
Setelah selesai melakukan pengambilan gambar dan membuat peta dengan menggunakan drone, Nata dan Jessy yang ditemani oleh Abah Rahmat, kembali ke rumahnya Abah. Semua bahan makanan sudah terkumpul di dapurnya Abah Rahmat yang sangat sederhana itu. Nata lalu membantu Jessy untuk mengasah beberapa buah pisau agar lebih mudah ketika digunakan untuk membuat sushi. Setelah semua pisau diperkirakan sudah sangat tajan lalu semua pisau dapur itu diserahkan oleh Nata kepada Jessy. Jessy lalu dengan dibantu oleh Ambu mulai membersihkan ikan tuna serta mengolah daging ikan tuna sebanyak dua ekor itu dengan sangat telaten. Sementara itu Nata berada di halaman rumahnya Abah Rahmat sambil minum kopi mereka ngobrol ngalor ngidul. Membicarakan rencana untuk mewujudkan area resort yang berlokasi di tanah warisan milik Nata di Cipatujah itu.
Satu jam sudah mereka ngobrol di teras depan rumahnya Abah Rahmat itu, beberapa batang rokok kretek sudah mereka hisap. Nampak Jessy dan Ambu mulai menyajikan olahan makanan yang merupakan resep dari Jepang. Sushi sudah tersaji diatas nampan besar, diletakkan di atas alas tikar di ruang tengah rumahnya Abah. Jessy kemudian memanggil Nata dan Abah Rahmat. Air teh hangat yang masih mengepul mengeluarkan uap, menyambut Nata dan Abah, saat mereka berempat duduk bersila di ruang tengah rumahnya Abah itu.
Nata kemudian meminta kepada Abah Rahmat nomor ponsel milik Tatang, sesudah itu dia memanggil Tatang, Wawan dan Asep untuk bersama-sama menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Jessy tersebut. Tidak lama kemudian mereka datang, bersamaan dengan datangnya Kades ke rumahnya Abah.
“Nah kebetulan Jejen datang, Jen mungkin kamu dulu pernah bertemu dengan Den Nata.” Ucap Abah Rahmat.
“Ohh iya Abah, tentu saja. Sudah lama datang kang Nata ?” Ucap Zaenudin yang lebih akrab dipanggil Jejen oleh Abah Rahmat maupun oleh semua warga di Cipatujah itu.
“Lumayan tadi kami datang sekitar jam tujuh pagi, lalu langsung ke Pantai bersama Abah, kenalkan ini istri saya. Jessy.”
Jessy pun segera tersenyum dan menyambut salam dengan mengangkat kedua telapak tangannya didepan dada.
“Lebih baik kita makan bersama dulu, nanti kita lanjutkan ngobrolnya.” Saran Jessy.
“Iya mari kita makan dulu, istri saya dan Ambu sudah memasak banyak nih untuk kita.” Ajak Nata juga.
Setelah selesai menikmati Sushi buatan Jessy, Nata lalu memaparkan rencana pembangunan resort yang sekaligus tempat wisata, resort dan tempat wisata yang akan dijadikan tempat tujuan bagi para wisatawan lokal maupun internasional. Nata menjelaskan semua rencana tersebut sambil menampilkan beberapa desain yang sudah dipersiapkan dari layar laptopnya. Berbagai pertanyaan juga usulan dari Jejen yang seorang Kades itu, ditampung oleh Nata dan Jessy. Dengan perlahan Nata dan Jessy menjelaskan semua rencananya itu, juga menjawab atas semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Kades muda namun ternyata mempunyai wawasan yang cukup luas.
“Baik saya sudah mendengarkan semua penjelasan dari Kang Nata, pada prinsipnya saya pribadi sangat terkesan dengan semua rencana dari Kang Nata. Sebagai Kades juga saya justru akan mengusulkan kepada Camat dan Bupati agar mengikut sertakan area atau lahan di desa ini untuk digabungkan menjadi sebuah kawasan wisata edukasi. Agar nanti pendapatan Desa juga akan meningkat, warga masyarakat di Desa ini juga tidak perlu lagi untuk bekerja di Kota maupun di daerah lain.” Ungkap Jejen dengan tidak kalah semangatnya.
“Alhamdulillah kalau begitu nanti kami akan minta bantuannya, untuk menyampaikan proposal kepada semua dinas terkait agar dapat mendukung semua rencana pembangunan resort dan tempat wisata edukasi ini. Selain akan membuat pembangkit listrik tenaga matahari atau solar cell dan kincir angin, kami juga nanti akan membuat pembangkit listrik yang berasal dari pengolahan sampah, agar desa ini juga tidak bingung untuk membuang sampah, akan kami tampung semua sampah untuk dijadikan sebagai pembangkit tenaga listrik dari pengolahan sampah baik itu sampah organik maupun sampah anorganik. Selain itu juga kami akan membangun kampus, agar semua lulusan SMA disini tidak perlu lagi untuk melanjutkan kuliah di kota, atau daerah lain.”
“Wah hebat kang aku sih sangat setuju sekali dengan semua rencana Kang Nata, Siap Kang Nata, saya akan mendukung 100%, saya juga akan membantu untuk menyampaikan proposal rencana pembangunan resort dan tempat wisata edukasi di desa Cipatujah ini.”
“Baiklah Pak Kades, nanti kami akan kembali lagi kemari dengan membawa proposal juga membersihkan area sebagai langkah awal dari rencana pembangunan, terlebih dahulu akan kami bersihkan area milik kami. Kami akan jadwalkan seminggu sesudah hari ini.”
“Kalau hari Minggu seperti ini, apalagi di rumah Abah Rahmat, jangan panggil saya Pak Kades dong, panggil saja saya Jejen, hehehe.” Protes Jejen sambil terkekeh.
“Ohhh baiklah Kang Jejen.” Jawab Nata dengan tersenyum.
“Untuk kalian bertiga, Tatang, Wawan dan Asep, nanti kalian bantu yaa Kang Nata.” Ucap Jejen sambil memandang ketiga pemuda itu bergantian.
“Siap Kang Jejen.” Jawab Tatang, Wawan dan Asep serempak.
“Kalau kalian sudah lulus sekolah, nanti kalian juga akan aku rekrut sebagai pegawai di resort dan tempat wisata edukasi, ajak juga kawan kawan kalian, kita bangun desa ini agar semakin maju dan lebih dikenal oleh semua wisatawan.” Nata menambahkan agar ketiga pemuda di desa ini semakin semangat.
__ADS_1
“Kalian juga bisa meneruskan sekolah, berkuliah juga disini, nanti kami akan membuka Jurusan baru yang merupakan bagian dari Kampus kami yang berada di Bandung. Kalian mau juga kan jadi mahasiswa ? selain menjadi karyawan di resort ini nantinya.” Tanya Jessy kepada Tatang, Wawan dan Asep.
“Wah mau banget kak.” Jawab Tatang, Wawan dan Asep yang semakin penuh semangat dan antusias nampaknya.
Obrolan mereka pun dilanjutkan, dengan sajian rengginang, kue saroja, juga kopi dan air teh hangat menambah suasana di rumah Abah Rahmat semakin seru dan menarik. Guyonan dan celotehan dari Tatang, Wawan dan Asep juga membuat semua orang yang ada di rumah Abah Rahmat semakin hangat. Sesudah Sholat Dzuhur dan dilanjutkan dengan Sholat Ashar berjamaah di Masjid dekat rumahnya Abah Rahmat, Nata dan Jessy kemudian memasuki rumah penginapan. Seperti juga Jejen, sang Kades juga turut undur diri dari rumahnya Abah Rahmat.
“Kang semoga semua rencana kita nanti untuk membangun desa segera terwujud.” Ucap Jessy setelah dia dan Nata selesai mandi di rumah penginapan tepi pantai itu.
“Iya sayang, kamu tadi juga melihat kan, betapa semangat dan senangnya Jejen, Tatang, Wawan dan Asep saat aku memaparkan semua rencana kita. Nanti aku akan sholat Maghrib berjamaah di Masjid, kamu nanti sholat di rumahnya Abah saja bareng sama Ambu.”
“Iya kang, tapi jangan lama lama yaa.”
“Seperti biasa, akang nanti pulangnya sesudah selesai Sholat Isya kok sayang.”
“Baiklah, nanti kita makan malam berdua disini yaa kang, aku dan Ambu akan masak makanan untuk makan malam nanti di rumahnya Abah Rahmat.”
“Iya sayang, kamu mau masak apa untuk nanti malam ?”
“Entahlah, hmmm bolehkah jika nanti aku ngajak Ambu sebentar, naik mobil untuk berbelanja atau membeli makanan yang sudah siap santap ?”
“Ohhh boleh saja dong sayang, iya lebih baik tidak usah memasak deh, cari makanan yang sudah siap makan saja. Uang cash kamu masih ada kan ?”
“Ohhh iya sayang, hampir saja aku juga lupa.” Ucap Nata lalu segera meraih ponselnya, kemudian langsung menghubungi Sabrina.
“Assalamualaikum calon mama.”
“Waalaikum Kang, kok baru menelepon sekarang sih ? Jessy mana ?”
“Iya maaf kami baru saja selesai mandi setelah tadi seharian ngobrol dengan Kades yang ternyata keponakan dari Abah Rahmat, tadi aku langsung memaparkan saja semua rencana kita, kalau Jessy ada nih di sebelah aku, aku ganti dengan mode Video Call saja deh.” Jawab Nata lalu mengganti mode komunikasi dengan menggunakan Video Call. Kemudian menyerahkan ponselnya kepada Jessy.
“Hai bestie, baru selesai mandi yaa ?”
“Iya Sab, kami menginap di Penginapan tempat kita dulu kemari.”
“Ohh dilanjutkan menginap disitu.”
“Iya bestie, karena besok hari Senin kami akan melanjutkan menemui Camat dan Bupati, dengan diantar oleh Kades yang bernama Jejen itu.”
__ADS_1
“Ohhh syukurlah Jess, aku titip cium sayang dari aku dan my baby, hehehe.”
“OK Bestie, nih aku cium sekarang deh. Muach. Hehehe.” Jawab Jessy lalu mencium Nata yang sedang menyiapkan kain sarung dan peralatan Sholat yang akan dipakainya ke masjid.
“Kamu senang banget keliatannya Jess.”
“Iya senang banget bestie, sayang sekali kamu ga bisa ikut.”
“Nanti deh lain kali aku juga kesana, Akang kita sepertinya mau ke Masjid yaa bestie ?”
“Iya dia sedang bersiap pergi ke Masjid, aku sih mau sholat bareng Ambu saja di rumah Abah Rahmat. BTW mau dibawakan apa dari sini bestie ?”
“Hmmm kalau ikan segar pasti susah, bagaimana jika bawakan ikan asin Jambal saja deh.”
“Siap bestie, besok atau nanti aku akan pesankan, agar bisa dibawa ke Bandung.”
“Sab, aku mau ke Masjid dulu yaa, lanjutkan Video Callnya sama Jessy, see you later sweetie.”
“OK kang, titip doa untuk kami yaa.”
“Iya dong tentu saja.” Jawab Nata lalu menyerahkan kembali ponselnya kepada Jessy. Nata pun berlalu meninggalkan Jessy di penginapan itu.
“Aku juga sambil jalan ke rumahnya Abah yaa bestie.” Ucap Jessy sambil menjinjing perlengkapan sholat menuju ke rumahnya Abah Rahmat.
“Nanti aku juga mau ngobrol sama Ambu dong bestie.”
“Iya tenang saja, kamu pasti juga kangen pengen kemari juga yaa bestie ?”
“Benar Jess, tapi lebih baik sekarang nurut dulu sama akang dan anjuran dari dokter deh, karena aku tidak ingin mengambil resiko buruk.”
“Iya aku juga akan melakukan hal seperti itu, kalau aku juga nanti hamil.”
“Ehhh tadi malam berapa ronde ?”
“Ahh kamu mau tahu aja sih.” Jawab Jessy sambil tersipu malu, untung saja suasana di senja menjelang malam hari itu tidak begitu terang, bisa menyamarkan perubahan warna kulitnya yang tersipu malu itu.
“Iiihhh pake rahasia segala sih, nyantai saja dong bestie, kamu pasti sangat puas yaa ?”
__ADS_1
“Hehehe, iya dong. Kalau untuk urusan kepuasan pasti sangat puas, bahkan aku sangat kewalahan saat melayani akang kita ini. Coba kalau ada kamu deh. hehehe.” Kekeh Jessy sambil terus berjalan menghampiri rumahnya Abah Rahmat yang tidak jauh letaknya dari rumah penginapan.