Takdir Seorang Gadis Desa

Takdir Seorang Gadis Desa
Bab 106 part part akhir


__ADS_3

"Berani nya kamu memulai acara ini Handoko sedangkan saya kakek kandung nya belum hadir " semua tamu yang hadir melihat ke sumber suara tersebut ,tanpa terkecuali termasuk keluarga Handoko


" Kau " jawab Handoko sambil turun dari medium dan berjalan ke arah sumber suara


" iya ini aku , ah Handoko sudah lama kita tidak bertemu apa kau tidak rindu adu tinju dengan ku" ucap sesepuh tersebut dari kursi roda nya seraya mengembangkan kedua tangan nya untuk menyambut Handoko


" Jangan banyak bicara , bagaima kau akan bergulat dengan ku, kau saja tidak bisa kemana mana tanpa bantuan ini" ucap Handoko sambil memeluk sahabat lama nya tersebut


" sebentar lagi aku akan sembuh total, kalau cucu ku sendiri yang membantu ku berdiri" ucap nya sambil melihat Viona dengan mata yang berkaca-kaca


" Kau berbicara apa Ferguson, apa Alex tidak mengurus kau dengan baik" jawab Handoko keheranan di tambah lagi Laila yang sedari tadi berlinang air mata berjalan menuju ke arah viona berdiri


" Alex mengurus saya dengan baik bahkan dia sudah melakukan yang terbaik, tapi cucu saya tidak hanya ada satu Handoko tidak hanya Alex " jawab Ferguson dengan mata yang berkaca-kaca


"nak, sedari awal kita bertemu saya sadar bahwa kalian sangat mirip , tapi kenapa saya tidak menyadari bahwa kau anak nya , kenapa ?" ucap Laila menangis memeluk Viona yang kebingungan begitu juga dengan yang lain nya .


Sedangkan para tamu undangan yang hadir mereka seperti menonton drama keluarga yang terkenal di negri ini.


" ada apa ini sebenarnya" tanya Frans bingung


" Dia yang selama ini kami cari bro" jawab Alex spontan


" bukan kah kau mencari bibik mu? Shintia?" jawab Frans linglung " dan ini semuanya" sambung Frans


" iya , tapi bukan kah berapa waktu lalu kau pernah mengantarkan Viona untuk memperbaiki liontin, liontin yang sama persis yang di pakai oleh my mom?" jawab Alex


" iya , oh my God, saya baru mengerti sekarang, sayang ternyata orang yang kamu cari selama ini ada di dekat mu, kenapa aku tidak sadar bahwa liontin yang kau pakai sama persis dengan liontin Tante Laila " ucap Frans memukul kepala nya sendiri


"kau tidak perlu memukul kepala mu sendiri, apa kau tak takut tambah bodoh " ucap Handi untuk mencairkan suasana


" Nak , dia kakek mu , ayah dari ibu mu Shintia" ucap Laila menunjuk Ayah nya Ferguson


"Kakek? " ucap Viona berjalan pelan tapi pasti ke arah Ferguson ya Viona tahu memang nama asli ibunya Shintia namun dia tidak tahu pasti kenapa ibu nya di panggil Shinta

__ADS_1


"iya nak, ini kakek mu ,kesini lah " ucap Ferguson membentangkan tangan nya


Suasana haru dan bahagia pun tak terelakan lagi , Viona memeluk kakek nya sangat erat begitupun Laila dan Alex mereka berpelukan seperti tak ingin dipisahkan lagi hingga Viona menyadari adik adik nya


"Riko Reno " ucap Viona sambil mencari keberadaan adik adik nya yang saat ini berada di samping Anggita mama mertua nya


"Riko Reno ?" tanya Ferguson bingung karena Ferguson belum mengetahui jika Shintia putri nya tidak hanya memiliki seorang putri tapi juga dua orang putra.


"Mereka adik adik Viona kek" jawab Viona


"cucu cucu ku kemari lah nak " ucap Ferguson sembari memeluk Riko dan reno


"kek, ibu sudah meninggal dunia " ucap Reno terisak mengingat ibu nya


"iya nak, kakek sudah tahu " ucap nya sambil menangis


" Ferguson seperti nya acaranya ini sudah selesai, bagaimana kalau kita lanjutkan di rumah saja, karena saya kwatir akan ada perfilman keluarga Handoko vs Ferguson di negeri ini " ucap Handoko tertawa


" kenapa tidak dari tadi kau berkata demikian, sekarang kau bahagia orang orang ini melihat air mata ku "


" saya tidak setua itu , sekarang saya ingin hidup lebih lama lagi bersama cucu cucu saya "


" ya ya saya tahu itu, sekarang mau apa lagi? apa perlu saya bantu untuk mendorong kursi yang kau duduki itu?" ucap Handoko mengejek


"Kauuu...."


"sudah sudah , hei dua orang kakek yang sudah kelewatan umur, apa masih mau adu mulut disini? kalau mau silakan kami akan menunggu di rumah saja , ayok semua nya " ucap Handi mengajak anggota lainnya untuk keluar dari ruang tersebut


"kau anak kurang ajar " ucap Handoko bersamaan dengan Ferguson , mendengar hal tersebut orang orang-orang di sekeliling nya hanya tersenyum


" sekarang aku tidak butuh lagi kursi ini Handoko, cucu cucu ku sudah berkumpul dan itu adalah tongkat ku untuk berjalan " ucap Ferguson berdiri


"tapi ayah .." ucap Laila kwatir dengan keadaan ayah nya namun ia tidak bisa berbuat apa apa karena ayah nya bersikeras untuk berdiri dan berjalan di iringi oleh ke empat cucu cucu nya

__ADS_1


"sekarang kau baru Ferguson yang aku kenal" ucap Handoko bahagia


"Vayo tolong kau urus semua ini , saya dan yang lainya harus mengikuti mau nya kakek kekek tersebut" ucap Frans kepada Vayo


"Baik bos " ucap Vayo sambil cengengesan


Karena yang di inginkan sudah terpenuhi jadi untuk apa lagi berdiam diri di acara tersebut lagu pula para tamu juga sudah mengetahui kebenaran atas dua keluarga tersebut dan tentunya tak lupa diliputi oleh media media dalam dan luar negeri .


Setiba nya di kediaman Handoko, dua keluarga tersebut berkumpul di ruangan utama tempat keluarga bercengkrama.


" Mbak , sangat bahagia Vi, akhirnya impian terakhir mbak Shinta telah tercapai, mbak yakin sekarang mama mu benar benar sudah tenang di sisi Tuhan " ucap Wulan yang juga ikut di kediaman Handoko tentu di tawari oleh Frans karena mereka juga sudah menganggap Wulan beserta Tiara keluarga.


"Mbak Wulan .." ucap Viona memeluk Wulan sambil menangis


"apa kau mengenal putri ku Shintia?" tanya Ferguson penasaran


"sangat kenal tuan, " ucap Wulan sedih jika mengingat apa yang telah mereka lalui bersama


"bahkan Mbak Wulan yang selalu menemani ibu di kala sakit di kota ini kek, sedangkan Viona bersama adik adik di kampung, ibu tidak memberi tahu dari awal jika beliau sedang sakit parah " ucap Viona menangis mengingat kembali luka lama tersebut dan tangis nya berhenti ketika melihat kedua adik nya sedari tadi juga cegukan karena menangis


"sudah jangan menangis lagi, apa kalian lupa atas janji kalian jika kalian tidak akan menangis lagi? dan jangan ingat luka lama itu lagi " ucap Frans menenangkan kedua adik iparnya tersebut, mereka berdua hanya mengangguk dan berusaha kuat


Melihat semua itu Ferguson tahu tidak mudah bagi mereka menjalan kan hidup selama ini, dan penderitaan mereka sangat lah membekas hingga sekarang.


"boleh kah saya mendengar sedikit cerita, di akhir hidup hayat nya " Tanya Ferguson kepada Wulan , Wulan yang bingung melihat kepada suami nya Roy, dan Roy menjawab dengan anggukan.


"Mbak Shinta wanita tangguh dan hebat, dia sangat mencintai anak anak nya meskipun dengan cara yang berbeda, di saat mbak Shinta sakit saya sering membujuk untuk berkirim surat kepada keluarga mbak Shinta yang katanya di berada seberang sana namun mbak Shinta menolak karena mbak Shinta tidak yakin keluarga nya mengingat dan menginginkan nya kembali " ucap Wulan yang membuat air mata Ferguson dan Laila beserta Alex mengalir begitu saja


"hingga akhir nya, selang beberapa hari mbak Shinta di panggil sang khalik saya memaksa mbak Shinta untuk mengirim surat, ya surat itu saya sendiri yang menulis karena memang mbak Shinta tak mampu lagi untuk menggerakkan badan nya apa lagi untuk menulis surat, namun dia masih ingat betul alamat rumah nya " Wulan tersenyum kalau mengingat obrolan nya bersama Shinta


"Saya ingat betul, ketika saya tanya ke mbak Shinta alamat rumah tuan apakah dia masih ingat atau tidak "


kalau saya lupa alamat keluarga saya, kita tinggal cari di internet saja lan, lagi pula hampir tiap hari ayah beserta keluarga saya lainnya masuk di berbagai media di negeri ini jawaban Shinta kala itu membuat hening suasana..

__ADS_1


bersambung...m


__ADS_2