
Di pagi hari itu beberapa orang pekerja datang ke Ruko itu mereka akan memasang atau menginstalasi lift sesuai pesanan desain dari Nata. Nata lalu mengarahkan para pekerja itu ke arah basement dari salah satu titik di basement itu lalu Nata memberikan petunjuk sesuai dengan gambar rencana yang sudah dia buat sebelumnya. Setelah semua pekerja tersebut mengerti, mereka lalu mulai menurunkan semua peralatan dan bahan konstruksi ke basement. Nata lalu meninggalkan Ruko bersama dengan Sabrina dan Jessy, sedangkan Erna diperintahkan oleh Nata untuk mengawasi pekerja dan memberikan konsumsi kepada para pekerja yang sedang memasang lift itu.
Kini Nata Sabrina dan Jessy sudah berada di gedung kantor bank yang nampak megah dan mentereng itu, Nata lalu memberikan instruksi dan mengarahkan Jessy serta Sabrina bahwa untuk pengadaan Main frame Komputer yang nanti akan ditempatkan di lantai satu, sedangkan customer service berada mengelilingi ruangan Main Frame tersebut total ada 20 bilik atau sekat Costumer service dan teller di lantai satu itu yang bersatu dengan lobby. Kemudian Nata dengan diiringi oleh Jessy dan Sabrina menunjukkan ruangan brankas besar serta yang terletak disebelah ruang meeting, berada di lantai dua. Kemudian naik lagi ke lantai tiga dan empat, tempat para staf dan direksi bekerja di kantor pusat itu. Terakhir mereka meninjau Masjid yang terletak di lantai lima, atau lantai paling atas di Gedung tersebut, Jessy dan Sabrina lalu mencatat semua arahan dari Nata.
“Aku harapkan nanti minggu depan semua peralatan perbankan sudah diinstall di gedung ini, sehingga bulan depan bank kita bisa langsung beroperasional, mengendalikan seluruh kantor cabang yang berada di seluruh kota besar di Indonesia ini.”
“Siap kang boss, jelas.” Jawab Sabrina dan Jessy dengan serius.
“Nah berhubung minggu depan semua peralatan kantor sudah siap, Tugas kamu Sabrina menghubungi kesiapan WO atau EO kita itu.”
“Iya kang, mereka sudah siap untuk merapat kemari, nanti sore kita adakan meeting di ruang meeting Kantor pusat ini. Beberapa pejabat lama dari kantor bank ini juga sudah saya hubungi kang.”
“Untuk urusan itu nanti kamu minta bantuan dari Charlie, kemarin juga Charlie sudah memberikan laporan kepadaku tentang kesiapannya. Bikin saja WA Grup dan Telegram Grup khusus agar mudah untuk berkoordinasi dan berkomunikasi.”
“Charlie sudah ada disini katanya kang, barusan dia chat ke WA ku.” ucap Jessy.
“OK suruh dia bergabung disini, sambil menunggu waktu Sholat Dzuhur, Oh iya Jess selain Genset yang sudah ada di basement tadi, nanti di top roof pasang solar cell untuk dijadikan cadangan listrik alternatif selain dari mesin diesel, atur semua pengadaannya olehmu.” Jawab Nata.
“Siap Kang Boss, itu memang bagian dari tugas ku selaku Koordinator Direktur Logistik.”
Kemudian datanglah Charlie dengan membawa kantong plastik.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab Nata, Jessy dan Sabrina serempak.
“Wah penampilan baru nih dari Jessy dan Sabrina, sangat cantik sekali kalian berdua.” Puji Charlie terhadap Jessy dan Sabrina.
“Hehehe, bisa aja nih Charlie bawa apa tuh ?”
“Ini bawa Mukena dan Kain sarung, karena sesudah dua hari kemari, aku lihat belum ada perlengkapan Sholat di Masjid ini.”
“Waduh terima kasih Charlie, nanti bawa lagi yang banyak yaa, minta saja uangnya ke Jessy untuk membelinya.”
“Hehehe, kalau yang ini tidak perlu dibayar kang, ini sebagai ucapan atau hadiah dari saya pribadi, karena Kang Nata sudah menerima aku sebagai pegawai baru di Bank ini, kebetulan usaha sampingan istri saya di rumah berjualan secara online pakaian muslim.”
“Nah sekalian kalau begitu pesan dari istrimu saja.” Tambah Sabrina
“Iya pesan seratus pcs sekalian, Sarung seratus pcs, mukena seratus pcs. Kalau untuk tambahan karpet nanti dari dana khusus, aku mau cari desain karpet yang cocok dulu untuk dipasang di lantai masjid ini, catat lagi yaa Jess.”
“Siap Kang Boss.” Jawab Jessy.
Pada saat waktu Dzuhur tiba, Charlie lalu mengumandangkan Adzan. Kemudian mereka berempat Sholat Dzuhur berjamaah di masjid yang berada di lantai paling atas Kantor Pusat Bank yang mereka miliki itu. Setelah selesai Sholat Dzuhur berjamaah, sekonyong konyong Nata bertanya kepada Jessy dan Sabrina. Sedangkan Charlie saat itu menuju ke ruang Main Frame yang terletak di lantai satu gedung itu.
“Jessy, Sabrina, Pasport kalian masih aktif ?”
“Masih, terakhir kami pakai sewaktu mengatar Jessy untuk berbelanja ke Singapura, memangnya kenapa kang ?” Jawab Sabrina balik bertanya kepada Nata.
“Enggak aku hanya bertanya saja, besok kalian berdua ikut aku ke Bandara.”
“Wah ada apa lagi nih akang kita selalu tiba-tiba saja secara spontanitas.” Ucap Jessy.
“Iya bikin terkejut terkaget-kaget.” Sambung Sabrina juga
“Begini sayang, sini duduk mendekat.” Ajak Nata. Lalu Sabrina dan Jessy duduk untuk lebih mendekati Nata lagi.
__ADS_1
“Barusan setelah aku selesai sholat bersama kalian, aku berpikir bagaimana jika niat baik kita ini disegerakan saja.”
“Maksudnya ?” Tanya Jessy dan Sabrina bersamaan.
“Aku ingin segera menikah dengan kalian, di tanah suci.”
“Akang jangan bercanda dong.” Ucap Sabrina.
“Iya kang, jangan bikin kami shock.” Tambah Jessy.
“Aku bersungguh sungguh kok, tidak bercanda dan tidak ingin membuat kalian shock juga, Jess cari penerbangan private untuk besok, berapapun biayanya untukku tidak masalah, kemudian siapkan pasport kalian berdua.”
Jessy dan Sabrina sejenak terdiam, mereka berdua nampak kebingungan mendengar ide sableng dari Nata itu. Namun segera Jessy mengeluarkan Ponselnya, kemudian dengan bantuan Sabrina mencari informasi tentang Pesawat Pribadi yang bisa terbang langsung membawa mereka ke tanah suci pulang pergi.
“Ini kang sudah kami cari, biayanya sesuai dengan yang tertera di layar ponsel ini.” Ucap Jessy dengan suara gemetar.
“OK no problem, i will pay thats.” Jawab Nata yang juga mengeluarkan Ponselnya, kemudian mengirimkan biaya tersebut kepada rekening Jessy.
“Kang kami belum siap, please.” Rengek Sabrina.
“Dengar yaa Sabrina dan Jessy yang sangat aku sayangi, siap atau tidaknya kalian nanti akan kita bicarakan disana, di tanah suci.”
“Akang membuat kami berdua jantungnya menjadi berdebar keras nih.” Ucap Jessy.
“OK itu berarti tandanya kalian berdua setuju dengan rencanaku ini. Bayar sekarang Jess Private Jet nya. Sekarang kita pulang untuk bersiap-siap.”
“Tapi kang....” Ucap Sabrina dan Jessy, namun suara mereka berduan dipotong oleh Nata.
“Tidak ada tapi, aku tidak mau kita menunggu terlalu lama dan terus berbuat dosa sayang. Ayo kalian bangun, kita bersiap-siap.” Ajak Nata lalu menarik kedua tangan Jessy dan Sabrina.
“Iya akang, sabar sedikit kenapa sih ?” Jessy mulai kesal, namun mengikuti langkah Nata menuju ke lift. Kemudian mereka sampai di basement dan langsung menaiki mobil Rubicon-nya Nata untuk menuju ke Ruko mereka. Kini didalam mobil tersebut sangat hening, hanya terdengar suara kendaraan lain di luar sana. Jessy dan Sabrina terdiam membisu. Mereka juga lupa berpamitan kepada Charlie, yang masih berada di Gedung Kantor Pusat Bank mereka itu. Mobil tidak dimasukkan ke dalam basement Ruko tersebut oleh Nata, karena khawatir mengganggu mereka yang sedang memasang lift di Ruko tersebut. Sesampai di dalam Ruko, Erna menyambut Nata yang datang bersama Jessy dan Sabrina yang terlihat kebingungan.
“Erna, besok pagi kamu tolong jaga Ruko ini, karena kami bertiga akan keluar negeri, ada urusan mendadak.”
“Hah, baik Pak Boss.” Jawab Erna tanpa banyak bertanya lagi.
Nata dengan diikuti oleh Sabrina dan Jessy lalu naik ke lantai tiga, menuju ke kamar tidur mereka. Kemudian Nata menggiring kedua calon istrinya itu untuk memasuki kamarnya Nata, lalu menguncinya dari dalam.
”Mengapa kalian berdua hanya berdiam diri dari tadi ?”
“Kami masih terkejut kang, karena keinginan akang yang tiba-tiba ini.”
“Iya kang benar kata Sabrina, kami sangat terkejut, tolong beri kami waktu sebentar untuk menenangkan diri.”
“Baiklah sini aku peluk kalian berdua, agar kalian berdua tenang.” Jawab Nata, lalu dipeluklah Jessy dan Sabrina didalam dadanya. Jessy dan Sabrina kini berdua malah menangis, walau balas memeluk suara tangisnya Jessy dan Sabrina malah makin menjadi saat Nata membelai dengan penuh kasih sayang kedua calon istrinya tersebut.
“Kang Akang itu manusia langka, yang mampu membuat kami berdua jatuh hati kepada akang, sekaligus membuat kami semakin sayang kepada akang, hanya akang seorang yang berhasil menyentuh hati kami yang ternyata sangat lemah dihadapan akang.” Ucap Sabrina sambil masih terisak-isak menangis.
“Kami rela melakukan apapun untuk akang, karena bagiku pribadi akang adalah pilihanku yang terakhir.” Tambah Jessy yang juga terisak-isak saat mengatakan hal itu.
“Inilah sifat kami sesungguhnya kang, walaupun terlihat tegar, ternyata akang mampu meluluhkan hati kami, menjadikan kami melow, Kami cengeng yaa kang ?” ucap Sabrina lagi.
“Cium aku kang, agar kami bisa merasakan ini semua bukan mimpi, aku sangat bahagia bersama akang.” Ucap Jessy, sambil mendekatkan bibirnya kepada Nata. Nata lalu memberikan sebuah ciuman hangat kepada Jessy. Lalu berganti mencium Sabrina sehangat ciumannya kepada Jessy. Setelah itu Jessy dan Sabrina mengusap air mata mereka dari pipinya.
“Ini semua aku lakukan karena aku sangat cinta dan sayang sekali kepada kalian berdua, semoga kalian berdua mengerti. Sayang.”
__ADS_1
“Iya kang kami mengerti bahkan dapat merasakan kasih sayang akang terhadap kami.” Ucap Sabrina.
“Jangan tinggalkan kami kang.” Ucap Jessy dan Sabrina bersamaan, lalu memeluk lebih erat tubuh Nata.
“Aku tidak akang meninggalkan kalian berdua, Aku Jan....MMmmhhh.” Nata tidak bisa melanjutkan bicaranya karena bibirnya Sabrina kini berhasil membekap mulutnya Nata.
“Ambil semuanya kang, untuk akang.” Ucap Sabrina kemudian dengan suara mendesah dan kerlingan mata birunya yang nakal.
“Iya sayang, aku ingin segera, tapi kita harus halal dulu, karena ji...Mhhhppp.” Kini Gantian bibir Jessy yang membekap bibirnya Nata sehingga dia tidak bisa melanjutkan bicaranya.
“Baiklah kang, aku akan segera mencharter pesawat itu sekarang.” Ucap Jessy kemudian, lalu tersenyum dengan penuh rasa bahagia. Demikian juga dengan Sabrina.
“Kita tidak perlu bawa banyak pakaian, kita hanya dua hari saja disana.” Nata mengingatkan.
“Baiklah
kang, kita hanya bawa satu koper/ traverler bag saja kalau begitu, kami akan bebenah dulu sambil mencari pasport kami, semoga saja tidak ketinggalan di apartemen ku. Hehehe.”
“Iya beli baju disana saja kalau perlu. Tugas kamu juga Sabrina, meminta ijin selama dua hari kepada rekan rekan kita.”
“Iya akang sayang.” Jawab Sabrina.
“Tuh kang, pesawatnya sudah aku charter.” Ucap Jessy sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Nata.
“Besok Jam delapan pagi ?”
“Iya kang take of dan landing nanti dari Bandara Husein Sastranegara, di charter selama dua hari. Pulang Pergi Bandung- Jeddah- Bandung.”
“OK sip. Terima kasih yaa Jessy dan Sabrina. You are both the best wife in my lived.”
“Haha bisa aja akang mah.” Jawab Sabrina dan Jessy.
Nata lalu turun ke lantai satu untuk menemui Erna, dia lalu memberikan semua akses untuk Erna agar besok sampai lusa bisa mengawasi dan menunggui Ruko tersebut.
Pukul lima sore para pekerja yang sedang melaksanakan pemasangan lift lalu berpamitan kepada Nata, lalu mereka berkata besok akan kembali meneruskan pekerjaan pemasangan lift itu lagi di ruko tersebut, yang progressnya baru mencapai 30% pada hari pertama mereka bekerja. Erna pun lalu berpamitan juga kepada Nata, dia tidak menginap di ruko itu malam ini. Nata lalu menghubungi Charlie dengan Ponselnya, dia meminta agar besok Charlie mengantarkan mereka ke Bandara. Nata tidak mengungkapkan dengan sesunguhnya bahwa keberangkatan besok pagi itu akan ke Jeddah, dia hanya mengatakan bahwa dia, Jessy dan Sabrina ada keperluan penting ke luar negeri kepada Charlie.
Malam itu mereka nyaris tidak bisa tidur, Jessy dan Sabrima kini memaksa Nata untuk dibolehkah tidur di kamarnya Nata. Mereka ngobrol semalaman sampai seolah-olah bibir mereka berbusa karena keracunan ngobrol semalaman. Kini justru Jessy dan Sabrina nampak sangat bersemangat tentang rencana kepergian mereka untuk menikah di tanah Suci itu.
“Kang nanti kalau Teh Putri menanyakan tentang akad nikah bagaimana ?”
“Tetap saja dilaksanakan sesuai dengan prosedur KUA disini. Yang penting nanti sekembalinya dari tanah suci kalian berdua sudah sah secara Agama menjadi istriku.”
“Ohhh begitu.” Ucap Sabrina
“Kita dapat surat nikah juga dari sana ga ?” tanya Jessy.
“Tentu tidak dong Jess, kita nanti hanya mendapatkan surat keterangan menikah dari imam masjid disana, tidak ada kaitan yuridis dengan KUA di negara kita, namun nanti sewaktu ijab kabul dengan petugas dari KUA kita nanti menunjukkan surat tersebut yang menerangkan bahwa kita sudah pernah melaksanakan nikah di tanah suci.”
“Hmm lalu nanti kita akan melakukan bulan madu ga kang ?” tanya Sabrina.
“Kalian tinggal bilang saja, nanti mau bulan madu dimana, aku tinggal menyetujui semua niat kalian berdua saja.”
“Ihhh baik banget calon suami kita yaa Jess.”
“Iya dong, Selain itu akang kita juga Genius, Pintar, Sholeh dan Berwawasan Luas.” Puji Sabrina.
__ADS_1