
"Kalau memang sudah cocok kenapa harus menunggu lebih lama?"
Pertanyaan Kakek terlontar membuatku hampir termakan emosi. Memang berkata semudah itu, tapi kenyataannya belum sepenuhnya aku terima. Baik, aku akan menurut. Tapi aku butuh waktu.
Aku tersenyum. "Kek, Kara butuh waktu. Setidaknya sampai Kara mendapatkan gelar Kara. Kara sedang menyusun skripsi Kek. Tolong berikan kami waktu," kataku memohon pengertian Kakek.
"Skripsi bisa dikerjakan setelah menikah, Kara. Jangan mempersulit. Jaman sekarang tidak ada yang sulit."
Perdebatan terus berlanjut hingga aku terpaksa mengalah. Aku ingin terus berdebat hingga Kakek mengerti, namun di sisi lain Ibu terus menarik tanganku memintaku untuk berhenti. Dengan segala macam pikiran dalam kepalaku, aku berlalu ke kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.
Tahu 'kan bagaimana rasa kesal yang tidak bisa dilampiaskan?
Mataku berkaca-kaca dan aku menguceknya. Aku mengambil ponselku dan mendiall nomor Kak Raja.
"Halo Kak."
"Kenapa Rain? Ceritakan saja," sahut Kak Raja di seberang.
"Darimana Kakak tahu kalau aku ingin bercerita?" tanyaku bingung.
"Suaramu, Rain. Kenapa kau menangis?"
"Darimana Kakak tahu kalau aku menangis?"
Kak Raja tertawa sementara aku seperti orang bodoh bertanya.
"Aku tahu. Mudah sekali menebaknya."
__ADS_1
Aku merengut lalu berbaring telungkup di atas kasur. "Kak, ayo bermain Ask Me Anything lagi."
"Kenapa tiba-tiba?"
Aku tahu. Tapi ada satu hal yang ingin aku sampaikan.
"Bukan apa-apa Kak. Satu pertanyaan saja. Bolehkah?"
"...Baiklah."
Aku tersenyum dan berbaring telentang. "Kak, jawab dengan jujur, apakah Kakak benar-benar menerima perjodohan ini?"
"..."
Aku menggigit bibirku saat Kak Raja tidak merespon apapun. Aku tahu pertanyaan ini sangat sensitif. Tapi aku tidak dapat menahan rasa ingin tahuku. Aku ingin tahu bagaimana tanggapannya yang sebenarnya.
Aku terdiam. "Lalu...apa pilihan lain yang Kakak abaikan?"
"Satu jawaban untuk satu pertanyaan. Apa kau ingin menambah jumlah pertanyaan kita?"
Aku mendesah. Aku penasaran sekali. "Bolehkah?"
"Boleh saja. Tapi lain kali, ya. Hari ini aku lembur dan sibuk di kantor."
Aku merengut. Tak tega juga mengganggu waktu lemburnya. "Maaf."
"Baiklah, sekarang giliranku yang bertanya. Rain, jika kau dibebaskan menolak atau menerima, manakah yang akan kau pilih, menolakku atau menerimaku sebagai calon suamimu?"
__ADS_1
Aku terperangah.
What the—
***
Besoknya Kak Raja datang tanpa memberi kabar. Aku terperangah saat alih-alih memakai mobil seperti biasa, Kak Raja justru memakai motor sportnya. Motor yang sama dengan motor yang dipakainya waktu sekolah menengah atas dulu.
Sial, itu keren sekali.
"Kita akan kemana?" tanyaku.
Kak Raja tersenyum saja. "Aku mengerti apa kau rasakan Rain. Kita tidak jauh berbeda. Hanya saja kau nampak lebih sulit menerima. Hari ini, aku ingin membeli kebebasanmu dan akan aku bayar dengan apapun.
Aku tertegun. Bibirku bergetar menahan senyum.
"***Pertanyaan Kakak terlalu sulit."
"Hm. Aku mengerti. Tidak perlu dijawab—"
"Tidak Kak. Tunggu dulu," sahutku cepat takut dia salah paham. Aku menggigit bibirku. "Kak ini tentang kesiapan. Aku justru bersyukur kalau ternyata orang itu adalah Kakak. Maksudku, orangtuaku menemukan orang sempurna seperti Kakak. Tapi sekali lagi, aku tidak pernah berpikir sekali pun untuk menikah secepat ini. Aku masih ingin bebas***."
Aku tersenyum saat menerima helm darinya. "Tapi Kak, harga kebebasanku sangat mahal. Apakah Kakak akan sanggup membelinya?"
"Itu adalah kewajibanku sebagai calon suami yang baik. Harus sanggup membeli kebebasan calon istrinya."
Pipiku panas saat mendengar kata calon istri yang terlontar dari bibirnya. Aku segera memakai helm itu dan naik di jok belakang. Menyembunyikan wajah merahku di balik punggungnya sebelum Kak Raja menyadari reaksiku.
__ADS_1
***