
✨✨✨
Hujan. Pertama kali ia turun, aku begitu merasakan harumnya bau tanah, semakin aku menikmatinya semakin juga pikiran ikut bekerja.
Saat hujan aku banyak sekali mengingat hal-hal yang sudah terlewati, tak luput juga aku sering menghabiskan waktu untuk berpetualang dalam pikiran ketika hujan.
Orang banyak menganggap hujan adalah momen yang pas untuk tidur, makan dan lain sebagainya.
Kadang ketika aku berpikir, sering sekali aku mengira bahwa hujan adalah perantara masa lalu, yang mau mejadi pemandu dalam mengulang kejadian-kejadian yang telah terjadi.
Terkadang pikiran harus menentang hati yang selalu dan selalu pro kontra dalam kesejajaran bertindak.
Orang sering bilang ketika hujan akan ada genangan dan kenangan. Tapi entahlah,, mungkin semestinya selalu seperti itu, ucapnya lirih.
“Wahh,,, akhir-akhir ini, ada banyak sekali yang berubah. Sepertinya aku harus lebih mempersiapkan diri lagi mengahadapi banyak hal yang terus berdatangan,” ucap Sena ketika sedang duduk dan menikmati hujan di teras depan.
.
.
.
.
Drrrrrt, drrrrt, drrrrt!
"Halo, Kak!" Sena
"Lagi hujan ya,"
"Iya. Harum bau tanahnya ke rasa banget," Sena.
"Dingin gak?"
"Sedikit, tapi sejuk dan cukup nyaman," Sena.
"Jangan terlalu lama di luar ruangan, nanti pilek"
"Sepertinya aku akan sedikit lama. Terlalu banyak genangan yang terlewatkan akhir-akhir ini," Sena.
"Ada rindu gak? "
"Hmm, hampir sampai di titik jenuh pada penampungannya. Haruskah ku kosongkan kembali dan mulai menabungnya lagi?" Sena.
"Gak perlu. Habiskan saja dulu. Agar terobati hasil celengmu sejauh itu."
"Sayangnya, hampir gak bisa sama sekali. yang menjadi objek, terlalu susah di gapai," Sena sambil menyesap cokelat hangat.
" Wae ?. Bukankah akan terobati jika ada pertemuan?. Kenapa tidak berusaha untuk itu?!. "
" Menurutmu, apa yang paling berat dari rindu itu sendiri?" tanya Sena.
" Terlalu merindukan sampai tak lagi mau untuk bertemu karena sudah terlalu nyaman dengan merindu mungkin! "
"Hmm. Mungkinkah?" Sena.
__ADS_1
" Bisa saja,. Manusia kadang punya titik dimana ia akan merasa jenuh juga bukan!. Karena terkadang yang kita paling ingini malah terlalu susah untuk kita gapai. Sedangkan apa yang sudah kita miliki tidak terlalu kita pusingkan sampai pada akhirnya yang kita genggam pun akan membelenggu. "
"Entahlah. Kadang otakku pun kurang mampu mendefinisikannya," Sena.
"Apakah kamu baik-baik?. Bagaimana dengan rindumu?"
"Menurut mu?" tanya Sena.
"Heheh,,,. Sepertinya kurang baik. Jawablah juga pertanyaan ku yang kedua tadi."
" Rindu ku terasa begitu berat. Sampai aku pun tak ada cara untuk berusaha mengobatinya,p" Sena.
"Butuh solusi? Hmm?!"
"Sudah bertahun-tahun aku berusaha mencari solusi terbaik. Tapi tak satu pun terlintas. Selain hanya dengan satu cara yang ini," Sena.
" Bagaimana caranya "
" Menikmati hujan!" Sena.
"Tanpa bertemu?"
" Bukankah itu terlihat keren bukan!" Sena.
"Apakah kamu tidak ingin mengobatinya dengan pelukan yang hangat. Karena setahuku untuk membayar rindu yang amat berat hanyalah dekapan hangat dari orang yang di rindukan. Kenapa harus dengan hujan?"
"Aku cuma mengikuti apa yang orang sering bicarakan. Hujan yang punya genangan akan mampu menghadirkan kenangan lewat genangannya. Dan itu adalah satu-satunya cara untukku," Sena.
"Mengapa kamu sepasrah itu!"
"Hmm. Aku mengerti. Mau bakso?"
"Lagi hujan. gak bisa keluar buat beli," Sena.
" Aku di depan, bukain pintunya. Udaranya cukup dingin ternyata."
"Maksud Kakak?!" Sena.
Ia pun menuruni tangga menuju pintu depan. Rasanya tidak percaya orang yang tengah mengobrol dengannya barusan sudah berdiri lama di depan rumahnya.
"Ya ampun, Kak Rey. Kenapa gak ngomong dari tadi. Dingin di sini tau!" Sena.
"Habisnya, obrolan kita lagi seru, hehehe" Rey
"Nanti sakit lo," Sena.
"Boleh masuk gak nih?" tanya Rey.
"Oh, ia sampai lupa. Ayo masuk, sini baksonya biar See bawa ke dalam," Sena.
"See?" tanya Rey bingung.
"Oh, maaf. gue di rumah sering di panggil gitu, makanya kelepasan," Sena.
"Gapapa, santai. Buruan dong siapin piringnya udah gak sabar pengen makan," ucap Rey tak sabar.
__ADS_1
"Oh, sebentar ya Kak. Maklum bibi lagi istirahat jadi gak bisa bantu. Duduk sebentar ya," Sena.
"Siap!" Rey.
.
.
.
.
"Suka yang pedas?" Rey.
"Suka tapi jangan terlalu kepedasan gak mampu gue makannya," jawab Sena.
"Enak Lo, kalo di tambahi Lombok lagi!" ucap Rey menggodanya.
"Aku gak bisa makan yang terlalu pedas," Sena jujur karena takut terulang kembali kejadian minggu lalu.
"Gitu dong, jangan pura-pura makan kalau memang gak sesuai dengan apa yang kamu suka," ucap Rey mengelus lembut kepalanya.
"Eh, maksud Kakak," Sena.
"Maaf ya. Kakak gak tahu kalau kamu alergi sama seafood!. Lain kali bilang ya, gak usah perasaan sama kakak. Kakak tuh lagi berusaha banget untuk buat kamu nyaman di dekat aku," ucap Rey tulus.
"Gak usah terlalu perhatian gitu Kak. Takut baper nanti, heheh" ucap Sena Nyengir.
"Gapapa, malah bagus tuh!" ucap Rey serius.
"Santai aja Kak. Aku orangnya gak suka baperan kok!" ucap Sena tersenyum.
"Ya, udah makan lagi keburu dingin tuh," ucap Rey mengalihkan pembicaraan dengan wajah sedikit kecewa.
"Kakak beli baksonya di mana? Enak banget, rasanya juga agak beda dari yang biasa Sena makan!" tanya Sena seru.
"Suka baksonya?" tanya Rey melihat Sena yang tengah menikmati makanannya.
"Suka banget. Kapan-kapan aku juga mau makan langsung di tempatnya deh. Kakak kirimin alamatnya nanti ya!" ucap Sena berharap.
"Gak usah. Nanti kakak temanin makannya," ucap Rey serius dan tersenyum.
"Benarkan Kak?. Kakak kan lagi sibuk!" tanya Sena.
"Kakak selalu ada waktu buat kamu dek!" ucap Rey pasti.
"Kakak bisa aja." ucap Sena.
"Kakak akan luangkan waktu serius , kalau mau makan nanti hubungi kakak aja ya," ucap Rey.
"Kak..!" panggil Sena.
"Ya, kenapa?" tanya Rey sambil melihatnya.
"Makasih banyak loh, udah sering nemanin gue jalan, makan dan masih banyak lagi. Gue ngerasa ngerepotin kakak banget. Kalau kakak butuh apa-apa hubungi aja, walaupun gue tahu kakak gak terlalu banyak mengalami kesulitan karena kakak bisa dengan, kemampuan kakak, gue bakal berusaha bantu kakak sebisa mungkin. Gue gak enak berhutang terlalu banyak sama kakak," ucap Sena serius.
__ADS_1
"Gapapa dek. aku malah senang bisa bantu kamu sebisa mungkin. Kakak ikhlas lakuin itu semua. Jadi jangan merasa berhutang gitu dong. Kita kan udah temenan sekarang," ucap Rey sambil mengelus kepala Sena lembut, sepertinya sudah menjadi kebiasaan baru kalau ia bertemu dengan gadis ini.