
Tidak seperti biasanya di pagi hari itu Sabrina dan Jessy sudah bangun pukul tiga pagi, meninggalkan Nata yang masih tertidur lelap. Sabrina dan Jessy langsung mandi dengan air hangat di bawah guyuran shower, setelah mereka selesai mandi barulah Jessy dan Sabrina membangunkan Nata.
“Kang bangun, sudah jam delapan. Hihihi.” Ucap Sabrina membohongi suaminya.
“Apa jam delapan ? Waduh !” Pekik Nata seketika bangkit dari tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi tanpa melihat jam dinding di kamarnya itu.
“Hihihi.” Jessy dan Sabrina pun tertawa cekikikan saat melihat tingkah suami mereka itu. Sabrina dan Jessy lalu menuju ke dapur, mereka berdua menyiapkan masakan untuk sarapan pagi, Sabrina dan Jessy memasak sup jagung dengan topping keju, telur ayam rebus dan ayam suwir. Mirip bubur ayam hanya saja tidak memakai beras, melainkan menggunakan jagung yang sudah diparut. Setelah selesai memasak, Jessy dan Sabrina lalu kembali ke lantai tiga, dengan santai mengambil air wudhu di tempat wudhu dekat mushola. Setelah itu Jessy dan Sabrina masuk kedalam mushola lalu mengenakan mukena mereka, didalam mushola Nata sudah berdiri menunggu mereka.
“Kalian bohong, tadi bilang sudah jam delapan.” Ucap Nata dengan bersungut-sungut.
“Hehehe, takut banget yaa kesiangan bangun ?” Tanya Jessy, sambil merapikan mukenanya.
“Iya dong, belum juga adzan subuh, kita sholat sunnah saja dulu sambil nunggu adzan.” Ucap Nata lalu melaksanakan sholat sunnah terlebih dahulu. Sabrina dan Jessy pun mengikuti Nata juga melaksanakan sholat sunnah. Sepuluh menit kemudian barulah terdengar adzan Subuh. Nata lalu menjadi iman memimpin kedua istrinya itu untuk melaksanakan sholat Subuh.
“Kang nanti jam enam juru rias utusannya dari Teh Putri datang kemari, kita nunggu di bawah saja yaa sambil sarapan, aku sama Jessy sudah bikin sup jagung untuk sarapan.”
“Iya, tapi nanti ganti bajunya di kamar sini kan ?”
“Iya dong, masa di ruang kerja ganti bajunya.”
“Aku minta cium dulu dong, supaya tidak gugup, hehehe.”
“Ahhh modus, masa begitu saja gugup. Aneh banget.” Ucap Jessy.
“Ayo dong, sebentar saja.”
“Tapi janji, jangat sampai keterusan yaa.” ucap Sabrina mengingatkan.
“Iya deh aku janji, jawab Nata sambil melipat sarungnya lalu disimpan kembali di rak perlengkapan sholat di dalam mushola itu. Jessy dan Sabrina pun melipat semua perlengkapan sholatnya. Kini mereka hanya mengenakan kimono saja, Nata lalu memeluk dengan erat kedua tubuh Sabrina dan Jessy.
“Ihhh keras banget meluknya bikin sesak napas saja nih akang.” Protes Sabrina.
“Iya kang, aduh sesak banget.” keluh Jessy juga. Namun Nata tidak menghiraukannya. Kini dengan bergantian menciumi bibir tipisnya Sabrina dan Jessy. Membuat Jessy dan Sabrina yang berusaha menghindar menjadi terjatuh dari duduknya diatas karpet tebal mushola itu. Nata tidak sekalipun melepaskan pelukannya dari kedua istrinya itu, kimono yang dikenakan oleh Jessy dan Sabrina kini mulai terbuka, Sabrina dan Jessy memang belum mengenakan pakaian dalamnya sesudah mereka selesai mandi itu. Dua pasang gunung kembar yang padat, putih dan mulus itu kini berada dalam remasan lembut dua telapak tangan Nata.
“Uggghh kang, nanti aku jadi basah.” Keluh Jessy.
“Iya kang, sudah dong. Lepaskan... aaauuuwwwhh.” Pekik Sabrina saat puncak gunung kembarnya kini dilumat oleh Nata. Kemudian mulutnya Nata berpindah ke puncak gunung kembarnya Jessy, Jessy juga tak kalah terpekik dengan suara nyaring. Napas Sabrina dan Jessy menjadi memburu, mereka mulai terengah-engah menahan gejolak yang dipancing oleh Nata. Nata seketika melepaskan pelukan dan ******* dari tubuh indah kedua istrinya. Meninggalkan Sabrina dan Jessy yang menatap Nata dengan mata yang sayu serta napas yang kembang kempis.
“Ihhh akang jahat, aku jadi basah nih.” Keluh Jessy sambil merapatkan kedua belah pahanya.
“Iya Jess, aku juga.”
“Hehehe, nanti malam kita lanjutkan.” Kekeh Nata, lalu bangkit dari atas kedua tubuh istrinya yang sedang berbaring diatas karpet tebal itu. Jessy dan Sabrina lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Diiringi suara tertawa Nata yang sudah puas mengerjai kedua istrinya itu.
“Ihhh coba lihat Jess, akang kita bikin jejak nih di dada kita.” Ucap Sabrina saat melihat cermin di kamar mandi itu.
“Iya nih aku juga Sab. Aduh malu nanti kalau terlihat sama juru rias kita.”
“Kita segera pakai pakaian dalam dan korset saja yuk.” Ajak Sabrina.
“Nanti malam kita balas sampai dia gempor deh.” ucap Jessy.
“Iya setuju, hihihi.” Cicit Sabrina.
Setelah selesai membasuh badannya, Jessy dan Sabrina lalu keluar dari dalam kamar mandi. Sedangkan Nata kini sudah turun ke lantai satu. Sabrina dan Jessy lalu mengenakan pakain dalam dan korset untuk menutupi jejak yang ditinggalkan oleh Nata di dadanya. Setelah itu mereka mulai mengenakan daster dan hijabnya, merekapun menyusul Nata yang sudah duduk menunggu kedua istrinya di kursi meja makan. Sabrina dan Jessy kemudian melayani suaminya untuk sarapan bersama di ruang makan. Pada pukul enam tim perias pengantin utusannya dari Putri sudah datang ke Ruko. Tim perias pengantin yang seluruhnya perempuan itu lalu membagi tugas, tiga orang wanita membantu merias Jessy dan Sabrina, sedangkan tiga orang lagi merias Pager Bagus dan Pager Ayu, di rumahnya mang Engkus, yang letak rumahnya bersebelahan dengan Ruko itu.
Sabrina dan Jessy lalu naik ke lantai tiga dengan menggunakan lift bersama ketiga wanita yang sudah siap meriasnya. Sedangkan Nata menunggu giliran untuk berganti baju, dia duduk di ruang makan sambil menikmati secangkir kopi dan menghisap rokok kretek. Nata lalu melihat jam dinding di ruang makan itu, dia melihat waktu masih menunjukkan pukul 6.15, masih banyak waktu menuju ke pukul 8.30, Nata lalu menerima kedatangan tim lain yang seluruhnya adalah dua orang pemuda, mereka bermaksud untuk merias mobil yang akan digunakan oleh pengantin, sekaligus yang seorang akan mengemudikan mobil pengantinnya. Nata lalu menunjukkan dua unit mobil yang akan dirias itu. Sedan Mercedes Silver seri terbaru dan Porche merah yang ditunjuk oleh Nata untuk dirias oleh mereka.
“Kalian hias saja dua unit mobil ini, biar nanti istriku yang menentukan, mobil mana yang akan digunakan.” Ucap Nata lalu memberikan dua buah kunci mobil di dalam basement itu.
“Siap pak, kenapa tidak pakai rubicon merah itu saja ? sepertinya lebih luas nanti tempat duduknya.” Tanya pemuda itu, sambil menunjuk dengan tangan yang sangat sopan pada mobil milik Sabrina itu.
“Hmmm kalau begitu tiga mobil saja yang dirias sekaligus, bahan pita dan bunganya kalian bawa banyak kan ?”
“Ada, cukup kok di dalam mobil kami.” Jawab pemuda itu.
“Baiklah aku bawa kunci mobil yang satu lagi kalau begitu, silahkan kalian rias dulu yang dua unit.”
__ADS_1
“Baik Pak.” Jawab kedua Pemuda itu lalu mereka dengan terampil dan cekatan memulai untuk merias kedua mobil itu. Nata lalu mengambil kunci mobil Rubicon merah dan menyerahkan kepada dua orang pemuda itu yang sedang tekun merias dua unit mobil, yang kini semakin terlihat kinclong dan cantik dengan beberapa pita dan
karangan bunga di atas kap depan mobil tersebut.
“Wah cepat juga kalian bekerjanya.”
“Hehehe, sudah biasa pak.”
“Sebentar ada telepon masuk.” Ucap Nata saat mendengar ponselnya berdering.
“Yaa sayang ? bagaimana ?”
“Akang keatas sekarang, pakai bajunya, kami sudah selesai nih.” Ucap Jessy yang terdengar dari ponsel miliknya Nata tersebut. Nata lalu melihat jam tangan yang dikenakannya ternyata sudah pukul 7 pagi.
“OK aku naik sekarang.” Jawab Nata, lalu menutup pembicaraannya.
“Silahkan lanjutkan, kalau mau minum sudah ada kopi, dan makanan kecil di meja makan sana untuk kalian berdua.” Ucap Nata.
“Siap pak. Terima kasih.” Jawab kedua orang pemuda itu serempak, sambil melanjutkan pekerjaannya. Nata segera masuk kedalam lift menuju ke lantai tiga, untuk menemui kedua istrinya itu yang sudah selesai dirias dan sudah mengenakan baju pengantin. Saat Nata keluar dari pintu lift, dia melihat kedua istrinya kini sedang duduk di sebuah sofa. Nata langsung terdiam mematung, dia terpana melihat kini kedua istrinya itu semakin terlihat sangat cantik dengan baju pengantin berhijab.
“Hei kang mingkem, jangan menganga begitu mulutnya, nanti ada lalat masuk. Hihihi.” Ucap Sabrina mengejutkan Nata.
“Aku kira ada dua bidadari tak bersayap datang kemari.” Balas Nata.
“Mulai ngegombal lagi nih akang kita Sab.” Ucap Jessy dengan senyuman yang membuat semua orang menjadi lemas lututnya saat melihat senyuman dari Jessy.
“Boleh aku cium dulu kalian ?” tanya Nata.
“Enggak !!” Pekik Sabrina dan Jessy kompak.
“Ihh pelit.”
“Biarin, sudah sana ganti baju, sudah ditunggu didalam kamar.” Ucap Sabrina, lalu bangkit dan mendorong tubuhnya Nata untuk memasuki kamar.
“Duh galaknya bidadariku.”
Sepuluh menit kemudian Nata sudah keluar dari kamar diiringi oleh tiga orang perias, Nata dengan mengenakan warna baju yang senada dengan Sabrina dan Jessy. Kini gantian Jessy dan Sabrina yang terpana melihat Nata sudah berdandan rapi, mengenakan jas warna cream, yang terlihat cerah di saku jasnya terselip sekuntum bunga anggrek, sepatu hitamnya nampak sangat menyilaukan karena mengkilat. Nata bagaikan seorang celebritis papan atas yang sangat tampan dan ganteng saat mengenakan pakaian itu.
“Wah ada Bradpit nih, hehehe.” Kekeh Sabrina.
“Bradpit Titasik, hehehe.” Tambah Jessy yang juga terkekeh.
“Hahaha. Ayo kita berangkat.”
“Kita kan perginya barengan sama teman-temannya Erna dan Yadi.”
“Mereka naik bus, sudah ada bus tuh terparkir di depan ruko kita.” Ucap Nata.
“Kami mohon pamit yaa pak.” Ucap salah seorang dari Perias pengantin itu.
“Ohh iya terima kasih yaa atas bantuannya, tunggu sebentar.” Jawab Jessy lalu mengeluarkan beberapa amplop dari tas kecilnya, kemudian memberikannya kepada tim perias itu.
“Tolong dibagikan yaa.” ucap Jessy lagi.
“Maaf tidak usah bu.” Tolak seorang gadis yang mewakili para perias itu.
“Jangan pernah menolak rejeki, pamali. Terima saja, sebagai tanda ucapan terima kasih dari kami.” Ucap Nata sambil tersenyum.
“Baiklah kalau begitu.” Jawab gadis itu.
Kemudian mereka turun dengan menggunakan lift secara bergantian, disusul oleh Nata Sabrina dan Jessy. Para perias itu lalu keluar melalui pintu depan ruko itu, bergabung dengan teman-teman mereka yang sudah naik ke dalam kendaraan. Sedangkan Nata bersama Sabrina dan Jessy turun ke basement. Nata lalu mengunci semua pintu dengan menggunakan aplikasi dari ponselnya.
“Kalian mau pakai mobil yang mana ?” Tanya Nata.
“Yang itu saja deh biar bisa sekali angkut, praktis, Iya kan Jess ?” Ucap Sabrina menunjuk Rubicon Merahnya yang kini sudah dirias menjadi semakin cantik.
“Iya benar, mobil itu saja.”
__ADS_1
“Huff untung saja tadi aku menyuruh mereka untuk merias tiga buah mobil pengantinnya sekaligus.”
“Hehehe, akang cerdas jadi kami bisa memilih yang manapun.” Kekeh Sabrina, lalu mulai naik ke atas mobil yang dibukakan pintunya oleh pemuda yang tadi merias mobil tersebut, dia kini sudah berganti baju dengan menggunakan tuxedo hitam.
“Terima kasih, siapa namamu ?”
“Saya Asep Bu.” Jawab Asep lalu membuka pintu mobil sisi yang lain agar Jessy bisa menaiki dengan mudah mobil Rubicon Merah itu.
“Aku duduk didepan yaa ?” tanya Nata.
“Jangan, disini saja, ditengah kan masih lebar tempatnya juga.” Ucap Sabrina.
“OK deh.” Jawab Nata mengalah lalu naik kedalam mobil Rubicon merah itu. setelah itu Nata membuka pintu garasi basement dengan menggunakan ponselnya. Mobil itu pun mulai keluar dari Garasi basement. Saat keluar dari basement mereka dicegat oleh tim perias.
”Maaf bu, ini hand buqet nya ketinggalan.” Ucap salah seorang gadis perias itu, lalu menyerahkan dua buah hand buqet kepada Jessy yang berada di sisi sebelah kiri.
“Ohh iya terima kasih, aku kira nanti di gedung saja diberikannya.” Jawab Jessy lalu menyerahkan satu hand buqet kepada Sabrina. Suara sirine dari motor forrider pembuka jalan mulai terdengar. Puluhan unit motor gede pembuka jalan mulai memblokade jalan agar iring-iringan mobil pengantin tidak terhambat saat menuju ke gedung Kantor Pusat Bank NSP tersebut.
“Ini semua pelayanan dari Teh Putri ?“ tanya Nata.
“Iya mungkin, Asep kamu kenal dengan mereka ?” Tanya Sabrina.
“Iya benar, itu semua teman-teman kami. Kami semua anak buahnya Ibu Putri.” Jawab Asep sambil berkonsentrasi untuk mengemudikan mobil Rubicon Merah itu.
“Wah sungguh luar biasa, kita jadi Raja dan Ratu seharian nih namannya. Hehehe.” Kekeh Nata.
“Kan akang Sultan Titasik. Hahaha.” Ucap Jessy sambil tertawa.
Merekapun datang lebih awal di Gedung tersebut. Terlihat Mang Engkus dan istrinya sudah turun dari sebuah bus berbarengan dengan para pager ayu dan pager bagus. Semua mobil masuk ke dalam parkiran basement gedung kantor pusat bank NSP tersebut. Nata bersama kedua istrinya lalu naik ke lantai dasar dari basement dengan menggunakan lift. Mereka lalu mulai duduk di pelaminan. Tak berapa lama kemudian seorang petugas dari KUA datang menghampiri mereka, dia menyerahkan buku nikah yang kini sudah terbit dan tercatat di KUA dan Disdukcapil, lengkap dengan kartu keluarga dan KTP baru bagi Nata, Sabrina dan Jessy sesuai dengan domisili mereka di Ruko yang sudah ditinggali oleh mereka itu. Beberapa petugas yang bertugas untuk mengambil dokumentasi segera mengarahkan Nata, Sabrina dan Jessy untuk menunjukkan buku nikahnya tersebut, agar bisa diambil gambarnya oleh para fotografer tersebut. Bukan main betapa senangnya Nata, Sabrina dan Jessy saat menerima buku nikah yang kini sudah berada di tangan mereka itu. Senyuman dari Nata, Sabrina dan Jessy tercermin saat mereka sedang diambil gambarnya oleh para fotografer tersebut. Putri sebagai WO sudah mengganti acara yang seharusnya acara ijab kabul pada jam delapan itu, menjadi acara penyerahan dokumen berupa pemberian buku nikah dari KUA kepada Nata, Sabrina dan Jessy sang pengantin itu. Jari manis dari Jessy dan Sabrina terlihat begitu gemerlap karena dihiasi oleh cincin kawin berlian yang sudah dikenakan mereka saat memegang buku nikah tersebut. Beberapa tamu mulai berdatangan, mulai dari Pak H. Mumuh yang datang bersama istrinya, para Karyawan Staf dan Direksi Bank NSP. Beberapa teman kuliah dari Sabrina dan Jessy. Charlie juga datang bersama istrinya yang membawa si kecil dalam kereta dorong bayi. Andi juga hadir bersama tiga orang istrinya, ditemani oleh Arwan sahabatnya selama kuliah yang sudah berhasil menyelesaikan interior gedung Kantor Pusat Bank NSP itu. Beberapa tetangga juga datang bersama dengan Mang Engkus. Mereka semua disambut kedatangannya oleh para pager bagus dan pager ayu. Para peserta undangan diberikan souvenir yang sudah disiapkan oleh Pengantin Baru itu. Souvenir yang unik karena masing-masing berisi sebuah kartu ATM bernilai sepuluh juta rupiah yang diterbitkan oleh Bank NSP.
"Kang tuh ada Yanti datang bersama teman-temannya." bisik Sabrina kepada Nata.
"Iya biar saja, nanti juga dia akan kemari." Jawab Nata dengan datar.
Acara puncak pun dimulai, acara yang juga merupakan sebuah launching atas beroperasinya kembali Bank NSP. Semua tamu undangan bertepuk tangan saat Nata bersama kedua istrinya secara bersamaan menekan secara simbolis sebuah tombol merah, lalu terdengarlah suara sirine yang menggema di seluruh gedung kantor pusat dan sekitar gedung kantor pusat Bank itu. Ratusan balon dan merpati beterbangan saat Suara Sirine itu mulai berbunyi. Beberapa wartawan dari media elektronik pun mulai meliput semua acara itu. Satu jam kemudian Ponsel milik Nata berdering. Nata tidak terkejut saat melihat di layar Ponsel ternyata yang menghubunginya itu adalah pengacara dari keluarga Almarhum Ayah dan Ibunya.
“Silahkan saja Bapak Pengacara datang kemari, kami tunggu disini.” Jawab Nata dengan singkat lalu menutup pembicaraan Ponselnya.
“Siapa kang ?” tanya Sabrina dan Jessy yang selalu berada disampingnya Nata itu.
“Pengacara dari Almarhum Ayah dan Ibuku.” Jawab Nata yang seketika raut wajahnya menjadi berubah kurang sedap.
“Mereka akan kemari dong ?” Tanya Jessy.
“Iya biarlah, aku sudah siap dengan semua jawabannya kok, kalian tidak perlu khawatir, nanti selesai acara ini kita akan berkumpul di ruang rapat.” Jawab Nata berusaha untuk menenangkan kedua istrinya itu, Nata juga berusaha untuk tetap tersenyum kepada Sabrina dan Jessy.
“Kami akan selalu ada disamping akang.” Ucap Sabrina, yang malah berbalik untuk lebih menguatkan hatinya Nata.
“Iya kita juga punya pakar hukum yang senior, kan ada Pak Haji Mumuh tuh.” Tambah Jessy pula.
“Iya sayang, makanya aku juga akan selalu bersikap tenang, sebentar lagi acara akan selesai.”
“Mereka pasti tahu dari berita dari TV, tuh ada beberapa orang wartawan yang datang dari stasiun TV yang turut meliput peristiwa ini.” ucap Sabrina.
“Iya tadi juga mereka bilang begitu, sudahlah toh kita sudah menikah dan kekuatan hukum kita sangat kuat, kita juga sudah siap untuk mengoperasikan Bank milik kita ini.” Ucap Nata sambil memeluk kedua istrinya. Pak Haji Mumuh yang melihat Nata sedang gusar, lalu mulai mendekat kepada Nata.
“Ada apa ? bisa kita bicara sebentar ?” tanya Pak H. Mumuh yang melihat sikap Nata sedang gelisah itu.
“Iya, baik Pak. Tapi nanti saja, tanggung kita masih menerima para tamu, nanti saya mau minta waktunya Pak Haji sebentar boleh kan.”
“Boleh saja Pak Nata, aku sudah menganggap Jessy dan Sabrina sepertin anakku sendiri, anggap saja sekarang kami ini sebagai pengganti dari kedua orang tuamu juga yang sudah tiada.”
“Terima kasih Pak Haji. Saya akan menutup dulu acara kalau begitu, sudah jam dua belas siang nih. Waktunya kita sholat dzuhur juga.”
“Iya baiklah Pak Nata.” Ucap Pak Haji Mumuh, lalu bergabung kembali bersama istrinya yang sedang mengobrol dengan Sabrina dan Jessy.
__ADS_1
Nata lalu mendekati mike pengeras suara, suara musik dari grup pengiring musik lalu menghentikan kegiatannya, Nata mulai mengucapkan ungkapan rasa terima kasihnya kepada semua tamu undangan, panitia dan WO/EO yang mendukung semua rangkaian acara pada hari itu, Nata lalu mengajak tamu undangan untuk melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah di lantai lima gedung itu. Beberapa orang tamu ada yang berpamitan kepada Nata, Sabrina dan Jessy, sebagian besar justru naik ke lantai lima untuk mengikuti sholat dzuhur berjamaah