
Setelah Nata dan Sabrina selesai sholat Maghrib dilanjutkan dengan sholat Isya, mereka duduk bersama di ruangan home theater, diatas sofa empuk sambil menonton film yang telah diunduh oleh Nata. Jessy dan Sabrina nampak sangat serius menonton film action yang sedang berlangsung. Disela-sela menonton Nata sesekali memandang Sabrina dan Jessy yang nampak terhibur dengan film action yang sedang ditonton itu. Seperti biasa Nata berada di tengah tengah kedua istrinya saat duduk menonton adegan demi adegan sampai film itu berakhir. Sesekali Jessy dan Sabrina terpekik saat menonton, bahkan Nata beberapa kali dipukul halus secara bergantian oleh Jessy maupun Sabrina juga dicubit dengan gemas oleh kedua istrinya itu. Nata hanya tersenyum saat melihat dan merasakan tingkah laku kedua istrinya tersebut.
“Seru banget filmnya yaa bestie.”
“Iya Sab, akang kok santai-santai saja nontonnya sih ?”
“Aku lebih tertarik da Lebih seru nonton wajah kalian berdua, saat sedang nonton film hehehe.”
“Kenapa malah lihat wajah kami ?” Tanya Sabrina.
“Lebih seru dan lucu saja. hehehe.” Jawab Nata.
“Ihhh dasar aneh akang mah.” Ucap Jessy sambil menguap.
“Kalian sudah mulai ngantuk ?” tanya Nata.
“Iya, kang kita bobo yuk.” Ajak Jessy dan Sabrina.
“OK aku matikan dulu semua peralatan elektroniknya.” Jawab Nata, setelah itu dia mengikuti langkah kedua istrinya untuk menuju ke pembaringan, di kamarnya. Jessy dan Sabrina sudah mengganti baju dengan hanya menggunakan kimono berbahan sutera halus itu. Kini Sabrina dan Jessy tidur dengan mengapit suami yang sangat mereka cintai.
“Kang kapan kita akan mulai mengelola wilayah pantai Cipatujah itu ?” Tanya Sabrina.
“Kok tiba-tiba menanyakan lokasi itu ?” Nata malah balik bertanya.
“Saat melihat film tadi justru aku jadi ingat pantai berpasir hitam itu.”
“Iya Sab, aku juga sama, pasti sangat menarik kalau dikelola secara lebih telaten lagi, dengan penambahan sarana umum berupa penerangan dan fasilitas umum lainnya.” ucap Jessy menambahkan.
“Coba kalian hitung budgetnya nanti, sisihkan dari hasil keuntungan kita selama setahun dalam mengelola jasa perbankan. Aku akan dukung semuanya untuk kalian deh.”
“Hore asyik, terima kasih yaa kang.” jawab Jessy.
“Tunggu, Itu artinya setahun lagi dong ?” tanya Sabrina.
“Iya sayang, setahun tidak lama kok, dengan mengerjakan pekerjaan rutin sehari-hari juga ga akan terasa nanti waktu akan berlalu dengan sendirinya.”
“Hmm jadi sambil nunggu anak kita lahir juga dong.”
“Iya sayang, kamu harus ingat juga jangan terlalu lelah, pesan dokter kandungan juga kan begitu.”
“Aku juga pengen hamil seperti kamu, Sabrina.” Rengek Jessy.
“Semoga bulan depan juga kamu akan hamil juga Jessy, makanya jangan terlalu diforsir berkerjanya, kita kan sudah ada yang bantu, seperti Charlie, pada dewan Direksi, Erna bahkan nanti sebentar lagi Yadi akan segera membantu kita, kalau dia sudah lulus ujian skripsinya.”
“Hehehe, iya juga benar kang, kita hanya memantau pekerjaan mereka saja, menerima semua laporan kemajuan pekerjaan dari mereka.” Jawab Jessy sambil tersenyum.
“Ahhh ngantuk banget, kita lanjutkan besok pagi saja ngobrolnya yaa bestie.” Ucap Sabrina yang sudah beberapakali menguap, mulai tidak tahan dilanda rasa kantuknya.
“OK good nite ladies. Cup cup.” Nata lalu mengecup Jessy dan Sabrina sebelum dia juga terlelap dalam tidurnya. Jessy dan Sabrina pun memeluk Nata dalam tidurnya.
Saat Nata terbangun pada pukul empat pagi, kedua istrinya sudah tidak nampak di sisi kiri kanannya. Nata lalu bangun dari pembaringannya, mengambil air wudhu lalu melangkah menuju ke ruangan mushola di lantai tiga ruko itu, dilihatnya Sabrina sedang bersujud diatas sajadahnya dengan mengenakan mukena miliknya saat dia memasuki ruangan mushola itu. Nata lalu menunggu Sabrina bangun dari tempat sujudnya. Setelah itu dia melihat Sabrina tersenyum kearahnya.
“Maaf aku dan Jessy tidak membangunkan akang yang tadi masih tidur.”
“iya tidak apa apa, kamu habis sholat apa sayang ?”
“Kata akang dulu, masih bisa sholat tahajud sebelum tiba saatnya sholat subuh.”
“Ohh kamu sholat tahajud.”
__ADS_1
“Iya dilanjutkan sholat hajat, sebagai ucapan rasa syukur karena aku sudah diberi kepercayaan untuk mengandung benih cinta kita kang.”
“Alhamdulillah, Jessy kemana ?”
“Dia sedang di dapur, menyiapkan masakan untuk sarapan bagi kita.”
“Ohhh yaa sudah, ayo sekarang kita mulai sholat subuh, tuh sudah terdengar adzan subuh di masjid sana.”
“Iya kang.” Jawab Sabrina.
Nata lalu melaksanakan sholat subuh bersama Sabrina, setelah selesai mereka menyusul Jessy yang masih sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
”Selamat pagi Akangku dan bestie ku, hidangan sarapan pagi untuk kita semua sudah siap disantap.” Ucap Jessy menyambut Nata dan Sabrina yang baru saja turun dengan menggunakan lift dari lantai tiga. Senyuman dari wanita keturunan Jepang itupun dibalas oleh pelukan hangat dan kecupan dari Nata.
“Terima kasih Jessy, wah ini masakan serba mengandung keju dan susu.”
“Iya benar kang, ada request dari ibu hamil nih, hehehe.”
“Ohhh kamu yang minta sayang ?”
“Iya kang, aku pengen sushi pakai keju dan Salmon, sup ayam jagung dengan mozarella dan minumnya susu murni hangat, hehehe.”
“Wah bisa cepat gemuk itu.” ungkap Nata.
“Ga apa-apa kang, aku rela cepat gemuk demi bayi yang sedang dikandung didalam perutku ini.” Jawab Sabrina sambil mengelus perutnya yang belum terlihat membuncit itu.
“Dia sudah tidak takut gemuk lagi kang, malah senang tuh hihihi.” Kekeh Jessy.
“Kemarin juga aku sudah belanja online untuk memenuhi kulkas dengan susu dan keju, supaya stok keju dan Susu selalu ada di dalam kulkas kita.” Jelas Sabrina lalu duduk di kursi ruang makan disamping Nata dan Jessy, sesudah membawa makanan dari dapur bersama Jessy.
“Sepertinya kita harus beli kulkas yang baru dan lebih besar lagi deh.” Ucap Nata.
“Yaa sudah tinggal order saja, penuhi kebutuhan kita semua. Ohh iya untuk kamar tidur yang satu lagi yang sudah jarang kalian tempati nanti aku akan dekor ulang untuk jadi kamar bayi, kalian setuju ?”
“Boleh kang, kalau kamar tidur tamu biarkan saja, agar bisa dipakai untuk menginap tamu kita di ruko ini.” Saran Sabrina.
“Iya aku tidak akan merubahnya untuk kamar tidur tamu. Terus untuk agenda kegiatan hari ini, aku akan bertemu dengan Kang Andi, dia juga berminat untuk menjadi investor atas pembangunan kampus perguruan tinggi yang akan kita bangun di wilayah Kabupaten Bandung Barat, kami akan mengadakan MOU untuk bekerja sama, malah beliau menyarankan agar bisa menampung lulusan siswa dari Pontren Jabal Rahman-nya untuk melanjutkan kuliah di kampus yang akan kita bangun itu.”
“Wah hebat dong kalau begitu, berarti dia juga sebagai kontraktor yang akan membangun seluruh Gedung dan fasilitas di Kampus itu nanti dong.” Tanya Sabrina dengan penuh antusias sambil menghabiskan sisa makanan dari piringnya.
“Benar, makanya dia minta gambar konsep awal dariku, untuk dijadikan draft kontrak pembangunan Kampus yang akan kita bangun nanti.”
“Alhamdulillah ternyata semua rencana kita dimudahkan.” Ucap Jessy.
“Iya Alhamdulillah, semua niat baik kita ternyata mendapat sambutan yang sangatm positif dari beberapa kalangan pengusaha. Terus ada lagi berita menggembirakan lainnya, Kang Andi menjadikan Bank kita sebagai tempat untuk membayar gajian bagi karyawan juga karyawatinya dalam semua perusahaan yang berada di kota Bandung maupun di Jakarta.”
“Wow keren, kapan tuh dimulainya kang ?” Tanya Jessy dan Sabrina bersamaan.
“Menurut Charlie dan Direktur Operasional Bank kita sih katanya mulai bulan depan mereka menggunakan jasa perbankan kita, coba kalian baca deh di WA grup Bank kita.”
“Hihihi, maaf aku dan Jessy belum pegang ponsel sejak bangun pagi tadi.”
“Semoga semakin banyak perusahaan yang bergabung menggunakan jasa perbankan kita yaa kang.” ucap Jessy.
“Aamiin yaa robbal alamiin. OK deh, nanti kalian berdua di kantor Pusat saja yaa, aku akan ke lokasi bersama Kang Andi dan Team nya.” Ucap Nata lalu mulai mengelap mulutnya dengan tissue, setelah semua makanan habis tanpa ada sisa di piringnya.
“Iya deh kami nurut saja, siap kang boss.” Ucap Sabrina lalu bersama Jessy mulai merapikan meja makan. Sedangkan Nata lalu melangkah ke ruang kerjanya, membuka PC dan memeriksa beberapa laporan dari Kantor Bank miliknya. Setelah itu Nata menutup semua program di layar komputernya, lalu bersiap-siap berganti baju di lantai tiga. Saat pergi ke kantor Nata dan kedua istrinya menggunakan mobil yang berbeda, karena Nata harus mendampingi rekannya yang akan meninjau lokasi proyek. Rubicon kuning itu terlihat diikuti oleh Rubicon hitam milik Nata. Setelah sampai di kantor, Nata lalu mengajak Charlie untuk mendampingi di lokasi proyek. Charlie lalu dipersilahkan memegang setir mobil Rubicon hitam itu oleh Nata, saat mereka berdua menuju ke lokasi proyek. Sepanjang jalan menuju lokasi proyek, Nata dan Charlie ngobrol membahas MOU tentang beberapa perusahaan yang sudah bergabung menjadi nasabah di Bank NSP mereka kelola itu.
“Banyak perusahaan yang menjadi nasabah baru di Bank NSP kita kang Boss, mereka tertarik dengan sistim bagi hasil berdasarkan syariah di Bank kita itu.”
__ADS_1
“Hmm Charlie, kamu siap ga kalau saya tugaskan di Jakarta, di kantor cabang utama disana. Bantu pemasaran disana juga, sekalian handle nasabah baru kita yang cukup kompeten disana.”
“Saya sih ikut saja kalau diperintahkan kemana pun Kang Boss.”
“OK nanti kita bahas pada forum rapat dengan para Direksi dan kepala cabang yang lain, karena sampai saat ini jabatan kepala cabang utama di Jakarta masih kosong.”
“Serius boss ? Jadi saya mau dijadikan kepada Cabang Utama di Jakarta ?”
“Iya kenapa, kamu ga mau ?”
“Mmm ma mau banget dong kang boss.” Jawab Charlie dengan terbata-bata. Nata hanya tersenyum saat melihat tingkah Charlie tersebut.
“Kita parkir dekat warung saja yang disitu.” Tunjuk Nata saat mereka sampai di lokasi bakal pembangunan kampus.
“Siap Kang Boss.” Jawab Charlie lalu memarkirkan Rubicon Double Cabin warna hitam itu disamping warung kopi. Setelah mobil tersebut berhenti Nata lalu turun dari mobil tersebut dan langsung memasuki warung.
“Assalamualaikum, Teteh ada kopi ?”
“Waalaikumsalam, ada kopi sachet mau pak ?” Ucap sang penjaga warung tersebut, setengah terkejut atas kedatangan dari Nata yang tiba-tiba di warungnya yang terlihat masih sepi itu.
“Yang ada saja kopi hitam yaa Teh, Jangan panggil bapak atuh, emangnya saya sudah keliatan seperti bapak-bapak ?”
“Hehehe maaf atu Aa, mau bikin berapa kopinya ?
“Dua gelas dulu, gorengannya keliatan masih panas nih.”
“Iya Aa, silahkan mau pakai piring ?”
“Boleh, sendirian saja jualannya ?”
“Iya Aa, semenjak suami saya jadi TKI saya jualan sendirian saja disini.”
“Ohhh jadi TKI dimana suaminya ?”
“Di Malaysia, kerja di perkebunan katanya, tapi sudah dua tahun nih ga ada kabar dan belum pulang, eeehhh maaf kok jadi curhat.”
“Tidak apa-apa, Charlie kamu mau kopi apa ? aku sudah pesan kopi hitam nih.”
“Saya mau kopi susu saja Kang.”
“Yang satu lagi kopi susu katanya Teh.”
“Mangga Aa, saya masak air dulu supaya lebih enak kalau airnya mendidih, sambil menunggu minum teh dulu untuk menemani makan gorengannya.” Ucap sang penjaga warung lalu menyajikan air teh hangat di meja tempat jualannya itu untuk Nata dan Charlie.
“Hatur nuhun teh, sudah lama jualan disini ?”
“Sami-sami Aa, ada sekitar lima belas tahun yang lalu, dulu warung ini yang jualan Emak sama Bapak saya, sekarang saya yang meneruskan.”
“Ohhh lama juga yaa. Tanah dan bangunan warung ini punya Emak dan Bapaknya Teteh juga ?”
“Ohhh bukan, kami hanya numpang disini, Aa berdua ini dari mana ? saya baru lihat.”
“Ohh kami dari Bandung. Nanti kalau ada yang nyuruh teteh Pindah dari sini jangan mau yaa.”
“Kok ga mau ? itu mah terserah yang punya tanah disini saja atuh Aa, kami kan hanya numpang. Hihihi.”
“Memangnya tanah ini milik siapa teh sekarang ? kalau boleh tahu.” Tanya Nata sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Charlie, sebagai kode agar Charlie tetap tidak berkomentar, Charlie pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.
“Aduh saya ga tahu, tapi dengar-dengar katanya sudah dijual sama orang kota Bandung, saya kenal, itu juga kata pak Lurah yang beberapa minggu yang lalu pernah mampir ngopi disini.”
__ADS_1