Tangguh

Tangguh
Bab 85 Tutug Oncom.


__ADS_3

Sebelum suara adzan Subuh berkumandang, Nata sudah berpamitan kepada Sabrina dan Jessy untuk bersama Mang Dudung, Mang Undang dan Mang Sobri menuju ke Masjid. Sabrina dan Jessy yang sudah mengenakan mukena itupun mengantar Nata sampai halaman rumah yang masih gelap gulita tersebut.


“Nata sudah berangkat ke Masjid yaa ?”


“Iya Kak,” Jawab Sabrina dan Jessy bersamaan.


“Hehe geli juga, saat mendengar kalian menyebut kakak kepadaku.” Kekeh Amanda.


“Tidak apa, nanti juga terbiasa kegelian, hihihi.” Jawab Jessy.


“Kak nanti mau ikut ga menengok keluarganya Mang Sobri, dilanjutkan berkeliling kebun teh.” Tanya Sabrina


“Mau dong, aku mau ikut lah.” Jawab Amanda dengan cepat.


“Aeehh Neng Geulis sudah pada bangun ?” Tanya Bi Eha yang datang dengan Bi Endah, mereka juga terlihat sudah mengenakan mukenanya.


“Sudah Bi, kami semua disini menunggu Bibi berdua untuk Sholat Subuh berjamaah.” Jawab Sabrina.


Nampak disana di ruang tengah rumah itu sudah terlihat lima lembar sajadah yang sudah berbaris dengan rapi. Bi Endah lalu berdiri sebagai imam mereka, lalu secara berjamaah mulai melaksanakan Sholat Subuh. Setelah selesai Sholat subuh, Jessy meminta agar Bi Endah juga mulai mengajar mereka untuk mengaji, seperti yang biasa dilakukan oleh Nata kepadanya. Tanpa terasa mereka mengaji sampai sinar matahari mulai  terasa hangat.  Mereka tidak menyadari kedatangan Nata bersama para Mamangnya dari Masjid. Karena Nata melarang berisik kepada semua Mamangnya tersebut saat mengintip para wanita cantik yang masih mengenakan mukena itu sedang belajar mengaji, dipimpin oleh Bi Endah.


Jessy mulai tidak bisa menahan hajatnya, dia lalu berpamitan kepada Bi Endah dan Bi Eha untuk pergi ke kamar kecil.


“Yaa sudah, untuk sementara sampai disini dulu yaa. ternyata hari sudah terang tuh, Bibi belum masak nih.” Ucap Bi Endah.


“Ehh akang sudah lama berdiri disana ?” Tanya Jessy yang melihat Nata yang sedang bersembunyi dibalik dinding dekat kamar tidur.


“Hehehe iya. Ketahuan deh akhirnya. Bi... Bi Endah jangan masak dulu deh, tunggu saja disini, aku mau cari makanan dulu sama Mang Sobri ke luar.” Ucap Nata keluar dari persembunyiannya.


“Ohh baik den.” Jawab Bi Endah yang tidak berani membantah kepada Nata.


“Ayo Mang Sobri, Mamang yang pegang setir.” Ucap Nata lalu berjalan menuju ke dalam garasi mobil.


“Matic yaa den ?”


“Iya memangnya kenapa ?”


“Hehe ga apa-apa sih, ga ada koplingnya sih.”


“Walah seperti belagak belum pernah pakai matic saja Mamang mah.”


“Bercanda atuh Den.”


“Sudah cepetan, kasihan mereka pada nungguin.”


“Iya den, ehh mau beli apa sih ?”


“Nasi tutug oncom yang di alun-alun itu lah. Terus beli ayam goreng dan ikan gorengnya juga.”


“OK den siap.” Jawab Mang Sobri, kemudian mobil itu mulai melesat dengan cepat menuju ke arah alun-alun.


“Tidak secepat ini juga dong mang, anak saya belum pada lahir tuh.” Protes Nata.


“Hehehe maaf den. Ngetes tenaganya, ternyata mobilnya  sangat kuat tenaganya biarpun matic juga.” Jawab Mang Sobri.


“Iya dong, namanya juga mobil keluaran masih baru. Bagaimana anak Mang Undang sudah sehat ?”


“Sudah den, tadi juga maksa ingin ikut ke Masjid, tapi dilarang sama emaknya.”


“Hemmm kalau bibi bagaimana ? Saya sudah lama tidak bertemu dengan dia, semenjak Ayah sama Ibu meninggal.” Tanya Nata menanyakan keadaan dari Bi .... yang merupakan kakak kandung dari Mang Sobri itu.


“Alhamdulillah sehat den, hari ini dia memang libur tidak berjualan setiap hari Selasa. Besok baru kembali berjualan lagi di pasar.”


“Ohhh liburnya setiap hari Selasa, Kenapa masih berjualan Mang ? Mamang tidak melarangnya ?”


“Saya dan Mang Undang  sudah mencoba untuk melarangnya berjualan den, tapi Katanya kasihan sama pelanggan yang sudah bertahun-tahun menjadi menjadi pembeli dan pelanggannya di pasar. Padahal Mang Undang dengan saya juga sudah berusaha untuk mencukupi kebutuhan di rumah, uang bulanan dari Aden juga Mamang rasa sudah lebih dari cukup menurut Mamang mah untuk kebutuhan hidup keluarga Mang Undang. Tapi yaa begitulah den Bibi itu orangnya sangat tidak tegaan, kepada pelanggannya.”


“Kenapa lebih tidak tega terhadap pelanggan, anak-sendiri di rumah malah kurang diperhatikan.”


“Jawabannya begini Den kata Bibi, kan rumah dekat dengan Bi Endah dan Bi Eha, anak anak kan bisa nitip ke Bi Endah atau Bi Eha.”

__ADS_1


“Ahhh susah juga kalau adu argumentasi dengan Bibi yaa Mang ?”


“Begitulah Den, Ceuceu Neli memang sangat keras kepala menurut Mamang mah, Mamang sekarang hanya bisa berdoa dan mendoakan saja semoga Ceu Neli itu, anak-anaknya dan Mang Undang  sendiri selalu sehat. Agar setiap hari bisa terus mengurus anak-anak di rumah.” Ucap Mang Sobri, kemudian dia menghentikan kendaraannya persis didepan tempat yang berjualan nasi tutug oncom yang sangat terkenal itu dari sejak dulu.


Nata lalu turun dari mobilnya, meninggalkan Mang Sobri yang duduk menunggu di belakang kemudi. Nata lalu membeli dua puluh bungkus nasi tutug oncom dan membeli juga goreng ayam serta goreng ikan yang tersaji disana, tidak lupa penjual itu juga memberikan sambal dan lalapan sekedarnya karena yang tersedia disana hanya ada mentimun dan daun kemangi saja. Nata lalu membayar dengan lebih makanan yang sudah dibelinya itu. Sang pedagang nasi tutug oncom yang terlihat sudah berumur lebih tua darinya itu terdengar sangat berterima kasih kepada Nata, dia pun memberikan do’a kepada Nata. Nata hanya mengaminkan semua doa dari sang penjual nasi tutug oncom itu sambil tersenyum, Nata lalu berpamitan dan mulai meninggalkan tempat berjualan nasi tutug oncom itu.


“Ayo pulang mang, sudah ada semua, nanti tolong bilang sama Bi Endah dan Bi Eha untuk melengkapi lalapan, tadi disana hanya ada mentimun dan daun kemangi saja.”


“Ohhh iya den, di dapur dan di rumah mang Undang, masih banyak kok Mamang lihat lalapan yang baru dipetik kemarin sore dari kebun.”


“Aku ingin kacang panjang yang masih muda Mang, kemarin malam aku tidak melihatnya.”


“Ohhh siap Den nanti akan Mamang cari di kebun, tenang saja Den kebun milik kita lengkap kok.”


“Kalau pupuk dan benih sudah habis, segera bilang sama saya Mang.”


“Siap den, pupuk kandang dan pupuk organik sesuai dengan saran dan petunjuk dari aden masih banyak di gudang.”


“OK deh Mang.” Jawab Nata dengan perasaan sedikit lega. Namun biar bagaimanapun Nata belum merasa puas terhadap sikap dari Bi Neli yang merupakan kakak Kandung dari Mang Sobri itu. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai kembali ke rumah tua itu. Mang Sobri lalu memarkirkan kendaraan kedalam garasi. Sedangkan Nata membawa belanjaannya untuk diserahkan kepada Bi Endah dan Bi Eha agar segera bisa dihidangkan di tempat makan yang berada diatas kolam ikan itu.


“Istri saya pada kemana Bi ?” Tanya Nata.


“Ohh mereka tadi semua pada bawa HP Den, tadi sih bibi lihat sedang berfoto-foto di taman bunga.” Jawab Bi Eha.


“Ohh begitu biar saya susul deh mereka. Tolong di rapihkan saja makanannya yaa Bi.”


“Iya Den Nata.”


Nata sebelum menyusul Sabrina, Jessy dan Amanda lalu meraih kamera prisma digital dari dalam kamarnya. Setelah itu baru menyusul mereka yang sedang asik berpose dengan berbagai gaya di tengah taman bunga itu.


“Sini aku bantu deh pakai kamera yang benar, masa gadis-gadis cantik seperti kalian masih pakai ponsel sih.”


“Hore akang bawa kamera.” Pekik Sabrina dan Jessy.


“Amanda kok malah menyingkir ? ayo berpose bareng sama Sabrina dan Jessy.”


“Idih kamu masih terbelengu dengan mitos seperti itu kak ?” Tanya Jessy.


“Iya kamu jauh-jauh sekolah tinggi di Amrik, masih bersikap seperti itu, Bissmillah saja dong.” Ucap Nata juga.


“OK deh, Bissmillah.” Jawab Amanda sambil tersenyum lalu bergabung dengan Sabrina dan Jessy untuk berpose dengan latar belakang bukit kebun teh dan aneka bunga yang sedang sangat cantik berada didalam taman bunga itu. Beberapa frame sudah Nata ambil dengan sangat bagus.


“Coba lihat hasilnya kang.” Ucap Sabrina sambil berjalan mendekat kepada Nata diikuti oleh Jessy dan Amanda.


“Wow bagus sekali. Seperti sedang berada di luar negeri.” Ucap Amanda.


“Iya kalian bertiga memang sangat cantik. Cocok dengan cantiknya bunga yang sedang bermekaran di taman bunga ini.” Jawab Nata.


“Pasang tripodnya kang, kita ambil gambar sama-sama.” Usul Sabrina.


“OK deh.” Jawab Nata lalu mengeluarkan Tripod dari dalam tas kamera tersebut.


“Ke kanan sedikit, nah disitu, nanti aku akan berada di tengah kalian.” Ucap Nata mengarahkan Sabrina, Jessy dan Amanda. Lalu Nata begegas mengisi ruang kosong diantara wanita cantik itu.


“Ganti gaya, aku sudah memprogram untuk membidik sepuluh gambar tapi jangan jauh bergeraknya.” Ucap Nata lagi. Mereka pun berganti gaya sesuai dengan arahan dari Nata tersebut. Setelah beberapa kali kamera itu terlihat sudah selesai mengambil gambar, Nata lalu memeriksa kameranya diikuti oleh Sabrina, Jessy dan Amanda. Tangan jahil Nata lalu dengan iseng menggelitik Sabrina dan Jessy yang sedang melihat hasil gambar bidikan otomatis itu.


“Ihhh akang.” Rengek Sabrina.


“Diam dulu dong. Geli tahu.” Ucap Jessy juga.


“Haha, Nata memang tidak pernah berubah yaa jahilnya.” Ucap Amanda sambil tertawa terbahak-bahak.


“Dia pernah menjahili kakak juga ?” Tanya Sabrina.


“Wah mana berani dia mah, nanti aku banting juga deh, hehehe.” Kekeh Amanda.


“Iya ngeri tahu Jess, dia pernah membanting orang yang lebih tinggi dan besar daripada aku di kampus sampai KO, Amanda biar begini juga atlit Judo dan Kempo di kampus kami. Hahaha.” Ucap Nata.


“Pantas saja ga ada yang berani naksir kakak dong di Kampus.” Ucap Jessy.

__ADS_1


“Hehe, iya tuh, mereka pada kapok semenjak aku sudah membanting hulk jejadian itu. Tapi sejak itu pula aku tidak ada lagi yang membully bahkan teman-teman wanitaku semakin banyak di Kampus.”


“Hebat deh Kakak.” Puji Sabrina.


“Amanda, mereka berdua juga sabuk hitam, Jessy dan Sabrina adalah Karateka lho.”


“Benarkah ? Kok kedua tangan kalian halus semua, tidak nampak seperti seorang Karateka.” Tanya Amanda, sambil mengerutkan keningnya, memandang ke arah  Sabrina dan Jessy bergantian, seolah tidak percaya dengan omongan dari Nata tersebut.


“Haha, akang kami lebih berbahaya lagi Kak. Sengatan dia bisa membuat kami bengkak selama sembilan bulan nih. Hahaha.” Ucap Sabrina


“Jaahh dasar, kalian pada Gokil semua.” Pekik Amanda yang malah tersipu malu, seketika kulit wajahnya yang putih mulus itu menjadi merah merona. Sedangkan Nata hanya nyengir saja saat mendengar ucapan dari Sabrina tersebut.


“Den, Neng ini makanannya sudah siap, ayo silahkan makan.” Ucap Bi Eha yang datang menghampiri ke taman bunga.


“Iya Bi, terima kasih, nanti kami kesana.” Jawab Nata. Nata lalu segera merapihkan semua peralatan fotografinya kedalam tas yang dibawanya itu. Mereka lalu makan pagi bersama. Setelah selesai, mereka lalu menemui rumah Mang Undang yang merupakan suami dari Bi Neli.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, Eeh Den Nata sama Neng Jessy, ini Neng Sabrina yaa ? kalau ini siapa, maaf.”


“Saya Amanda bi temannya Nata semasa kuliah di Amerika.” Jawab Amanda.


“Maaf yaa keadaan rumahnya begini.”


“Tidak apa-apa Bi, Mang Undang ke kebun teh yaa ?” Tanya Nata.


“Iya Den seperti biasa, nanti pulangnya sekitar jam sepuluh atau jam sebelas. Ehh kalian salim dulu tuh sama Den nata dan istrinya.” Ucap Bi Neli lalu menyuruh ketiga anaknya yang masih terbengong-bengong saat melihat Sabrina, Jessy dan Amanda.


“Alhamdulillah kalau Bibi dan anak-anak sehat, maaf kami tidak bisa lama Bi, karena kami harus kembali ke Bandung lagi.”


“Ehh Aden mah, belum minum juga belum disuguhi, malah mau pulang. Mau bawa sayuran untuk oleh-oleh yaa.” Ucap Bi Neli.


“Tidak usah Bi. Jangan repot-repot segala deh.” Jawab Nata.


“Iya Bi nanti deh lain kali kami kesini lagi, sekalian berlibur disini.” Tambah Sabrina.


“Aduh maaf atuh yaa Den, Neng juga semuanya.” Ucap Bi Neli.


“Tidak perlu minta maaf Bi, Bibi tidak salah apa-apa kok, hehehe.”Jawab Nata sambil terkekeh.


“Aden mah bercanda saja. Kalau rujak mau ?”


“Nah kalau itu mau Bi. Rujak apa ?” Tanya Jessy


“Kalau disini namanya rujak beubeuk.” Jawab Bi Neli.


“Bebek dirujak ?“ Tanya Jessy dengan heran.


Semua orang disanapun tertawa mendengar pertanyaan dari Jessy itu.


“Bukan Jess, artinya rujak tumbuk.” Ucap Nata menjelaskan.


“Ohhh aku kira seekor bebek yang dirujak hehehe.”


“Ini bawa saja sama toplesnya semua.” Ucap Bi Neli.


“Banyak amat Bi.” Jessy berusaha untuk menolak karena terlalu banyak.


“Ehh tidak apa-apa atuh, kan di Bandung mah jarang ada yang begini.” Bi Neli pun memaksa agar Jessy menerimanya.


“Iya terima kasih deh Bi. Kami pamit yaa, salam nanti untuk Mang Undang.”


“Iya den, nanti Bibi sampaikan.”


“Assalammualaikum.” Ucap Nata, Sabrina, Jessy dan Amanda.


“Waalaikumsalam, sing salamet dijalan yaa.”


“Iya hatur nuhun Bi.” Jawab Sabrina, sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2