Tangguh

Tangguh
Bab 86 Rujak Beubek.


__ADS_3

Nata bersama dengan Sabrina, Jessy dan Amanda, lalu kembali ke rumah tua tersebut, sesampainya disana mereka berpamitan kepada Bi Eha, Bi Endah, juga Mang Sobri, tidak lupa Nata meminta Sabrina untuk memberikan dua Buah amplop kepada Bi Eha/ Istrinya Mang Sobri dan Bi Endah/ Istrinya Mang Dudung yang sudah disediakan oleh mereka. Sebelum berangkat ke Bandung, Nata juga lalu mampir terlebih dahulu ke kebun teh sebentar. Karena Sabrina sangat ingin sekali melihat kebun teh yang dulu pernah disinggahi oleh Jessy.


“Kang, kenapa Akang tidak mendirikan bangunan di sini ? Padahal pemandangannya bagus lho.” Tanya Sabrina


“Tidak boleh dong, meskipun ini tanah milik sendiri, kita tidak boleh dengan seenaknya mendirikan bangunan disini, apalagi bangunan permanen, karena ini merupakan area konservasi juga, nanti kalau aku mendirikan bangunan disini, nanti orang lain akan mengikutinya juga. Lalu habislah sumber mata air untuk para penduduk yang berada dibawah sana.” Ucap Nata menjelaskan secara terperinci sambil menunjuk ke arah lembah dibawah bukit kebun teh tersebut.


“Ohhh begitu. Ok deh aku ngerti.” Jawab Sabrina yang sangat puas dengan jawaban dari Nata tersebut.


“Kang mampir nanti lagi ke Rajapolah yaa. Kamu juga mau kan Sab ?” Ucap Jessy.


“Mau dong, Kak Amanda juga boleh ikut nanti disana kita bisa fashion show dulu hehehe.” Ajak Jessy dengan mata yang berbinar-binar.


“Tempat apasih Rajapolah itu ?” Tanya Amanda yang belum tahu tentang sentra kerajinan tangan khas Tasikmalaya itu.


“Rajapolah itu adalah pusat penjualan kerajinan tangan khas Kota Tasikmalaya dan sekitarnya, nanti Kak Amanda lihat deh. Pasti dijamin suka dengan tempat dan hasil produksi mereka.” Jawab Jessy.


“Ohh begitu, membuat aku jadi penasaran saja, ok deh aku juga mau lihat.”


“Kang aku pening, gantian yaa Jess aku duduk di belakang.” Keluh Sabrina.


“Iya sayang. Kamu istirahat saja dibelakang sama Amanda.” Jawab Nata.


“Minum dulu Sab. kamu mau minum susu ?” Jessy lalu menawarkan susu murni yang berada didalam thumbler itu. Sabrina menerima thumbler yang berisi air susu hangat itu, tapi hanya meminumnya sedikit, kemudian disimpannya di tempat penyimpanan botol yang berada di daun pintu mobil.


“Hemm aku mau dipijat juga dong sama akang.” Rengek Sabrina.


“Ohhh yaa sudah, aku saja yang nyetir sini, kamu pindah ke belakang saja Nat, gantian.” Tawar Amanda.


“OK Amanda, thanks yaa.” Ucap Nata.


“Alwasy, welcome.” Jawab Amanda sambil tersenyum manis. Amanda lalu menyetel tempat duduknya dibelakang kemudi.


“Tenang Kak ada aku sebagai navigatornya, hehehe.” Ucap Jessy yang sudah duduk di samping Amanda.


“Sip deh, Bissmillah.” Ucap Amanda lalu mulai menyetir mobil itu dengan perlahan menuju ke Rajapolah. Terdengar beberapa kali Sabrina bersendawa saat dipijat oleh Nata dengan pelahan di tengkuknya.


“Kamu masuk angin mungkin Sab.” Ucap Jessy.


“Iya mungkin Jess.” Jawab Sabrina.


“Mau aku gosok pelan-pelan punggungnya pakai minyak kayu putih, sayang ?” Tanya Nata.


“Hemm boleh kang.” Jawab Sabrina sambil tersenyum. Saat tiba di Rajapolah, Sabrina masih dipijat oleh Nata.


“Kalian silahkan turun duluan deh, nanti aku sama Sabrina menyusul.” Ucap Nata.


“OK deh.” Jawab Jessy dan Amanda. Nata lalu mulai mencium Sabrina, saat pintu mobil sudah ditutup.


“Kamu mau kita melakukannya sekarang disini ?” Tanya Nata.


“Hehe, akang kok tahu sih ?” Jawab Sabrina.


“Kunci dulu kang.” Ucap Sabrina lagi. Pada saat Nata sedang meraih central lock di dekat stir mobil, Sabrina secepat kilat mengirim pesan singkat dengan Ponselnya kepada Jessy yang bertuliskan DND, Jessy pun segera menjawab dengan OK. Suasana pada hari selasa itu tidak banyak penunjung yang datang ke pusat penjualan kerajinan tangan di Rajapolah tersebut. Kebetulan juga mobil itu terparkir agak jauh dari mobil yang lain. Sehingga Nata dengan penuh leluasa memuaskan hasratnya Sabrina didalam mobil itu. Nata yang tidak terburu-buru itu dalam waktu singkat sudah memuaskan Sabrina, Nata juga nyaris tidak mengeluarkan keringat.


“Terima kasih yaa akang ku sayang.” Ucap Sabrina lalu mengecup bibirnya Nata. Kemudian dia segera membenahi pakaiannya yang tadi tersingkap.


“Sama-sama Sabrina ku sayang.” Jawab Nata.


“Tapi akang belum apa-apa tuh.”

__ADS_1


“Iya tenang saja, masih banyak waktu untuk kita kok, nanti juga Jessy akan mendapatkan jatahnya.” Jawab Nata dengan kalem. Lalu mengajak turun Sabrina untuk bergabung dengan Jessy dan Amanda yang masih sibuk memilah-milah barang di toko tersebut.


“Sudah selesai Sab ?” Tanya Jessy


“Sudah Bestie.” Jawab Sabrina.


“Sip mantap deh.”


“Jessy tahu ?” tanya Nata dengan berbisik.


“Iya dong akang, kami berdua harus selalu saling transparan, hihihi.”


“Beuuh dasar.”


“Yang penting kan sekarang aku tidak  pening lagi, emangnya hanya akang yang suka pening ? cewek juga suka begitu dong. Hehehe. Psst jangan sampai Amanda jadi curiga kang. hati-hati lho.”


“Ohh ok sayang.”


“Bestie aku sudah pilihkan juga untuk mu, kamu suka juga kan ?” Ucap Jessy sambil mengankat barang-barang yang sudah dipilihnya.


“OK Jess, setuju. Aku duduk disini saja deh, masih lemas nih. Hehehe.”


“Jadi alasan kamu tadi minta pijat itu hanya kamuflase semata ?”


“Psst sudah dulu, jangan dibahas disini kang, nanti saja di rumah. please.”


“Ohh ok deh. Ehh Jessy bawa uang cash ga tuh ?”


“Bawa kang, tenang saja, temani saja aku duduk disini, aku lagi enak bersandar sama tubuh akang. Hehehe.” Ucap Sabrina. Nata lalu merangkul tubuhnya Sabrina, menikmati wangi tubuh dari salah satu istrinya itu, hingga Sabrina terlihat sangat nyaman dan tidur dengan lelapnya sambil dipeluk oleh Nata di kursi tunggu yang sederhana itu. Tidak lama kemudian Jessyt dan Amanda mendekati Nata dan Sabrina.


“Dia tidur kang ?” tanya Jessy dengan berbisik.


Tepat pada pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki parkiran basement rumah mereka. Nata kembali membopong tubuh Sabrina menuju kamar tidurnya dengan sangat perlahan, dibantu oleh Jessy dan Amanda yang membukakan pintu mobil juga pintu kamar tidur mereka. Nata lalu meninggalkan Sabrina yang masih mengenakan sepatu selama dia tertidur di kamar tersebut. Setelah itu giliran Nata yang membantu Jessy dan Amanda untuk menurunkan semua barang bawaan yang sangat banyak dari dalam bagasi mobil Rubicon Merah itu.


“Nat aku pamit yaa, besok aku akan kemari lagi atau datang kekantor deh. Terima kasih juga yaa Jessy, kamu sudah mentraktir aku.” Ucap Amanda sambil memeluk Jessy.


“Sama-sama Kak Amanda.” Jawab Jessy, lalu Amanda naik kedalam mobilnya.


“I love you all.” Ucap Amanda lagi.


“Love you too Sistaa.” Jawab Jessy kemudian membuka pintu gerbang basement dengan menggunakan aplikasi ponselnya.


Lalu dengan perlahan Amanda keluar dari rumah itu dengan mengendarai Lamborgini Aventado Hijaunya, nampak sebagian bagasi sudah berpindah ke dalam mobil yang dikendarai oleh Amanda tersebut.


“Arigato gozaimasta Kang.”  Pekik Jessy sambil memeluk erat Nata dan menciumnya bertubi-tubi.


“Haik.” Jawab Nata saat dia bisa melepaskan ciuman dari Jessy.


“Aku mau minta jatah juga dong dari akang seperti Sabrina tadi.” Rengek Jessy dengan manjanya.


“OK tapi jangan dikamar tidur kita yaa, nanti Sabrina malah terbangun.”


“Terserah akang deh, dimanapun oke, tadi juga kan Sabrina dikerjai sama akang di dalam mobil hihihi.”


“Ahh kalian nakal yaa, ngerjai aku.” Ucap Nata lalu membopong tubuh Jessy menuju ke lantai dua dengan menggunakan lift, disana dengan bebasnya Jessy berteriak sekuat mungkin, untuk meminta jatah sekaligus melayani suami tercintanya di kamar itu. Satu jam kemudian mereka berdua sudah terkapar dengan kelelahan, butiran keringan masih terlihat membasahi kedua tubuh mereka. Tidak berapa lama kemudian terdengar bunyi dering ponsel milik Nata. Dengan cepat Jessy yang justru meraih ponsel milik Nata tersebut.


“Bestie sini, naik ke lantai dua.” Ucap Jessy.


“Ohhh aku kira kalian dimana.” Jawab Sabrina dengan suara parau, karena baru saja bangun dari tidurnya. Beberapa saat kemudian Sabrina sudah berada didalam kamar tidur yang sama. Jessy dan Sabrina saling berbalas senyuman. Sabrina juga mulai melucuti semua pakaiannya kemudian berbaring disebelah Nata. Nata mulai menyadari wangi tubuh yang berbeda selain Jessy mulai membuka kelopak matanya.

__ADS_1


“Ehh kamu mau minta tambah ?”


“Hehehe, boleh yaa kang ? tadi kan waktu di dalam mobil kita baru setengah main.”


“Haha, ok boleh kamu yang diatas deh sekarang.”


Jessy yang masih kelelahan hanya memperhatikan semua tingkah laku dari Sabrina dan Nata tersebut.


“Aku lapar, mau makan rujak ahh.”


“Tolong bawa kesini Jess, makan disini saja, aku juga mau dong. Aaahhhhhhh, akang !”


“Kenapa Sayang ?”


“Akang nakal ihh.” Rengek Sabrina lalu meneruskan gerakannya.


Sementara itu Jessy terkekeh-kekeh melihat tingkah Nata dan Sabrina itu. dia turun dengan menggunakan lift menuju ke dapur lalu mengambil toples yang berisi rujak tumbuk itu, lengkap dengan beberapa buah piring kecil juga dengan sendoknya. Sesampainya di kamar lantai dua. Dilihatlah oleh Jessy Sabrina sudah kembali tergolek dengan lemas disamping Nata.


“Pada tepar, ga mau rujak yaa. aku habiskan saja deh.” Ancam Jessy.


“Jangan, sisakan aku juga dong bestie.” Jawab Sabrina dengan suara lemah.


“Akang mau ?”


“Aku ga mau rujak, aku mau kalian berdua saja, hehehe.”


“Sorry, kami bukan makanan yaa.” Jawab Jessy berlagak sok jual mahal. Dengan lahapnya dia makan rujak disamping Sabrina, Jessy juga menyuapi Sabrina sedikit sedikit.


“Ihhh kalian jorok, makan rujak kok di atas kasur sih.” Protes Nata.


“Tuh Sabrina yang minta disuapin, tadinya juga aku mau makan dibawah kok.”


“Ayo sini pindah.”  Ajak Nata lalu setengah menyeret tangan Jessy dan Sabrina ke arah sofa yang berada du luar kamar tidur di lantai dua itu.


“Akang pelan pelan dong nanti tumpah rujaknya.”


“Nanti giliran kalian berdua yang aku bebek. Hehehe.”


“Siapa takut, dengan senang hati yaa Jessy.” Jawab Sabrina, lalu meminta lagi Jessy agar menyuapinya.


“Iya, hah huh, pedas juga lama lama nih rujaknya.” Keluh Jessy.


“Akang mau ?” Tanya Jessy.


“Ogah ahh, pasti pedas tuh rujak buatan Bi Neli mah.”


“Pedas juga tapi enak lho kang, rasanya segar banget.” Ucap Sabrina yang biasanya tidak suka dengan rasa pedas.


“Aneh-aneh yaa tingkahnya ibu yang lagi hamil muda itu, yang dulu ga suka sama susu sekarang malah doyan susu, yang dulu ga doyan sama pedas kini malah tiap hari ingin yang pedas makanannya.”


“Hehe, itu kan semua katanya keiinginan bayi dalam perut kami kang, anak akang juga nih.” Jawab Jessy sambil mengusap perutnya. Nata hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah dari Jessy dan Sabrina itu. Terlihat bibir Jessy dan Sabrina semakin terlihat memerah akibat dari zat cap cai sin yang terkandung didalam cabe yang jumlahnya  sangat banyak pada rujak yang sedang mereka makan itu.  Nata lalu berinisiatif untuk membawa beberapa botol susu dari dalam lemari es juga beberapa botol air mineral juga. Karena Nata mengetahui kalau senyawa yang terkandung dari air susu  itu bisa menetralkan rasa pedas dari cabai. Namun Jessy dan Sabrina ternyata belum berhenti makan rujak meskipun keduanya nampak sudah payah dengan rasa pedas itu.


“Terima kasih yaa akang.” Ucap Sabrina berusaha mencium bibirnya Nata. Demikian juga dengan Jessy yang berusaha dengan sama seperti Sabrina. Nata segera mengelak.


“Ogah ! Jangan cium aku dulu, bibir kalian pasti masih terasa pedas tuh.” Tolak Nata.


“Ihhh sombongnya, dicium istrinya saja ga mau. Yaa Sab.”


“Iya awas lho, kalau akang nanti minta cium sama aku.” Ucap Sabrina. Kedua istrinya itu belum menyentuh sama sekali semua botol yang dibawa oleh Nata.

__ADS_1


‘Mereka berdua itu kok seperti sedang mabuk, masa sih kalau sedang mabuk rujak, atau bisa jadi karena mereka itu sedang mabuk akibat dari bawaan ibu yang sedang hamil muda. Apakah ibu hamil kalau sedang kelelahan, memang suka begitu ?’ Guman Nata. Berbagai pertanyaan bermunculan didalam benaknya.


__ADS_2