
Setelah membeli oleh-oleh di Jl. Pasteur, Nata dan Charlie melanjutkan perjalanan menuju ke kantor Pusat. Beberapa kantong plastik di pindahkan ke dalam mobilnya Charlie.
“Kang banyak amat ini, aku kira tidak sebanyak ini.” Ucap Charlie saat mereka di dalam tempat parkir di basement Gedung Kantor Pusat Bank NSP itu.
“Sudah bawa saja, salam untuk istri dan anakmu yaa. Aku pamit yaa, makasih yaa Charlie karena sudah menemani aku tadi di lokasi proyek.”
“Sama-sama kang, seharusnya aku yang berterima kasih karena menerima oleh-oleh makanan sebanyak ini. hehehe.” Kekeh Charlie.
“OK sampai besok yaa, jangan lupa minggu depan kamu persiapkan diri untuk ke Jakarta.”
“Siap kang, aku akan ngobrol dulu sama Lusi nanti di rumah.”
“Aku yakin dia pasti senang, kalau kamu dan Lusi mau tinggal disana, jangan khawatir, ada rumah dinas juga untuk kalian tinggali.”
“Iya kang, hati-hati dijalan.”
“OK kamu juga. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Charlie, lalu Nata mengemudikan mobilnya keluar dari basement gedung kantor pusat Bank NSP itu, tak lupa Nata memberikan beberapa lembar uang untuk dibagikan kepada para sekuriti yang sedang bertugas sore hari itu di pintu gerbang keluar gedung.
Nata nampak sangat senang sekali saat menuju pulang ke rumahnya. Banyak cerita yang nanti akan didongengkan kepada kedua istrinya yaitu Sabrina dan Jessy sepulang di rumah. Lampu penerangan luar di Ruko sudah mulai dinyalakan saat Nata tiba di pelataran halaman ruko miliknya itu. Nata lalu mengaktifkan layar ponselnya dan membuka pintu basement ruko dengan menggunakan aplikasi di ponselnya itu. Setelah masuk ke dalam basement pintu basement itu menutup secara otomatis dan menguncinya kembali. Nata lalu turun dari dalam mobil Rubicon Double Cabin hitam itu, lalu menurunkan beberapa makanan yang tadi dibelinya di Jl. Pasteur sebagai oleh-oleh untuk kedua istrinya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Jessy dan Sabrina yang langsung menyambutnya dengan kecupan di pipi kiri kanannya Nata.
“Bawa apa tuh kang ?”
“Cemilan, ada opak, kicimpring, rengginang dari Jl. Pasteur dan kopi dari Kang Andi.”
“Aku mau dong rengginangnya.” Pekik Jessy.
“Pelan-pelan bukanya sayang, jangan sampai remuk.”
“Hehehe, iya akang sayang.” Jawab Jessy.
“Kalau aku ingin kicimpring. Ini tinggal makan yaa kang ?” Tanya Sabrina yang juga turut unboxing oleh-oleh yang dibawa oleh Nata itu.
“Iya semua tinggal makan, sengaja supaya kalian tak perlu menggorengnya lagi, paling enak kalau makannya ditemani dengan kopi.”
“Bilang saja kalau akang ingin dibuatkan kopi.” Ucap Sabrina.
“Iya tapi nanti saja bikin kopinya, sekarang kita sholat Maghrib dulu yuk.”
__ADS_1
“Aku belum boleh sholat, biar saja aku yang seduhkan kopinya deh.” Ucap Jessy.
“Bawa ke atas saja yaa, kita makan dan minumnya sambil nonton di atas.”
“Yaa sudah, akang mandi dulu sekalian sana, nanti kami nyusul ke atas sama Jessy.”
“OK deh.” Jawab Nata lalu naik ke lantai tiga dengan membawa kopernya.
Lima belas kemudian Sabrina dan Jessy sudah naik ke lantai tiga. Jessy menyiapkan makanan di ruang home theater, sedangkan Sabrina bergabung dengan Nata di Mushola untuk menunaikan shalat Maghrib. Setelah selesai sholat Maghrib Nata dan Sabrina yang masih mengenakan mukena lalu menghampiri Jessy di ruang home theater.
“Kang mau makan malam dengan apa ?” tanya Jessy.
“Jangan pesan apa-apa lah, kita habiskan saja cemilan ini. Lagi pula tadi akang masih kenyang setelah makan siang bareng kang Andi.”
“Kami juga tadi makan siang bareng Teh Putri, Teh Ane dan Teh Mira, mereka bawa anak anaknya, lucu-lucu deh kang, apalagi si kembar.” Ucap Jessy
“Iya jadi kami juga masih kenyang kang.” Tambah Sabrina.
“Ohhh begitu, tadi kang Andi ngasih lagi kopi, padahal stock kopi dari dia masih banyak.”
“Iya karena yang sangat doyan ngopi disini cuma akang. Akang tadi belum cium kami ihhh.” Protes Jessy.
“Hehehe, kan akang belum mandi, nanti kalian menghirup bau sinar matahari dariku.” Kemudian Nata mencium Jessy dan Sabrina bergantian.
“My baby wanna kiss too.”
“Aku kan belum ada bayinya kang.”
“Supaya adil dan cepat ada bayi juga di perutmu Jess.”
“Aaiihh akang, jangan sambil megang-megang dong.” Ucap Jessy kegelian.
Lalu merekapun larut dalam suasana penuh kehangatan di ruangan home theater itu, sambil menonton mereka ngobrol hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Sayang kita belum sholat Isya, ayo sebelum tidur kita sholat dulu." ajak Nata kepada Sabrina.
“Iya kang, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jadi besok Bang Arwan mau ke lokasi proyek ?” Tanya Sabrina.
“Iya, akang kesana juga sebentar, nanti biar Charlie yang mendampingi selama Bang Arwan ada disana.”
“Alat beratku juga aku titipkan di gudangnya Kang Andi dekat pabri Kopinya.” Ucap Jessy.
“Aku malah belum pernah kesana Jess.”
__ADS_1
“Nanti deh sewaktu-waktu kita kesana, aku sewakan juga, anak buahnya Bang Arwan yang sering membuat laporan data penyewaan alat berat milikku itu.”
“Kalau kamu mau nambah beli alat berat silahkan Jess, kamu perlu uang berapa tinggal
tulis saja sendiri.”
“Belum aahh kang, masih fokus dulu untuk pengelolaan Bank kita, nanti deh setelah setahun atau dua tahun lagi baru mulai melebarkan sayap untuk bidang lainnya.”
“Ohh ok deh.”
“Aku siapkan kamar tidur dulu yaa kang.”
“Iya Jess, nanti aku sama Sabrina nyusul deh setelah selesai sholat.”
“OK kang boss.” Jawab Jessy, Nata pun mengecup keningnya Jessy, saat tiba di pintu mushola, Nata lalu mengambil air wudhu di dinding depan mushola itu bersama Sabrina. Setelah selesai Sholat Isya, Sabrina lalu berkata kepada Nata.
“Kang, nanti kalau Jessy sudah selesai datang bulan, lebih baik akang sama Jessy ambil liburan, biar aku nunggu saja dirumah.”
“Kok begitu sih sayang ? kan biasanya kemanapun kita pergi bertiga.”
“Kang, waktu Jessy tadi siang melihat anak-anaknya dari Kang Andi, terbaca di raut wajahnya keinginan yang begitu kuat untuk cepat hamil seperti aku sekarang. Tolong beri dia kesempatan yaa kang. Seperti akang ketahui dari awal kami berdua bersahabat, bahkan kami mengannggap bagaikan saudara kandung sendiri, kami berdua bagaikan punya ikrar dalam diri masing-masing untuk tidak saling menyakiti satu sama lain, bahkan kami berdua sangat saling mengasihi, saat Jessy sedang sedih atau senang aku seperti merasakan hal sepeti itu, juga demikian juga sebaliknya, dengan kata lain ikatan batin kami sangat kuat, sampai kapanpun.”
“Kamu yakin tidak apa-apa, jika ditinggal sendiri di rumah ?”
“Aku bisa minta tolong ditemani oleh Erna selama kalian berdua pergi liburan, please aku memintanya untuk kebahagian my bestie ku Jessy.” Ucap Sabrina sambil memegang kedua pipinya Nata dan menatap penuh dengan harapan kepada Nata.
“OK deh kalau begitu, biasanya dia selesai datang bulan berapa hari sih ?”
“Paling dua atau tiga hari lagi biasanya selesai tuh. Jadi akang mau memenuhi keinginan kami ?”
“Tentu saja dong Sabrina sayang, aku tidak ingin salah satu dari diri kalian merasa kekurangan, aku akan berusaha untuk memenuhi semua kekurangan itu, aku akan melakukan hal yang terbaik, sebaik mungkin untuk kalian berdua.”
“Makasih yaa akang.” Jawab Sabrina lalu memeluk Nata dengan sangat erat dan menciumnya dengan penuh rasa kasih sayang. Setelah itu Nata dan Sabrina lalu melipat semua peralatan sholatnya, kemudian beranjak menuju ke kamar tidur, menyusul Jessy yang sedang berbaring di pembaringan yang sudah terlihat rapi dan wangi. Nata lalu memeluk Jessy saat dia sudah berada di pembaringan itu.
“Ada apa kang ?” tanya Jessy dengan mengerutkan keningnya.
“Dua hari lagi hari Minggu, aku mau ngajak kamu Jess, Sabrina kan tidak boleh terlalu lelah, kamu mau kan ?”
“Mau pergi kemana ?” Tanya Jessy sambil bergantian menatap Sabrina.
“Akang mau diantar olehmu untuk melihat tanah di Cipatujah itu Jess, kamu tahu sendiri kan Jess, kata dokter aku kan belum boleh jalan sejauh itu.” Ucap Sabrina berusaha menjelaskan agar Jessy tidak terlalu curiga dengan skenarionya itu.
“Ohhh iya deh kang, aku mau.” Jawab Jessy sambil tersenyum dengan senangnya.
__ADS_1
“Sip, makasih yaa Jess, sini kalian peluk aku lagi, temani lagi mimpi ku.” Ajak Nata lalu memeluk Sabrina dan Jessy di sisi kiri kanan tubuhnya. Jessy dan Sabrina pun memeluk bahu kiri dan kanan Nata dengan eratnya. Nata merasakan butiran air mata dari kelopak mata Sabrina membasahi dadanya, namun Sabrina malah membenamkan seluruh wajahnya, menyembunyikan agar tetesan air mata bahagia bercampur rasa haru itu tidak terlihat oleh Jessy. Nata lalu mengelus kedua kepala yang nyaris beradu diatas dadanya itu. Dengan lembut dan penuh rasa sayang, Nata mengelus kepala Sabrina dan Jessy yang berambut tebal itu, sampai kedua istrinya itu tertidur dengan lelap diatas dadanya.
“Aku sayang banget sama kalian berdua.” Guman Nata dengan suara pelan sebelum dirinya juga turut tertidur dalam dekapan hangat kedua istrinya itu.