
Setelah selesai berenang di malam hari itu, Nata, Sabrina dan Jessy mulai membasuh tubuh mereka dengan air hangat didalam kamar mandi yang terletak didalam kamar tidur mereka. Setelah mereka mengeringkan tubuh dengan handuk, mereka lalu berbaring di atas kasur empuk, Sabrina dan Jessy masih mengenakan bath rope. Kemudian mereka tertidur dengan lelapnya di rumah baru mereka pada malam hari itu.
Keesokan pagi mereka terbangun seperti biasa pada pukul empat, sebelum waktunya Adzan Subuh. Mereka merasakan tubuhnya kembali segar setelah mengambil air wudhu. Setelah selesai Sholat Subuh Nata lalu berbicara kepada kedua istri tercintanya itu.
“I’m going too cooking for you both. Please stay waiting here and relax.”
“OK, Kang.” Jawab Sabrina dan Jessy bersamaan.
Nata lalu meloloskan baju Koko dan kain sarungnya. Kemudian menyerahkan kepada kedua istrinya. Dengan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek Nata mulai menyiapkan makanan yang akan disantap untuk sarapan pagi. Nata menanak nasi terlebih dahulu, dilanjutkan dengan memasak olahan makanan yang tersimpan di dalam lemari es. Dapur itu itu seketika mengeluarkan uap panas dan wangi harum masakan pada saat Nata sudah mengolah makanan dari dalam lemari es ke atas wajan panas. Nata juga tidak lupa memasukkan semua alat makan yang semalam sudah dipakai kedalam mesin pencuci perabotan makan. Piring, gelas, garpu dan sendok seketika menjadi bersih saat mesin tersebut selesai beroperasi. Tiga puluh menit kemudian Nata sudah mulai menghidangkan semua masakan diatas meja makan, semua makanan nampak masih mengepul diatas meja makan yang sudah diolah Nata di dapur.
Nata lalu memanggil Sabrina dan Jessy yang baru saja selesai merapikan kembali kamar tidur mereka.
“Yuk kita sarapan bareng.” Ucap Nata saat melongokkan kepala kedalam kamar dari depan pintu kamar tidur mereka.
“Akang masak apa ?” Tanya Sabrina dan Jessy.
“Macaroni Schootel mozarella, rempeyek udang dan spicy fegetable salad alias lotek, hehehe.”
“Hahaha. Lucu akang mah.” Sabrina dan Jessy pun terbahak-bahak mendengarnya.
“Nampaknya menggoda selera tuh dari tampilannya.” Ucap Sabrina.
“Iya bestie, walaupun masih jam enam pagi, tapi perut menjadi lapar saat melihat penampakan dari hasil masakan akang kita.”
“Iya ini kan perpaduan dari masakan olahan timur dan barat.” Jawab Nata. Kemudian mereka sarapan makan bersama, Sabrina dan Jessy nampak sangat menikmati masakan yang diolah suami tercintanya itu.
“Kapan toko komputer mu pindah ke ruko ?” Tanya Nata kepada Jessy saat mereka sudah selesai sarapan.
“Tanggung kang, tiga bulan lagi masa sewanya, aku berencana untuk membuat dulu spanduk dan famplet untuk mengabarkan berita kepindahan toko kami.”
“Ohh iya Jess, sekalian saja nanti kamu membuat lowongan pekerjaan untuk operator printing Spanduk/ banner, manfaatkan dua mesin printing banner yang berada di basement tersebut secara maksimal.”
“Iya kang, nanti akan aku tanyakan kepada Erna, barangkali ada teman-temannya yang sesama lulusan SMK mau bekerja di ruko kita.”
__ADS_1
“Baguslah, Setiap bulan pasti ada order dari Bank milik kita untuk pembuatan spanduk, banner dan umbul-umbul.” Ucap Sabrina,
“Kang aku hanya mengingatkan bahwa kita harus lapor kepada RT RW saat sudah mulai menempati rumah ini, apakah perlu memakai surat pindah domisili juga ?” Tanya Jessy.
“Untuk Kartu Keluarga dan KTP tetap kita menggunakan alamat ruko kita, sekarang kita hanya lapor saja disini kepada RT/RW sebagai tempat tinggal. Kalau kita merubah alamat domilsili, akan banyak dokumen yang harus kira perbaharui perubahannya.” Jawab Nata.
“Kapan kita akan menghadap RT / RW disini Kang ?” Tanya Sabrina.
“Nanti sepulang dari kantor deh, hari ini juga. Aku dengan Yadi dan Erna masih membahas pekerjaan tentang pembangunan resort dan tempat wisata yang berkaitan dengan pembangunan Kampus, kemarin siang juga kami bertiga meninjau lokasi pembangunan Kampusnya.”
“Surat-surat dan dokumen penting masih tersimpan di Ruko, kita persiapkan saja untuk dibawa kemari Sab.”
“Iya bestie, semua dokumen penting aku amankan di dalam brankas ruang kerjaku.”
“Kenapa tidak di titipkan di Kantor Pusat Bank kita saja Sab.? Kita kan memiliki ruang penyimpanan dokumen yang sangat aman disana.”
“Benar juga kang, OK deh nanti aku akan minta deposit box nya kepada petugas di Kantor Pusat.” Jawab Sabrina.
“Jadi hari ini kalian akan mulai ngantor lagi dong ?”
“Tapi ingat, jaga kondisi tubuh juga kandungan kalian, jangan sampai terlalu lelah.”
“Siap Kang Boss, jangan khawatir.” Jawab Sabrina.
“Kami akan menyimpan Ferrari di rumah ini, kemudian ikut sama akang ke kantor.” Ucap Jessy.
“OK, nanti hari senin depan aku dan Yadi berencana untuk menyampaikan audensi kepada Bupat Tasikmalaya, untuk memaparkan proposal, sekalian untuk membuat perijinan atas semua rencana pembangunan resort dan tempat wisata tersebut. Kemungkinan nanti dari pihak Kontraktor dan Konsultan juga akan datang menghadiri acara Audendi tersebut, aku sudah membicarakan tentang hal itu kepada Bang Arwan. Lalu nanti hari Sabtu aku akan menemui Kang Andi.”
“Kalau untuk ikut pergi ke Tasikmalaya, sepertinya belum memungkinkan, tapi kalau untuk menemui Kang Andi, kami boleh ikut dong Kang ?” Tanya Sabrina.
“Boleh dong, tapi buat dulu janji dengan mereka, jangan sampai mengganggu jadwal keluarga mereka.”
“Iya deh kami akan berkoordinasi dulu, sama Teh Mira atau Teh Putri yang sedang berada di Bandung, setiap hari juga kami selalu berkoordinasi untuk mendistribusikan program berbagi berkah nasi bungkusnya, iya kan Sab ?” Ucap Jessy sambil melirik ke arah Sabrina.
__ADS_1
“Iya benar bestie.” Jawab Sabrina dengan senyum manisnya.
“Pekerjaan kita nanti kedepan akan semakin banyak, kita juga harus lebih pandai dalam menunjuk seseorang untuk membantu dan meringankan tugas kita.”
“Setuju Kang, ketika Akang pertama memilih Charlie dan menempatkan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh Charlie, kini Charlie sudah bisa dilepas sebagai Kepala Cabang Utama di Jakarta hasilnya pun sangat memuaskan. Kedua saat akang memilih Yadi dan Erna untuk membantu mempersiapkan proyek Kampus di KBB maupun di Tasikmalaya hasilnya juga sangat bagus, aku dan Jessy selalu memantau setiap personel yang akang pilih, semoga saja nanti kita juga mendapatkan orang-orang yang terampil dan handal sesuai dengan bidangnya.” Ucap Sabrina.
“Aku juga tidak salah pilih dong memiliki istri yang cantik, pintar dan sholehah seperti kalian berdua, terbukti bisa mendukung dan membantu pekerjaan suaminya. Hehehe.” Ucap Nata yang secara tidak langsung memuji kedua orang istrinya itu.
“Kalau nanti kampus sudah beroperasi, kita bisa lebih mudah untuk memantau para calon sarjana tersebut, bisa melihat dan mengamati kepribadian dari para Dosen yang mengajar mereka.” Ucap Jessy.
“Benar Jess. Aku juga sudah tidak sabar untuk segera dapat melihat para calon mahasiswa kita nanti, aku juga akan mengajar deh, tapi kita harus melanjutkan sekolah lagi kalau ingin jadi Dosen.” Ucap Sabrina.
“Iya minimal harus S2, ehhh akang malah sudah S3 bisa langsung ngajar mereka juga dong ?” Tanya Jessy.
“Bisa namun lebih baik mempunyai sertifikasi sebagai pengajar, nanti aku sesekali akan menjadi tampil sebagai dosen tamu pada kuliah umum saja, untuk memberikan motifasi kepada para mahasiswa di sebuah Aula besar, tugas kalian berdua nanti yang meneruskan untuk memantau satu persatu calon penerus bangsa kita itu.” Jawab Nata.
“Iya juga, karena akang pasti sangat disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan.” Ucap Sabrina. Dahinya berkerut seolah sedang memikirkan hal itu.
“Ahh tidak begitu juga, yang sibuk kan para bawahan kita, kita hanya memantau kinerja dari semua bawahan kita saja. hehe.”
“Kita bersiap pergi ke kantor yuk, sudah jam tujuh pagi nih.” Ucap Jessy mengingatkan Nata dan Sabrina.
Mereka pun segera memasuki kamar mandi yang berada didalam kamar tidur mereka. Setelah selesai mandi, berpakaian serta berdandan, mereka lalu masuk ke dalam basement. Mulai naik ke dalam mobil Rubicon Double Cabin Hitam, kemudian dengan perlahan keluar dari rumah baru itu menuju ke kantor. Sebelum waktu menunjukkan tepat pukul delapan Nata yang didampingi oleh Sabrina dan Jessy sudah berada di dalam lobby Kantor Pusat Bank NSP. Semua karyawan dan karyawati menyambut kedatangan tiga serangkai dari Owner Bank tersebut saat berpapasan dengan mereka. Senyuman dan anggukan dari Nata, Sabrina dan Jessy membalas semua penyambutan dari para karyawan dan karyawati.
“Pak tadi ada tamu yang sejak pagi menunggu kedatangan Bapak.” Ucap seorang Karyawati berparas cantik yang bertugas sebagai seorang front office di Bank tersebut.
“Sekarang ada dimana ? Namanya siapa ?” Tanya Nata.
“Kami memohon agar Ibu Amanda menunggu di ruang tunggu ruang kerja Bapak di lantai empat.”
“Ohhh begitu, baik terima kasih yaa de.” Nata lalu melanjutkan langkahnya menuju ke lift bersama Sabrina dan Jessy.
“Amanda yang teman kuliah akang di Amerika itu ?” Tanya Jessy.
__ADS_1
“Yang dulunya pemilik tanah di KBB yang saat ini kita jadikan sebagai lokasi pembangunan kampus yaa kang ?.” Tanya Sabrina juga.
“Iya kalian berdua benar, terima saja dia lalu kita dengarkan apa maksud dan tujuan dia datang kemari, kalian berdua jangan cemburu, percayalah sama aku suami kalian berdua.” Jawab Nata yang mulai membaca gelagat yang kurang baik. Dia merasakan mood dari kedua istri cantiknya itu menjadi terganggu, apalagi saat ini kedua istrinya itu memang sedang mengandung buah hari mereka, Nata masih ingat arahan dari dokter kandungan yang menangani Sabrina dan Jessy itu, bahwa pada saat sedang mengandung emosi dan mood seorang wanita hamil akan sangat sensitif. Nata pun memeluk kedua istrinya itu saat mereka masih didalam lift menuju ke lantai empat, tempat ruang kerjanya berada di lantai empat tersebut. Pelukan yang hangat dari Nata seketika meredakan dan menenangkan Sabrina juga Jessy. Kedua istinya itu bahkan membalas pelukannya Nata.