Takdir Seorang Gadis Desa

Takdir Seorang Gadis Desa
Bab 61


__ADS_3

Di tempat lain


"bodoh bodoh bodoh kalian semua bodoh " ucap Kania marah marah kepada orang orang nya


"maaf bos, mereka sangat kuat sehingga susah kami kalahkan " ucap salah seorang dari mereka


"alasan , saya tak mau tau kali ini harus berhasil , kalau tidak awas kalian " ancam Kania berlalu pergi


.


.


.


Apartemen Roy


"saya mintak sama ibu dan Fandi jangan menghakimi kami, karena ibu hanya mendengar kan dari satu sisi saja dari Wanda " ucap Roy berbicara kepada ibu Rani dan Fandi sedangkan Wulan di dalam kamar


"baiklah nak Roy , sebenarnya apa yang terjadi hingga Wulan mau kau nikahi secara sirih , sedangkan kau sudah memiliki istri dan anak " jawab bu Rani yang sudah mulai menguasai emosi nya


"Bu dengar kan dulu penjelasan mas Roy , sabar Bu nanti darah tinggi ibu kumat lagi" ujar Fandi menenangkan ibu nya


"sebelum saya bertemu dengan Wulan ,rumah tangga kami sudah tidak jelas , Wanda tidak pernah ada waktu di rumah, kadang di pergi ke negara A B dan C dan ketika kembali ke kota ini paling 1-2 Minggu itu pun sibuk mengurusi bisnis nya , sudah belasan tahun Wanda tidak lagi menjalankan tugas nya sebagai istri dan ibu untuk anak saya Alea" ucap Roy


"Meskipun saya tidak bertemu Wulan, saya akan tetap akan menggugat cerai Wanda , karena tidak ada lagi kecocokan, kedamaian, keserasian di antara kami , saya tahu betul Wanda , dia hanya butuh status istri makanya Wanda melakukan semua ini supaya tidak bercerai "


"kami juga meminta maaf karena sempat menyembunyikan hubungan ini kepada kalian , tadinya setelah semuanya selesai kami akan ke kampung menemui ibu dan Fandi tapi sudah begini " sambung Roy


"Wulan tak pernah mau saya nikahi buk, Wulan bahkan menolak untuk jadi istri saya , saya yang keras hati dan mengambil kesem...." penjelasan Roy terpotong karena kehadiran Wulan dari belakang


"ibuu maafkan Wulan, sungguh maafkan Wulan " ucap Wulan menangis memeluk ibu nya , Bu Rani hanya tak kuasa menahan air mata nya setelah sekian lama berpisah dari anak perempuan nya dan sekarang ketika bertemu keadaan tak sama lagi


"Nak, seorang ibu akan selalu memaafkan anak anak nya, tapi yang terjadi sekarang ibu tak bisa berkata-kata nak, apa ini semua nak, kenapa kenapa kenapa, itu yang ada dipikiran ibu " ucap wanita paro baya tersebut


" kak, kenapa Kaka menyembunyikan ini semua dari Fandi , Kaka seperti tidak mempunyai keluarga bahkan keputusan terbesar dalam hidup kaka, Kaka tidak melibatkan kami " tutur Fandi


" maafkan mbak dek, maaaf kan mbak "


"ini bukan salah mbak mu, ini semua kesalahan ku " jawab Roy


"Bu, Fandi sudah larut , kalian pasti sangat kelelahan dan capek dari kampung , istirahat lah dulu , besok akan kita sambung lagi pembicaraan nya " ucap Roy


"lagi pula Wulan juga butuh istirahat, kasihan cucu ibu dalam perut jika ibu nya masih bergadang " ucap buk Rani nangis terharu bercampur aduk dengan bahagia mengelus perut Wulan


"mmm karena kamar di apartemen hanya dua, gimana kalau ibu sama Wulan dan saya sama Defran"


"hmmm baiklah nak, lagi pula ibu rindu dengan anak perempuan ibu " jawab Rani tersenyum


.


.


.

__ADS_1


Pagi hari di kediaman utama Prayoga


Pagi mulai menyapa , cahaya matahari perlahan masuk memenuhi sudut sudut kamar. Membuat viona terbangun karena silau nya, sebelah badan nya terasa sesak dan berat.


pantas saja aku sesak rupanya ada kaki ruanga kutub di badan ku gumam viona perlahan menyingkirkan kaki Frans dari badan nya


"sebentar lagi, jangan bergerak " ucap frans membuat viona kaget


"tuan sudah bangun? "


"hmmm" jawab Frans sambil memeluk erat viona


"tuan aku sesak...."


"hussstt sebentar saja diam lah" ucap Frans tambah memeluk viona


"tuan, aku takut jika bertahan beberapa menit lagi, maka aku sudah ngak bisa tahan lagi " jawab viona


" hmmm apa sebegitu nya kau tergoda dengan hanya saya peluk?" ucap Frans mengadahkan kepalanya melihat viona


"mmm bukan bukan itu tuan , ituu saya mau ..."


"mau apa , apa kamu mau lebih dari pelukan hmmm hmmm " ucap Frans menggodanya viona


"tuannnn saya mau pipis , sudah tak tahan lagiiii" ucap nya teriak sambil melepas diri dari pelukan Frans dengan mendorong Frans hingga


buuughhhhh Frans terjatuh hingga ke bawah ranjang , Viona tak peduli akan itu , ia hanya berlari ke toilet karena sudah tidak tahan lagi


"gadis itu benar benar membuat tulang ku patah " ucap Frans menggeleng kan kepala nya


.


.


.


Di meja makan


"apa kalian jadi pergi ke yayasan ?" tanya Anggita


"tadi nya iya ma, tapi karena kejadian semalam seperti nya pergi ke sekolah Riko Reno di tunda sementara waktu sampai Frans tahu siapa dalang di balik semuanya ini " jawab Frans , mendengar hal itu viona kelihatan sedih karena ia gagal bertemu adik adik nya.


Anggita yang menyadarkan ekspresi sedih viona mengerti jika viona sangat pergi ke tempat Riko Reno " hmm mama rasa jika viona pergi dengan kamu dan dengan beberapa orang orang mu, itu cukup aman " timpal mama Anggita


"hmmm kasihan istri mu sudah sangat rindu adik adik nya " ucap Handoko setuju dengan Anggita


"tapi Frans tak mau mengundang resiko kek, karena orang orang seperti mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka mau " jawab Frans


" jangan terlalu takut dan berlebihan nak, jika mereka bisa membatasi gerak kita, mereka akan senang dan tersenyum, percaya lah semua akan baik baik saja, yang penting kita waspada dan hati-hati " tutur Handi ayah nya Frans


"bagaimana sayang, apa kamu tetap ingin ke tempat adik adik mu ?" tanya Anggita kepada viona .


Viona hanya menunduk dan mengangguk "iya mah " jawab viona

__ADS_1


notifikasi ponsel Frans berbunyi bertanda seseorang sedang menghubungi nya


"Roy ?" ucap Frans kaget karena tak biasa nya Roy menghubunginya di pagi pagi begini.


"hallo pak Roy, apa kabar "


"......"


"benarkah?"


"......"


"wah wah selamat anda sangat unggul di bidang ini " ucap Frans membalas yang di katakan Roy


"...."


"baiklah setelah ini saya akan belajar banyak dengan anda hahahah"


"......".


"hmmm baiklah akan saya sampaikan kepada viona , b.t.w congratulation pak Roy , anda hebat "


"......"


"jika ada waktu luang saya dan viona akan berkunjung "


"....."


"baiklah " ucap Frans mengakhiri panggilan ponsel


"apa mbak Wulan baik baik saja mas?" tanya viona kwatir


" tidak " ucap Frans sambil menggelengkan kepala


"mbak Wulan sakit?"


"iya "


"sakit apa? apa parah ?" tanya viona


"lumayan , sakit 9 bulan " jawab Frans


" sakit macam apa itu mas , kenapa sakit di tentukan waktu nya ?" jawab viona membuat Jelika dan Anggita senyum senyum sendiri


"viona viona , kamu tuh yah benar benar , mbak mu itu sehat setelah sembilan bulan setelah bayi tersebut lahir dari perutnya " jawab Jelika


"bayi? mbak Wulan hamil mas?" tanya viona kepada Frans


"iya tepat sekali " jawab Frans


"Alhamdulillah " ucap orang orang di meja makan


"lalu kalian kapan? kakek sudah ingin kan cicit secepatnya " tanya kakek membuat viona dan Frans saling pandang

__ADS_1


"secepatnya kek" jawab Frans tersenyum dan viona seperti malu malu sendiri


__ADS_2