
Pada pagi hari itu pukul 4.30 Nata bangun lebih awal, dia mengambil air wudhu dan melaksanakan Shalat Subuh dengan berlalaskan karpet tebal di ruang keluarga lantai dua pada ruko yang baru kemarin dibelinya. Kompas di ponsel dijadikan patokan kemana arah kiblat di ruko itu. Sesaat setelah Nata selesai berdoa sesudah sholat subuh, dia dikejutkan dengan kehadiran Sabrina dan Jessy yang nampak memperhatikan dirinya, mereka berdua duduk bersimpuh di belakang Nata, dengan jarak sekitar dua meter.
“Kang tolong ajarkan kami tata cara melaksanakan Sholat.” Suara Sabrina terdengar lirih sangat menyentuh hati Nata.
“Iya ajarkan kami kang, jadilah imam kami di Ruko ini sampai hari akhir nanti.” Jessy pun meminta bantuan untuk dibimbing oleh Nata.
“Baiklah, untuk langkah awal sekarang kalian ambil air wudhu, nanti aku berikan tata cara dan syarat berwudhu, agar kalian tidak ragu-ragu lagi untuk melaksanakan shalat.”
“Baiklah kang.” Jessy dan Sabrina pun menuju ke kamar mandi, lalu mulai dibimbing oleh Nata dalam tahapan bersuci dari hadas kecil itu. Nata pun melengkapi dengan bacaan bacaan dalam setiap tahap membasuh anggota badan untuk berwudhu itu.
“Jadi kalau kita punya hadas besar, wudhunya tidak sah ?” tanya Jessy.
“Betul sayang, ibaratnya kita ini seperti mandi dengan air lumpur yang hitam pekat.”
“Ohhh begitu, lalu jika kami tidak tahu bagaimana ?”
“Kalau kalian benar-benar tidak tahu, Allah lebih Maha mengetahui dari niat kalian.”
“Kalau begitu, lebih baik sekalian saja, kita mandi besar untuk menghilangkan hadas besar.” Ucap Sabrina mengajak Jessy untuk mandi besar terlebih dahulu.
“Caranya bagaimana Sab. ? Kang kasih tahu kami juga dong cara mandi besarnya.”
“Hampir sama dengan berwudhu, namun pada langkah awal, bersihkan dulu badan kalian, cuci dan bilas dengan air bersih dua lubang dibawah perut kalian itu. Setelah itu ambil wudhu namun jangan dulu membasuh kaki kanan dan kiri sebanyak tiga kali itu, lalu guyur tiga kali tubuh kalian dari ujung rambut sampai ujung kaki, terakhir baru membasuh kaki kanan terlebih dahulu lalu dilanjutkan kaki kiri.”
“OK jelas, kalau begitu, aku mau mandi besar dulu bersama Jessy.”
“Sip, kalau sudah selesai, kalian aku tunggu di ruang tengah tadi yaa.” Nata pun menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Sabrina dan Jessy yang mulai melucuti semua pakaiannya untuk melaksanakan mandi besar pertama. Karena selama hidup mereka baru kali ini mereka mengetahui tata cara mandi besar. Sepuluh menit kemudian Sabrina dan Jessy keluar dari kamar mandi itu, dengan berbalut handuk dan menenteng baju tidur mereka.
“Kang kami belum memiliki alat atau perlengkapan sholat untuk kami pakai.” Keluh Sabrina.
“Ini pakai untuk sementara kain sarungku, agar kalian bisa menutup aurat kalian. Nanti bergantian saja memakainya.” Nata pun meloloskan kain sarung yang membelit tubuhnya itu, lalu diberikan kepada Sabrina. Sabrina dan Jessy pun mulai mengenakan piyama tidurnya kembali. Nata hanya membuang muka ke arah lain
saat kedua gadis cantik itu dengan tanpa malu-malu mulai melepaskan handuk yang memelit tubuh indah mereka. Beuh dasar bukan asli orang indonesia, gerutu Nata dalam batinnya.
“Begini kang ?” tanya Sabrina.
“Bukan begitu Sabrina sayang, jangan dipakai seperti aku memakai kain sarung, tutup kepalamu juga pergelangan tanganmu, bagian tubuh bawah kan sudah tertutup dengan piyama dan celana panjangmu.” Nata pun harus lebih sabar mengajari mereka, sambil tersenyum dia membenahi Sabrina cara menutup aurat bagian atas dengan kain sarung itu. Sabrina dan Jessy pun tersenyum tersipu malu.
“Maafkan kami yaa kang.” ucap Jessy.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah maklum kok, karena kalian belum tahu tata caranya. Nah sekarang ikuti gerakan dan bacaan saya, Jessy tolong perhatikan yaa.” Nata lalu memulai gerakan sholat itu dari awal sampai akhir, lengkap dengan bacaan yang harus diucapkan. Setelah Sabrina selesai, tiba giliran Jessy, Jessy yang nampak cerdas dan mudah mengingat itu hanya tinggal disempurnakan bacaan dalam rangkaian sholat itu.
“Kang terima kasih yaa, atas semua bimbingannya.”
“Sama-sama sayang, kalian berdua nanti akan menjadi makmum ku. PR kalian pagi hari ini, datangi pasar tradisinal, beli mukena dan sajadah untuk kalian pakai sholat nanti, lalu hapalkan semua bacaan sholat, sekarang lebih mudah kalian bisa belajar, cari saja di Youtube. Nanti aku dampingi setiap datang waktu sholat
sekalian praktek.”
“Ayo kita kepasar sekarang deh. Pakai piyama juga ga-apa-apa lah, tinggal ditambah jacket saja. Hihihi.” Jessy dan Nata tertawa mendengar Sabrina berbicara seperti itu.
“Yaa sudah, aku juga mau sekalian nyari jajanan pasar, untuk sarapan kita disini, tidak perlu naik mobil, sekalian kita berolah raga pagi.”
Lalu mereka berjalan bertiga kearah pasar tradisional yang memang letaknya tidak jauh dari Ruko tempat tinggal mereka. Bahkan Nata dengan bahasa Sundanya yang lancar dan fasih membantu para gadis keturunan asing itu untuk membeli mukena. Semua orang yang berpapasan dengan mereka nampak sangat heran melihat ada dua orang yang bagaikan turis asing berjalan menyusuri pasar tradisional itu bersama Nata. Sabrina dan Jessy yang baru menginjak pasar tradisional itu terkagum-kagum dengan keramahan para pedagang yang menjajakan dagangannya di pasar itu, apalagi saat Nata bercakap cakap dalam bahasa Sunda yang hanya sedikit dimengerti oleh Sabrina maupun Jessy. Selain membeli makanan dan peralatan sholat, Nata pun membeli beberapa peralatan makan dan minum, untuk melengkapi peralatan makan mereka yang sangat kurang di Ruko. Kini masing-masing mereka pulang melenggang sambil menenteng sebuah kantung plastik. Yang berisi seperangkat alat sholat untuk Jessy dan Sabrina juga makanan jajanan pasar. Sinar keceriaan dan penuh rasa bahagia terpancar di wajah Sabrina dan Jessy itu.
Sesampainya di Ruko, lalu Nata memasak air untuk menyeduh teh, yang akan dijadikan teman makan sarapan pagi dengan jajanan pasar yang tadi mereka beli di pasar itu. Jessy dan Sabrina pun menata piring dan peralatan makan lainnya diatas meja.
“Jess kalau kita setelah sholat subuh pergi ke pasar setiap hari seru juga tuh.” Sabrina memberi usul kepada Jessy.
“Aku sih setuju saja Sab. badan sehat perut kenyang. Hihihi.” Kekeh Jessy menyetujui usul dari Sabrina itu.
“Nah, hal seperti tadi tidak akan ditemukan di luar negeri, hanya di Indonesia saja.”
“Iya tadi akang terlihat sangat akrab dengan para pedagang di pasar saat berbicara menanyakan harga.” Ucap Jessy dengan penuh kagum.
“Ajarkan juga nanti kami berbahasa Sunda yaa kang. Selama ini kami hanya seperti burung beo saja, tanpa tahu apa arti sebenarnya. hehehe.”
“Okay beybeh, dahar oray seubeuh. Hehehe.”
“Apa artinya kang ?” tanya Jessy dan Sabrina penasaran.
“Makan ular kenyang, hahaha.”
__ADS_1
“Ihhh dodol, borokokok. Hihihihi.“ Balas Sabrina sekenanya.
“Tukang odol molohok.”
“Apa tuh artinya ?” tanya Sabrina.
“Tukang jualan pasta gigi lagi bengong.” Nata pun nyengir lalu mulai makan jajanan pasar dengan air teh yang baru saja selesai mereka tuangkan ke dalam mug minum mereka bertiga. Jessy dan Sabrina tertawa sampai mengeluarkan air mata, karena lucu mendengar ungkapan bahasa yang disampaikan oleh Nata.
Satu jam kemudian, tepatnya pukul tujuh pagi, Nata nampak sudah siap untuk menemui kantor Notaris yang ditunjuk oleh Sabrina, karena mereka punya janji dengan pemilik lama ruko itu pada pukul delapan pagi, sekalian mengajukan akta pendirian perusahaan baru kepada Notaris tersebut. Sabrina dan Jessy pun baru saja selesai berdandan. Lalu pada pukul 7.30 mereka sudah berada di jalan raya, menuju kantor Notaris dengan mengendarai sedan milik Sabrina.
“Nanti setelah selesai urusan di kantor Notaris, aku sama Sabrina akan membawa beberapa barang dari apartemen, kalau kamu bagaimana Jess ?”
“Aku juga sama dong, akan membawa beberapa barang dari tempat tinggalku. Biar aku nanti diturunkan saja di sebuah titik dekat dengan tempat tinggalku, nanti aku bawa kendaraan sendiri ke Ruko.” Jawab Jessy yang duduk di jok penumpang belakang.
“OK deh, yakin bisa sendiri Jess ?“
“Yakin dong kang, ehhh itu yaa kantor notarisnya ? Sab.”
“Iya betul Jess, masuk kang, belok kiri ke jalan komplek perumahan itu. Nanti kita parkir di depan kantor notarisnya saja.”
“OK.” Nata pun lalu memarkirkan mobil sedan itu persis di depan halaman kantor Notaris itu. Kemudian Sabrina turun lebih dulu, lalu dia mengetuk pintu kantor Notaris yang sudah dikenalnya sejak lama itu.
“Assalamualaikum, Pak Haji.” Ucap Sabrina saat pintu dibuka oleh Notaris itu.
“Waalaikumsalam, ohhh Sabrina baru saja saya datang, mari silahkan duduk, sama siapa kemari ?”
“Sama boss baru saya dan Jessy, Pak haji.”
“Suruh masuk saja sekalian dong, aku juga ingin kenal dengan boss barumu itu.”
“Baik Pak haji.” Lalu Sabrina memanggil Nata dan Jessy yang baru turun dari mobil itu. kemudian Nata memperkenalkan diri kepada Sang Notaris itu.
“Assalamualaikum, kenalkan saya Nata pak.”
“Waalaikumsalam, Saya pikir sudah berumur, ternyata masih muda, mangga silahkan duduk. Dari namanya saya yakin orang Sunda yaa, asal dari mana ?”
“Titasik pak.”
“Hehehe, iya Pak Haji, apa kabar ? sudah lama saya tidak main kemari.”
“Pasti lagi sibuk yaa ? rame usahanya ?”
“Alhamdulillah, Yaa begitulah Pak Haji, lebih ramai menangani pesanan on line, untuk saat ini.” Jawab Jessy.
“Alhamdulillah kalau begitu, jadi ada dua pintu pemasaran yaa, online dan real time.”
“Benar Pak Haji.”
“Begini pak Haji, kang Nata ini juga nanti akan membuat legalitas perusahaan baru, mohon dibantu oleh Pak Haji.” Sabrina menambahkan tujuan kedua dari kedatangannya menghadap ke kantor Notaris itu.
“Ohh baik Sabrina, akan saya bantu semaksimal mungkin, tolong siapkan saja semua persyaratannya, nanti akan bapak berikan satu berkas persyaratan untuk pendirian perusahaan, PT atau CV ?.”
“PT saja Pak Haji, agar scope atau ruang lingkup usahanya lebih luas.” jawab Nata langsung saat Sabrina dan Jessy menatapnya seolah bertanya.
“Baik tunggu sebentar yaa, saya bawakan dulu berkas persyaratanya untuk mendirikan perusahaan Perseroan Terbatas. Sambil menunggu kedatangan penjual rukonya itu.”
“Iya pak Haji, silahkan, mohon maaf merepotkan nih.”
“Hahaha, memang saya harus direpotkan, agar mendapat penghasilan dari repot-repot itu.” Sang Notaris pun berlalu dari ruang tamu menuju ke ruangan pribadinya sambil tertawa, kemudian tidak lama setelah itu dia membawa sebuah map yang berisi semua persyaratan untuk mendirikan perusahaan.
“Nah ini tolong dibaca dulu dengan teliti lalu nanti lengkapi.”
“Terima kasih Pak Haji.” Jawab Nata, saat menerima map itu.
“Ohhh iya mau diurus sendiri atau memakai jasa kami untuk menyelesaikan semua persyaratan itu?”
“Lebih baik sekalian oleh Pak Haji, Bapak yang lebih tahu tentang seluk beluk pendirian perusahaan.”
“OK nanti bawahan saya akan membantu kami untuk menyelesaikan semua urusan pendirian perusahaan itu. Mungkin nanti bawahan saya akan mondar mandir ke tempat usaha Kang Nata. Boleh saya minta KTP dari kang Nata untuk saya copy disini ?”
“Ada pak ini nama lengkap saya, sengaja tidak saya cantumkan di KTP saya, karena kalau di luar negeri ternyata tidak laku embel-embel dibelakang nama kita.”
__ADS_1
“Ohhh lama sekolah di luar negeri ? gelar pendirikan terakhir apa ?” tanya Sang Notaris dengan sedikit terkejut.
“BSc, MSc, Phd. Pak.”
“Wahh kalah saya nih, saya malah belum sekolah sampai S3. Hehehe.”
“KTP saya dan Jessy juga dong Pak Haji, karena nanti dalam akta pendirian ada pembagian modal usaha.”
“Ohhh kalian bertiga ? hebat kalau begitu, Kang Nata tidak salah mencari partner usaha, Iya betul Sabrina, KTP mu dan Jessy juga.”
Namun pembicaraan mereka terpotong saat Pak Bobby dan Ibu Suzan mengetuk pintu, lalu langsung dibuka oleh Jessy yang lebih dekat dengan pintu masuk kantor Notaris itu.
“Mohon maaf kami datang terlambat, karena baru saja dari rumah sakit.” Ucap Pak Bobby.
“Tidak apa-apa pak. Kami juga belum lama datangnya.” Jawab Nata.
“Ini pemilik Ruko yang menjual Ruko kepada kami Pak Haji.” Sabrina lalu memperkenalkan Pak Bobby dan istrinya Suzan.
“Ohh iya saya Mumuh Mochtar, silahkan duduk Pak.” Ucap Sang notaris dengan sangat ramah.
“Saya sudah sering mendengar nama Pak Haji, namun baru kali ini bisa berhadapan langsung dengan Pak Haji.”
“Ahhh Pak Bobby bisa saja, saya bukan orang beken kok, Hehehe.”
“Ini sertifikat asli ruko yang kami jual kepada dik Nata.” Ucap Pak Bobby lalu menyerahkan sertifikat Roko tersebut kepada sang Notaris itu.
“Baik Pak Bobby saya terima, Kalau bukti pembayaran sudah ada ?” tanya Sang Notaris.
“Ada pak, kuitansi sementara sudah saya buat, ini kuitansinya sebagai bukti pembayaran dari kami.” Sabrina lalu menyerahkan kuitansi itu kepada Sang Notaris.
“Ini berkaitan dengan pajak, karena setiap balik nama kepemilikan harus disertai dengan bukti pembelian dan pajak penjualannya. Sesuai dengan program dari Pemerintah.”
“Untuk pajak dan biaya balik nama kami yang menanggungnya pak.” Jawab Nata yang tidak mau membebankan kepada Pak Bobby karena sedang mengalami musibah atas dirawatnya anak Pak Bobby dan Ibu Suzan itu.
“Ohhh begitu, baiklah nanti dalam berita acara serah terima, akan dicantumkan bahwa sesuai kesepakatan bersama pajak dan biaya balik nama akan dibebankan kepada pihak pembeli.”
“Betul begitu pak.” Ucap Nata.
“Saya sangat berterima kasih kepada dik Nata ini. Pak Haji tahu sendiri pada jaman sekarang ini sangat sulit menjual asset baik tanah maupun property. Alhamdulillah kami merasa sangat terbantu dengan terjualnya Ruko kami, yang meskipun dengan berat hati kami melepaskannya.”
“Iya betul Pak Bobby, apalagi pasca pandemi, ekonomi masih berjalan tersendat-sendat. Baiklah akan kami buatkan segera berita acaranya. Nanti tinggal ditandatangani oleh kedua belah pihak sebagai persyaratan balik nama atas penguasaan Ruko yang sudah terjual tersebut.” Lalu Sang Notaris itu memerintahkan anak buahnya untuk menyusun berita acara sesuai dengan pembicaraan di ruang tamu kantor Notaris itu.
“Pak Bobby, dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami barusan sudah mengirimkan sisa pembayaran langsung kepada rekening Pak Bobby.” Ucap Sabrina dengan sangat sopan memberitahukan berita terkirimnya dana yang sangat dibutuhkan oleh Pak Bobby itu.
“Terima kasih Sabrina, saya tidak tahu harus mengucapkan kata-kata apa lagi, nih.”
“Betul Sabrina, ibu juga sangat terharu karena sudah berhasil dibantu oleh kalian anak muda yang cekatan, semoga usaha kalian lancar dan maju dengan pesat.” Ucap ibu Suzan sambil meneteskan air mata haru.
“Dengan do’a dari Pak Bobby dan Bu Suzan juga sudah cukup bagi kami, kami juga mendoakan agar putra bapak dan ibu segera pulih kembali.” Nata juga turut menimpali.
“Aamiin, terima kasih atas bantuan dan do’a dari kalian juga.”
“Ini berita acaranya tolong dibaca lalu ditandatangani yaa. Saya buat tiga rangkap, untuk saya, untuk pembeli dan untuk penjual.” Ucap sang Notaris.
“Baik pak Haji.” Dengan serempak Nata dan Pak Bobby menjawabnya lalu membaca berita acara itu setelah itu setiap halaman diparaf oleh Pak Bobby dan Nata secara bergantian mereka lalu membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai itu.
“Untuk saya sudah selesai yaa pak Haji ?” tanya Pak Bobby
“Sudah Pak.”
“Maaf kami mohon pamit kalau begitu, karena harus buru-buru untuk menyiapkan keberangkatan anak kami yang akan dioperasi di Singpura itu.”
“Ohhh begitu, semoga lekas sembuh yaa pak untuk anaknya.”
“Terima kasih, Pak Haji.” Lalu Pak Bobby dan ibu Suzan bersalaman dengan semua yang ada di ruangan tamu kantor Notaris itu.
“Assalamualaikum.” Ucap Pak Bobby dan ibu Suzan bersamaan.
“Waalaikumsalam.” Jawab semua orang yang berada di ruang tamu itu. Nata beserta Sang Notaris, Jessy dan Sabrina lalu mengantar sampai ke halaman tempat kendaraan pak Bobby terparkir. Pak Bobby dan ibu Suzan lalu melambaikan tangan, dibalas oleh lambaian tangan dari Sang Notaris, Nata, Jessy dan Sabrina. Setelah itu kembali masuk untuk menyelesaikan pengalihan nama asset berupa Ruko yang sudah mereka beli itu. Segala
persyaratan administrasi lalu segera diselesaikan di kantor Notaris itu.
__ADS_1
“Baiklah, nanti paling lambat dalam waktu seminggu akan kami serahkan Sertifikat Ruko itu. sekalian tolong lengkapi semua persyaratan untuk mendirikan perusahaan.”