
🌺 hem... 🌺
* * *
'' sebenarnya bantuan apa yang kau inginkan dariku ? ''
Nana menyerahkan sebuah handbag kecil .
Han menerima dan langsung mengintip isinya.
Matanya membela tak percaya, melihat dua gepok rupiah didalamnya.
Han menatap Nana penuh tanya.
'' Ini adalah uang terakhir yang kupunya. Aku merampoknya dari Bian '' Nana terkekeh .
Begitupun dengan Han. Ia menggeleng mendengar pengakuan seorang istri yang mengambil uang suaminya sendiri dan menyebutnya merampok.
'' kau pernah kuceritakan tentang adik mak Siti ku, kan ?
Apa saja bisa terjadi nanti. Dan aku hanya ingin berjaga-jaga saja.
Mana tau mereka tiba-tiba meminta uang lagi.
Itu yang menjadi alasanku meminta bantuanmu.
Aku gak punya ATM yang bisa kugunakan di sana .Kalaupun ku simpan ditabung mak Siti ..
Aku takut mereka akan memaksanya seperti waktu itu.
Jadi, aku ingin kau menyimpan uang ini sampai nanti aku memerlukannya.
Karena ini adalah persiapan ku untuk saat yang paling kubutuhkan ''
'' ... ''
'' aku tak tau apa di sana aku bisa bekerja atau tidak.
Maka dari itu, aku berharap dapat menyimpan dan menggunakannya disaat benar-benar tak ada pilihan lain ''
'' ... ''
'' aku percaya padamu, Han ''
Han menilik lagi isinya.
Sebegitu percaya Nana padanya.
Lalu kembali ia menegakkan kepala, menatap Nana dan mengangguk. Tanda menyanggupinya.
'' dan satu hal lagi. Ini tentang Bian ''
Han menghela nafas.
'' dia pasti sudah tau kemana aku pergi. . ''
'' lalu ? ''
'' jika suatu saat dia datang menemuimu, jangan katakan apapun tentang ini ''
'' Nana ''
'' aku rasa sudah cukup semua yang ingin kusampaikan padamu.
Aku mungkin jarang bisa menghubungimu.
Dan nomor yang akan kugunakan nanti, itu hanya kamu sendiri yang tau.
Karena itu, jika sampai dia mengetahui dan menelpon ku.
Maka itu sudah pasti kau yang memberitahunya.
Dan jika sudah demikian, aku terpaksa memutuskannya semuanya.
Termaksud komunikasi denganmu ''
'' kau mengancam ku ? ''
'' em. Anggap saja begitu ''
Han tergelak. Siapa yang membutuhkan siapa. Lalu kenapa justru dia yang diancam.
Dan yang lebih lucunya ia kembali menyanggupi permintaan Nana.
'' aku cuma mau tenang selama menjalani masa kehamilan ku ini .
Jika aku sampai mendengar atau melihatnya, aku pasti akan teringat lagi pada perlakuan ibu dan Oma .
Meski itu bukan salahnya, Tapi tetap saja hatiku sakit mengingat dia yang acuh pada perbuatan mereka ''
'' Nana . Kau tau tak akan bisa selamanya berada disana kan ? ''
Nana mengangguk.
'' suatu saat nanti aku pasti pulang . Tapi aku tak tau apa aku masih bisa kembali padanya atau tidak.
Itu semua tergantung padanya.
Apa dia masih setia menunggu ku atau tidak ''
'' aku tak tau bagaimana cara pikirmu. Kau bilang mencintainya tapi kenapa pergi meninggalkannya ''
'' bukankah sudah kubilang, alasan aku gak bisa bertahan karena dua orang itu yang selalu ada diantara kami .
Sama seperti Bian. Prioritas ku pun bukan dia.
Tapi anak .
Jika memang kami masih berjodoh , seperti apapun nanti kami pasti bisa kembali bersama lagi.. ''
* * *
Han teringat saat melepas kepergian Nana beberapa bulan lalu.
Selama ini, meski jarang tapi Nana selalu mengiriminya pesan atau sesekali ia yang akan menelpon untuk saling bertukar kabar.
Saat Nana mengatakan jika ia bekerja padahal sedang hamil, Han yang perihatin sempat terpikir untuk memberitahukannya pada Bian.
Tak bisa ia bayangkan bagaimana tubuh kecil yang tengah hamil itu setiap harinya bekerja dengan mendorong gerobak ke pasar dan berdiri berjam-jam , melayani para pembeli .
Han teringat pada Laras. Menyaksikannya sendiri bagaimana sang adik mengalami beraneka ragam keluhan saat hamil saja, ia tak tega.
Apalagi jika ia melihat langsung apa yang Nana lakukan di sana.
Jika bukan karena janjinya pada Nana yang sudah terlanjur ia sanggupi. Mungkin saat itu ia sudah ke Jakarta dan menemui Bian dan mengatakan semuanya.
Dan mungkin , inilah saatnya. Pun ia tak bisa lagi menahan diri. Ia akan mencoba meluruskan masalah diantara suami istri ini . Dan berharap mereka bisa segera kembali bersama lagi.
Demi anak yang kini telah lahir.
Han mengangkat tangan yang terkepal .Lalu mengetuk pintu kamar yang ada di hadapannya.
'' hei '' sapa Bian saat membukanya pintu.
Han tersenyum.
'' dimana sebaiknya kita bicara ?
Di lobby atau.. ''
'' lebih baik di dalam saja. Karena kita akan butuh susana yang tenang '' jawab Han cepat.
Bian pun membuka lebar pintu dan mempersilahkannya masuk.
Dua pria dengan selisih tinggi badan tak seberapa itu duduk berhadapan.
'' ada yang harus ku perlihatkan dulu padamu.
__ADS_1
Tapi sebelum itu, kau harus menyanggupi apapun yang ku katakan dan juga yang akan ku isyaratkan nanti '' ucap Han yang terlihat merogoh saku depan celana dan mengeluarkan smartphone nya.
'' maksdunya ? ''
'' aku minta kau untuk tidak mengeluarkan sedikit pun suara.
Dan jangan dulu bertanya sampai kau selesai melihatnya sendiri ''
Meski ragu, namun karena diliputi rasa penasaran Bian pun mengangguk setuju.
Han lalu membuka kunci pada layar ponselnya dan terlihat menghubungi salah satu nomor dari daftar kontaknya. Han mengangkat tangannya sejajar kepala, saat sambung vidio call nya mulai terhubung.
'' heiiii... '' suara yang tak asing terdengar menyambut panggil tersebut.
Bian yang duduk seketika berlonjak berdiri. Hampir ia menghampiri ,namun Han menggeleng samar. Sebuah isyarat yang mengingatkan apa yang belum lama ia katakan tadi.
Bian menarik nafas lalu kembali duduk.
'' gimana ? '' Han merubah air mukanya agar terlihat seperti biasa.
'' akhirnya semalam....'' terdengar menghela nafas lalu lanjut berbicara.
Han tersenyum lebar, bersikap seolah-olah ia antusias .Sesekali ekor matanya menilik pria yang duduk didepannya.
Dengan kedua siku menancap di lututnya, Bian nampak mendengarkan dengan seksama suara istrinya yang tengah berceloteh.
Semakin lama ia mendengarkan apa yang tengah Nana ceritakan, Bian terlihat mulai gelisah.
Han tak tau pasti apa yang ada dibenak Bian.
Tapi melihat dari telapak tangan yang kini saling menyatu dan meremas dengan kuat . Han tau, Bian berusaha menahan diri .
Beberapa kali Han terdengar menyelipkan satu dua kata untuk menanggapi Nana yang mulutnya seolah tak bisa berhenti bicara .
Han mencuri lihat lagi pada Bian yang masih bergeming dengan posisinya yang tak berubah .
Han teringat saat kemarin pagi Nana mengiriminya pesan, mengabarkan jika ia tengah berada di klinik bersalin.
Sejak subuh ia sudah merasa mulas dan mulai mengalami kontraksi yang teratur.
Dan seharian kemarin, Han yang khawatir beberapa kali menelpon untuk menanyakan keadaan Nana. Meski panggilan yang ia lakukan tak selalu dijawab, namun Nana tak putus mengiriminya pesan. Hingga menjelang sore, Nana mengatakan akan segera masuk keruangan untuk bersiap melahirkan.
Menjelang tengah malam Han mendapat kabar bahwa Nana telah melahirkan seorang bayi laki-laki secara normal.
Nana bahkan mengiriminya vidio dan foto sang anak.
Membuat Han merasa miris.
Seharusnya bukan dia yang menjadi tempat Nana berbagai kebahagiaan.
Karena bagaimana pun , Bian lah yang sebenarnya lebih berhak untuk tau jika ia telah menjadi orang tua.
Ayah dari anak yang baru kini ia ketahui keberadaanya.
''rasanya luar biasa.. '' Nana mengakhiri ceritanya yang terdengar begitu bersemangat.
Han membuyarkan lamunannya.
Ia menatap kagum pada Nana.
Kaum hawa memang memiliki kelebihan yang luar biasa. Bagaimana tidak. Sama seperti saat Laras melahirkan sebulan lalu.
Sakit yang harus ditahan membuat mereka sampai menangis lalu berakhir dengan teriakan.
Han tak tau jika tak menyaksikannya sendiri.
Ternyata seorang wanita harus melewati penderitaan dari rasa sakit untuk bisa membawa kehidupan baru ke dunia ini.
Dan puncak dari semua rasa sakit tadi berakhir , seolah tak ada artinya dan berganti haru juga senyum merekah tanda bahagia.
Sosok mungil yang berhasil mereka keluarkan seolah menjadi penghilang semua rasa sakit yang tadi menyelimuti .
Hal yang perna ia lihat pada Laras , nampak terpancar pula dari wajah Nana saat ini.
Padahal kemarin saat mereka melakukan vidio call, wajah Nana nampak pucat dengan alis hampir bertemu dan kening yang mengkerut. Sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa ia tengah menahan sakitnya kontraksi.
'' o, ya Kamu gak kerja ? ''
'' kerja. Habis nganterin majikan aku ke hotel.
Sekarang dia lagi ada pertemuan di lobby.
Terus aku disuruh nunggu dikamar ''
'' oooo.. ''
'' o, ya . Mana si jagoan ?
Kasi liat dong.. ''
Nana pun mengarahkan kamera pada bayi yang berada di sampingnya.
Han berdiri, menatap Bian dengan menaikan dagunya dan menggerakkan sekali lehernya kesamping. Isyarat agar pria itu segera pindah dan berdiri di sampingnya.
Han kemudian mengatur kamera pindah ke belakang. Gambar yang tadinya memperlihatkan wajahnya pun kini beralih pada apa yang ada disekitarnya.
Hal tersebut ia lakukan agar Bian bisa melihat apa yang terpampang dilayar ponselnya tanpa diketahui Nana.
" lo, kok. kameranya pindah ke belakang ?''
'' iya, aku mau ngeliatin ke kamu suasana kamar yang aku tempati ''
Nana mengernyit. Sikap Han agak mencurigakan menurutnya.
Tanpa ia sadari, jika Bian tengah menatapnya dengan mata hampir tak berkedip.
Sekilas wajah Nana terlihat, namun kamera lebih menyoroti sosok mungil berbungkus lampin bercorak teddy bear berwarna biru.
Bian memutar lehernya secara perlahan pada Han . Mulutnya terlihat sudah terbuka bersiap akan melontarkan pertanyaan. Namun Han menggeleng. Bian pun terpaksa harus kembali menahan diri.
'' Han '' suara yang membuat keduanya melihat ke layar ponsel.
Bian lalu bergeser menjauh dan Han pun mengatur kamera kembali ke depan.
'' gimana ?''
'' gimana apanya ? ''
'' kamar hotelnya ? Baguskan ? ''
'' apaan, sih . Dasar gak jelas ? '' Nana bernada cetus.
Han tertawa kecil. Sepertinya dalihnya berhasil. Raut wajah Nana tak lagi menunjukkan kecurigaan.
'' uda dulu, ya. Aku mau nyusuin dulu.. ''
'' kirimin lagi dong videonya.. Kalau bisa vidio dia lagi nangis.. '' celetuk Han.
Nana kembali mengernyit.
Kecurigaan kembali menghampiri. Meski demikian ia tetap mengangguk tanda menyetujui.
' tut ' panggilan berakhir.
' bruk ' Bian menjatuhkan tubuh besarnya di sofa.
Ia terlihat seperti orang linglung. Kedua matanya bergerak ke sana kemari seolah mencari sesuatu . Ia lalu memejamkan kedua matanya seiring dengan menarik nafas dan menahannya beberapa detik . Kemudian ia hembuskan dengan perlahan.
Apa yang ia dengar dan lihat barusan sama sekali tak pernah ia duga sebelumnya.
Beberapa saat bergelut dengan sejuta tanya dipikirannya, Bian menegakkan tubuhnya.
'' it- itu.. '' Bian tak mampu meneruskan ucapannya sebab tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu .
Han mengangguk. Ia paham meski Bian menggantung kalimatnya.
'' ya, Nana hamil. Tak lama setelah kalian pulang dari Kanada ''
__ADS_1
'' tap-tapj dia bilang .. dia waktu itu datang bulan.. '' Bian memutar memori. Masih jelas di ingatannya saat Nana mengatakan tamu bulannya datang ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di bandara .
'' awalnya dia kira juga begitu. Tapi ternyata bukan.
Nana pun terkejut saat mengetahui dirinya hamil .
Dan yang ia alami itu adalah flek. Pertanda tak baik dimasa awal kehamilannya.
Ditambah lagi ia sering merasakan nyeri.Nana bahkan diberi obat penguat kandungan.
Dan faktor utama penyebab itu semua adalah stres.
Nana mengalami banyak hal yang menekan dan membuatnya tak nyaman karena perlakuan ibu dan Oma mu.
Dan kau juga termasuk penyebabnya.
Kau tak begitu memperdulikannya, dan berpikir ia bisa memaklumi keadaan keluargamu.
Nana tak tahan lagi.
Disaat ia butuh seseorang yang bisa mengerti dirinya, orang tersebut justru sama sekali tak bisa diandalkan.
Karena itu, bukan tanpa sebab Nana terpaksa mengambil keputusan pergi.
Termasuk untuk tidak mengatakannya padamu.
Dia bilang kau tak ingin dulu memiliki anak . Dan itu karena kau menuruti apa yang dikatakan oleh keluargamu.
Kau begitu menghawatirkan Oma mu dan sama sekali tak memperhatikannya lagi.
Kau tak memprioritaskanya.
Kau mengesampingkan perasannya.
Dan lebih mendahulukan keluargamu.
Jadi Nana berkesimpulan, tak akan ada yang berbeda sekalipun kau tau kalau dia hamil.
Dan itu semua membuat beban pikirannya bertambah. Nana tak ingin sesuatu terjadi pada kandungannya.
Ia tak ingin kehilangan bayi dalam kandungannya.
Jadi, Nana berpikir jika lebih baik kehilangan mu .
Karena dia butuh ketenangan demi bisa menjalani masa kehamilannya dengan baik ''
Bian terdiam.
'' sepertinya keluargamu tak mengatakan semuanya ''
'' ... ? '' bertanya lewat sorot mata.
'' berarti ada dua hal yang mereka ketahui dan entah dengan alasan apa mereka tidak mengatakannya padamu ''
'' ... ''
'' pertama tentang kehamilan Nana. Dan kedua tentang perasaan Nana padamu.
Kau pasti tak tau kalau Nana juga mencintai mu, kan ? ''
'' ... ''
'' sama seperti mu. Nana juga sudah sejak lama memendam perasannya padamu.
Kenapa dia tak mengatakannya, sebab dia salah paham. Mengira kau masih dan menganggapnya sebagai sahabat.
Bahkan setelah kalian menikah pun, dia masih berpikir jika semua yang kau lakukan sama seperti saat kalian masih sahabatan dulu.
Aku sediri pun tak mengerti bagaimana kalian bisa salah paham sampai seperti ini ''
Han menatap pria yang kini tertunduk . Bian pasti dirundung penyesalan dan tengah menyalahkan diri untuk apa yang telah terjadi.
Ia yang tak cukup peka hingga tak menyadari jika telah mengabaikan sang istri dan menganggap semuanya telah berjalan dengan baik .
Han bangkit berdiri. Ia telah mengatakan dan memberitahu semuanya.
Rasanya lega.
Ia yang bermaksud untuk pamit namun Bian memintanya untuk tinggal sedikit lebih lama lagi.
Ada hal yang ingin suami Nana itu katakan.
" setelah istri sekarang giliran si suami yang minta tolong "
Setelah mendengar apa yang Bian tawarkan sebagai bentuk balas bantuannya pada Nana , Han yang belum memutuskan apakah akan menerimanya atau tidak , tetap beranjak pergi.
Sebab ia memilki tanggung jawab lain yang sedang menantinya. Ia harus bersiap untuk bekerja.
Sudah tiga bulan Han bekerja sebagai supir pribadi salah seorang pejabat Daerah .
Meski tak harus tinggal dan selalu ada di samping sang majikan , namun Han diwajibkan standby dan datang kapanpun dibutuhkan.
Setibanya Han di rumah, ia disambut ibu, adik dan ponakannya dengan hangat.
Semenjak melahirkan, sikap Laras perlahan mulai berubah. Dan perubahan itu adalah hal yang sangat disyukuri.
Laras tak lagi berbicara kasar dan sikapnya pun menjadi lebih lembut .
Semua itu tak lepas dari doa ,usaha dan dukungan ibu dan kakaknya yang tak pernah menyerah dan selalu ada untuknya.
Han yang bersiap berangkat menatap ketiga orang anggota keluarganya yang kini menjadi penyemangat dan alasan utama ia harus bekerja begitu keras.
Tak mudah menjadi pria dengan tanggung jawab sepertinya.
Yang harus menghidupi dan memberikan perhatian pada ibu dan adiknya. Bertambah pula sekarang untuk Riska, ponakan perempuannya.
Ketiga perempuan inilah yang saat ini menjadi hal paling berharga dalam hidupnya.
Bahkan jika disandingkan dengan Nana pun, ia pasti akan tetap mengutamakan keluarganya. Sekalipun ia sangat mencintai dan ingin hidup bersama wanita yang ia cintai.
Itulah mengapa ia tak pernah menghakimi Bian.
Karena ia sadar, jika iapun berada di kondisi yang sama.
Miliki para wanita yang harus ia jaga dan ia perhatikan, bukan hanya dari segi materi saja melainkan jiwa dan raganya juga selalu ia sediakan untuk mereka.
" bagaimana jika nanti perempuan yang ku jadikan istri tak sesuai kriteria menantu ibu ?
Atau Laras tak menyukai dan selalu mencari gara-gara dengannya? Atau- " Pikiran Han jadi tak karuan sebab terlalu hanyut dalam masalah rumah tangga Nana dan Bian.
Ia jadi takut memikirkan tentang pernikahan.
Han sudah bersiap di atas motor yang mesinnya sudah ia hidupkan. Sekali lagi ia melihat pada tiga wajah yang sedang duduk di teras rumah sambil bersenda gurau.
Mungkin sebaiknya aku tak usah menikah ?
Daripada nanti aku pusing karena tak bisa memilih untuk memprioritaskan siapa diantara mereka ?
Han tergelak sendiri.
Di perjalanan menuju rumah majikannya, ia terbayang akan cinta pertamanya.
Rasa yang dulu begitu dalam dan menggebu-gebu perlahan mulai surut dan memudar.
Sekali, apa yang ia rasakan terhadap Nana lebih kepada prihatin dan perduli . Namun tak lagi berharap untuk meluluhkan apalagi memiliki wanita itu lagi.
Ia sudah merelakan Nana dan inginkan wanita itu bahagia hanya bersama sang suami, Bian.
Karena sejak awal mereka sudah saling mencintai.
Dan sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Han yakin itu.
Hanya masalah waktu untuk membuktikannya.
Dan Han ingin menjadi saksinya.
Saksi kisah mereka yang pasti akan berakhir manis.
__ADS_1