
Pagi hari di villa itu alam masih terasa gelap udara dingin sangat meresap, Nata bersama kedua istrinya baru saja bangun dan langsung membersihkan diri di kamar mandi untuk shalat subuh. Di Villa tersedia air hangat yang bisa dipakai oleh mereka untuk mandi, air hangat yang berasal dari perut gunung berapi, mengandung belerang serta mineral lainnya. Untung saja di Villa tersebut sudah tersedia perlengkapan untuk Sholat sehingga mereka bisa melaksanakan sholat di dalam Villa itu. Sinar matahari mulai menghangati area perkebunan itu. Kabut pegunungan mulai sirna seiring dengan semakin hangatnya sinar mentari menerpa di permukaan bumi ini. Nata baru menyadari ternyata semalam mereka ada di tengah-tengah kebun teh. Pantas saja udara dingin sangat begitu terasa semalaman sampai tadi subuh.
“Aku baru menyadari, ternyata kita ini sekarang berada di Ciater Subang.” Ucap Nata sambil memandangi alam pegunungan yang ditumbuhi tanaman teh yang terhampar luas itu dari jendela kaca Villa.
“Hehehe iya kang, Akang suka ?” Tanya Jessy.
“Suka banget, aku kira kita masih berada di Purwakarta.” Jawab Nata.
“Kalau di Purwakarta susah mencari Villa atau penginapan kang.” Ucap Sabrina.
“Kita ga bawa baju ganti, setelah selesai sarapan kita pulang saja yaa.” Ajak Nata kepada kedua istrinya itu.
“Hehehe akang sih pengen nginep dadakan segala.” Ucap Jessy.
“Hmmm tapi kalian suka kan ?” Tanya Sabrina.
“Suka dong. Hehehe. Kalau kamu ?” Jawab Nata.
“Suka, karena diseruduk terus sama akang sepanjang malam hihihi.” Jawab Sabrina sambil tertawa.
“Iya sampai pegal-pegal, untung saja kita bisa mandi dan berendam dengan air hangat yang alami di Villa ini, jadi rasa pegal-pegalnya sudah berkurang.” Tambah Jessy.
“Nanti mampir ke kantor pusat yaa, sekalian ngambil mobil ku.” Ucap Nata.
“OK kang, sebelumnya kita pagi ini mau sarapan dimana ?” tanya Sabrina.
“Ke Lembang saja, kan sudah dekat dari sini.”
“Wah jadi pengen makan tahu Tauhid Lembang dan Bolu Susu Lembang deh.” Ucap Jessy.
“Iya nanti kita beli saja, sekalian sarapan disana.”
“Ayo deh kita berangkat.”
“Ehhh Villanya sudah kalian bayar ?”
“Sudah dong langsung tadi malam kang, langsung di transfer ke rekening mereka.”
“Sini mana kunci mobilnya aku yang nyetir. Kalian duduk manis saja.”
“OK kang, memangnya akang tahu tempat yang jualannya Tahu Lembang dan Bolu Susu ?”
“Gampang ada google map ini kok.”
Kemudian mereka berpamitan kepada para penjaga Villa, setelah itu mereka meluncur menuju ke Lembang. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi saat mereka sudah sampai di dekat Pasar Lembang, tempat pabrik Tahu dan tempat berjualan Bolu Susu Lembang nampak masih belum begitu ramai. Nata yang ditemani oleh kedua istrinya itu duduk menunggu pesanan mereka.
“Nanti kita pesan yang dibungkus juga yaa, boleh kang ? untuk Mang Engkus dan istrinya juga untuk Erna.” Ucap Jessy.
“Iya boleh, untuk Charlie juga tuh jangan lupa.”
“Ohh iya, yuk Sab kita pesan lagi.”
“Kamu saja lah Jess. Aku lagi mager nih. Hehehe.” Kekeh Sabrina yang sedang enak duduk bersandar di kursi sambil menikmati tahu Lembang yang masih hangat itu.
__ADS_1
“Kenyang juga ternyata makan sepiring tahu Lembang ini.”
“Jelas kenyang lah, akang makannya sampai ngabisin lima potong lontong juga tuh, hihihi.”
“Hahaha. Iya juga yaa.” Ucap Nata lalu mulai menyeruput air teh yang masih hangat itu.
“Sudah dipesan dan sudah aku bayar semua yang kita makan barusan.” Ucap Jessy lalu duduk kembali disamping Nata dan Sabrina.
“Ehhh Jess, Istrinya Charlie lagi hamil ?”
“Kok akang tahu ?”
“Ini tuh lihat fotonya, Charlie barusan ngirim foto bareng istrinya.” Jawab Nata lalu menunjukkan foto yang dikirimkan oleh Charlie kepadanya.
“Ohhh iya mungkin, pantesan saja sekarang istrinya itu jarang ngumpul bareng sama kita lagi yaa Sab. ?“ tanya Jessy kepada Sabrina.
“Hmmm iya tuh, aku juga ingin cepat hamil seperti istrinya Charlie. Hehehe.”
“Nanti kita bikin lagi kalau sudah sampai di rumah. hehehe.”
“Idih akang, jangan keras-keras ngomongnya, malu tahu.” Tegur Sabrina diiringi suara tertawanya Jessy.
“Kenapa mesti malu sama istri sendiri, santai aja.”
“Aku yang malu kang.”Jawab Sabrina, kulit wajahnya yang putih itu kini terlihat menjadi merah merona. Dengan salah tingkah dia memperbaiki hijab yang dikenakannya untuk menutupi rasa malu tersebut.
“Ini semua pesanannya Pak Bu.” Ucap seorang pelayan di pabrik Tahu Tauhid Lembang itu yang sekaligus menjadi tempat makan dan tempat berjualan oleh-oleh khas Lembang.
“Nah ayo kita pulang, tapi antar aku ke kantor pusat dulu ngambil mobil, tadi Charlie bilang kuncinya dititipkan kepada Security.”
“OK Kang.” Jawab Sabrina dan Jessy. Mereka mulai mengangkat dan memasukkan semua pesanan makanan itu ke dalam mobil Rubicon Merah milik Sabrina itu. Nata kini kembali duduk di jok penumpang belakang, sementara Jessy sekarang yang memegang kendali stir mobil tersebut. Mereka memilih jalan memotong melewati Cikidang dan Dago Giri. Empat puluh menit kemudian mereka sudah sampai di Kantor Pusat Bank milik mereka bertiga itu. Seorang Satpam lalu menghampiri mobil Rubicon Merah itu, kemudian bertanya maksud tujuan mereka bertiga datang ke gedung yang belum beroperasional itu.
“Saya Jessy Pak, mau ngambil mobilnya Pak Nata yang diparkir didalam gedung.” Ucap Jessy sambil membuka kaca samping mobil itu.
“Ohhh maaf bu, saya tidak mengenali mobil ini, ini kunci mobil yang dititipkan oleh Pak Charlie.” jawab sang satpam itu, lalu dia membuka portal pintu masuk gedung itu.
“Jess kasih mereka tahu Lembang, masih banyak kan ?” tanya Nata.
“Iya nanti pulangnya kang, sekarang kita ke basement dulu ngambil mobil akang. Jawab Jessy
“OK deh.” Ucap Nata. Kemudian mereka masuk kedalam parkiran basement. Setelah itu Nata turun dan menghampiri mobilnya.
“Kalian jalan duluan saja, nanti aku nyusul, aku mau memanaskan dulu mesinnya.” Ucap Nata kepada kedua Istrinya itu.
“Baiklah kang, jangan lama-lama disini, nanti diculik sama ceweq cantik. Hihihi.” Jawab Jessy lalu mulai keluar dari basement gedung itu.
“Dasar Jessy Nakamura. Huuff.” Ucap Nata sambil menghembuskan napasnya. Namun akhirnya dia tersenyum. Lima menit kemudian Nata mulai mengendarai Mobilnya untuk menyusul kedua istrinya yang menuju ke rumah mereka, sekaligus sebagai kantor sementara mereka saat itu. Nata berhenti sejenak di depan Pos Satpam dekat pintu masuk gedung itu.
“Pak ini uang beli rokok dan kopi untuk kalian berdua. Terima kasih yaa.” Ucap Nata kepada Satpam yang membukakan portal pintu keluar dari gedung itu.
“Waduh terima kasih banyak boss besar.” Jawab salah seorang Satpam itu.
Nata lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke ruko, saat dia tiba di Ruko, nampak sudah bertengger Rubicon warna Kuning milik Jessy di depan Ruko itu. Nata lalu segera masuk kedalam basement ruko miliknya itu.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Kalian mau keluar lagi ?“ tanya Nata sambil mengerutkan keningnya.
“Sesuai pembicaraan tadi malam, sekarang giliran aku yang test drive mobil barunya. Hehehe.” Kekeh Jessy.
“Hadeh, kalian ga ada capeknya.”
“Akang capek ? ga mau nemenin kami ?” tanya Sabrina.
“Ehhh enggak, kok aku ga capek. Ayo kalau mau berangkat.”
“Tunggu, kami mau ganti baju dulu, ga enak baju ini sudah bau keringat, akang juga tuh sekalian ganti baju.” Ucap Sabrina lalu menggelayut ke Nata dan bersama dengan Jessy menggiring Nata untuk naik dengan menggunakan lift menuju ke lantai tiga. Didalam lift Nata dengan iseng tangan dan mulutnya mulai menjelajahi tubuh kedua istrinya itu.
“Ihhh akang kok dilepaskan semua baju kami ?” keluh Jessy.
“Iya nih semakin terampil dan jahil saja tangannya, hihihi.” Kekeh Sabrina.
“Katanya mau ganti baju, jadi aku bantu kalian untuk membuka bajunya.”
“Untung hanya kita bertiga yang tinggal di Ruko ini, kalau ada Erna malu tuh.”
“Oh Iya besok lusa hari Senin, kita mulai ngantor di Gedung baru, aku mau mengumpulkan karyawan bank kita. Tolong buatkan undangan ke WA grup Kantor, nanti sambil jalan yaa.” Ucap Nata yang tiba-tiba teringat jadwalnya yang terhenti selama dua hari itu.
“Siap Kang Boss.” Jawab Sabrina dan Jessy dengan serempak.
“Aku mau jadikan Erna sebagai asisten kami kang, boleh yaa ?” Tanya Sabrina saat mereka sudah berada di lantai tiga. Tubuhnya Sabrina dan Jessy yang putih bersih itu kini hanya mengenakan ****** ***** saja.
“Boleh saja, tapi tanya dia dulu dong.” Ucap Nata lalu mengecup puncak dada Sabrina dan Jessy dengan bergantian.
“iihhh ga ada bosannya yaa.” Pekik Jessy yang kegelian dengan kelakuan Nata tersebut.
“Iya demen banget *****, semalam juga mulutnya ga lepas dari dada kita berdua tuh. hehehe.”
“Habisnya kalian berdua sangat cantik dan seksi banget.... istriku. Hehehe.”
“Sudah sana, akang ganti baju juga, yang rapih yaa akangku ganteng.” Usir Jessy yang menyuruh Nata menuju ke kamarnya.
“Baiklah sayang, kalian berdua cium aku dulu dong, supaya tambah semangat untuk hari ini.” Rengek Nata sambil menatap penuh harapan kepada kedua istrinya itu.
“OK deh, hanya cium saja yaa.” Jawab Sabrina lalu mencium dan mengulum bibir Nata dengan lembutnya, kemudian bergantian dengan Jessy yang juga mencium dan mengulum bibirnya Nata.
“Yess !! aku dicium oleh dua bidadariku yang cantik.” Ucap Nata dengan senang dan gembira sesudah mendapatkan ciuman dari kedua istrinya yang cantik jelita itu. Nata nampak berjingkrak jingkrak kegirangan, untung tidfak sambil salto juga, saat melangkah ke kamarnya.
“Hehehe dasar Sultan Titasik, akang mah.” Nata pura-pura tidak mendengar ucapan dari kedua istrinya itu, dia alu masuk kedalam kamar tidurnya, untuk berganti baju. Senyuman di bibir Nata masih terlihat saat dia mulai berganti baju, kemudian menambahkan parfum yang sanga disukai oleh kedua istrinya ke sekujur tubuhnya. Kini Nata sudah berdandan rapi sesuai permintaan dari kedua istrinya itu, bahkan sudah sangat wangi. Nata lalu
mengenakan sepatu Sneekernya yang berlogo daun singkong tiga. Lalu meraih jacket kulit untuk menutupi t-shirt warna biru mudanya itu. Kini dengan setelan jeans bernuansa casual dia mematut-matut kembali dirinya dalam bayangan cermin. Setelah itu dia keluar dari kamar, langsung turun ke lantai satu, menuju ke ruangan kerjanya.
Untuk sesaat Nata nampak serius memeriksa dan menangani seluruh jadwal pekerjaannya. Kemudian dia mulai memutar kursinya, mengalihkan pandangan dari layar monitor PC yang berada di ruang kerjanya itu saat wangi harum parfum dari kedua istrinya mulai tercium oleh Nata.
“Wow keren amat kalian berdua, cantik sekali.” Ucap Nata dengan mulut ternganga.
“Hehehe, akang juga ganteng banget yaa Jess.”
“Iya seperti Justin Bibir, hahaha.” Jawab Jessy.
__ADS_1