Tangguh

Tangguh
Bab 25 Seorang gadis Salting.


__ADS_3

Pada pagi hari keesokan harinya pukul sembilan, mereka kedatangan tamu yang ternyata dia itu adalah Yanti, sang sales girl kendaraan Jeep. Yanti memang sudah dihubungi melalui ponselnya oleh Sabrina tadi malam untuk datang hari ini dengan membawa brosur kendaraan yang diinginkan oleh Sabrina dan Jessy. Yanti yang sangat bersuka cita itu nampak sangat ceria, karena yakin hari ini dia akan mendapatkan lagi bonus dari penjualan unit mobil yang diinginkan oleh calon customer-nya itu.


Sabrina dan Jessy yang menyambut kedatangan Yanti itu lalu mempersilahkan Yanti agar duduk di ruang tamu Ruko itu.  Sesekali Yanti menengok ke arah ruang kerja Nata, mengharapkan agar dapat melihat Nata, namun sosok yang diharapkannya muncul itu tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Sabrina dan Jessy pun menyadari hal itu lalu segera bertanya kepada Yanti.


“Kenapa Yan... nyari Kang Nata yaa ?”


“Eehhh enggak kok.” Jawab Gadis cantik dengan dandanan sangat seksi itu tersipu malu.


“Jadi mau ngambil dua unit yaa, satu yang long chasis satu lagi yang short ?” lanjut Yanti.


“Iya yang short Automatic sedangkan yang long Chasis manual transmisi.” Jawab Sabrina.


“Kalau warnanya bagaimana ?” tanya Yanti lagi


“Bisa custom pilih warnanya ?” tanya Jessy


“Bisa dong, tapi nanti agak lama nunggunya. Tidak apa-apa ?”


“Ga masalah sih, aku ingin warna kuning atau jingga.” Jawab Jessy.


“Kalau aku ingin yang warna merah menyala.” Sambung Sabrina.


“Baiklah saya catat dulu yaa. Lalu pembayaran bagaimana ?” tanya Yanti lagi.


“Cash dua kali bayar. Sekarang 50% nanti  jika sudah datang unit mobilnya kami lunasi sisanya 50%, boleh kan ?”


“Ohhh boleh saja, khusus untuk Mbak Sabrina dan Jessy. Kalau unit yang kemarin sudah dipakai bagaimana, ada masalah ga ?”


“Tidak ada, enak juga ternyata dikendarainya. Suspensi empuk dan tenaganya besar.” Jawab Sabrina.


“Baiklah, sekarang tolong isi semua formulir ini atau tanda tangan saja.”


“OK, Jess kamu yang transfer atau aku yang transfer ?” tanya Sabrina.


“Kamu aja dulu deh, nanti gantian aku bagian pelunasannya Sab.” Lalu Sabrina dan Jessy mulai mengisi formulir pengajuan unit kendaraan kemudian menandatangani formulir itu.”


“Ini nomor rekeningnya yaa ?”


“Betul Mbak.”


“Nah sudah kami kirim yaa ke rekening tersebut. Saya minta tanda terimanya ”


“Baik Mbak Sabrina, iya sudah saya lihat di ponsel saya bukti transfernya.” Kemudian Yanti menuliskan tanda terima diatas materai, lalu ditandatangi dan di cap langsung oleh Yanti di depan Sabrina dan Jessy yang menyaksikan.


“Ini Tanda terima untuk pembayaran inden unit kendaraan milik Mbak Sabrina dan ini


untuk Mbak Jessy.”

__ADS_1


“Alhamdulillah kira-kira kapan unit Mobilnya akan datang ?” tanya Jessy.


“Kami usahakan secepatnya, paling lambat satu bulan kami sudah selesai menyiapkan sesuai dengan warna dan jenis kendaraan yang dimaksud.” Jawab Yanti, yang lalu segera membereskan semua peralatan yang tadi dipakai untuk menulis di atas meja tamu itu.


“Baiklah saya mohon pamit, salam untuk Pak Nata.” Ucap Yanti sambil tersenyum manis.


“OK nanti kami sampaikan, saya kira mau ngopi dulu disini, sambil menunggu Kang Natanya pulang.” Goda Sabrina, sambil mengedipkan mata ke arah Jessy. Jessy hanya mencibir saat melihat Sabrina mengedipkan matanya itu.


”Terima kasih, lain kali saja. Permisi.” Jawab Yanti yang semakin salah tingkah, sehingga tanpa sengaja dia menabrak kursi sofa, hampir saja dia jatuh jika tidak segera dengan sigap Sabrina memeluk pinggang rampinnya Yanti itu.


“Wahh hati-hati dong Yan.” Jessy hanya menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, karena menertawakan tingkah laku Yanti yang sedang salah tingkah itu.


“Ihh iya, aduh jadi malu nih. Hihihi.” Wajahnya Yanti seketika merah padam, menahan rasa malu yang teramat sangat. Tak tok tak tok. Suara sepatu itu terdengar saat Yanti melangkah di lantai granit hitam ruko itu. Lalu kini dengan langkah yang sangat berhati-hati mulai berjalan dengan sepatu stilletonya menuju ke halaman parkir Ruko itu. Yanti pun sudah menghilang dari pandangan Sabrina dan Jessy.


“Hahaha. Aku hampir ga kuat nahan ketawa tadi Sab.”


“Iya sama, ngarep banget pengen ketemu dengan akang kita. Hihihi.”


“Belum tahu dia siapa pawang dari akang kita sekarang.” Jawab Jessy lagi.


“Sudah pulang dia ?” tanya Nata yang baru turun dari lantai tiga ruko itu.


“Sudah tuh, kenapa akang ga mau nemuin dia ? tanya Sabrina.


“Ahh males amat, nanti malah kalian yang jadi cemburu. Hehe.”


“Aku dengar dan melihat semua pembicaran kalian dari CCTV, aku kan tadi lihat juga dia hampir jatuh nabrak kursi sofa. Ehh ayo kita siap-siap ke kantor Notaris. Kita janjian jam sepuluh nih.” Nata mengingatkan janji untuk bertemu dengan client di kantor Notaris.


“Sudah kang, tenang saja, Pak H. Mumuhnya juga tadi sudah memberitahu kami bahwa Pak H. Mumuh sedang dalam perjalanan ke kota Bandung dari Cirebon, jadi baru sampai sekitar jam dua belas siang.”


“Lho kok ga ngasih tau aku sih ?”


“Kan supaya akang bisa nonton adegan yang mau jatuh di layar CCTV tadi, hehehe.” Jawab Sabrina dengan terkekeh-kekeh.


“Iya seru tuh, seperti nonton sinetron. Hahaha. Ehhh Jess tadi kamu bikin sarapan enak banget Japanese Foodnya.”


“Iya kang, tadi malam kebetulan waktu dari Supermarket kami menemukan ikan salmon yang baru saja datang jadi aku bikin Sushi deh. Sekalian masak nasi dari beras Jepangnya dan semua bumbu lengkap juga dengan nori nya.”


“Lebih enak daripada yang pernah aku makan sebelumnya di restoran Jepang. Hebat deh kamu Jess.”


“Sabrina juga hebat kang, dia juga yang bantuin masaknya kang.”


“Aku hanya bantuin dan belajar masak saja kok.” Jawab Sabrina merendah.


“Kalian berdua memang serba bisa. Boleh aku cium kalian ?”


“Ihhhh masih pagi, sudah pengen cium. Hehehe.” Jawab Jessy.

__ADS_1


“Huh Pelitnya.” Gerutu Nata.


“Sabar kang, sebulan lagi kita sah.”


“Lompati saja tanggalnya yuk, hihihi.”


“Silahkan, umumkan juga ke semua orang di seluruh dunia, hahaha.”


“Euuuh aya-aya wae neng geulis mah.” Ucap Nata sambil tepok jidat.


“Aku persiapan dulu yaa ngambil berkas-berkas untuk bahan meeting di kantor Notaris.” Ucap Jessy lalu menuju ke ruang kerjanya.


“Pakai mobil mu Sab. Masih ada bahan bakarnya kan ?”


”Masih dong, selalu full tank, agar siap sedia setiap saat, memangnya akang mau nambahin beli BBM nya ?” Kelakar Sabrina.


“Ehh  jadi teringat, cari tempat untuk dijadikan SPBU, atau cari SPBU yang akan dijual.” Ucap Nata dengan entengnya.


“Duh nyesel deh ngingetin itu, jadi ada kerjaan lagi deh.”


“Hahaha, salah sendiri. Kamu sendiri yang mengingatkan sih.”


“Ada sih informasi yang mau jual SPBU, tapi belum aku follow up lagi kang.”


“Kalau bisa yang lokasinya didalam kota Sab.”


“OK Kang Boss, aku catat kriterianya.”


“Yuk aku sudah siap.” Ucap Jessy yang sudah keluar dari ruang kerjanya.


“Nah itu temennya atau kenalannya Jessy yang mau jual SPBUnya Kang.”


“Apaan sih Sab ?”


“Itu tuh akang kita nyuruh kita nyari SPBU yang mau dijual, kan dulu kamu sempat ngobrol tentang itu Jess.”


“Ohh iya, tapi sudah lama banget tuh, saya belum menghubunginya lagi kang.”


“Santai saja, tidak perlu buru-buru juga kok. Ayo kita sambil ngobrol di jalan.” Ucap Nata lalu meraih sebuah kunci yang berlogo bintang satu itu di rak penyimpanan kunci-kunci mobil. Aplikasi Ponsel yang dijadikan Remote pintu basement pun ditekannya. Lalu Nata mulai duduk di belakang kemudi mobil sedan itu, diikuti oleh Sabrina dan Jessy yang sudah berdandan rapi dan sangat cantik di pagi hari itu. Mereka  lalu keluar dari basement dengan mengendarai mobil milik Sabrina. Secara otomatis lalu pintu basement menutup kembali dan mengunci. Sebelum menuju ke kantor Notaris, Nata lalu menepi dan berhenti di sebuah toko cake & Bakery.


“Tolong belikan kue atau cake kesukaan Pak H. Mumuh dong.”


“Rainbow cake saja kang, pasti Pak Haji suka banget tuh.”


“OK silahkan. Aku nunggu saja di tempat parkir.”


Dua gadis cantik yang seorang bule dan yang seorang lagi bagaikan artis Jepang itu turun dari mobil. Kemudian Jessy dan Sabrina memilih rainbow cake itu, tidak lama kemudian mereka sudah keluar lagi dari toko kue tersebut dengan membawa dua kantong berisi cake itu. Lalu mereka mulai melanjutkan perjalanan menuju kantor Notaris. Sesampainya di kantor Notaris belum terlihat kendaraan Pak. H. Mumuh terparkir di halaman kantornya. Nata yang ditemani oleh Sabrina dan Jessy itupun lalu turun dari mobil, kemudian mengetuk pintu kantor Notaris itu. Seseorang lelaki paruh baya lalu mempersilahkan mereka masuk dan duduk sambil menunggu kedatangan dari Pak H. Mumuh. Tidak lama kemudian datanglah dua buah mobil yang kini terparkir di sebelah sedan milik Sabrina itu. Ternyata yang datang bukan Pak H. Mumuh melainkan dua orang pemilik aset yang akan dibeli oleh Nata Cs.

__ADS_1


__ADS_2