
" Di sana nanti, kau harus menghindari orang yang bernama Tante jelika dan anak nya yang bernama Ervan " ucap Frans kepada viona Setelah membeli kue putu
"kenapa aku harus menghindari mereka? bukankah mereka juga keluarga mu?"
"kenapa kau banyak tanya, ikuti aja apa kata ku" Frans dengan nada tinggi dan emosi
"baik tuan "
"good"
Berapa menit kemudian ,mobil Frans telah memasuki kediaman utama Prayoga Aditya. Halaman yang begitu besar dan luas membuat mata terpana.
"waw ini rumah apa istana? besar banget " kagum viona
"kedua dua nya "
"pasti butuh berhari hari untuk membersihkan nya "
"iya kalau pekerja hanya 1-2 orang"
"memang berapa orang pekerja di rumah sebesar ini "
"hitung aja sendiri, ayo turun" ajak Frans
Frans di ikuti viona dari belakang yang begitu pangling dengan model rumah yang sekarang ia masuki model klasik yang sangat indah dan unik dominasi berwarna putih keemasan .
Belum habis kekaguman viona dengan rumah yang baru saja di injak Ki nya , ia makin bingung dan terheran heran melihat pemandangan orang orang yang memakai seragam berwarna putih dan hitam menundukkan kepada mereka .
"bukan kah kau tadi ingin tahu berapa orang pekerja di rumah ini? hitung lah ini belum semuanya mungkin sebagian masih sibuk di dapur "Frans berbisik kepadanya viona
"1,2,3,4,5,9,10,11,15 16 orang? dan ini belum semuanya? untuk apa pekerja sebanyak ini?" gumam viona pelan
" kau terlambat untuk kali ini tuan muda ?"
"kenapa? apa istri mu selalu menggoda mu?
Suara kakek Handoko menggema di seluruh ruangan rumah , membuat viona terkejut mendengar suara tapi tidak dengan orang nya.
"maaf kakek , kali ini aku akui keterlambatan ku, tapi bukan salah istri ku, tapi karena aku yang selalu tergoda melihat senyum indah di pipi nya " ucap Frans sambil merangkul viona sambil melihat kakek ke lantai atas yang sedang tersenyum melihat ke arah mereka
" hallo boy"
"mom" Frans ke arah mama nya dan berpelukan
"apa kamu hanya memeluk your mom?
"ahhh Daddy " ucap Frans sambil memeluk papa nya Handi Prayoga Aditya
kakek turun dari lantai atas, dan membentangkan kedua tangan nya tentu untuk memeluk cucu nya Frans
"kakek , aku sangat merindukanmu " ucap Frans memeluk erat lelaki yang tidak muda lagi tersebut
__ADS_1
"jadi apa kah ini menantu mama? ucap Anggita mendekat viona
"Assalamualaikum ma"
"waalaikumsalam sayang, viona nama yang indah seperti wajah mu nak " vio menyalami dan mencium tangan Anggita begitu sopan
"mama tahu , tuan muda itu tidak salah pilih " sambung nya kembali
"apa kau tidak mau memeluk lelaki tua ini?" ucap sang kakek
"tentu kakek" vio memeluk sang kakek
"dan aku adalah papa mertua mu nak" ucap Handi tak mau kalah
Begitu lah pertemuan pertama mertua dengan menantu penuh kehangatan dan kebahagiaan .
"waw keluarga besar telah berkumpul , ternyata Kaka sudah bertemu dengan menantu dadakan Kaka ya " ucap Jelika tiba tiba muncul dari pintu utama bersama anak nya
"seperti yang kau lihat Jelika, apa kabar mu" mereka berpelukan dan cipika cipiki ya hanya sekedar basa basi biar terlihat baik di depan ayah mertua mereka, apa lagi jelika yang begitu membenci kaka iparnya tersebut
" maaf ayah aku bersama cucu mu Ervan datang terlambat, tentu ayah tahu sendiri aku begitu sibuk membantu papa nya Ervan untuk mengelola cabang perusahaan kita yang baru " ucap Jelika mencari muka
"ohh tentu tak masalah "
"Ervan beri salam kepada kakek mu" mendengar itu Ervan mengangguk
" anak perusahaan mana lagi yang akan kau hancur kan? "
"maaf kakek , aku tidak mengerti apa yang kakek maksud "
"kamu pikir pekerjaan Frans dan ayah mu hanya untuk memperbaiki perusahaan yang hampir kamu buat hancur" sambung kakek Handoko
" ayah, kenapa ayah selalu membeda-bedakan antara Frans dan Ervan ayah? apa karena ayah Ervan bukan anak kandung ayah? benar begitu? Jelika dengan nada tinggi
"turun kan suara mu jika berbicara dengan ayah ku " defran tiba tiba muncul
"ayah ku tidak pernah membeda-bedakan kami, apa lagi membedakan antara Frans dan Ervan. Anak mu saja yang tidak bercus, andai saja kamu tidak merusak pikiran dan hati nya mungkin ia tidak akan seperti ini " sambung nya
mendengar semua itu, Jelika melangkah pergi ke kamar nya yang di ikuti oleh Ervan
"maafkan mereka ayah" ucap defran memeluk ayah nya
"sampai kapan ayah? Kenapa ayah tidak mengizinkan jika aku berpisah dengan wanita seperti itu ?"
"sudahi omongan mu nak" ucap sang ayah memeluk anak nya
Handoko tidak pernah membedakan antara Handi dan Defran. Begitu pun dengan Frans dan Ervan , tapi karena Ervan di bawah kandali sang mama yang haus akan harta dan tahtah membuat Ervan tidak di sukai sang kakek.
Sudah lama defran ingin menceraikan Jelika karena merasa tidak ada lagi kecocokan antara mereka. Tapi entah apa penyebabnya sang ayah Handoko tidak menyetujui hal tersebut, entah apa penyebabnya. Itulah yang membuat Jelika menjadi jadi karena di dukung oleh ayah mertuanya untuk tidak bercerai walaupun sang suami menginginkan perpisahan.
"Hay apa yang kau bawa cucu menantu ku?" tanya sang kakek melihat tentengan yang di bawa viona
__ADS_1
"ooh ini kek .." ucap viona ragu ragu, karena ia merasakan takut mengatakan kalau ia membawa kue putu kesukaan mama mertua nya. Ia merasa mbak Wulan salah atau membohongi nya, ia tak yakin putu di terima di tempat seperti ini.
"pelayan" panggil kakek, mengisyaratkan untuk membawa tentengan viona dan dihidangkan
Sekarang Meraka sedang duduk di ruangan keluarga , dua orang pelayan membawa nampan berisi putu, saat melihat apa yang di bawa pelayan , Anggita sangat bahagia.
"wawww kue putu kesukaan mama, dari mana kamu mengetahui nya sayang " ucap Anggita menyomot satu putu ke Mulut nya
"dari siapa lagi kalua bukan dari suaminya " balas sang papa Handi
"heheh iya mam, dari mas Frans " jawab viona malu malu melihat Frans
iya juga ya, dari mana ia tahu mama suka kue putu, perasaan aku tidak pernah bilang gumam Frans dalam hati
"oo iya mam turut berdukacita ya sayang, Frans bilang mama kamu berapa hari yang lalu meninggal dunia ya? " ucap Anggita, mendengar itu air mata viona tak terbendung lagi
"sayang kamu ikhlaskan , sekarang ada mama disini, kamu memang menantu mama tapi mama anggap kamu seperti putri mama sendiri "
"Hem Hem ini kue putu nya nanti ngambek Lo, pelukan terus " ucap papa Handi menghangatkan suasana
mendengar semua itu semua orang tertawa tanpa kecuali , tak lama kemudian Jelika datang .
"waw ada kue putu? Kaka kaka hihi Kaka Sangat lucu apa kampungan ya hahaha udah pergi kemana mana, dunia mana sih kak yang ngak Kaka jajahi tapi selera kok masih aja sama ? selera kampungan ,masak iya menantu orang terpandang di kota ini bahkan negeri ini, menyukai kue putu yang bahkan makanan favorit nya , mana tarok dimana tu muka "
"Tante tolong jaga bicara Tante, apa perlu saya ajari Tante untuk berbicara dengan benar " ucap Frans emosi
"Frans " Anggita menegur Frans supaya menurun kan nada suara nya, meskipun omongan Jelika menyakiti nya , tetap ia tak mau anak nya kurang ajar kepada orang yang lebih besar dari nya apa lagi ini Tante nya .
" Kaka menegur dia? seharusnya Kaka menegur nya saat dia menikahi gadis ini? kita tidak tahu bobot bibit bebet nya, entah dari mana ia berasal, tiba tiba saja jadi keluarga kita "
"jaga omongan mu Jelika ,jangan menghina menantu ku "
"kenapa kak? apa kaka ingat masa lalu kaka ? bahwa kakak dari keluarga miskin?
"cukup Jelika, cukup jangan sampai saya berbuat kasar kepada mu, sekarang pergi lah "
" baik lah yah saya akan pergi, tapi sebelum nya saya ingin mengatakan kepada Kaka ipar saya yang cantik ini, kalau dulu di masa miskin kamu sangat menyukai kue putu, sekarang tinggal kan lah karena keberuntungan mu sekarang kamu sudah menjadi menantu orang kaya raya "
" tapi saya lupa, kebiasaan tidak pernah di ubah" Jelika berlalu
"Tante " ucap viona berdiri mendekati Jelika
"saya ingin bertanya , apa keuntungan yang Tante dapat setelah menghina mama mertua saya? "
"apa Tante merasa puas ? atau semakin sesak?"
" apa salah nya dengan kue putu ini? apa kah dia pernah menghina atau menyakiti Tante ? Sehingga seperti nya Tante Sangat membenci kue enak ini"
"mama mertua saya di takdir kan untuk menjadi menantu orang yang terpandang di negri ini , itu takdir bukan keberuntungan , sama hal nya seperti tante saat ini, menjadi menantu dari anak kedua di rumah ini, itu takdir bukan kebetulan "
" Dari dulu hingga sekarang, kesukaan mama Anggita tetap sama , saya tidak tahu bagaimana kehidupan mama dari dulu tapi yang saya dengar kesukaan mama tidak pernah berubah, itu lah yang saya kagumi dari mama mertua saya, dia membuat kepribadian yang sederhana meskipun di kelilingi oleh emas permata "
__ADS_1
" maaf saya terlalu banyak bicara , saya bisa menahan diri jika saya di hinah, tapi tidak untuk orang orang yang saya sayangi , sekarang silahkan Tante pergi, dan saya mohon maaf atas bicara saya yang lancang"
Mendengar semua itu, orang orang disana hanya terdiam dan terbawa suasana. Apa lagi frans yang tidak menyangka istri nya pandai berbicara bijak seperti itu