
Suasana makan siang pada acara transaksi serah terima jual beli aset bank beserta seluruh karyawan bank itu pun berjalan dengan lancar. Satu jam kemudian setelah mereka selesai makan utusan dari akuntan publik yang ditunjuk oleh Pihak Notaris dan disetujui oleh Nata selaku pihak pembeli dan Pak Rahmat selaku pihak penjual juga sangat bersemangat untuk membantu. Meskipun sebelumnya sudah di audit oleh Pak Rahmat secara prosedur tetap saja harus ada persetujuan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, yang disaksikan langsung oleh Notaris. Pak H. Mumuh yang menjadi ketua team dari beberapa Notaris dan kantor Akuntan Publik itu terasa sangat membantu kelancaran transaksi.
Kemudian Nata sesuai saran dari Pak H. Mumuh memberikan surat kuasa kepada Pak H. Mumuh untuk menyelesaikan seluruh prosedur sampai ke tingkat Bank Indonesia. Rapat atau meeting transaksi yang dilaksanakan secara marathon itu ternyata tidak cukup hanya sehari, karena dibutuhkan waktu untuk mencocokkan semua audit internal dari Bank milik Pak Rahmat dengan perhitungan finansial hasil audit. Berkas audit yang sangat tebal itu satu persatu diperiksa dan di paraf oleh kedua belah pihak dari penjual maupun dari pihak pembeli. Tidak ada lagi suara bercanda dan pecicilan di ruang meeting itu, semua orang nampak sangat serius dan fokus terhadap bahan atau topik pembahasan finansial itu.
“Pak Nata, berhubung hari sudah mulai gelap dan pasti semua sudah sangat lelah, bagaimana jika meeting ini kita lanjutkan besok.” Saran Pak H. Mumuh.
“Baiklah pak Pak, tinggal berita acara audit yang belum selesai yaa.”
“Iya benar, nanti kami bantu memeriksanya kembali, Pak Nata dan Pak Rahmat tinggal membubuhkan paraf dan tanda tangan di halaman terakhir. Menurut pendapat saya tidak ada kejanggalan dalam laporan neraca terakhir dari Bank milik Pak Rahmat ini, semuanya wajar, bahkan semua pajak lancar terbayarkan setiap bulannya demikian juga dengan laporan SPT tahunannya.”
“Baiklah Pak Haji, kami ucapkan terima kasih atas semua bantuannya. Kalau untuk nama bank yang baru tidak ada masalah yaa pak.”
“Tidak ada, karena sudah saya cek ternyata tidak ada yang sama dengan nama perusahaan perbankan lainnya.”
“Alhamdulillah. Besok santai saja, pak tidak perlu terlalu pagi datang kemari lagi.”
“Iya betul, tinggal sedikit lagi kok yang akan kami periksanya.” Jawab Pak H. Mumuh.
“Saya juga mohon pamit kalau bergitu, besok sekitar jam sebelas siang kami akan kembali lagi kemari.” Ucap Pak Rahmat. Lalu Pak H. Mumuh beserta Pak Rahmat dan semua team audit dari kantor akuntan publik itupun meninggalkan ruko itu, dengan diantar oleh Nata, Sabrina dan Jessy. Nampak senyum penuh rasa puas dan bahagia dari raut wajah Nata, Sabrina maupun Jessy.
Beberapa saat kemudian petugas katering kembali ke Ruko itu untuk membereskan semua peralatan makan. Nata, Sabrina dan Jessy pun berpesan kepada seorang petugas katering itu agar besok mereka kembali lagi dengan menu yang berbeda. Lalu Jessy membereskan pembayaran dengan pihak katering, kemudian dia menelepon pemilik katering yang sudah dikenalnya itu agar besok menyediakan kembali makanan ke Ruko untuk makan siang dengan jumlah porsi yang lebih banyak karena jumlah personel ditambah dengan pihak dari akuntan publik dan team tambahan dari kantor notaris. Nata, Sabrina dan Jessy lalu beristirahat sejenak di ruang tamu, hanya badan mereka yang terlihat lelah saat itu, namun semangat mereka sangat tinggi.
“Jessy dan Sabrina, sambil menunggu proses selesai, kita siapkan juga untuk acara pernikahan kita nanti, katanya kalian sudah punya WO untuk mengurus itu semua ?” Tanya Nata.
“Serius kang ?.” Jessy dan Sabrina malah balik bertanya.
“Serius dong, sekalian nanti waktu lounching perusahaan kita dan Bank yang sudah selesai pindah tangan, bersamaan juga dengan resepsi pernikahan kita. Kalian Setuju ?”
__ADS_1
“Setuju kang. kalau begitu aku telpon Teh Putri yang punya WO tersebut.”
“Iya Sab, sampaikan saja kondisi kita saat ini dan riwayat hidup kita berdua, agar mereka mengerti.” Tambah Jessy.
“Iya benar, kalian harus punya wali hakim, sebagai pengganti ayah kalian. Kalau aku sebagai lelaki tidak perlu seperti itu. hmmmm, saranku bagaimana jika Pak H. Mumuh mau menjadi wali hakim kalian berdua, semoga dia berkenan.”
“Wah ide yang bagus sekali kang, aku sih setuju banget, kalau kamu bagaimana Jess ?”
“Aku juga sangat setuju Sab. Semoga saja Pak H. Mumuh berkenan.” Jawab Jessy.
“OK kalau begitu kalian urus, untuk acara Lounching Plus acara Syukuran pernikahan
kita. Aku transfer semua biayanya ke rekening kalian.”
“Nanti dulu kang, belum kami hitung anggarannya.”
“Koordinasi saja dengan pihak WO, agar kalian tidak begitu pusing menghitungnya, sekalian dengan acara Launching Bank dan perusahaan kita nanti.”
“Aku catat dulu konsepnya, supaya besok lusa tinggal menemui pihak WO tersebut. Nanti kita bahas sebelum kita pergi tidur yaa kang.” Sabrina pun mencatat secara garis besar konsep acara besar itu.
“Iya sekarang aku mau mandi dulu, nanti pesan makanan saja secara online, kita ga perlu keluar rumah.”
“Silahkan kang, nanti kami menyusul, mau melengkapi catatan untuk konsep acara nanti.” Jawab Sabrina.
Nata lalu bangkit dari Sofa itu, meninggalkan Jessy dan Sabrina yang melanjutkan diskusi untuk acara Launching sekaligus syukuran pernikanan mereka. Nata lalu berendam didalam bath tub, untuk menghilangkan rasa penat sambil berpikir lagi, apa saja yang sekiranya nanti perlu ditanganinya. Nata sangat bersyukur mempunyai calon istri yang penuh dengan pengertian, cerdas, sholehah dan cekatan itu. Dia lalu mulai membayangkan, jika sudah menikah nanti tidak akan lagi dikejar-kejar oleh pihak pengacara sekaligus wakil dari keluarganya, yang merencanakan menjodohkan dia dengan seseorang yang tidak dikenalnya.
Tinggal satu langkah lagi, beberapa hal yang sangat mengganjal di pikirannya itu akan segera tuntas dan berakhir. Sebelum dia berangkat ke Kota Bandung dengan diam-diam. Nata juga sudah menyelidiki calon istri yang disodorkan oleh pengacara yang menjadi wakil dari keluarganya itu. Ternyata calon istrinya mempunyai keterkaitan secara keluarga dengan pengacara itu, hal itulah yang memuat Nata curiga. Pasti ada hal lain dari maksud baik atau pura-pura baik dari pengacara yang ditunjuk sebelum kedua orang tuanya meninggal itu. Warisan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang meninggal itu memang cukup besar. Namun hasil usaha Nata saat berada di Luar Negeri lebih besar lagi puluhan kali lipat. Maka dengan alasan bahwa dia sudah menikah dengan Sabrina dan Jessy yang kebetulan Warga Negara keturunan Asing itu, bisam membuat Nata kedepan lebih dapat berdiri di atas kaki sendiri tanpa disetir oleh sang Pengacara yang menurutnya mencurigakan itu.
__ADS_1
Nata lalu tersadar dari lamunannya, saat terdengar suara Adzan Maghrib. Dia lalu bangkit dari bath tubnya, segera membilas badannya dengan air shower dan mengambil air wudhu, setelah berpakaian dan mengenakan kain sarung, kemudian Nata bergabung di ruang Mushola dengan Jessy dan Sabrina yang ternyata juga sudah selesai mandi. Mereka sudah siap untuk menjadi makmum saat Shalat Maghrib itu. Baik Sabrina maupun Jessy sudah mengenakan mukena mereka. Nata lalu tersenyum kepada Jessy dan Sabrina kemudian langsung memimpin Sholat Maghrib. Setelah selesai Sholat merekapun lalu makan malam barsama di lantai satu.
“Kang ini konsepnya acara lounching perusahaan dan syukuran pernikahan kita, ada yang out door ada yang indoor juga, baru estimasi secara garis besar.” Ucap Sabrina sambil menyodorkan konsep acara tersebut setelah mereka selesai makan malam.
“Ambil yang indoor saja sayang, di hotel yang berbintang lebih bagus dan lebih mumpuni, untuk berjaga jika ada tamu undangan dari luar kota juga, sekaligus kita sewa kamar honeymoon atau president suite untuk tiga hari. Aku transfer sekarang semua dananya dua kali lipat dari yang kalian ajukan, untuk berjaga-jaga.”
“Mmhhh kang, emmhh.” Ucap Jessy yang nampak ragu-ragu.
“Apa lagi ? ada yang kurang ?”
‘Bukan begitu, apakah akang sudah yakin memilih kami sebagai istri ?”
“Seratus persen yakin, karena aku sudah mengenal watak dan karakter kalian berdua, kalian sungguh sangat unik dan istimewa bagiku. Mengapa masih menanyakan hal itu lagi ? Kalian belum yakin dengan semua keputusanku ?”
“Secepat itu ?” tanya Jessy dan Sabrina bersamaan.
“Tidak juga, aku ceritakan secara singkat yaa, begini..... sebelum aku berangkat ke kota Bandung, sebelumnya aku sudah meminta kepada Sang Maha Pencipta, Sholat istikharah untuk memohon petunjuk. Pada malam harinya aku bermimpi dan mendapat petunjuk bahwa aku harus pergi ke Kota Bandung. Dalam mimpiku ini aku bertemu dengan sosok kalian berdua, pada awalnya aku tidak begitu yakin sih. Aku yang sudah lama tinggal di luar negeri dan bertemu dengan gadis seperti kalian tentu susah biasa melihatnya disana, namun mengapa menurut petunjuk dalam mimpiku itu aku harus ke kota Bandung ?” Nata lalu menarik napas kemudian melanjutkan lagi penuturannya.
“Nah saat pertama menyewa apartemen milikmu, aku lalu menjadi percaya, semakin percaya lagi saat bertemu kamu Jess waktu membeli laptop. Aku rasa ini bukan sebuah kebetulan semata, namun benar-benar sebuah petunjuk dari Allah. Jadi kalian jangan pernah meragukan lagi atas keputusanku ini.”
“Ohhhh akang ternyata pernah Sholat Istikharah, bagaimana caranya ?” tanya Sabrina.
“Nanti aku ajarkan kepada kalian bagaimana caranya, yang jelas mirip dengan sholat sunnah lainnya, hanya niat saja yang membedakannya.”
“Ohhhh begitu. Kita coba malam ini yuk Jess, sebelum kita tidur, siapa tahu mimpinya sama dengan akang kita. Hehehe.”
“Hahaha, belum tentu juga petunjuknya melalui mimpi, bisa juga nanti sikap kita akan semakin tenang dan lain-lain setiap orang belum tentu sama petunjuknya.”
__ADS_1
Jessy yang dari tadi hanya menyimak lalu mengangguk dengan penuh percaya diri dan dengan senyuman penuh rasa optimis.
“Ayo Sab. boleh juga kita coba.”