Tangguh

Tangguh
Bab 84 Ikrar dari Amanda dengan Sabrina dan Jessy.


__ADS_3

Sore harinya setelah selesai Sholat Ashar, rombongan Andi dan Nata berpisah, Andi dan rombongan langsung pulang ke Bandung, sedangkan Nata akan singgah dulu ke rumah masa kecilnya di Kota Tasikmalaya. Andi menolak dengan halus tawaran dari Nata untuk singgah dulu di rumah masa kecilnya dengan alasan karena, hari itu juga dia harus melanjutkan berangkat menuju ke Jakarta. Nata lalu tiba di rumah masa kecilnya kendaraan lalu diparkir setelah dibukakan pintu pagar rumah oleh Mang Sobri, yang sedang menyiram tanaman pada sore hari itu.


“Assalamualaikum Mang Sobri,  ini kenalkan Sabrina istri saya dan ini teman saya semasa dikampus dulu, Amanda.”


“Eleuh-eleuh sami-sami bule geuningan.” Ucap Mang Sobri dengan polosnya.


“Sumuhun mang, abdi Bule ti Bandung.” Jawab Sabrina.


“Har... geuning tiasa nyarios basa Sunda.” Ucap Mang Sobri dengan heran.


Merekapun meninggalkan Mang Sobri yang masih kebingungan itu, Nata lalu membantu Jessy yang sedang menurunkan bungkusan yang berisi bingkai atau pigura foto dari dalam bagasi. Jessy, Sabrina dan Amanda juga menurunkan traveler bag yang disimpan di bagasi mobil.  Nata lalu menempelkan kembali semua bingkai foto di dinding ruang keluarga pada masa kecilnya itu. Bingkai yang sudah diperbaharui oleh Jessy itu kini semakin indah tertempel di dinding ruang keluarga itu.


“Kita mau menginap disini ?” Tanya Amanda


“Iya semalam saja, karena hari sudah malam, jangan sampai kita kelelahan nanti dijalan, jadi kita malam ini beristirahat di rumah ini.” Jawab Sabrina.


“Amanda silahkan kamu menempati kamar ini.” ucap Nata kepada Amanda menunjuk ruang tidur tamu yang selalu terawat bersih.


“OK Nat. Terima kasih.”  Jawab Amanda, dia pun langsung memasuki ruang tidur tamu tersebut, sedangkan Sabrina dan Jessy nampak berkeliling ke setiap sudut ruangan rumah itu, Sabrina yang baru saja mengetahui rumah masa kecilnya Nata nampak sangat kagum dengan bangunan lama rumah itu yang sangat terawat dengan rapi dan bersih.


Pada saat sedang berkeliling di dalam rumah itu, Bi Endah dan Bi Julaeha alias Bi Eha datang menghampiri.


“Den Nata.” Ucap Bi Endah dan Bi Eha. Nampak Amanda juga keluar dari kamar tidurnya setelah meletakkan traveler bag kedalam rumahnya.


“Nah ini Bi Eha dan Bi Endah, mereka inilah yang merawat rumah ini semasa aku kecil sampai sekarang bersama suaminya disini.” Ucap Nata.


“Sabrina dan Amanda Bi Endah ini masakannya lezat banget deh, nanti kalian bisa mencicipinya, dijamin pasti kalian ingin kembali lagi kemari deh setelah mencicipi masakannya.” Puji Jessy.


“Ahh Neng Jessy mah pandai sekali memuji. Hehe.” Kekeh Bi Endah.


“Mang Undang sama Mang Dudung dimana Bi ?” Tanya Nata kepada Bi Eha.


“Itu, mereka sedang mengail ikan untuk makan malam, kami kan sudah dikasih tau kalau aden dan istrinya mau kesini, ehh yang mana istri Aden yang satu lagi itu ?” Tanya Bi Eha.


“Saya Bi, Sabrina.” Jawab Sabrina.


“Eleuh meuni geulis pisan, yaa Bi Endah.”


“Iya, bisaan Den Nata mah milihnya. Hehehe.” Jawab Bi Endah dengan terkekeh-kekeh. Bersamaan itu datanglah Mang Dudung dan Mang Undang yang baru saja selesai memancing. Jessy Sabrina dan Amanda segera ingin menyalami mereka, namun Mang Dudung dan Mang Undang mencoba menghindar.


“Jangan Neng tangan Mamang semua bau anyir, karena baru saja selesai memancing ikan dan membersihkannya.” Cegah Mang Dudung.


“Tidak apa-apa Mang kang bisa dicuci lagi dengan sabun.” Ucap Sabrina dengan memaksa meraih tangan Mang Dudung dan Mang Undang diikuti oleh Jessy dan Amanda.


“Aduh meuni halus semua tangan anu geulis mah.” Ucap Mang Undang.


“Hehehe Mang Undang bisa aja.” Kekeh Jessy.


“Den Mobilnya mau dicuci sekarang ?” Tanya Mang Sobri.


“Tidak perlu Mang Sobri, tanggung sebentar lagi Mahgrib, kita kan sebentar lagi akan ke masjid.”


“Ohhh baiklah.” Ucap Mang Sobri.


“Nanti kalian bertiga Sholat di rumah saja bersama Bi Eha dan Bi Endah yaa. Aku sekarang mau ambil wudhu dulu, ayo mang.” Ajak Nata kepada ketiga Mamang asuhnya itu.


“OK kang.” Jawab Sabrina dan Jessy. Jessy mengajak Sabrina dan Amanda untuk melihat ke dapur dan kolam ikan, lalu menerangkan bahwa nanti mereka akan makan diatas bale-bale yang berada diatas kolam ikan tersebut.


“Jernih amat airnya yaa, sampai semua ikan terlihat jelas begini.” Ucap Sabrina.

__ADS_1


“Iya, pengen sih ikut nyebur berenang sama ikan-ikan dikolam ini heheh.” Kekeh Amanda yang terlihat ikut takjub saat memandang kolam ikan itu.


“Kolam ikannnya memang sengaja dipetak-petak begini Bi ?” Tanya Sabrina


“Iya Neng, supaya ikan yang sudah besar tidak menyerang ikan yang masih kecil-kecil, juga untuk memisahkan jenis ikannya. Disini ada Lele, Mujair atau Nila, Ikan Mas dan Gurame.” Jawab Bi Eha.


“Makanan untuk ikannya beli atau bikin sendiri.” Tanya Amanda.


“Kadang kami bikin seringnya sih beli yang sudah jadi. Pelet ikannya.” Jawab Bi Eha lagi.


“Kalau airnya dari mana ? jernih banget mengalir terus.” Tanya Sabrina lagi.


“Dari mata air di bukit sana neng, dekat kebun teh.” Jawab Bi Endah sambil menunjuk sebuah bukit yang mulai terlihat gelap dimakan senja.


“Sebagian masuk ke kamar mandi juga dong air bersihnya ?” Tanya Amanda lagi.


“Benar Neng.” Jawab Bi Endah.


“Pantas saja airnya sangat sejuk, cenderung dingin seperti air didalam lemari es, hehe.”


Mereka pun melanjutkan langkahnya sampai taman bunga yang beraneka rupa, ada banyak bunga peninggalan dari mendiang ibunya Nata yang sangat menggemari menamam bunga di halaman belakang dan halaman depan rumahnya. Sabrina dan Amanda kembali berdecak kagum dengan semua pemandangan yang dilihatnya itu.


“Ayo kita ambil wudhu yuk.” Ajak Sabrina saat mereka sudah puas berkeliling ke setiap sudut halaman rumah di sore menjelang malam hari itu.


“Nata sampai jam berapa biasanya kalau ke masjid ?” Tanya Amanda.


“Dia biasanya nanti pulang sesudah selesai Sholat isya, atau sekitar jam delapan malam.” Jawab Jessy.


“Kalau di Bandung begitu juga ?”


“Belum sih, kadang-kadang saja,  kalau di Bandung, dia selalu membimbing kami untuk Sholat berjamaah, juga mengajari kami mengaji.” Jawab Sabrina.


“Betapa bahagianya kalian berdua.” Ucap Amanda yang secara tidak langsung memuji Nata dengan tulus.


“Syukurlah, Nata juga mempunyai pendamping yang sangat menyanyanginya. Kalian berdua begitu total sebagai mualaf, beda dengan aku yang dari dulu terlahir menjadi seorang muslimah.” Ucap Amanda kemudian.


“Jangan berkecil hati Amanda. Suatu saat juga nanti kamu akan menemukan orang yang mungkin lebih baik dari Nata.” Ucap Sabrina.


“Iya Amanda, kamu jangan sedih dong.” Ucap Jessy sambil memeluk Amanda.


“Terima kasih, kalian berdua ternyata telah semakin membuat hidupku menjadi sangat berarti.”


“Ehhh kok masih pada ngobrol ? Sudah selesai ngambil air wudhunya ?” Ucap Bi Eha yang baru selesai mengambil air wudhu.


“Sudah dong Bi, kami semua menunggu Bi Eha dan Bi Endah untuk Sholat Maghrib berjama’ah.”


“Ohh iya maaf, tadi Bibi ngecek dulu nasi yang sedang dimasak di dapur.” Jawab Bi Endah.


Kemudian mereka mulai Sholat Maghrib berjamaah di ruang tengah tersebut. Setelah selesai Sholat Mahgrib Bi Eha dan Bi Endah lalu permisi dari ruang tengah untuk menyiapkan makanan di dapur yang akan disantap pada malam itu.


“Pada saat Nata memberikan undangan resepsi pernikahan, aku pada awalnya tidak percaya lho kalau ternyata Nata menikahi kalian berdua.” Ucap Amanda mulai kembali curhat didepan Sabrina dan Jessy. Mereka bertiga masih mengenakan mukena, belum menanggalkan pakaian itu di ruang tengah dan mereka bertiga juga masih duduk lesehan diatas sajadah mereka.


“Hmmm lalu ?” pancing Sabrina lagi.


“Kalian jangan bilang-bilang sama Nata yaa. Awas lho hanya sama kalian berdua aku bicara nih.”


“Iya dong, percayalah dengan kami berdua.” Ucap Jessy kemudian berusaha untuk meyakinkan Amanda.


“Dulu semasa masih kuliah di USA, aku naksir banget lho sama Nata, tapi Nata sampai sekarang tetap saja menganggap aku hanya sebagai sahabat.”

__ADS_1


“Wah beneran tuh Amanda ?” Tanya Sabrina dengan sangat terkejut.


“Iya, Sungguh deh. Tapi aku ga mau bersumpah. Takut kualat, hehehe.”


“Lalu bagaimana selanjutnya ?”


“Beberapa kali aku sering memberikan signal kepada Nata, namun Nata semakin hari samakin tidak mengacuhkan aku, pada akhirnya aku menyerah, aku dan Nata lalu mulai bekerja di tempat yang berbeda, jaraknya sangat jauh, kesibukan kami berdua juga sangat menyita waktu. Sampailah pada akhirnya aku menerima undangan dari kalian itu. Pada awalnya aku akan berusaha menggagalkannya lho, tapi setelah aku pikir-pikir Nata begitu baik dengannku, dia bahkan sering membantu aku selama kami berdua masih berada di luar negeri, namun tetap saja dia tidak menyadari signal dariku. Akhirnya kini aku semakin menyadari, bahwa kalian berdualah yang berhasil melelehkan gunung es milik Nata, melelehkan hati dan dengan sangat tulus mencintai kalian berdua. Selamat yaa untuk kalian berdua.” Ucap Amanda mengakhiri curahan hatinya terhadap Sabrina dan Jessy dengan memeluk tubuh Sabrina dan Jessy sangat erat. Tetesan air matanya tidak dapat dibendung lagi oleh Amanda. Sabrina dan Jessy pun terdiam lalu balas memeluk Amanda tak kalah eratnya.


“Tolong jaga Nata yaa Sabrina dan Jessy.”


“Iya Amanda, bolehkah kami mulai menganggap kakak terhadapmu ?”


“Sungguh ?” Tanya Amanda mulai merenggangkan pelukannya kemudian menatap wajah Sabrina dan Jessy bergantian.


“Sungguh Sis Amanda.” Jawab Jessy.


“Aku dari dulu ingin punya adik, baru sekarang ternyata dikabulkan.”


“Jadi kamu mau dipanggil teteh atau sister ?” Tanya Sabrina.


“Hehehe sesuka kalian deh, manggil nama langsung juga tidak apa-apa buatku pribadi. Tapi tadi aku sangat tersentuh saat kalian memanggil istrinya Kang Andi dengan sebutan Teteh juga kepada istrinya Bang Arwan yang bernama Teh Maya itu. Tapi aku tidak mau dipanggil teteh, panggil kakak saja deh, hehehe.”


“Ok Kak Amanda sayang.” Jawab Sabrina lalu kembali memeluk Amanda. Jessy juga mendapat giliran dipeluk oleh Amanda.


Amanda bahkan mencium kening dari Jessy dan Sabrina bergantian. Mereka mulai melepaskan diri dari pelukannya saat Bi Eha dan Bi Endah kembali ke ruang tengah itu bersamaan dengan terdengarnya adzan Isya dari pengeras suara Masjid yang jaraknya sangat dekat dengan rumah tua itu. Bi Endah lalu kembali menjadi imam dari para akhwat yang berada didalam rumah tua itu. Setelah selesai Sholat Isya Bi Eha dan Bi Endah mengajak Sabrina, Jessy dan Amanda untuk menuju tempat makan berupa bale-bale saung yang berada persis diatas kolam ikan.


Gemericik air di kolam ikan dan udara sejuk di dekat pegunungan itu membuat suasana hati para wanita blasteran itu menjadi sangat betah berlama-lama berada disana. Ditambah lagi keramahan yang sangat tulus dari Bi Endah dan Bi Eha. Membuat Sabrina, Jessy dan Amanda tidak segan lagi membantu mereka dalam menyelesaikan masakan olahan dari Bi Endah itu. Suara langkah dari Nata, Mang Undang, Mang Dudung dan Mang Sobri, memaksa Sabrina, Jessy dan Amanda untuk menolehkan leher ke arah mereka yang baru saja datang dari masjid.


“Assalamualaikum, Lapar nih, sudah selesai masaknya ?” Ucap Nata yang matanya jelalatan memeriksa semua hidangan yang sudah dimasak oleh Bi Endah dengan dibantu oleh Bi Eha, Sabrina, Jessy dan Amanda itu.


“Waalaikumsalam, sudah den.”


“Ayo mang kita lanjutkan berjamaah makan malam disini.”Ajak Nata.


“Kalau saya boleh minta dibungkus saja den ?” tanya Mang Undang.


“Ga bisa mang, masa Mang Undang mau dibungkus dengan daun pisang, mau dipepes seperti ikan mas ?” Jawab Nata. Semua orang pun tertawa mendengarnya.


“Maksud Mamang, makanannya dibungkus saja, mau dibawa seperti biasa ke rumah. hehehe.” Ralat Mang Undang sambil terkekeh.


“Tenang mang sudah disiapkan kok untuk Mang Undang sekeluarga.” Jawab Jessy yang sudah mulai hapal dengan kebiasaan dari Mang Undang itu.


“Terima kasih Neng.” Jawab Mang Undang lalu mulai melangkah kembali menuju rumahnya.


“Nanti dulu, saya belum salam sama mang Undang.” Ucap Nata, lalu bergegas menuju ke dalam kamar setelah itu kembali menghampiri mang Sobri.


“Ini untuk anak-anak di rumah yaa, besok kami sebelum pulang ke Bandung akan mampir ke rumah mang Undang dulu deh.” Ucap Nata sambil menyelipkan amplop kepada telapak tangan Mang Undang.


“Iya Den, Terima kasih Den.” Ucap Mang Undang  sambil berjalan terbungkuk-bungkuk saat berpamitan kepada semua orang yang berada disana.


Makan malam pun segera dimulai, Nata seperti biasa memimpin do’a sebelum makan malam. Setelah itu mereka mulai makan dengan lahapnya. Pada saat makan malam, diam-diam Nata memperhatikan tiga wanita itu, kini diantara Sabrina dan Jessy nampak semakin akrab dengan Amanda. Apalagi saat dilihatnya diantara Amanda, Sabrina dan Jessy itu bahkan terlihat berbagi lauk-pauk yang dimakannya pada malam hari itu. Lalu Sabrina dan Jessy terdengar mulai memanggil kakak kepada Amanda.


‘Baguslah kalau mereka sudah semakin akrab.’ Guman Nata didalam hatinya.


Sesudah selesai makan malam dan selesai membereskan semua peralatan makan, semua orang mulai memasuki kamarnya masing-masing. Nata yang berada satu kamar bersama Sabrina dan Jessy mulai bertanya kepada kedua istrinya tersebut.


“Sabrina dan Jessy sayang, tadi saat aku sedang berada di Masjid bicara apa saja dengan Amanda ?”


“Ohhh kami bersepakat untuk saling mengangkat sebagai saudara kang, seperti aku dengan Jessy.”

__ADS_1


“Iya benar kang, ternyata Amanda sangat baik lho orangnya.”


“Ohhh aku kira kenapa.” Ucap Nata lalu mulai memejamkan matanya karena sudah mulai lelah dan mengantuk. Kedua tangannya seperti biasa memeluk Sabrina dan Jessy. Sabrina lalu mengedipkan matanya kepada Jessy dibalas dengan anggukan kepala Jessy. Sabrina dan Jessy juga akhirnya turut tidur didalam pelukan suaminya itu.


__ADS_2