Tangguh

Tangguh
Bab 66 Kelom Geulis.


__ADS_3

Cuaca di hari Senin itu nampak sangat cerah, secerah raut wajah Jessy yang sudah selesai mandi pagi dan berdandan dengan rapi berbalutkan busana muslimah, menambah semakin cantik dan anggun penampilan dari Jessy. Nata juga nampak sudah siap dan sudah rapih di pagi hari itu. Rencana Nata dan Jessy hari ini akan menemui Camat dan Bupati bersama dengan Jejen, untuk itu mereka terlebih dulu sarapan pagi dengan makanan yang sudah disiapkan oleh Ambu yang diantarkan oleh Wawan sambil dia berangkat ke sekolah.  Setelah Nata dan Jessy selesai sarapan pagi, mereka pun lalu berpamitan kepada Abah Rahmat dan Ambu. Dengan didampingi oleh Jejen mereka berangkat menuju ke kantor Camat.


Di kantor Camat, Jejen lalu membuka pembicaraan tentang rencana pembangunan komplek resort dan tempat wisata edukasi serta rencana pembangunan kampus yang juga merupakan bagian dari jurusan kampus yang kini sedang dibangun di Kab. Bandung Barat. Pak Camat yang bernama Sulaeman itu menyambut baik atas semua rencana dari Nata dan Jessy. Dia juga berjanji akan turut membantu sampai dengan tuntas atas semua rencana pembangunan resort dan tempat wisata edukasi itu. Semua pembicaraan tahap awal itu berjalan dengan lancar, hingga pada akhirnya Nata dan Jessy berpamitan.


“Kang Jejen, untuk menghadap Bupati nanti lebih baik kami menyiapkan bahan-bahan pemaparan, agar nanti audensi dengan Pak Bupati lebih profesional lagi.”


“Ohhh begitu kang, baiklah jika memang hal itu perlu dipersiapkan, ini nomor kontak saya, barang kali nanti perlu.”


“Ohh perlu banget dong, akan saya catat. Nanti terlebih dahulu akan saya kirimkan konsep proposal melalui WhatsApp.” Ucap Nata lalu menyimpan nomor kontak Kades muda yang enerjik itu.


“Baiklah kang Nata, ini sekedar oleh-oleh dari kami. Maaf seadanya saja.” Ucap Jejen lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari bagasi motornya.


“Apa ini ? Waduh pakai repot-repot segala.”


“Hanya ikan asin jambal roti, hasil pengolahan dari nelayan kami.”


“Waduh terima kasih banyak, kebetulan Sabrina memang pesan ikan asin jambal.” Ucap Jessy.


“Hahaha, Alhamdulillah, saya mohon maaf apabila penyambutan dari kami kurang berkenan.” Ucap Jejen.


“Terima kasih, Justru sangat merasa merepotkan Kang Jejen, dengan rencana dadakan ini.”


“Tidak apa kang Nata, semoga ini semua menjadi langkah awal dari semua rencana Kang Nata, insya Allah nanti ke depan kerjasama kita akan terus berlanjut, jarang ada yang perduli dengan desa kami. Saya sangat salut dengan rencana Kang Nata.”


“Iya semoga semua usaha kita berjalan dengan lancar. Kami pamit yaa Kang Jejen, salam untuk keluarga.”


“Iya Kang Nata, hati-hati di jalan.”


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Nata dan Jessy lalu meluncur dengan mengendarai mobil Rubicon Kuning itu untuk kembali ke Kota Tasikmalaya terlebih dahulu. Sesampainya di rumah masa kecilnya Nata itu, mereka disambut oleh Mang Sobri yang membukakan pintu gerbang rumah.


“Aehh Aden Mamang kira tidak akang menginap disana.”


“Iya Mang, ini juga dadakan karena tadi kami dengan diantar oleh Kades menemui Pak Camat, doakan saja nanti rencana usaha kami berjalan dengan lancar yaa Mang.”


“Aamiin semoga Den.”


“Kami juga tidak akan lama Mang, karena kami harus segera ke Bandung.” Ucap Jessy.


“Ohh kok buru-buru Neng ?”


“Iya Mang, kami kan harus segera membuat proposal dan  berdiskusi dengan pihak Konsultan untuk rencana pembangunan tersebut.” Tambah Jessy.


“Ohhh begitu.”


“Mang Dudung sama Mang Undang kemana ?” Tanya Nata.

__ADS_1


“Kalau pagi hari mereka masih di kebun teh, mengawasi yang sedang memetik teh di atas bukit sana Den.”


“Tolong sampaikan salam dari kami berdua, kami akan berpamitan, sebelumnya akan mengambil barang-barang yang masih tersisa di kamarku Mang.”


“Silahkan Den, nanti Mamang akan sampaikan.” Jawab Mang Sobri sambil membukakan pintu rumah dan mengantar Nata dan Jessy menuju ke kamar tidur.


“Kang bolehkah jika aku bawa beberapa foto yang terpasang di dinding, untuk di Scan ?”


“Untuk apa ?” Tanya Nata dengan heran, saat mereka sedang membereskan pakaian untuk dimasukkan kembali kedalam traveler bag. Keningnya Nata seketika juga terlihat berkerut sambil memandang Jessy.


“Nanti kita pajang di ruang tamu agar anak-anak kita juga tahu wajah dari Kakek dan Neneknya, akan aku print dengan ukuran besar dengan pigura yang bagus.”


“Ohhh begitu, tapi nanti kembalikan lagi kemari yaa.”


“Iya dong kang, kan kita akan kembali lagi kemari minggu depan, jadi boleh yaa.”


“Silahkan, aku bantu untuk menurunkannya.”


“Terima kasih yaa kang.” Ucap Jessy kemudian menggusur traveler bag menuju ke mobil.


“Mang Sobri saya pinjam dulu foto-foto ini, minggu depan akan saya kembalikan lagi kemari.”


“Ohh silahkan saja den, itu kan hak aden semua, hehehe.”


“Biar bagaimanapun aku harus bilang dulu dong, jangan sampai nanti jadi pertanyaan dari Mang Dudung maupun Mang Undang.”


“Hehehe iya juga den.”


“Baik Den,  terimakasih, nanti Mamang sampaikan juga kepada mereka.”


“Saya juga pamit yaa Mang, mumpung masih jam sepuluh.” Ucap Jessy lalu menyalami Mang Sobri.


“Iya neng, hati hati yaa dijalan.”


“Iya Mang Assalamualaikum.” Ucap Jessy dan Nata.


“Waalaikumsalam.” Jawab Mang Sobri, lalu mengantarkan Nata dan Jessy sampai mereka keluar dari pintu gerbang rumah masa kecilnya Nata itu. Jessy dan Nata lalu melambaikan tangannya kepada Mang Sobri. Setelah membalas lambaian tangan dari Nata dan Jessy, Mang Sobri pun kembali menutup pintu gerbang rumah itu dari dalam.


“Duh den, maafkan Mamang, seandainya dulu Mamang yang mengemudikan mobil, mungkin Ayah dan Ibu Den Nata masih hidup sampai sekarang.” Guman Mang Sobri, seolah menyesali kejadian dua tahun yang lalu saat Ayah dan Ibunya Nata mengalami kecelakaan dalam mengemudikan mobil.


Sementara itu Nata yang mengemudikan mobil dengan santai bersendau gurau dengan Jessy. Sesekali Jessy mengecup pipinya Nata.


“Kang, Jessy sayang banget sama akang.” Ucap Jessy.


“Sama dong, aku juga sayang banget sama kamu Jess.” Jawab Nata sambil tetap fokus mengemudikan mobil Rubicon Kuning itu.


“Setelah dua hari dua malam ini kita selalu bersama, aku jadi semakin sayang sama akang, semakin nyaman juga.”


“Hehehe, kamu juga semakin hot Jess, aku suka itu.”

__ADS_1


“Idih akang mah, malah kesitu arahnya.” Rengek Jessy seraya mencubit gemas tangannya Nata.


“Logat kamu jadi berubah, seperti mojang dari Tasikmalaya, padahal baru dua hari dua malam kita disana, hehehe.” Ucap Nata yang terus menggoda Jessy, tanpa dirasakan olehnya cubitan gemas dari tangannya Jessy itu.


“Ehh jadi ingat kang, kalau beli kelom geulis dimana ?”


“Nanti di depan, di Rajapolah kita pasti lewat kesana kok, disana menjual aneka souvenir kerajinan khas Tasikmalaya, kamu mau ?”


“Mau dong kang, belikan untuk Sabrina juga yaa kang.”


“Iya sayang, apa sih yang tidak boleh untuk kamu Jessy.”


“Idih akang mulai ngegombal deh.”


“Mau sekalian kita beli juga tokonya ?”


“Jangan dong, nanti mereka ga bisa jualan lagi, hehehe.”


“Kamu harus tahu juga sejarah dari kelom geulis itu, itu merupakan adaptasi dari budaya kerajinan dari Jepang juga, termasuk payung lihat saja nanti, yang membedakan adalah motif dan corak dari lukisan atau ukiran dari kelom geulis dan payung tersebut. Selain itu ada juga tas dan aneka assesoris lainnya.”


“Mau dong, aku mau semua, kelom geulis, payung, tas juga assesoris kerajinan tangan dari Tasikmalaya.”


“Iya-iya nanti kita beli untuk Sabrina juga.”


“Asik, terima kasih yaa akangku yang baik dan ganteng. Hihihi.”


“Sami-sami Neng Jessy anu geulis pisan, hehehe.”


Merekapun tertawa riang didalam mobil Rubicon itu. Tak lama kemudian merekapun sampai di pusat kerajinan tangan Rajapolah Tasikmalaya. Jessy bagaikan kalap menunjuk semua barang yang sekiranya sangat bagus dan cantik untuk dipakainya. Jessy juga bahkan membeli kerudung dan mukena khas dari Tasikmalaya yang terkenal dengan bordirannya itu. Nata hanya mengangguk dan tersenyum melihat tingkah laku Jessy itu. Setengah jam kemudian Jessy dan Nata kembali masuk kedalam mobil Rubicon Kuning itu, bagasi dan jok penumpang belakang sudah dipenuhi dengan barang-barang belanjaan. Ternyata selain membelikan untuk Sabrina, Jessy juga membelikan oleh-oleh juga untuk Erna, Emaknya Erna dan Lusy istrinya Charlie. Senyuman lebar penuh kepuasan tersungging di bibirnya Jessy yang mungil itu.


“Jangan senyum terus Jess, nanti sesampainya di Bandung bibir kamu jadi kering dong. Hehehe.”


“Isshhh akang meledek yaa, biarin dong, kan nanti sesampainya di rumah aku nanti membagikan oleh-oleh untuk Sabrina Erna, Emaknya Erna dan Lusy.”


“Ohhh begitu iya deh. Ehh sudah adzan Dzuhur Jess.” Ucap Nata saat mereka baru saja memasuki pintu tol Padaleunyi.


“Iya ga ada rest area, sebentar lagi juga kita akan keluar dari jalan tol lewat pintu tol Buah Batu, kita sholat di rumah saja kang, mungkin tiga puluh menit lagi kita sampai ke rumah.”


Pada pukul satu merekapun sudah tiba di pelataran parkir ruko. Jessy lalu membuka pintu garasi basement ruko tersebut dengan menggunakan aplikasi ponselnya. Sesampainya di basement Sabrina sudah menunggu di pintu masuk dari basement menuju ke rumah.


“Alhamdulillah kalian berdua selamat.” Ucap Sabrina menyambut kedatangan Nata dan Jessy.


“Iya sayang Alhamdulillah.” ucap Nata sambil memeluk erat Sabrina disusul oleh Jessy.


“Aku bawakan sesuatu untukmu bestie.”


“Asin Jambal ?”


“Ada yang lain deh.”

__ADS_1


“Nanti saja kita bongkar sama-sama, sekarang kita Sholat dulu, Sabrina kamu sudah Sholat ?”


“Sudah dong kang.” Jawab Sabrina. Merekapun langsung naik ke lantai tiga dengan menggunakan lift.


__ADS_2