Tangguh

Tangguh
Prolog


__ADS_3

Hai, aku Karaina Jovanka. Aku bukan orang spesial dan aku hidup bukan sebagai orang penting. Aku tidak mempunyai apapun yang dapat aku banggakan selain rasa kerja kerasku untuk hidup di negara orang demi pendidikan. Aku cukup bangga dengan kemandirianku yang waktu itu baru lulus SMA melanjutkan kuliahku di Berlin tanpa sanak keluarga yang menanti di sana. Aku benar-benar sendirian, namun aku mampu hidup baik sampai sekarang.


Sekarang, aku berdiri di depan rumah ibuku. Ibuku yang aku tinggalkan beberapa tahun silam. Wanita yang paling aku cintai, yang memelukku dengan hangat dan penuh derai air mata seperti saat ini. Tangannya yang hangat membelai wajahku dan aku tersenyum rindu.


Ya, aku pulang. Aku pulang bukan karena pendidikanku sudah selesai, tapi karena ada suatu hal yang harus aku turuti.


Dia temanku semasa kecil. Saat memasuki sekolah menengah pertama dia pergi bersama orang tuanya. Dan kami satu sekolah lagi saat menengah atas. Dia menjadi kakak kelasku dan secara tak langsung menjadi kakak yang menjagaku waktu dulu. Sekarang dia berdiri di sini bukan sebagai teman atau kakak bagiku. Tapi sebagai calon pasanganku.


Yap, ayah meminta kami untuk saling mengenal. Sudah tidak heran. Mencarikan pasangan hidup sudah menjadi tradisi bagi para tetua di keluargaku. Jika tidak ikut campur rasanya ada yang kurang—menurut mereka.

__ADS_1


Kedua orang tuaku juga awalnya dijodohkan. Kakek dan nenekku bahkan buyutku. Mereka semua dijodohkan. Keluargaku memang sangat hebat mencari pasangan. Mereka sangat tahu mana yang bisa memberikan uang dan kekayaan.


Aku tidak terkejut. Bahkan saat masih SMA aku sudah diwanti-wanti untuk tidak memiliki pacar. Aku juga sudah diberitahu bahwa suatu saat nanti aku juga akan dijodohkan. Dan dengan bodohnya aku kadang berpikir dan bertanya-tanya, seperti apakah gerangan sosok yang akan dijodohkan padaku.


Di sinilah semuanya terjawab. Semuanya pertanyaan itu aku telan lagi bulat-bulat. Pria yang beranjak dewasa ini benar-benar sesuai kriteria keluargaku.


"Tidak perlu terburu-buru. Buatlah sama nyaman dulu."


Aku tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kamu terlihat sangat terkejut."


Aku menoleh sekilas saat dia berujar pertama kali. "Aku tidak terkejut saat ibu bilang mereka sudah menemukan seseorang. Tapi aku terkejut karena orang itu adalah Kakak." Aku tersenyum. "Lucu ya, aku pikir kakak akan tetap jadi kakakku." Dan terkekeh di akhir.


"Tapi Rain, keputusan ada di tangan kita. Kau berhak memilih. Aku tidak ingin jadi pemaksa dan mengambil keuntungan."


Aku terkesiap dan menatapnya. Aku tidak ingin besar kepala namun kalimatnya sangat ambigu. Kami saling terdiam dengan mata seolah mencoba untuk saling berkomunikasi.


Arjuna Raja Altherio.

__ADS_1


Bagaimana aku harus mendeskripsikannya? Ah sudahlah, pokoknya dia sempurna.


***


__ADS_2