
Jessy dan Sabrina terbangun dalam pelukan suaminya. Nata yang berusaha untuk bangkit karena memang sudah terbiasa bangun pukul empat sangat kesulitan karena tangan kiri dan kanannya dijadikan bantal oleh Sabrina dan Jessy. Maka dari itu saat
Nata berusaha bangun, kedua istrinya itu jadi ikut terbangun. Kedua lengan Nata terasa kebas akibat tersumbatnya aliran darah dari lengannya yang membuatnya seperti merasa kesemutan.
“Uhhhgg aduh, tanganku jadi kebas begini.” Keluh Nata.
“Hehehe maaf yaa kang, tangan akang kami jadikan bantal.”Kekeh Sabrina.
“Ihhh iya kasihan amat akang kita Sab.”
Sabrina dan Jessy lalu membantu Nata untuk bangkit dari tidurnya, kemudian memijat-mijat lengannya Nata. Mereka lalu memeluk Nata dengan duduk diatas kasur empuk itu. Sabrina dan Jessy lalu menciumi pipinya Nata, suami yang sangat mereka sayangi itu. Dengan perlahan bibir mereka menjelajahi lehenya Nata, Jessy yang sudah mulai tidak tahan segera ******* bibirnya Nata. Napas mereka kini seolah sedang berlomba, seiring suara
deburan ombak di tepi pantai itu. Sabrina kini bergantian mengulum bibirnya Nata, lidahnyapun turut lincah menari didalam rongga mulutnya Nata, saling bertukar salifa saling membelit lidah mereka masing-masing. Saat libido dari kedua istrinya mulai semakin bangkit, Nata menghentikan kegiatan kedua istrinya itu.
”Sayangku Sabrina dan Jessy, lebih baik kita sholat Subuh dulu, mumpung kita belum terlalu dalam.”
“Hmmmm,” dengus Jessy dan Sabrina dengan tatapan mereka yang sayu itu. Wajah mereka begitu dekat dengan wajah suaminya itu. Kini Nata yang memaksa kedua istrinya untuk bangkit, dia menarik tubuh kedua istrinya itu sampai di tepi tempat tidur.
“Nanti kita lanjutkan sayang, aku janji akan memuaskan kalian berdua. Ayo.” Ajak Nata kembali, sambil memeluk pinggang ramping Sabrina dan Jessy yang tanpa busana itu.
“Nanti kita jangan kemana-mana yaa disini saja.” Rengek Jessy.
“Iyaa kang kami ingin bersama akang di kamar ini saja.”
“Iya-iya, kita ga akan kemana-mana sebelum kalian berdua puas.” Jawab Nata sambil bergantian menatap wajah kedua istrinya itu. Akhirnya Jessy dan Sabrina menuruti perintah suaminya itu. dengan langkah gontai mereka melangkah menuju ke dalam kamar mandi yang berada diluar kamar mereka. Semua Lampu di dalam penginapan itu padam kecuali lampu kamar mandi dan lampu penerangan teras penginapan itu. Sajadah bekas tadi malam sholat Isya, masih terhampar di ruang tamu penginapan yang terasa luas karena minim perabotan itu, seakan tiga helai sajadah yang terhampar itu sudah menunggu mereka yang sedang mengambil air wudhu di dalam kamar mandi. Nata keluar lebih dulu dari pada kedua istrinya itu setelah selesai mengambil air wudhu.
Nata lalu mengenakan kain sarung dan t-shirt nya yang tadi malam teronggok diatas sajadahnya. Demikian juga dengan kedua potong mukena milik Jessy dan Sabrina masih teronggok diatas sajadahnya Jessy dan Sabrina. Kedua istrinya itu keluar dari kamar mandi dengan tubuh menggigil menahan hawa dingin di pagi hari yang masih
gelap itu, mereka hanya mengenakan pakain dalamnya saat keluar dari kamar mandi. Nata lalu menyerahkan mukena untuk Jessy dan Sabrina dengan diiringi senyuman manis kepada kedua istrinya itu. Jika tidak akan menunaikan sholat Subuh tentu sudah Nata terkam tubuh kedua istrinya putih mulus dan padat berisi itu. Nata hanya menelan salifanya saat Jessy dan Sabrina membalas senyuman yang tak kalah manis kepadanya. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengumandangkan iqomah di sebuah masjid yang tak jauh dari penginapan itu. Nata lalu bangkit dari duduk bersilanya, setelah melihat kedua istrinya itu selesai mengenakan mukena. Wajah kedua istrinya nampak sangat bercahaya oleh bilasan air wudhu di wajah mereka. Sejenak Nata menatap mata sipitnya Jessy dan memandang dua buah bola mata birunya Sabrina, sangat cantik sekali mereka saat dibalut pakaian mukena itu. Lalu Nata membalikkan badannya menuju kiblat, dia mulai memimpin sholat Subuh menjadi imam dari kedua istrinya. Setelah selesai sholat, ditutup dengan doa dan berdzikir. Nata lalu membalikkan badannya, menerima salam dari tangan kedua istrinya itu, Nata juga membalas dengan mencium kening kedua istrinya secara bergantian. Jessy dan Sabrina lalu memeluk tubuh suaminya yang sangat dicintainya itu. Tetes mata tidak bisa dibendung lagi oleh Jessy dan Sabrina. Nata yang merasakan kini bahunya mulai lembab dan basah kemudian bertanya kepada Jessy dan Sabrina.
“Mengapa kalian berdua menangis ?”
__ADS_1
“Aku sangat bahagia kang.” Jawab Sabrina.
“Aku juga merasa tenang dan nyaman saat sudah selesai Sholat bersama akang.” Jawab Jessy.
“Hati kami menjadi sangat sejuk, tapi bukan kedinginan saat tadi kami mengambil air wudhu.” Tambah Sabrina.
“Ohhh karena itu, makanya kita jangan pernah meninggalkan sholat jika tidak sedang berhalangan, kalau kalian berdua tentu punya alasan secara biologis, nah kalau seperti aku laki-laki tidak ada halangan seperti kalian berdua.”
“Saat akang tadi mengucapkan do’a dalam bahasa Arab, meskipun kami tidak mengetahui artinya namun hati kami seperti sangat tersentuh.” Ucap Sabrina lagi.
“Benar kang, ajari kami lagi untuk berdo’a, jadikan kami juga dapat berdo’a dan merasakan sejuknya atas kalimat do’a seperti akang lantunkan itu.” Ucap Jessy sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Iya sayangku istriku Sabrina dan Jessy, akang memang sengaja mengumandangkan doa tersebut untuk kalian, agar kalian berdua juga dapat mengikuti dan menghapalkannya. Sekarang akang ingin beribadah terhadap kalian.” Ucap Nata lalu mulai membantu membuka mukena yang dikenakan oleh Sabrina dan Jessy dengan bergantian. Setelah itu mereka kembali menuju kamarnya.
“Apakah do’a saat kita sedang bersama kalian juga menyimaknya ?”
“Iya kang, apa gunanya itu ?” tanya Jessy dan Sabrina yang sudah duduk diatas pembaringan.
“Gunanya agar gerakan kita saat sedang campur tidak diganggu oleh setan, dan juga kelak nanti anak yang akan kalian kandung nanti menjadi anak yang Sholeh atau Sholehah.”
“Iya Jess kita kan dulu sekolahnya di sekolah umum dan setiap jam pelajaran Agama kita selalu keluar dari kelas, karena kita saat itu belum memeluk agama Islam.”
“Aku ingin bertanya kepada kalian, ini sifatnya lebih pribadi. Mengapa pada akhirnya kalian berdua memilih untuk memeluk Agama Islam ?”
“Swear yaa kang, pada awalnya kami hanya ingin agar kami lebih diterima oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.” Jawab Sabrina.
“Iya kang, karena kami anggap apabila kami menjadi muslimah semua usaha kami akan menjadi lancar.” Jessy turut menambahkan.
“Jadi kalian berbarengan masuknya ? siapa yang awalnya membimbing kalian ?”
“Iya itu juga karena, pada awalnya kami tertarik kepada Pak H. Mumuh, yang menurut kami kolega dan pergalualannya sangat luas, Pak Haji Mumuh itu juga yang awalnya membimbing kami, seharusnya kami terus belajar kepada Pak Haji Mumuh, namun kesibukan kami yang ternyata membuat kami melupakan hal itu.” Ucap Sabrina
__ADS_1
“Nah saat akang mengajak kami menikah dan ternyata akang adalah seorang laki-laki yang sangat taat, kami lebih tertarik lagi kang. Ohh iya apakah akang pernah pergi Haji ?” Tanya Jessy.
“Aku juga masih belajar Jess, iya aku sudah beberapa kali pergi ke Tanah Suci, beberapa kali Umroh sambil mengurus bisnis bidang property ku di Timur Tengah, pernah sekali juga waktu musim haji kesana, semua itu pada saat aku masih kuliah dan bekerja di USA.” Tutur Nata.
“Kenapa akang tidak memakai gelar haji seperti Pak Haji Mumuh.” Tanya Sabrina.
“Hehehe, kalian lucu, Haji itu bukan gelar, haji itu sebutan para Afkar di tanah suci saat umat muslim melaksanakan ibadah haji, kita saja di Indonesia yang salah kaprah, dianggapnya Haji itu adalah sebuah gelar, aku saja meskipun sudah selesai kuliah gelar Graduate, Master dan Doktor tidak aku cantumkan pada namaku, karena waktu di Amerika gelar tidak atau kurang berlaku, yang lebih berlaku adalah sikap dan attitude kita sebagai seorang intelektual yang profesional.”
“Hhhmmm benar juga yaa apa yang dikatakan sama akang kita ini Sab.”
“Iya dong tentu saja, dia kan lama di luar negeri, nah sekarang umur akang kan 26 tahun, saya 23 tahun seperti Jessy. Apakah akang tidak berminat lagi untuk melanjutkan sekolah ?”
“Nanti kalau aku berhasil mempertahankan sebuah karya ilmiah yang merupakan penemuan baru, aku akan ajukan kepada Dosen pembimbingku.”
“Wahh hebat, selangkah lagi akang kita akan jadi Profesor Jess.”
"Hahaha. Profesor Titasik." Kekeh Nata.
“Iyaa akang hebat deh.” Ucap Jessy lalu memeluk Nata dengan erat, diikuti oleh Sabrina. Kini mereka kembali bergulat diatas tempat tidur itu, sampai Jessy dan Sabrina merasakan lelah setelah mencapai puncak kepuasannya. Mereka baru kembali terbangun saat sinar matahari mulai menghangatkan badan mereka dari celah celah jendela di kamar penginapan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat perut mereka bersahutan ingin segera diisi.
”Kalian lapar yaa ?”
“Iya kang.” Jawab Sabrina dan Jessy sambil mengelus perut langsingnya
“Aku juga lapar, ingin mimi susu dulu tapi.” Ucap Nata lalu menerkam tubuh Sabrina dan mengulum puncak gunung milik Sabrina, setelah puas dengan gunung kembar milik Sabrina Nata lalu bergantian mengulum puncak gunung milik Jessy. Kedua tangan Nata juga sangat liar mempermainkan puncak gunung milik kedua istrinya itu. Membuat Jessy dan Sabrina merasakan kewalahan atas kegiatan bayi raksasa mereka itu. Pekikan dan erangan dari Jessy dan Sabrina yang kegelian membuat rasa lapar mereka sementara hilang. Setelah itu Nata melepaskan terkamannya. Lalu memandang jejak bibir pada kedua pasang puncak gunung milik kedua istrinya itu sambil tersenyum penuh kepuasan.
“Ihhh akang doyan banget ngedot yaa ? hihihi.”
“Iya padahal belum keluar tuh cairan susunya. Hahaha.”
Nata, Sabrina dan Jessy pun tertawa terbahak-bahak didalam kamar itu.
__ADS_1
“Kita panaskan saja sisa ikan yang kemarin, mau ?” tanya Nata.
“Iya tuh, masih banyak diatas meja makan sisa makananya, tidak pakai nasi juga pasti kenyang deh.” Ucap Jessy lalu bangkit dan mengenakan kembali pakaiannya, diikuti oleh Sabrina yang melakukan hal yang sama. Sementara itu Nata yang hanya mengenakan kain sarung mulai menghangatkan makanan diatas kompor dengan wajan yang ada di dapur penginapan itu.Merekapun makan ikan bakar yang jumlahnya masih banyak itu di meja makan dengan lahapnya.