nana ada di antaranya.


Wajah wanita itu terlihat sembab. Nana pasti menangis.


Lalu dilihatnya sebuah tangan melingkar di punggung dan membawa masuk tubuh Nana kedalam dekapan.


Adit yang melihat bagaimana pasangan suami istri saling berpelukan pun termangu. Namun raut wajahnya dengan cepat sudah berubah.


" Tidak ! Ini tidak adil !


Masa tidak sedikit pun kebahagiaan yang tersisa untuk ku ?


Tidak- ini tidak mungkin .


Apa aku akan kembali ke penjara dan hidup menderita lagi... ''


Adit berguman - guman sambil menggeleng.


Matanya terus menatap ke sana.


' Prang ' Polisi yang duduk didepannya memukul besi yang menjadi penghalang antara ruang depan dan belakang mobil.


Adit tersentak. Ia tertunduk saat mendapat tatapan tajam dari si polisi berkumis.


Adit membungkukkan duduknya dan terdengar kembali bergumam - gumam.


Seperti seorang dukun yang tengah membaca mantra sambil menggoyang-goyangkan badannya.

__ADS_1


__ADS_2