
“Nanti kalau diijinkan sama yang punya tempat ini terus mengelola warung yang lebih besar dan lebih lengkap mau ga?” Tanya Nata lalu menatap wajah sang penjaga warung yang masih lugu dan polos itu dengan tatapan mata tajam.
“Saya sih mau saja atu Aa, emang siapa sih pemilik tanah ini ? jangan-jangan Aa kenal sama orangnya.”
“Ini yang punya tanahnya ada disebelah saya.” Ucap Nata sambil menepuk punggungnya Charlie.
“Uhuk uhuk, hah ?” Charlie jadi tersedak saat menyeruput air teh yang sedang diminumnya.
“Maaf Boss kenapa ?” tanya Charlie.
“Ahhh Boss Charlie kok jadi latah manggil saya Boss.” Jawab Nata lalu mengedipkan sebelah matanya sekali lagi. Sang teteh penjaja warung lalu mengerutkan keningnya, kemudian memandang ke arah Charlie dengan tatapan penuh selidik.
“Ohhh iya-iya kang. Teteh boleh nanti mengelola Kantin, rencananya kami akan membangun kampus di lokasi ini.” Ucap Charlie berusaha mengarang cerita yang sedikit nyambung, disambut oleh anggukan dan jempol tangan dari Nata.
“Wah serius ? Hebat atuh, suami saya tidak perlu kerja jadi TKI lagi di Malaysia, kalau saya jadi pengelola kantin.”
“Makanya hubungi lagi suaminya teh, suruh cepat pulang, karena mulai minggu depan kami akan segera membangun kampusnya.” Ucap Nata sambil tersenyum, serta menahan tawa.
“Baiklah Aa, nanti saya hubungi secepatnya suami saya. Sebentar yaa saya mau angkat dulu air panas untuk menyeduh kopinya.” Ucap Teteh penjaga warung itu lalu menuju ke dapur yang hanya dibatasi sekat dinding bilik.
“Serius kang boss mau jadikan dia pengelola kantin kalau kampus sudah jadi.”
“Iya aku Serius dong, kasihan dia. Belain suaminya yang sedang kerja jadi TKI di negeri orang. Kamu bantu saja nanti kondisikan, selama proyek dibangun juga aku akan jadikan dia untuk memasak bagi para pekerja nanti di proyek pembangunan Kampus ini.”
“OK siap Kang Boss, salut deh dengan apa yang direncanakan oleh Kang Boss.”
“Kalau di depan dia ingat, jangan panggil aku kang boss. Panggil akang saja.”
“Siap kang boss, eeeh Kang Nata, hehehe.” Jawab Charlie sambil nyengir. Diluar sana terdengar suara mobil merapat ke dekat mobil Nata terparkir di lokasi bakal kampus itu.
“Tuh kang Andi beserta anak buahnya sudah datang, kamu lanjut ngobrol sama teteh itu
yaa, aku mau nemenin kang Andi dan anak buahnya dulu.”
“Siap Kang.” Jawab Charlie sambil mengangkat jempolnya. Nata lalu bergegas sambil
membawa sebuah map, menemui Andi yang datang dengan anak buahnya
“Maaf nunggu lama yaa ? saya menjemput yang mau ngukur tanah, mereka bawa theodolit.” Ucap Andi
“Ohh saya juga belum lama datangnya kang, santai saja, ini denah awal dari BPN.” Jawab Nata lalu menyerahkan map yang berisi denah awal dan foto copy sertifikat tanah seluas 10 hektar tersebut.”
“Ohh iya terima kasih, kami hanya mencocokkan luas sekaligus mengetahui elevasinya saja, tidak akan lama kok ngukurnya.” Andi lalu menerima map tersebut lalu mengarahkan anak buahnya untuk mengukur serta mengetahui elevasi dari ketinggian tanah yang dekat dengan jalan raya. Beberapa orang anak buah dari Andi lalu segera bergerak sesuai dengan petunjuk dari Andi untuk mengukur tanah, bahkan seorang anak buahnya menerbangkan sebuah drone pula untuk mengambil foto dari beberapa sudut dan dari ketinggian.
“Bagaimana kalau sambil menunggu mereka ngukur, mari kita ngopi dulu kang, di warung itu.”
“Ayo, saya bawa kopi juga nih dari kedai, boleh ga ikut nyeduh disana, sambil saya berikan juga kepada pemilik warung juga, jadi kalau kita kemari lagi kesini, ada kopi yang sesuai dengan kesukaan saya. Sebentar saya bawa dulu kopinya di mobil.”
“Wah hebat, pencinta kopi selalu prepared, mentang-mentang punya pabrik kopi nih, hehehe.”
__ADS_1
“Hahaha. iya dong, selalu always tak pernah never.” Jawab Andi lalu meminta sopirnya untuk mengambilkan beberapa bungkus kopi, dari dalam mobilnya. Sedangkan Nata langsung masuk ke warung itu.
“Teh, kopinya sudah diseduh ?”
“Baru mau diseduh kenapa ?”
“Itu ada juragan kopi, dia bawa kopi untuk disini, ada untuk teteh juga, jadi kalau kemari lagi kami minum kopi dari juragan kopi itu.”
“Ohhh pasti kopi mahal atuh itumah Aa.”
“Ahhh tidak juga, mahal itu relatif tergantung tempatnya.”
“Ini kopinya, ada tiga bungkus besar nih.” Ucap Andi yang baru masuk ke dalam warung itu. Charlie segera menyambut bersalaman dengan Andi dengan sangat hormatnya.
“Ohhh sama Charlie juga kemari, nanti tolong istriku diajarkan tentang aplikasi perbankan di ponsel dan di laptopnya yaa.”
“Siap Kang Andi. Kami akan selalu siap melayani secara exclusive terhadap nasabah VIP kami, hehehe.”
“Ahhh Charlie bisa saja. Teh ini kopinya, untuk persediaan disini sekalian yaa, sekalian promosi, hehehe.” Ucap Andi lalu menyerahkan beberapa bungkus kopi pekat yang masih dibungkus dengan plastik berlapis alumunium foil itu.
“Eleuh-eleuh banyak pisan ini kopinya Pak. Berat banget ada tiga kiloan ini mah.”
“dibuat kopi tubruk saja yaa teh, kalau untuk saya jangan pakai gula.” Ucap Andi
“Sama saya juga jangan pakai gula.” Ucap Nata.
“Kalau begitu saya juga ganti teh, kopi yang itu saja, ga jadi kopi susu, tapi pakai gula sedikit.” Ucap Charlie tidak mau ketinggalan.
“Ohhh siap, pak.”
“Kang Andi, teteh ini yang nanti akan menyiapkan makan untuk yang kerja di proyek pembangunan kampus, lalu nanti dia akan menjadi pengelola kantin di kampus kita.” Ucap Nata.
“Wah hebat dong, gorengannya juga enak-enak nih, minyaknya tidak terlalu banyak nempel di gorengannya.”
“Iya makanan yang dijajakan disini juga terlihat sangat higienis dan bersih, pakai lemari kaca juga tuh.” tambah Nata.
Hampir dua jam mereka menunggu yang sedang mengukur dan menghitung elevasi di lahan seluas sepuluh hektar itu. Pada pukul 11.30 anak buah dari Andi lalu melaporkan hasil pengamatan dan perhitungannya kepada Andi. Andi lalu segera menyerahkan hasilnya kepada Nata, Nata lalu mengajak Andi untuk mendiskusikan di lapangan langsung. Kini gantian para petugas yang sudah selesai mengukur berada didalam warung kopi itu. Setelah jelas dan dibandingkan dengan denah rencana kampus yang akan dibangun Andi dan Nata lalu sepakat atas seluruh hasil pengukuran itu.
“Kalau diijinkan besok pagi alat berat akan melakukan land clearing area disini. Boleh ga ?” Tanya Andi.
“Boleh kang, kami juga sudah selesai dengan semua perijinannya, sambil menunggu IMB-nya terbit, kita bisa langsung action.”
“OK paling besok sampai seterusnya nanti Arwan yang akan aku tugaskan disini. Aku hanya sesekali saja mengontrolnya.”
“SPK nya belum terbit lho kang.” Ucap Nata mengingatkan.
“Hahaha, santai saja, kami akan action sambil menunggu SPK terbit, yang penting kita saling menjaga kepercayaan saja lah.”
“Waduh, rupanya kang Andi sudah tidak sabar yaa untuk melihat hasilnya. Hehehe.”
__ADS_1
“Iya supaya nanti anak-anak kita bisa ngampus di Komplek perguruan tinggi ini.”
“Hehe, bisa aja akang mah, anak-anak akang kan masih kecil-kecil, malah belum ada yang SD.”
“Siapa tahu bakal bisa ikut program akselerasi seperti Om Nata, hehehe.” Kekeh Andi dengan penuh semangat.
“Siap kang, baiklah kalau begitu, kita bubar saja dulu, besok saya kemari lagi untuk bertemu dengan bang Arwan yaa.”
“Iya secara teknis nanti di lapangan dia yang langsung bertanggung jawab, orangnya gesit tapi kalem tuh.”
“Iya benar kang, waktu merehab interior gedung kantor pusat dan ruko milik saya juga ternyata sangat cekatan dan rapih kerjanya. Saya percaya banget deh kalau bang Arwan yang pegang proyeknya.”
“Makanya nanti jangan cantumkan nama saya sebagai pelaksana, cukup nama PT dan nama Arwan saja.”
“Ohhh siap kang. Kita bersiap Ishoma dulu atuh kang.”
“Ayo, kita ke rest area km 97 saja kalau begitu.”
“Baik kang, saya panggil dulu Charlie nya.”
Tak lama kemudian tiga unit mobil lalu berjalan beriringan menuju ke rest Area KM 97. Disana mereka melaksanakan sholat Dzuhur dan dilanjutkan makan siang bersama. Suasana penuh dengan keakraban terjalin antara Nata dan Andi. Baru sesudah selesai sholat Ashar mereka membubarkan diri menuju pulang ke Bandung.
Saat dalam perjalanan menuju pulang, Nata mendengar dering telepon dari ponselnya, ternyata Sabrina yang menelepon.
“Assalamualaikum, ini baru saja bubar sayang, gimana mau dibawakan apa ?”
“Enggak kok hanya kangen saja sama akang.” Jawab Sabrina diseberang sana.
“Jessy mana, ada disitu ?”
“Ada nih, kami sudah pulang ke rumah, akang tadi makan siang bareng kang Andi yaa ?”
“Iya kok tahu ?”
“Hehehe teh Putri yang cerita tuh, tadi dia ke kantor pusat, mampir memberikan data-data karyawan yang akan kita buatkan kartu ATM nya. Bawa anaknya kang, kembar. Lucu lucu sekali deh.”
“Ohhh yaa, Kamu pengen kita punya anak kembar juga ?”
“Hihihi, memangnya bisa request ? se-dikasihnya saja lah kita mah, Ehhh akang sama Charlie yaa ? tadi Lusi juga nanyain dia aku bilang sedang tugas luar bareng akang.”
“Ohhh ok, sekitar setengah jam lagi kami sampai ke kantor pusat. Charlie kan harus bawa mobilnya dulu di kantor.” Jawab Nata sambil melirik ke arah Charlie yang sedang mengemudi.
“OK deh, cepat pulang yaa, dede bayinya nanyain papa nih, hihihihi.”
“Iya bilang saja, papanya lagi kerja dulu, ga lama lagi pulang, sudah dulu yaa sayang, mau ngisi BBM dulu nih.” Ucap Nata saat mobil menepi ke sebuah SPBU.
“OK Akang sayang, see you later, we love you.” Terdengar oleh Nata suara dariSabrina dan Jessy di seberang sana.
“Me too, Love you both.” Jawab Nata lalu menutup pembicaraan di ponselnya.
__ADS_1
“Charlie, nanti sesudah ngisi bensin, kita beli oleh-oleh dulu yaa, untuk kamu juga dirumah.”
“Siap kang boss.” Jawab Charlie.