Tangguh

Tangguh
Bab 89 HBD Nata.


__ADS_3

“Akang mau kemana ?” Tanya Jessy, pada saat dilihatnya Nata membawa beberapa set lampu penerangan, menuju ke lift.


“Iya kang, sudah malam nih.” Ucap Sabrina juga mengingatkan.


“Aku mau pasang dulu canopi dan ayunan di roof top. Sebentar saja kok.” Jawab Nata sambil menghentikan langkahnya.


“Besok saja dong kang, please.” Ucap Sabrina dengan tatapan memelas.


“Iya besok saja kang, sudah jam sembilan malam, jangan sampai nanti kami juga jadi ikut ke-atas bersama akang disana lho.” Ancam Jessy. Nata lalu menyimpan kembali peralatan yang dibawanya itu di samping celah lift. Dia sangat tidak tega melihat tatapan yang memelas dari kedua pasang bola mata istrinya itu.


“OK deh, besok aku akan minta bantuan Yadi untuk memasangnya.”


“Sip deh, aku dan Jessy akan memijat akang. Mau kan dipijat oleh kami ?” Tanya Sabrina dengan tatapan bola mata birunya yang sangat menggoda. Nata tidak menjawabnya namun dia sangat menurut, Nata bagaikan kerbau dicucuk hidungnya, melangkah bersama kedua istrinya ke dalam kamar. Jessy dan Sabrina lalu melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh Nata. Kedua pasang tangan yang sangat halus itu mulai membelai dan memijat seluruh bagian tubuh Nata, yang sedang tertelungkup diatas kasur empuk itu.


“Alhamdulillah enak sekali pijatan tangan kalian, terima kasih yaa sayang.”


“Belum selesai kang, nanti saja berterima kasihnya. Hihihi.”


“Iya sekarang akang berbalik, terlentang.” Ucap Sabrina.


“Ohh dibalik yaa, supaya tidak gosong ? hehehe.”


“Haha, akang bukan gorengan.” Ucap Jessy dengan tertawa terbahak-bahak.


“Isshhh geli sayang, jadi bangun tuh yang dibawah.”


“Iya sengaja, supaya akang nanti tidurnya lelap, kita kan besok mau meeting, jadi akang tidurnya jangan terlalu larut malam.” Ucap Sabrina, sambil terus membelai tubuh bagian bawah Nata. Setelah itu Sabrina bergantian dengan Jessy yang tadi memijat tubuh bagian atas Nata.


“Kok jadi hangat begini, kamu apakan Jess ?”


“Psst akang diam saja, kami akan memuaskan akang terlebih dahulu.” Ucap Sabrina lalu membungkam bibirnya Nata dengan bibir tipis miliknya. Kedua kelopak mata Nata semakin terpejam saat menikmati semua sentuhan dan perlakuan dari kedua istrinya itu. Dia tidak bisa mengeluarkan suara karena Sabrina masih mencium bibirnya dengan sangat rakus.


“Kuat sekali akang kita Sab. malah bibir aku yang jadi pegal-pegal nih.” Keluh Jessy  yang sedang berusaha mengatur napasnya tersengal-sengal.


“OK gantian aku yang disana Jess.” Ucap Sabrina lalu beringsut dan meloloskan seluruh busana yang melekat ditubuh indahnya, Jessy juga melakukan hal yang sama. Tubuh indah mereka lalu terpampang dengan sangat jelas, dilihat oleh Nata suami mereka dengan tatapan penuh arti.


“Enak sekali tadi Jess.”


“Psst akang diam saja, sekarang giliran Sabrina tuh.” Ucap Jessy lalu tubuhnya membungkuk menutupi wajahnya Nata. Kedua melon yang padat berisi itu digesek-gesekkan kepada bibirnya Nata, membuat Nata jadi gelagapan. Sedangkan dibagian tubuh bawah Nata Sabrina sedang berusaha untuk lebih memuaskan suaminya.


“Uuughhhh keras amat.” keluh Sabrina.


Nata tidak bisa berbuat banyak karena kini dia sudah dikeroyok oleh Jessy dan Sabrina. Sampai pada akhrinya Sabrina kelelahan dan bersimbah peluh, senyum penuh kepuasan tersungging di bibir Sabrina.


“Huuf Jess, sekarang kamu selesaikan tuh, aku sudah lelah banget nih.” Ucap Sabrina lalu berbaring disisi tubuh Nata. Sabrina kini menyaksikan Nata sedang ditindih oleh Jessy. Suara Jessy seperti biasa sangat berisik. Sabrina dan Nata tidak memperdulikan hal itu. Sabrina malah mulai tertidur kelelahan, bulir bulir keringat masih membasahi tubuh Sabrina, beberapa saat kemudian teriakan Jessy dan Nata terdengar pada saat mereka bersama sama mencapai puncaknya, Sabrina sudah berada dialam mimpinya. Jessy lalu merebahkan juga tubuhnya disamping Nata yang sudah mulai kelelahan bermandikan keringat, demikian juga dengan Nata.


“Terima kasih yaa sayang.” Ucap Nata dengan mencium Jessy, kemudian mencium Sabrina juga yang sudah terlelap.


“Sama-sama akang. Akang suka dengan pekerjaan kami barusan ?” Ucap Jessy seraya memeluk Nata dengan erat.


“Hehehe, suka banget dong. Apalagi kalau tidap malam seperti ini.”


“Idih akang mah, maunya begitu, besoknya kami di kantor malah teler dong. Hehehe.” Ucap Jessy sambil berusaha menutup tubuh mereka dengan selimut. Nata membantunya, menyelimuti juga tubuh Sabrina yang sudah terlebih dahulu tidur dengan nyenyaknya, terlihat senyuman di bibir Sabrina masih terukir senyum penuh kepuasan. Jessy masih saja menciumi bibirnya Nata, walaupun sebernarnya dia sudah lelah.


“Kamu mau nambah lagi Jess ? Nanti Sabrina juga terbangun dan minta tambah lagi dong.”


“Hemm boleh ga Kang ?” Tanya Jessy dengan wajah yang sangat dekat dengan wajahnya Nata itu, nyaris kedua wajah mereka menempel dengan ketat.


“Asal kamu bisa menahan suara agar tidak berisik, aku kabulkan deh, tapi bangunkan lagi tuh yang dibawah.” Jawab Nata yang mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.


“OK deh.” Ucap Jessy kemudian telapak tangannya kembali mulai memijat tubuh bagian inti dari Nata itu.


“Enak ga kang ?” bisik Jessy.


“Enak sayang.” Jawab Nata lalu kini tubuhnya menindih tubuh Jessy, keduanya masih dalam selimut tebal. Nata lalu membungkam bibir Jessy dengan bibirnya saat Jessy terlihat akan memekik. Gerakan yang sudah Nata atur agar tidak membangunkan Sabrina, masih saja terasa oleh Sabrina. Apalagi pada saat Jessy kembali akan mendapatkan kembali puncaknya. Tubuh Jessy seketika mengejang dan berkelojotan. Sedangkan Nata masih setengah jalan pada saat itu.


“Sini kang, aku juga mau nambah dong.” Ucap Sabrina dengan suara yang masih lemah, rupanya libidonya kembali naik saat menonton Nata yang sedang berolahraga dengan Jessy itu.


“Ohhh kamu rupanya sudah bangun sayang. Padahal Jessy tadi tidak berisik tuh.”

__ADS_1


“Iya kang, padang rumputku masih kering, belum disiram seperti Jessy. Walaupun tadi Jessy tidak berisik, tapi aku juga merasakan kasur kita ini bergoyang, hihihi.”


“Akang kuat banget, aku jadi capek deh.” Keluh Jessy, lalu merenggangkan pelukan yang ketat pada tubuh Nata, agar bisa memberikan kesempatan untuk Sabrina menerima gilirannya kembali. Setelah itu, Jessy memejamkan matanya, Jessy nampak sangat puas dengan perlakuan dari Nata suaminya itu.


“Uuggghhh kang pelan-pelan dong.” Protes Sabrina saat Nata mulai menindihnya.


“Maaf sayang, aku sudah tidak kuat nih.”


“Tahan dulu kang, tarik napas, atur napas aku juga ingin merasakan seperti tadi.”


“Iya deh Sabrina sayang.” Jawab Nata lalu dengan santai mulai mengecup dan membelai tubuh Sabrina yang kini berada dibawah tubuhnya. Sabrina terus menatap wajah Nata dan merasakan setiap gerakan yang dibuat oleh Nata dengan sangat perlahan. Lalu tangan Sabrina mulai memeluk dengan erat tubuh suaminya itu, seolah memberi tanda kepada Nata untuk lebih mempercepat gerakannya. Nata yang seketika paham dengan keinginan Sabrina lalu melakukan hal yang diinginkan istrinya itu. Nata dan Sabrina masih saling berbalas menatap wajah saat keduanya saling berpacu, seolah sedang berlomba untuk mencapai puncak.


“Kiss me please, make me feel good, i’m begging you right now, i wanna get back thats, yess like thats, right there, hunny.” Celoteh nya Sabrina, disela-sela gerakan tubuhnya yang semakin liar bergerak mengimbangi gerakan tubuh Nata. Nata lalu mencium bibirnya Sabrina sesuai dengan keinginannya. Jemari Sabrina yang walaupun kukunya tidak runcing dan tajam mulai menancap di punggungnya Nata. Mereka berdua kembali saling berpacu semakin cepat, hingga akhirnya Nata melepaskan ciuman dari bibirnya Sabrina. Keduanya lalu mengerang saat merasakan secara bersama-sama telah sampai pada puncaknya.


“Terima kasih Sabrina sayang ku.”


“Sama-sama akang Nata yang gagah perkasa. Hihihi.” Ucap Sabrina mengakhiri gerakan yang membuat mereka sangat puas diatas tempat tidur itu. Waktu masih menunjukkan kurang dari pukul dua belas malam. Ketiga orang yang berada dalam satu pembaringan itu terlihat saling berbelukan didalam selimut tebal, sampai pagi menjelang keduanya masih berpelukan.


Pagi hari bertepatan dengan tibanya waktu Shalat Subuh, mereka terbangunkan oleh suara adzan Subuh yang terdengar dari Mushola mereka, penunjuk waktu digital itu sangat nyaring suaranya, sampai menembus ke kedalam kamar tidur.


Nata, Sabrina dan Jessy lalu bangkit dari tempat tidurnya, setelah selesai membersihkan diri dan selesai berwudhu, mereka bertiga masuk kedalam Musholla, berpakaian juga didalam musholla itu, lalu mereka bersama-sama melaksanakan Sholat Subuh disana.


“Kang aku mau dong duduk digendong akang disini.“ Pinta Jessy.


“Aku juga kang.” Ucap Sabrina.


“Hah ? Berat dong kalau kalian sekaligus digendong barengan. Kalian dua-duanya lebih dari lima puluh kilogram, jadi nanti aku bakal menggendong beban seberat lebih dari seratus kilogram.”


“Tidak akan terasa berat deh, belum juga dicoba. Coba akang duduk dulu bersandar di dindin sambil selonjoran deh, lalu kedua paha akang direntangkan.” Ucap Jessy memberi instruksi.


“Heemm begini ?” Tanya Nata yang sudah duduk bersandar pada dinding Musholla itu.


“Iya tahan.”Jawab Jessy.


“Kamu juga Sab. duduk seperti aku.” Tambah Jessy lagi.


“Iya Bestie. Nah bagaimana kang ? Terasa berat ga ?”


“Hehehe, iya aneh tidak terasa berat yaa.” kekeh Nata.


“Nah begitu juga dengan masalah kang, jika permasalahan akang berbagi dengan kami tentunya nanti akang tidak akan merasa berat, maksud kamu kesitu kan Jess ?”


“Hihihi, kamu tahu aja sih Sab. Kami berdua sayang sama akang.” Ucap Jessy lalu memeluk Nata berbarengan dengan Sabrina.


“Aku juga sayang terhadap kalian berdua. Apalagi sekarang kalian berdua sudah mengandung anak-anakku.” Jawab Nata dengan membalas pelukan erat dari kedua istrinya.


“Tapi lama-lama jadi pegal juga nih.” Keluh Nata.


“Iya kang, makanya jangan terlalu banyak mikir, nanti beban hidup akan dirasakan semakin berat, hihihi.” Jawab Sabrina lalu bersama Jessy turun dari pangkuan Nata.


“Pandai sekali kalian berfilosofi, seperti filsuf saja, hehehe.”


“Kan akang Guru kami, Panutan kami, yang memberikan kami berdua tambahan ilmu, mengajari kami mengaji, mengajari kami beribadah, memberi contoh yang baik kepada kami dan bersosialisasi dengan masyarakat. Dan yang utama, aku dan Jessy sangat merasakan perlakuan akang terhadap kami berdua. Aku dan Jessy sangat bangga menjadi suami Akang lho.” Ucap Sabrina.


“Kamu ingin apa sih ? bilang saja terus terang kalau mau sesuatu.” Tanya Nata.


“Duh akang, bukan berarti aku bicara seperti itu nantinya akan meminta sesuatu, jangan samakan kami dengan yang lain dong.” Protes Sabrina sambil cemberut.


“Iya, tuh. Apa dasarnya kecurigaan akang itu. Kami berdua tulus kok, sungguh.”


“Opps maaf, deh.”


“Akang sungguh tidak menyadari sekarang hari apa ? tanggal berapa ?” Tanya Sabrina.


“Memangnya sekarang hari apa ? tanggal bera.....”


“Happy birth day akang.” Ucap Sabrina dan Jessy, kemudian memeluk Nata dengan sangat eratnya.


“Hehehe terima kasih istriku Sabrina dan Jessy, aku sangat terharu deh.”

__ADS_1


“Sekarang akang ikut kami deh, ayo.” Ajak Sabrina.


“Iya tapi tutup dulu matanya akang.” Tambah Jessy, lalu mulai mengikat kedua mata Nata dengan sepotong kain.


“Waduh ada surprize apa lagi nih ?”


“Sudah, akang diam saja.” Ujar Jessy.


“Jangan mengintip, coba tebak ini berapa ?” Tanya Sabrina.


“Tiga.” Jawab Nata dengan cepat.


“OK ikuti langkah kami, awas ada kursi.” Ucap Jessy membohongi Nata, seketika Nata menghentikan langkahnya.


“Heheh, bohong kang, lanjut saja melangkah.”


“Hemm kok naik lift sih ?” tanya Nata yang sudah hapal dengan semerbak parfum di dalam lift itu, dia juga merasakan dinding stainless metal yang terasa dingin tersentuh oleh tangan dan badannya.


“iya, benar. Nah, sekarang coba buka dengan perlahan penutup wajahnya.”


“Happy birth day Boss !.” Teriak beberapa orang yang ternyata sudah hadir tanpa disadari oleh Nata. Disana sudah ada Charlie, Yadi, Erna, Amanda dan beberapa orang Direksi juga beberapa orang kepala cabang.


“Astagfirullah, jam berapa kalian datang ? Kok aku ga tahu.”


“Hehe, kalau Kang Boss tahu, namanya juga bukan surprize dong.” Jawab Charlie.


“Gagasan siapa ini ?”


“Siapa lagi kalau bukan kedua istrimu  itu Nat.” Jawab Amanda.


“Haha, terima kasih yaa sayang.” Ucap Nata lalu memeluk Jessy dan Sabrina Juga mencium keningnya bergantian.


“Sama sama akang.“


“Pantas saja semalam aku sangat dilarang untuk naik ke roof top rumah ini, ternyata sudah dibereskan.”


“Iya kang, Yadi dan beberapa orang temannya sudah menyelesaikan kemarin sore, pada saat kita sedang berada di Kantor.”


“Terima kasih yaa Yadi.”


“Sama-sama pak Boss.”


“OK kita sarapan nasi kuning sekarang deh.” Ucap Nata saat dilihatnya tumpeng sudah tersedia disebuah meja, nasi tumpeng berukuran besar yang lengkap dengan lauk pauk disekelilingnya.”


“ini siapa yang buat ?”


“Emak yang tadi malam menyiapkannya, Kak Jessy dan Sis Sabrina yang memesannya langsung ke Emak.” Jawab Erna.


“Ohhh sampaikan salam dan ucapan terima kasih yaa untuk Emak dan Abah kalian.”


“Baik Pak.” Jawab Erna.


“Luar biasa aku tidak menyangka mendapatkan kejutan seperti ini. Oleh karena itu potongan tumpeng yang paling atas ini aku serahkan kepada kedua istriku tercinta.” Ucap Nata lalu memotong tumpeng dan membagi rata dengan membelahnya, kedua belahan tumpeng itu lalu diserahkan kepada Sabrina dan Jessy. Penyerahan potongan tumpeng itu diiringi oleh tepuk tangan dari semua yang ada disana.


“Tadi malam hampir saja gagal rencana kita Jess.” Ucap Sabrina.


“Iya untungnya kamu dengan sangat cerdik berhasil membujuk akang kita, hihihi.” Jawab Jessy. Nata lalu berkeliling membagikan potongan tumpeng lainnya  kepada semua yang hadir di atas atap rumah itu.


“Kalau masih kurang kenyang silahkan ngambil sendiri yaa.” Ucap Nata yang sudah selesai membagikan tumpengnya itu.


“OK Boss. Siap Boss.” Jawab mereka serempak.


“Alhamdulillah kalian berdua tidak perlu repot-repot memasak untuk hari ini.” Ucap Nata pada saat sudah duduk disampingnya Jessy dan Sabrina.


“Nanti juga di kantor ada acara seperti ini, bertepatan dengan acara meeting.” Ucap Sabrina.


“Ohh yaa ? aneh, kok aku sama sekali tidak  tahu sih, pandai sekali kalian menyembunyikan ini semua.”


“Akang juga sih, yang selalu serius, sampai melupakan hari kelahirannya sendiri.” Jawab Jessy.

__ADS_1


__ADS_2