
Viona berdiri di depan kamar Jelika, ia tak habis dari pagi Tante nya itu tak jua keluar kamar, menyahuti panggilan viona pun tidak.
"ini nyonya, yang nyonya pintak " ucap salah seorang pelayan
"OOO udah ketemu ya bik, makasih ya " ucap viona sambil menerima plastik dari pelayan tersebut
"maaf ya tante, vio harus melakukan ini supaya tabte keluar " sambil memasukkan satu per satu kecoa ke kamar Jelika dari rongga bagian bawah pintu kamar tersebut
tak perlu menunggu waktu lama, kerja keras viona tak sia sia, bahkan Tante Jelika teriak teriak ketakutan di dalam kamar meminta tolong.
"aaaaaaa kecoa tolong tolonggg " teriak jelika di dalam kamar
"tante tante kenapa? ada apa di dalam?" viona juga pura pura panik
"ada kecoa kecoa tolong tolong " ucap jelika di dalam
"bukak pintu nya tant " ucap viona dari luar
dreekkk pintu kamar terbuka , Jelika berhambur keluar kamar
"ehhh kamu tolong usir itu para kecoa dari kamar saya cepat " ucap Jelika kepada para pelayan
"apa kalian tidak pernah membersihkan kamar saya sehingga para kecoa itu ada di kamar saya ha' " sambung nya meracau
"Tante ayok kita duduk di sana dulu, sambari kamar nya di bersihkan " ucap viona
"hmmm kau tak perlu sok peduli " ucap nya sinis
"ya udah teserah Tante, tapi cerita di kampung saya sih kalau kecoa menyerang sekali banyak itu pertanda ..."
"pertanda apa?"
"ahh ngak lah nanti Tante takut "
"ngak usah takut takuti saya ya "
"makanya ngak jadi saya ceritakan karena saya tahu tante takut " ucap viona pergi duduk di sofa
"Tante tau nggak , cerita nenek di kampung ku kecoa itu akan menyerang bersamaan karena bisa jadi mereka menyukai seseorang yang suka menangis di dalam kamar nya sendiri sendiri Lo " ucap viona agak keras supaya jelika dengar
"kamu mau membodoh bodohi saya ya ?" Jelika berhasil terpancing oleh viona
"ayok duduk dulu sini Tante "
" ngak Sudi saya satu kursi dengan kamu "
"kecoa itu suka air mata dalam kegelapan , saya pun heran kenapa kecoa datang nya bergerombolan , apa tadi mereka mencium air mata di dalam kegelapan ya " viona meracau tapi tak melihat ke arah Jelika
__ADS_1
aduhhh kenapa pas banget ya? saya kan memang menangis tadi , iya sih gelap gumam jelika dalam hati
"memang kenapa dengan air mata di dalam kegelapan " tanya jelika penasaran
"he' memang tante ngak tahu cerita nya?" viona bertanya balik
"jawab aja , ngak usah tanya balik " ucap jelika sinis
"dia menyukai air mata yang jatuh dalam kegelapan , apa lagi jika seseorang itu menangis dalam keadaan perut keroncongan, hmmm mereka sangat menyukai itu " bohong viona
hihihi seru juga membohongi orang kaya tawa viona dalam hati
"jadi ?"
"kalau itu benar benar terjadi, maka kecoa tidak hanya 5 , 7 yang akan datang, tapi mereka akan datang segerombolan besar dan "
"dan apa?"
"dan akan memenuhi tubuh orang itu " mendengar itu Jelika membulat kan matanya
"nyonya semua kecoa nya sudah kami dapatkan " ucap pelayan tersebut
"sekalian tolong bersihkan kamar tante jelika ya Bi, takutnya mereka datang lagi karena Meraka menyukai air mata dalam kegelapan perut keroncong dan kamar berantakan " ucap viona bohong lagi kepada jelika
"baik nyonya " ucap pelayan tersebut tersenyum seperti tahu maksud viona
"Tante ayo kita makan dulu, saya lapar tapi kalau tanye ngak lapar ya sudah "
Tanpa menjawab apa pun, Jelika mengekori viona untuk pergi makan.
.
.
.
"apa Wanda datang ke mari?" tanya Roy , Wulan hanya diam terpaku di atas sofa
"sayang , please bicara lah"
"pulang la mas, pulang la ke rumah mu bersama istri dan anak anak mu " ucap Wulan pilu
" no tempat ku disini , aku akan mengajukan perceraian, aku akan berpisah dengan Wanda "
"jangan mas, pertahan kan lah, beri dia kesempatan, kalian punya anak , aku yang akan mengalah , kita yang pisah " ucap Wulan menatap Roy
"maaf sayang, aku tidak mau mendengar kata kata itu lagi dari mu " ujar Roy lalu pergi ke kamar nya
__ADS_1
aku yang pendatang , aku yang harus pergi bukan mbak Wanda meskipun mungkin mbak Wanda bersalah tapi tetap saja aku yang perusak hubungan mereka gumam Wulan pada dirinya sendiri
.
.
.
Di tempat lain Wanda duduk dengan menikmati minum yang telah dihidangi oleh pelayan nya.
"aku tak menyangka kau berbuat senekat itu Roy, aku kira kau hanya mampu bermain main dengan mereka tanpa menikahi salah satu dari mereka " ujar nya berbicara sendiri
"meskipun aku terlalu sibuk, dan kau pun tak kalah kau sibuk nya, aku kira dengan kesibukan kita masing-masing , sudah biasa dengan keadaan kita berjauhan "
"tapi aku salah , dan sekarang aku mau keluarga utuh kembali , suami ku kembali bersama ku dan anak anak ku , tanpa ada yang mengganggu " sambung nya kemudian , sambil mengambil ponsel dan menelfon seseorang
" hallo saya ingin secepatnya , informasi mengenai asal usul dan keluarga perempuan itu, secepatnya "
"...."
"hmm baiklah " ucap nya mengakhiri panggilan telepon.
.
.
.
" apa tante sudah kenyang?"
"tidak perlu sok kwatir apa lagi pura pura peduli dengan ku " jawab Jelika masih dengan angkuh
"apa tanta tahu? bagaimana beratnya saya dan kedua adik adik saya menjalani kehidupan di kampung? tak ada satu pun yang peduli kepada kami, kami di kucilkan, bahkan di hina , orang orang beranggapan akan sial jika bergaul dengan kami lantaran kami anak dari seorang kupu kupu malam, kami tak punya teman atau keluarga tempat mengadu Tante, tapi kami bersyukur , bukan nya kami tak menangis atau pun sedih, masing masing dari kami hampir tiap malam menangis dalam kegelapan malam, meskipun tiada yang tahu, meskipun di pagi hari mata akan bengkak masing masing dari kami, tapi tak satu pun yang akan bertanya karena takut memperdalam luka di hati "
"begitu banyak luka tante, tapi Allah maha baik , sekarang adik adik saya bahkan sekolah di tempat terbaik kota ini, dan saya disini sekarang, meskipun nanti saya tidak tahu apa yang akan terjadi, bagaimana dan arah kemana takdir membawa saya, tapi meskipun begitu bukan kah kita harus ikhlas dan ridho dengan samua ketentuan dari Allah " Sambung viona sambil mengenang masa lalu nya
"kamu tidak tahu apa yang saya rasakan , sakit , pedih , saya terluka " entah kenapa dan bagaimana Jelika berbicara dengan mata yang berkaca-kaca
" saya memang tidak tahu sakit macam apa yang tante alami sekarang, tapi rasa sakit itu hampir sama, sesak di dada itu sama , hanya permasalahan nya yang berbeda " ucap viona melihat Jelika
"saya tidak ingin bercerai "
"pertahankan lah dengan sekuat tenaga tante, biar hasil akhir di tentukan oleh sang khalik" sambung viona tersenyum
.
.
__ADS_1
mintak like dan vote dong semua nya..
biar author semangat loo