Tangguh

Tangguh
Bab 48 H-1


__ADS_3

Acara pembukaan kantor pusat bank esok hari akan dimulai, sekaligus  dengan acara syukuran atas pernikahan antara Nata dengan Jessy dan Sabrina. Beberapa pekerja sedang menyelesaikan mendekorasi Gedung Kantor Pusat Bank itu untuk semakin cantik. Charlie sangat sibuk dan telaten saat mengawasi semua orang yang sedang mengerjakan dekorasi gedung megah itu. Lobby kantor pusat bank tersebut disulap untuk dijadikan ruang pelaminan. Pelataran parkir yang luas didepan gedung sudah terpasang beberapa tenda besar. Umbul-umbul dan baligo sudah terpasang pada sekeliling gedung kantor pusat tersebut.


Sementara itu di Ruko Nata dengan didampingi kedua istrinya sedang memeriksa semua souvenir yang akan dibagikan kepada semua tamu undangan yang akan hadir pada acara besok. Souvenir yang setiap kantongnya terdiri dari handy craft atau kerajinan tangan dari sebuah UKM yang menjadi mitra dari Bank tersebut ditambah dengan satu kartu ATM senilai sepuluh juta rupiah. Kartu-kartu ATM yang diterbitkan oleh bank yang mereka miliki itu, satu persatu diperiksa oleh Nata dengan menggunakan mesin ATM yang kini sudah terpasang di ruang tamu Ruko mereka juga di halaman depan Ruko itu. Erna dan kakaknya juga nampak sangat sibuk saat turut membantu Nata, bersama Jessy dan Sabrina. Setelah selesai memeriksa seluruh souvenir itu, Nata lalu mengajak Yadi untuk ngobrol di ruang kerjanya di Ruko tersebut.


“Yadi, kamu kapan selesai kuliahnya ? Jurusan apa kuliah kamu itu ?” tanya Nata kepada kakaknya Erna itu.


“Insya Allah semoga tahun ini Pak selesai, mohon doanya juga. Saya kuliah di Jurusan perawatan mesin, Sekarang saya sedang menyusun skripsi.”


“Apakah kamu sudah punya rencana sesudah selesai kuliah nanti ?”


“Rencananya saya mau mencari pekerjaan, tapi belum tahu mau mencari kemana.”


“Kalau saya tawari pekerjaan mau ?”


“Wah mau banget pak, terima kasih sebelumnya.”


“Baiklah, nanti kalau sepulang dari kampus, selesai bimbingan dengan dosenmu, kamu temui Pak Charlie. Dia sedang mencari orang untuk mengurus semua mesin yang ada di Gedung Kantor Pusat Bank Nusa Syariah Persada. Ini kamu catat nomor kontaknya. Segera hubungi dia secepatnya.”


“Siap Pak, terima kasih banyak.” Jawab Yadi dengan sinar bola mata yang berbinar-binar mencerminkan rasa bahagia yang tidak terkira.


“Nah besok kamu dan Erna bersama teman-temanya akan menjadi pager bagus dan pager ayu. Apakah sudah diberikan pengarahan oleh kedua istri saya ?”


“Sudah pak, kemarin saya dan Erna sudah mencoba baju yang akan kami kenakan untuk acara besok.”


“Baiklah, kembali lagi ke pembicaraan tadi tentang rencana pekerjaan untuk kamu, apakah kamu bersedia jika nanti ditugaskan untuk mengurus, memelihara serta merawat Genset maupun semua mesin yang ada di gedung kantor pusat ?”


“Siap pak, saya bersedia, tapi kalau untuk melamar apakah saya harus menunggu dulu saat ijasah saya nanti diterima setelah saya lulu kuliah ?”


“Ijasah mu nanti bisa menyusul, sekarang kamu buat Riwayat Hidup atau CV lalu tulis lamaran pekerjaan. Kamu serahkan kepada adikmu Erna, nanti dia akan memberikannya kepada Sabrina istri saya. Sabrina nanti yang akan mewawancarai kamu langsung sebelum kamu bekerja di Kantor Pusat Bank Nusa Syariah Persada. Bagaimana sudah jelas ?”


“Iya jelas pak, saya akan minta ijin dan doa terlebih dulu dari Emak dan Bapak saya.”


“Bagus, nah sekarang kamu buat segera CV dan lamarannya.”


“Baik pak, kalau begitu saya mohon pamit. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak.” Ucap Yadi lalu bersalaman dengan Nata, kemudian dia pulang ke rumahnya.  Tidak lama kemudian Sabrina dan Jessy masuk ke ruangan kerjanya Nata.

__ADS_1


“Ada apa barusan sama kakaknya Erna ? kelihatannya serius amat tadi ngobrolnya kang.” tanya Sabrina.


“Iya tuh, apakah tentang Pager Bagus yang akan dilaksanakan pada acara besok ?” Tanya Jessy pula.


“Aku ajak dia bekerja di Kantor Pusat, untuk menangani semua mesin yang ada di kantor pusat nanti, nanti kamu jadwalkan wawancara dengan Yadi. Juga membahas tentang pager bagus yang besok akan dilaksanakan.” Jawab Nata.


“Ohh pantas barusan dia berpamitan pulang kepada kami, Erna juga ikut pulang dulu katanya.” Ucap Sabrina.


“Bagaimana menurut kalian pekerjaan dari Erna ?”


“Bagus kang, dia sangat bertanggung jawab dengan semua tugasnya.”


“Kalau aku punya rencana untuk menghibahkan rumah yang sekarang menjadi tempat tinggal juga tempat usaha Mang Engkus, apakah kalian setuju ?”


“Itu sih terserah akang, apapun yang akang lakukan selagi bersifat positif kami akan selalu mendukungnya, iya kan Jess ?” Ucap Sabrina lalu pandangannya melirik Jessy.


“Iya benar Sab. aku sih setuju-setuju saja, toh kita juga masih punya urusan lain yang masih banyak dan perlu digarap.”


“Alhamdulillah, terima kasih yaa Sabrina dan Jessy, kalian berdua memang istriku sejati yang cantik dan Sholehah.” Puji Nata.


“Akang kita ini memuji kita terus deh Sab, aku jadi curiga sebentar lagi pasti ada maunya.” Ucap Jessy.


“Hehehe kamu tahu aja Jessy, sini kalian aku peluk.” Ucap Nata lalu mengembangkan kedua belah tangannya siap untuk memeluk kedua istrinya yang cantik dan bahenol itu.


“Tuh kan benar, hihihi.” Cicit Jessy saat mendengar ucapan suaminya itu, namun Jessy dan Sabrina mendekat ke tempat duduknya Nata, lalu dipeluklah mereka oleh Nata.


“Mmmhhh wangi banget kalian.” Ucap Nata saat mengendus kedua tubuh molek istrinya itu.


“Kang kita bobo lebih awal yuk, supaya besok pagi kita bangun lebih segar dan lebih awal.” Ajak Sabrina.


“Baru juga jam delapan malam, kok kalian sudah pengen ngajak bobo bareng sih ?”


“Iya bobo bareng kang, bukan melek bareng. Pasti arahnya kesitu deh akang mah.” Ucap Jessy yang mulai kegelian saat jemari nakal suaminya itu mulai menggerayangi tubuhnya.


“Iya akang, geli dong ihhh.” Rengek Sabrina pula, saat merasakan jemarinya Nata mulai masuk menyusup kedalam pakaiannya.

__ADS_1


“Yaa sudah ayo kita naik ke kamar tidur.”


“Kang, tidur saja yaa, jangan macam-macam.” Ucap Jessy.


“Ohh kalau itu sih aku enggak bisa janji hehehe.” Jawab Nata lalu bangkit dari tempat duduknya kemudian Nata menggandeng kedua istrinya itu, mereka lalu naik ke lift menuju ke lantai tiga, menuju ke kamar yang sekarang sudah dirias dengan sangat cantik. Nata bersama kedua istrinya lalu mengganti pakaian mereka dengan piyama, sedangkan Jessy dan Sabrina yang sudah terbiasa mengganti pakaian dengan piyama kimononya, tanpa pakaian dalam lagi. Nata diikuti oleh kedua istrinya lalu merebahkan diri di kasur empuk itu, kasur yang luas dengan


ukuran 250 x 200cm. Nata lalu meredupkan penerangan di kamar itu. Sebelum mata mereka memejamkan mata, seperti biasa Nata mengajak kedua istrinya untuk berbicara diatas tempat tidur sambil membelai lembut tubuh kedua istrinya itu.


“Nanti setelah selesai acara besok, apa rencana kalian ?”


“Seperti yang sudah direncanakan oleh kita sebelumnya, kalau aku akan fokus bekerja, jika nanti Bank yang kita kelola berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, aku akan meningkatkan lagi pada bidang usaha lainnya.” Jawab Sabrina.


“Kalau aku sih pengennya liburan dulu kang, kita pantau usaha kita dari jauh saja dulu, selagi honeymoon. Itu juga kalau akang setuju.”


“Tidak biasanya kalian berbeda rencana.”


“Ahh tidak juga kang, aku juga pengen sih liburan dulu. Supaya perut ini nanti saat mulai bekerja sudah terisi dede bayi, hehehe.” Jawab Sabrina meralat semua ucapannya.


”Kalian mau liburan kemana ?”


“UMROH.” Jawab Sabrina dan Jessy serempak.


“Serius ? OK deh, siapkan saja semuanya.”


“Kami kan baru sekali kesana, itu juga kan sewaktu kita menikah disana.”


“Iya kang, aku rasakan sangat nikmat saat beribadah disana, hatiku juga terasa sangat adem dan semakin yakin atas pilihan keyakinan kami.”


“Baiklah Sabrina dan Jessy ku sayang. Semoga kita akan semakin kompak dan bersemangat dalam beribadah.”


“Aku sayang akang.” Ucap Sabrina lalu mencium pipinya Nata.


“Aku juga sangat sayang sama akang.” Ucap Jessy yang juga mencium pipinya Nata.


“Sama, aku juga sayang terhadap kalian berdua.” Jawab Nata lalu memeluk lebih erat tubuh kedua istrinya yang kini ada disisi kiri dan kanan tubuhnya. Malam pun semakin larut, kini di pembaringan itu tertidur Nata, Jessy dan Sabrina yang sedang berpelukan dalam tidurnya. Tiga orang di atas pembaringan itu tidur dalam alam mimpi yang indah. Menantikan hari esok yang lebih cerah dan lebih berbahagia daripada hari sebelumnya. Deru napas teratur dari ketiga insan diatas pembaringan itu terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Impian mereka di dalam tidurnya seolah menyatu. Melupakan mimpi pada masa lalu yang hampa, berganti dengan impian masa depan yang penuh gemilang.

__ADS_1


__ADS_2