Tangguh

Tangguh
Bab 52 Roti Jepang.


__ADS_3

“Kitapindah ke kamar yuk, nih lihat, jari jari tangan dan kaki kita sudah keriput, karena terlalu lama di dalam air.”


“Iya kang, aku juga sudah sangat ngantuk, tuh lihat sudah jam sebelas malam.” Jawab Sabrina.


“Kang boleh ga minta gendong ? lemas banget nih lutut sesudah melayani akang.” tanya Jessy.


“OK aku akan gendong kalian berdua, tapi giliran yaa, satu persatu.”


“Asyik aku juga digendong sama akang kita Jess. Hihihi.”


“Im doing all the best for you both.” Ucap Nata lalu mulai turun dari Whirlpool atau Jakuzy,  lalu mulai membopong tubuh Jessy.


“OK i’ll waiting you here for while hunny.” Jawab Sabrina saat menunggu giliran untuk dibopong oleh Nata.


Setelah Nata membaringkan tubuh Jessy dengan perlahan diatas pembaringan. Nata lalu bergegas menuju ke ruang sauna kembali untuk membopong Sabrina.


“Aku ingin digendongnya dari depan sambil memelukmu, boleh kan sayang ?” tanya Sabrina dengan tatapan mata sayunya.


“Boleh sayang. Yuk sini.” Nata pun mulai menggendong Sabrina dengan posisi berhadapan saling berpelukan. Dari tadi juga memang Nata dan Sabrina belum mengenakan pakain selembar pun.


“Uggghhh punya akang berdiri lagi tuh, geli banget.” Rengek Sabrina.


“Iya sayang, karena posisi kita begini, jadi aku mudah terangsang kembali.” Jawab Nata.


“Ihh kang masuk lagi tuh, mungkin karena punyaku masih licin yaa..... aaahhhhh.”


“Kenapa sayang ?” Nata lalu berhenti melangkah sejenak saat menggendong tubuhnya Sabrina yang tanpa busana itu menuju kamarnya. Nata lalu berusaha untuk menurunkan tubuh Sabrina yang sedang digendongnya itu.


“Jangan diturunkan, lagi Enak nih kang, kayak digarukin yang gatalnya. Hihihi.” Sabrina malah memeluk lebih erat tubuh suaminya itu, kakinya pun kini melingkar lebih ketat lagi, semakin membelit tubuhnya Nata suaminya. Bahkan Sabrina semakin mengoyangkan badannya lebih cepat lagi.


“Ohhh im going to cum again, please keep me your big hug hunny.”


“OK baby.” Nata lalu mempererat pelukan pada tubuhnya Sabrina, memegang bokong Sabrina dengan kedua telapak tangannya agar tidak jatuh. Sabrina juga semakin liar gerakannya. Melenguh dan memekik di depan koridor kamar mereka.


“Kang, uugghhhh im cum again. Thank you Kang.”


“Cepat amat.” Protes Nata.


“Hihihi, maaf.” Jawab Sabrina merekapun lalu mulai masuk kedalam kamar, dengan diawasi oleh tatapan mata Jessy Nata lalu membaringkan tubuh Sabrina dengan perlahan.


“Lama amat, Kalian main lagi barusan ?”


“Iya Jess, i’m so sorry.”


“Is ok bestie, lanjutkan lagi sama aku kang, aku tahu akang belum keluar, tuh masih keras.” Ucap Jessy lalu meraih tangannya Nata agar menindihnya kembali. Kini Sabrina tidak memperdulikan lagi lenguhan, erangan bahkan pekikan dari Jessy, karena dia sudah puas lebih dulu saat tadi digendong menuju ke kamar mereka, kamar yang sangat wangi, bertaburan kelopak bunga mawar merah dan putih, kamar yang sudah dirias seperti kamar pengantin baru, walaupun mereka sudah menikah sebulan yang lalu. Sabrina tertidur dalam senyuman penuh kepuasan. Sangat puas sekali menurutnya. Dalam mimpinya itu Sabrina sedang terbang bertiga bersama Nata dan Jessy, tanpa sayap. Terbang yang bertolak belakang dengan hukum alam grafitasi bumi. Berkeliling menyusuri cakrawala di permukaan bumi yang berada dibawahnya itu. Menembus pekatnya awan putih. Lalu saling berkerjaran di atas sana bagai main petak umpet pada awan putih yang berada di angkasa menghalagi pemandangan mereka. Sampai akhirnya Sabrina kini merasakan dirinya tertarik oleh grafitasi yang sangat kuat. Sabrina berteriak meminta tolong Nata dan Jessy yang berusaha untuk menyusulnya saat merasa terjatuh dari angkasa itu.


Gedebuuuk !

__ADS_1


“Aduh.” Sabrina terpekik jatuh menimpa guling bersama selimut tebal yang sudah teronggok di lantai karpet tebal kamar mereka itu.


“Sabrina !” Pekik Nata juga dengan sangat terkejut, namun tak kuasa menahan tawa saat melihat Sabrina jatuh di atas guling dan selimut tebal mereka.


“Kamu kenapa Sabrina ?” Tanya Jessy yang turut terkejut dan terbangun dari tidurnya.


“Are you ok ?”


“Im not ok, because im falling. Hehehe.” Jawab Sabrina sambil terkekeh. Nata lalu membantu istrinya itu untuk bangkit dan membaringkan kembali ke tempat tidur mereka yang empuk itu dengan perlahan.


“Kamu sakit ga Sayang ?”


“Ga sakit sih, tapi malu banget sama kalian berdua, hihihi. Awalnya tadi aku bermimpi terbang bertiga besama kalian, aku kemudian jatuh saat terbang tanpa sayap itu, tapi seiring dengan itu ternyata aku juga jatuh bersama selimut ini. hahaha.”


“Makanya jangan tidur terlalu di pinggir tempat tidur dong bestie. Ada-ada saja kamu tuh.”


“Nanti siang aku pepetkan saja ke dinding deh kasurnya, lalu kamu tidurnya di dekat tembok agar tidak jaduh lagi.”


“Hehehe, makasih yaa akangku sayang. Muach.”


“Pasang safety belt juga bestie. Hihihi.”


“Sialan kamu Jess, malah ngeledek.”


“Sudah mau subuh juga tuh, yuk kita mandi saja.” Ucap Nata sambil melihat ke arah jam dinding di kamar tidur mereka itu. Nata lalu menyalakan lampu kamar tidur itu, dengan menyetel dimmer, sehingga kamar tidur mereka itu kini jadi terang benderang.


“Jessy kamu berdarah tuh.” Ucap Sabrina yang pertama melihat dan menyadari ternyata Jessy sedang datang bulan.


“Ohhh iya baru keluar pagi ini, tadi malam malah belum keluar tuh. Waduh aku belum bisa sholat dong. Aku duluan yaa mau bersihkan dulu, makasih yaa Sab.”


“OK bestie, take care.” Lalu Sabrina langsung mengecek miliknya Nata.


“Ngapain sih pegang-pegang ? mau lagi ?”


“Sorry hanya mengecek saja. Artinya tadi malam kalian tidak Shower blidding, hehehe.”


“Ohhh iya tuh, ehhh kamu kok belum datang bulan juga sayang ?”


“Aku enggak tahu, nanti aku cek deh, antar beli test pack yaa nanti sepulang dari kantor.”


“Apakah lebih baik dan lebih akurat lebih baik ke dokter kandungan sayang ?” tanya Nata sambil memeluk tubuh istrinya itu.


“Memangnya kamu mau nganter aku ke dokter Kang ?”


“Sabrina sayang, aku ini suamimu, tentu saja harus bahkan wajib mengantarmu.” Jawab Nata sambil mempererat pelukannya pada Sabrina.


“Baiklah akangku sayang, terima kasih, by the way jika aku benar-benar hamil bagaimana ?”

__ADS_1


“Selama tiga bulan pertama kamu dilarang kerja keras, pekerjaan yang ringan ringan saja yang kamu


kerjakan nanti. Ayo kita susul Jessy yang sedang mandi.” Nata lalu membantu Sabrina turun dari tempat tidurnya.


“Hmmm kang, apakah mimpi yang aku alami tadi malam itu sebagai pertanda aku sedang hamil ?”


“Hahaha, ada ada saja kamu pemikirannya, mimpi itu adalah bunga dari tidur, memang kadang ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata kita. Sudahlah lupakan saja kita harus lebih berpikir secara realistis, sayang.”


“Iya kang terima kasih atas dukungannya.” Jawab Sabrina lalu memeluk Nata sambil berjalan untuk masuk ke kamar mandi menyusul, Jessy yang kini sedang mandi membersikan tubuhnya dibawah guyuran shower dengan air hangat itu.


“Jessy kamu kenapa ? Kok kamu nangis sayang ?” Tanya Nata


“Aku belum hamil juga yaa kang ?” Tanya Jessy kini membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Nata dan Sabrina. Jessy tidak mampu menyembunyikan wajah sedihnya.


“Tentu lah, kamu kan sedang datang bulan.”


“Sabrina pasti sudah hamil tuh, sedangkan aku belum.”


“Sabar sayang, mungkin belum saatnya untuk kita punya anak.” Jawab Nata sambil memeluk tubuh Jessy yang berada dibawah guyuran air hangat shower itu.


“Iya sabar bestie, kita kan sudah berusaha, namun Allah belum memberikannya.” Sabrina juga kini memeluk Jessy. Kini mereka bertiga saling berpelukan dibawah guyuran air hangat shower.


“Apakah karena aku selalu berisik kalau sedang bersama seperti itu kang ?”


“Hahaha, ga ada pengaruhnya dong dengan suara. Ada-ada saja kamu Jess.” Jawab Nata mendengar kepolosan penuturan dari Jessy itu.


“JEss kamu harus simpan dulu alat beratmu, sewakan saja kepada orang lain mainan beratmu itu.” Ucap Sabrina.


“Tapi selama kita menikah, aku ga pernah pegang lagi mainanku itu Sab.”


“Aku belum lihat garasi mainan beratmu itu Jess.”


”Besok lusa deh, aku bawa kalian kesana. Sab, cadangan roti Jepang kita masih banyak kan ?” Jawab Jessy.


“Banyak bestie. Ada di lemari kamar kita, ga bakalan ada kalau di kamar akang. Hehehe.”


“Roti Jepang ?”


“Tampon kang. hahaha.” Jawab Sabrina.


“Ohhhh aku kira roti beneran.”


“itu kode kalau aku sama Jessy di Supermarket atau Minimarket jika menanyakan tempat dimana beradanya rak tempat pembalut wanita.”


“Ohhh maaf aku baru tahu, ga pernah beli sih, apalagi memakainya. hehehe.”


“Akang mau jadi hot dog ? HAHAHA.” Tanya Jessy disambung suara tertawa mereka yang menggema di kamar mandi itu.

__ADS_1


__ADS_2