
Setelah selesai memeriksa beberapa dokumen disiang hari itu, Nata dengan iseng membuat desain untuk kamar bayi, di kiri kanan ruangan kerja kantornya kini tidak nampak kedua istrinya Nata yang biasa selalu mendampinginya saat bekerja di ruang kerjanya itu. Ruang kerja Sabrina dan Jessy yang berada di kiri kanan ruang kerja Nata kini tertutup rapat. Setelah selesai membuat 3D desain kamar bayi dengan menggunakan aplikasi di laptopnya itu, Nata segera mengirimkan beberapa desain tiga dimensi tersebut kepada Sabrina dan Jessy yang saat ini tidak masuk ke kantor.
Tidak berapa lama kemudian Sabrina melakukan Video Call. Nata segera menjawab panggilan itu.
“Kamar bayinya bagus kang.” Ucap Sabrina yang terlihat sedang bersama Jessy di ruang tamu ruko mereka itu.
“Iya nanti sore ada beberapa orang utusan yang akan datang kesana untuk mengukur kemudian besok akan mulai menata kamar bayi tersebut, kamu tunjukkan saja nanti pada mereka kamar yang dimaksudkan sebagai kamar bayi kita nanti.”
“Iya. Akang jangan pesan makanan untuk makan siang yaa, nanti akan kami kirimkan untuk makan siang akang.”
“Ohh kamu sama Jessy masak ?”
“Bukan kami yang masak kang, ini pesanan perdana kami dari katering, kita juga nanti setiap hari makan dari makanan yang dikirimkan oleh Teh Mira dari katering kedai mereka.”
“Sudah mulai berjalan programnya ?”
“Sudah kang, untuk akang ketahui hari ini kami mendistribusikan sebanyak 200 nasi bungkus.” Jawab Jessy yang juga ikut berbicara di ponselnya Sabrina itu.
“Alhamdulillah semoga terus berjalan program berbagi berkahnya. Mana Sabrinanya ?”
“Amin kang, Sabrina sedang menerima paket makanan untuk makan siang kami. Ada Ojol yang datang mengantarkannya, mungkin sebentar lagi juga akan tiba di kantor.”
“OK deh. Sebentar lagi aku akan Sholat Dzuhur, sudah dulu yaa, awas kamu jangan terlalu lelah yaa.”
“Iya Kang, akang juga nanti lekas pulang kalau pekerjaan sudah selesai di kantor.”
__ADS_1
“Iya sayang.”
“OK Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Nata lalu menutup pembicaraan lewat Video Call tersebut.
Setelah itu Nata melanjutkan membuat desain kamar tidur bayi, sambil mencari literasi di internet tentang rumah yang sudah mempunyai kamar bayi. Tanpa sengaja Nata membaca tulisan di iklan properti, Rumah dijual lengkap dengan semua perabotan dengan kamar tidur sebanyak lima kamar dua diantaranya adalah kamar tidur anak dan kamar bayi, rumah dengan bangunan dua lantai dengan total luas bangunan seluas 900 meter persegi dan luas tanah seluas 1500 meter persegi, basement parkir yang bisa menampung sekitar lima unit mobil, diatas basement tersebut ternyata juga ada sebuah kolam renang. Dengan iseng Nata menghubungi pemilik rumah tersebut, kemudian menanyakan harga penawaran rumah tersebut.
Nata yang pada awalnya hanya iseng, kini semakin tertarik dengan hunian yang nampak sangat asri dan modern tersebut, Nata lalu mengadakan pertemuan nanti sore sekitar pukul empat sore dengan pemilik rumah tersebut, dengan tujuan agar dapat melihat secara langsung kondisi rumah yang ditawarkan oleh pemiliknya tersebut. Dua jam kemudian Nata keluar dari gedung kantor pusat Bank NSP tersebut dengan mengendarai Rubicon Double Cabin Hitamnya. Dia menuju ke sebuah komplek perumahan di kawasan Setra Duta, letaknya tidak jauh dari jalan tol, tidak jauh juga dengan Bandara Husein Sastranegara. Waktu tempuh hanya memerlukan waktu lima menit dari pintu tol Pasteur, jika kondisi lalu lintas sedang lancar. Hal itulah yang menjadi bahan pertimbangan dari Nata.
Dua puluh menit kemudian Nata sudah sampai di lokasi rumah yang dijual tersebut. Sepasang suami istri menyambut kedatangan Nata, saat dia sampai di pelataran parkir yang cukup luas itu. Nata pun lalu meninjau setiap sudut rumah dua lantai itu. Mulai dari basement, lantai satu yang memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, ruang penyimpanan sepatu, tas dan pakaian, home theater room, juga kolam renang, ruang sauna yang letaknya tak jauh dari kolam renang, dilanjutkan dengan melihat tiga buah kamar tidur di lantai dua, yang dilengkapi dengan perpustakaan, ruang fitnes, tiga kamar tidur anak termasuk kamar tidur bayi. Nata mengambil gambar dengan menggunakan ponselnya. Rumah tersebut juga di lengkapi dengan lift, dari basement ke lantai satu dan dua bahkan bisa menuju roof top atau lantai atap rumah yang memiliki garden roof top. Nata sungguh terkesan pada pandangan pertama saat meninjau hunian yang nampak tertata dengan sangat rapi tersebut. Semua perabotan dan perlengkapan rumah juga terlihat sangat terawat dengan rapi.
“Mengapa rumah ini dijual pak ?” Tanya Nata kepada pemilik rumah yang bernama Wibisana itu.
“Kami menjual rumah ini karena kami bersepakat untuk pindah ke Eropa, untuk mengurus semua usaha yang sejak dahulu sudah kami rintis, juga meneruskan usaha dari orang-tua istri saya Cindy, Cindy sangat ingin meneruskan usaha perkebunan dan peternakan milik orangtuanya yang baru saja meninggal dunia.”
“Innalilahi wa inna illaihi rojiun, mohon maaf pak.”
“Secepatnya pak, besok lusa insya Allah kami akan kemari, mengajak istri saya juga, sekalian dengan pihak Notaris, agar bisa bertransaksi disini saja, ini kartu nama saya.” Ucap Nata seraya menyerahkan kartu nama miliknya.
“Baiklah, ohh Pak Nata ini pemilik Bank NSP yang baru saja pindah dari Jakarta ?” Tanya Wibisana saat sudah selesai membaca kartu nama yang diserahkan oleh Nata tersebut
“Benar Pak.”
“Hebat, masih mudah, punya Bank sendiri.”
“Terima kasih pak, Bank hanya sebagian dari usaha saya, selain itu saya juga berusaha dibidang properti juga membangun kampus untuk mendidik calon-calon teknisi serta pengusaha muda lainnya. Kembali lagi pada harga rumah ini, apakah bisa kurang lagi pak ? Akan saya transfer saat ini juga sebagai tanda pengikat atau down payment hehehe.” Ucap Nata sambil terkekeh.
“Hemm jika pak Nata langsung yang membelinya kami akan diskon sebesar 15% deh, karena kita tidak mengunakan jasa perantara atau broker. Ini nomor rekening bank saya.” Ucap Wibisana sambil tersenyum lalu menunjukkan nomor rekening miliknya.
“OK deal pak. Secepatnya saya akan segera menghubungi bapak. Saya mohon diri, agar bisa segera menyampaikan berita ini untuk istri saya. Saya transfer 100 juta sebagai tanda jadinya sekarang.” Ucap Nata lalu mengoperasikan ponselnya untuk mentransfer dana sebesar 100 juta rupiah kepada Wibisana.
__ADS_1
“Sudah saya terima pak Nata. Kapan saja Pak Nata akan datang kemari, kami akan menunggunya, apakah perlu menyerahkan kunci rumah ini sekarang ?” Ucap Wibisana, saat dia menerima notifikasi dari aplikasi perbankan di ponselnya.
“Baiklah pak, saya pamit, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Wibisana lalu mengantarkan Nata, sampai Nata keluar dari pelataran parkir rumah tersebut. Pada pukul enam sore, bertepatan dengan suara adzan Maghrib terdengar, Nata sudah berada di basement ruko miliknya tersebut. Sabrina dan Jessy langsung menyambut kedatangan suami tercintanya. Mereka bergantian mencium punggung tangannya Nata.
“Ayo kita sholat Maghrib dulu.” Ajak Nata pada kedua istrinya itu.
“Akang mau sekalian mandi sore ?” Tanya Sabrina. Ketika mereka bertiga menaiki lift menuju ke lantai tiga ruko tersebut.
“Sudah kami siapkan baju ganti untuk akang.” Tambah Jessy sambil membantu menenteng tas milik Nata.
“Iya, terima kasih Sabrina dan Jessy ku sayang.” Jawab Nata, lalu segera melucuti semua bajunya di kamar tidurnya tersebut. Sementara itu Jessy dan Sabrina segera mengambil air wudhu yang terletak di samping mushola.
Setelah mereka selesai Sholat Maghrib lalu dilanjutkan dengan sholat Isya, mereka makan malam bersama, setelah selesai makan, mereka lalu ngobrol bertiga di ruang tamu. Nata yang duduk di sofa empuk dengan ditemani oleh Sabrina dan Jessy mulai bercerita tentang semua peristiwa di kantornya pada hari itu, kemudian dilanjutkan dengan membahas rumah yang akan dibeli oleh Nata.
“Aku akan menghadiahkan rumah baru untuk kalian berdua, rumah yang sudah lengkap dengan semua perabotannya.” Ucap Nata lalu menunjukkan foto-foto rumah yang akan mereka beli itu. Jessy dan Sabrina lalu memperhatikan semua foto-foto dari layar ponselnya Nata.
“Bagus banget kang.” Ucap Jessy dan Sabrina bersamaan. Raut wajah kedua istrinya itu nampak terlihat sangat senang dan berbahagia. Bahkan bola mata Sabrina mulai berkaca-kaca, karena sangat merasa terharu mendengar semua penuturan dari Nata tersebut.
“Terima kasih kang, tapi nanti rumah ini bagaimana ?” Tanya Sabrina.
“Kita jadikan show room atau workshop komputer saja untuk toko komputer Jessy, agar Jessy tidak perlu lagi menyewa ruangan toko di mall. Apakah kalian setuju ?” Tanya Nata.
“Kami sih setuju saja dengan semua rencana akang deh, iya kan bestie ?” Jawab Sabrina lalu menatap Jessy.
“Alhamdulillah, dengan demikian aku tidak perlu lagi memperpanjang masa sewa tempat jualan komputer lagi, hehehe.” Kekeh Jessy.
“OK kalau begitu, agendakan untuk acara besok, lalu ajak seorang staf dari kantor Notaris, agar besok kita melaksanakan transaksinya di rumah baru kita. Kalian berdua tidak perlu ke kantor, biar aku saja yang ngantor besok.”
“Terima kasih yaa kang.” ucap Sabrina dan Jessy, lalu memeluk Nata dengan eratnya.
__ADS_1
“Sekarang giliran kami berdua yang akan memanjakan akang sepanjang malam. Yuk kita ke kamar sekarang kang.” Ajak Sabrina.