Tangguh

Tangguh
Bab 88-A. Pertemuan perdana Amanda dengan Opa Korea.


__ADS_3

“Kang kita harus berangkat ke kantor.” Ucap Sabrina pada saat dia membaca pesan dari ponselnya.


“Kenapa ?”


“Ada beberapa dokumen yang harus kita tandatangi, berkaitan dengan beberapa kantor Cabang Bank kita itu. Sejak kemarin, hari Senin dan hari Selasa ini kita kan ga masuk ke kantor.”


“OK deh, ayo kita bersiap.”


“Jangan lupa kita pulang dari kantor mampir dulu ke Ruko kita kang.” Ucap Jessy.


“Oh iya kang, sekalian ngambil si Silver, sudah lama tidak dipanaskan mesinnya.” Tambah Sabrina.


“Baiklah, aku juga mau ngangkut PC kita, agar nanti kalau kamu mau pakai Ruko itu Jess bisa leluasa lagi.”


“Iya Kang. mungkin minggu depan aku dan beberapa anak buahku akan membereskan semua barang yang ada di Ruko, kalau alat-alat fitness bagaimana, mau diangkut kemari juga ?” Tanya Jessy.


“Tidak perlu-lah, disini juga kan sudah ada, tuh ruang kebugaran yang di dekat kolam renang, alat-alat fitess sudah lengkap.” Jawab Nata.


“Beruntung sekali kita yaa, beli rumah yang sudah lengkap dengan semua perabotannya.” Ucap Sabrina.


“Ayo siap-siap, katanya mau ke kantor. Kalau aku sih tinggal ganti baju saja, kalian berdua kan harus berdandan dulu, sayang.” Ucap Nata mengingatkan.


“Iya kang. Kami janji, ga akan lama kok dandannya. hehehe.” Jawab Sabrina, kemudian mereka masuk ke ruang ganti pakaian yang letaknya bersebelahan dan mempunyai pintu koneksi langsung menuju ke kamar tidur mereka.


Dua puluh menit kemudian mereka sudah keluar dari rumah tersebut. Tepat pukul dua siang, mereka sudah berada di jalan raya menuju ke kantor mereka dengan mengendarai Rubicon Kuning milik Jessy. Jessy yang berada di jok pengemudi, disebelahnya duduk Sabrina, dibelakang Nata nampak sedang memelototi ponselnya, memeriksa semua notifikasi yang terlihat dari ponselnya.


“Wah banyak sekali pesan dari email ku, nanti akan aku share juga kepada kalian berdua.” Ucap Nata, kembali dia memasukkan ponsel pintarnya kedalam kantong Jas warna Cream, busana yang dipilihkan oleh Jessy dan Sabrina untuknya. Busana yang membuat Nata nampak semakin gagah dan terlihat lebih berwibawa saat dikenakan olehnya. Sedangkan Sabrina dan Jessy mengenakan Busana muslimah yang sangat terlihat anggun, warna Salem dan beberapa asesoris yang dikenakan membuat Jessy dan Sabrina nampak semakin cantik anggun, penuh dengan kharisma sebagai wanita muslimah. Wangi parfum mereka tercium, tidak menyengat menusuk hidung, bahkan terasa sangat membuat suasana hati semua orang yang berada didalam mobil Rubicon kuning itu menjadi sangat relax dan tenang.  Setelah tiba di basement, Nata, Sabrina dan Jessy langsung memasuki lift menuju ke lantai empat, dimana disana terletak ruang kerja mereka sebagai owner Bank NSP tersebut.


“Kita berkumpul di ruang meeting kecil saja, kita kerjakan semua disana.” Ucap Nata berkata demikian karena disana mejanya lebih luas sebagai tempat mereka berkerja.


“Baik kang.” Jawab Sabrina dan Jessy bersamaan. Dengan penuh ketelitian dan kecermatan Jessy dan Sabrina mengerjakan semua pekerjaan bersama Nata di ruang meeting itu. Tidak satupun dari mereka berbicara, alunan suara musik yang diputar dari pusat informasi gedung itu terdengar turut menemani pekerjaan mereka.


“Well done,  Alhamdulillah.” Ucap Sabrina. Mereka lalu memanggil OB, setelah seorang OB datang, Jessy lalu meminta tolong agar OB tersebut membawa dan menyerahkan semua dokumen yang sudah mereka tandatangani untuk didistribusikan melalui Staf Direksi Umum kepada semua Kantor kepala Cabang juga Direksi lainnya.


“Aku mau menelepon Kak Amanda, katanya dia akan kemari tuh.” Ucap Sabrina.


“OK aku mau ke cafetaria, lalu nanti ke Masjid.” Ucap Nata. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju ke lantai dasar dengan menggunakan lift.


“Pasti akang kita mau ngopi dan merokok dulu disana.” Ucap Jessy.


“Iya biarkan saja Jess. Barusan Kak Amanda bilang sekitar setengah jam lagi akan tiba di kantor ini. Aku lihat tadi kamu bekal rujak yang kemarin yaa ?”

__ADS_1


“Iya kamu juga mau Sab ?”


“Mau dong. Bagi dikit lah.”


“Iya bestie.” Jawab Jessy lalu membuka beberapa pintu lemari dan menemukan mangkuk kecil juga  sendok yang akan dipergunakan untuk makan rujak beubek atau rujak tumbuk yang sudah dibawanya itu. Jessy juga bahkan membawa stok rujak serut yang disimpan di kotak plastik makanan kedap udara.


“Kapan nanti kamu akan pesan lagi rujak seperti ini  Jess ?”


“Besok deh Sab. kita habiskan dulu yang ini, aku juga bawa kok rujak serut dari kedainya.”


“Kita sepertinya membutuhkan lemari es untuk menyimpan makanan segar siap santap di kantor ini, Jess.”


“Iya nanti kita akan minta bantuan Staf Umum untuk menyediakannya. Sab.”  Jawab Jessy sambil menuangkan rujak tumbuk itu, berbagi dengan Sabrina pada dua buah mangkuk. Mereka lalu menikmati segarnya rujak tumbuk/ rujak beubek itu. Rasa pedas dari rujak itu tidak diperdulikan oleh Sabrina dan Jessy. Mereka bahkan sangat menikmatinya, sampai mereka berdua meminum sisa cairan yang ada didasar mangkuk yang mereka pegang sampai habis.


“Alhamdulillah segarnya, hah huh.” Ucap Sabrina yang mulai merasakan kepedasan dari rujak itu.


“Hehehe, bibir kamu merah banget Sab.”


“Kamu juga sama tuh.” Cicit Sabrina. Kemudian terdengar suara dering dari ponsel Sabrina. Sabrina segera mengangkat panggilan telepon dari Amanda itu.


“Assalamualaikum, kalian dimana ? aku sudah di depan ruangan pintu ruang kerja kalian.” Ucap Amanda.


“Waalaikumsalam, ok tunggu disitu aku, akan kesitu Kak.” Jawab Sabrina lalu menutup panggilan teleponnya.


“Iya bestie, dia sudah ada di depan pintu.” Jawab Sabrina lalu segera membuka pintu ruang meeting itu. Terlihat Amanda sedang berdiri di depan pintu ruang kantor mereka.


“Hai Kak Amanda, bawa apa tuh ?”


“Hehe, aku bawakan rujak untuk kalian berdua, mungkin tidak sama dengan rujak buatan Bi Neli.”


“Terima kasih kak. Ayo masuk.” Ucap Sabrina sambil memeluk Amanda dan mengajak Amanda untuk memasuki ruang meeting.


“Nyaman sekali kantor kalian. Hai Jess.”


“Hai kak, tidak susah kan mencari kami disini ?”  Sapa Jessy pula.


“Hehe tidak dong, kan tinggal bertanya saja kepada resepsionist di kantor ini, lalu sampailah aku disini, ohh iya aku bawa stock untuk kalian yang sedang doyan rujak. Hehehe.” Kekeh Amanda lalu menyimpan sebuah kotak plastik kedap udara seperti yang dibawa Jessy dan Sabrina itu.


“Kata Kak Amanda rujaknya seperti yang sudah dibuat oleh Bi Neli, Jess.” Ucap Sabrina.


“Ohhh yaa ? arigato gozaimasta.” Ucap Jessy sambil membungkukkan badannya.

__ADS_1


“Hehe, sama-sama Jessy sayang.” Jawab Amanda.


“Besok pagi Kak Amanda bisa hadir ?” Tanya Sabrina.


“Insya Allah bisa, kalian besok akan meeting yaa ?” Tanya Amanda.


“Iya kami akan meeting, sambil memaparkan semua rencana pembangunan Kampus dan Tempat Wisata di Cipatujah Tasikmalaya, agar semua karyawan di Bank ini juga tahu kegiatan kami selain mengelola Bank ini.” Jawab Jessy.


“Jadi besok Kak Amanda akan bertemu dengan Opa Korea nya, hihihi.” Tambah Sabrina.


“Haha, aku jadi malu, aku keliatan ngebet banget yaa ?” Tanya Amanda dengan pipi merah merona, tersipu malu.


“Ini profil Opa Korea Kak Amanda-nya.” Ucap Jessy yang sedang membuka data base Tatang Supriatna, seorang Kepala Kantor Cabang yang berdinas di Kantor Cabang Utama Cianjur. Amanda  dan Sabrina pun menghampiri Jessy yang sudah membuka file data base karyawan Bank tersebut. Amanda nampak sangat antusias membacanya.


“Usianya hanya beda satu tahun dengan aku, tapi kenapa dia masih lajang yaa ?”


“Belum ada yang cocok saja mungkin Kak. Semoga Kak Amanda berhasil menaklukan Opa Korea yang bernama Tatang Supriatna itu deh.” Jawab Sabrina.


“Aamiin.”  Tambah Jessy mengaminkan ucapan yang berupa doa dari Sabrina.


“Haha, aku jadi nervous begini sih, ternyata tanggal kelahirannya sama dengan tanggal kelahiranku, hanya beda tahun saja.” Keluh Amanda.


“Itu sebuah tanda awal kak, ada kesamaan dari kalian berdua.”


Tok Tok Tok.


“Wah ada kamu Amanda, sudah lama datang ?”


“Baru saja Nat. Kamu dari mana ?”


“Baru selesai ngopi dengan ditemani beberapa orang Kepala Cabang. Mereka akan meeting besok, jadi sebagian yang domisilinya jauh sudah prepared untuk menginap disini.”


“Hmm kang, tadi ada Kepala cabang dari Cianjur juga disana ?”


“Ada, Charlie dari Jakarta juga baru saja datang, mereka masih ngobrol di Kafetaria.”


“Kita intip di CCTV Jess.” Usul Sabrina.


“Kalian mau ngintip siapa sih ?” Tanya Nata dengan heran.


“Psst rahasia, sana akang ke masjid saja tuh, sebentar lagi akan tiba waktunya Ashar.” Usir Sabrina.

__ADS_1


“Haha, memang aku mau kesana, aku mau simpan dulu jas ini, dan melepaskan dasinya.”


“Iya nanti kami akan menyusul kesana bertiga kang.” Ucap Jessy. Nata lalu keluar dari ruang meeting itu menuju ke ruang kerjanya. Dia masuk ke dalam ruang kerjanya melalui sebuah pintu rahasia berupa lemari yang tersamarkan bagai bukan sebuah pintu.


__ADS_2