
“Kang tadi pagi kamu bilang akan melamar kami jika legalitas sudah selesai.” Sabrina berbicara sambil menatap matanya Nata.
“Aku tidak bilang begitu kok, yang benar adalah bawawa aku akan menikahi kalian jika semua legalitas sudah selesai. Kalau melamarnya sekarang boleh saja kan ? karena aku takut juga kehilangan kalian, karena aku sayang terhadap kalian berdua.”
“Sebenarnya bukan cita-cita kami mempunyai suami bersama, apalagi dengan Sabrina yang sudah aku anggap seperti saudara kandung sendiri.” Jessy lalu mulai membuka suara lagi.
“Aku juga tidak bercita-cita mempunyai dua orang istri, namun aku tidak ingin salah satu dari kalian nanti terluka, jadi lebih baik aku pertahankan kalian dua-duanya sebagai calon istriku, calon dari ibu dari anak-anak kita dari rahim kalian. Sini aku pakaikan cincinnya.” Nata lalu menyematkan cincin itu dijari manis tangan kiri Jessy dan Sabrina. Kini Sabrina dan Jessy balas memeluk lagi Nata.
“Kang boleh kami lepas dulu cincin ini, karena sekarang kami akan membenahi ruko ini. aku takut nanti cincin yang baru saja kami kenakan menjadi rusak, iya kan Jess ?”
“Benar kang, nanti setelah kami selesai menata ruangan, akan kami kenakan lagi kok, tenang saja jangan khawatir terhadap kami kang. kami juga sangat sayang sama akang, apapun yang akang minta sekarang, akan kami berikan seluruhnya.”
“Ohhh aku tidak ingin sekarang, aku ingin kita sah dulu, aku tidak ingin menumpuk dosa, aku juga tidak ingin mengajak kalian turut bergelimang dosa bersamaku, bukan karena aku tidak ingin mencoba rasa kenikmatan itu, namun hal itu aku lakukan demi untuk menjaga harkat dan martabat kalian sebagai seorang wanita yang sangat aku hormati dan aku sayangi.”
“Kang, aku tidak kuat lagi, lebih baik kami mulai bekerja. Aku tidak ingin terus menjadi cengeng dihadapan calon suamiku, iya kan Sab ?”
“Benar Jess, bisa habis dalam sehari nih stock tissue kita, hahaha.” Jawab Sabrina sambil menghapus air mata bahagia itu dengan selembar tissue yang tersimpan di meja.
__ADS_1
“OK aku akan bantu kalian deh, apa yang bisa aku bantu kalian sekarang. ?”
“Tunggu saja kang, tunggu kami selesai menurunkan semua barang-barang ini, hari mulai gelap, lebih baik kita segera bergerak.” Jawab Jessy lalu mulai melangkah menuju truk kontainer yang sudah terparkir melintang menutupi jalan masuk menuju Ruko tersebut. Nata dan Sabrina lalu mengikuti langkahnya Jessy tersebut. Nampak Jessy menekan kunci remote Truck itu, lalu mulai mengeluarkan sebuah lampu LED besar yang bertenaga baterai. Kemudian dia mulai membuka pintu belakang kontainer itu. Setelah menyalakan lampu LED itu yang disandarkan ke tembok dinding pembatas bangunan. Lalu suara mesin hidrolik mulai terdengar, sebuah forklift lalu terlihat, turun dari kontainer tersebut. kemudian suara hidrolik lannya mulai terdengar lagi. Kini dinding samping kontainer mulai terbuka. Jessy lalu mengendalikan forklift bertenaga baterai itu lalu mulai menurunkan satu persatu barang yang lumayan sangat berat apabila diangkat oleh tenaga manusia.
Nata nampak sangat tergagum kagum saat melihat kegesitan dan ketepatan Jessy dalam menurunkan dengan penuh hati-hati semua barang dari dalam kontainer itu. Pantas saja tadi Jessy melarang dengan halus saat Nata berusaha membantunya. Namun untuk Sabrina yang sudah terbiasa melihat Jessy bekerja seperti itu hanya
tersenyum saja sambil terus memandah Nata yang masih terlihat takjub saat melihat Jessy bekerja itu.
Dalam waktu yang singkat semua barang sudah diturunkan, Jessy lalu menekan lagi remote nya. Kini semua sisi kontainer itu sudah tertutup. Begitu lama Nata tergegun saat memandangi cara kerja dari Jessy itu. sampai pada akhirnya suara panggilan dari Jessy menyadarkannya kembali.
“Oooohh ii iiya siap Jess.” Jawab Nata dengan tergagap-gagap dia lalu segera membuka dua pintu ruko itu. Sabrina dan Jessy pun tersenyum melihat tingkahnya Nata itu. Kini kedua pintu kaca Ruko itu sudah terbuka cukup lebar. Jessy lalu mulai memasukkan satu persatu semua barang kedalam Ruko tersebut, dengan forklift yang dikendarainya, semua barang yang berada dihalaman parkir Ruko lalu dalam sekejap dimasukan satu persatu kedalam Ruko oleh Jessy. Kegiatan mereka malam itu sangat aman karena terhalangi oleh terparkirnya kontainer yang melintang menutupi Ruko milik mereka itu.
“Wah mantap nih, tidak aku sangka sebelumnya ternyata Jessy seperti hulk wowan kalau sedang beraksi seperti itu, hehehe.” Puji Nata yang segera ditimpali oleh Sabrina.
“Hahaha, bisa aja kamu kang.” Sabrina pun tertawa mendengar celotehan Nata tersebut.
“OK semua barang sudah aku masukkan, silahkan kalian bongkar satu persatu berurutan sesuai dengan nomor yang tertera di setiap paletnya. Aku mau memarkirkan dulu truk ini ke tempat yang lebih aman.” Jessy lalu mengambil lampu LED yang tadi disenderkan di dinding.
__ADS_1
“Iya Jess hati-hati di jalan yaa.”
“Iya kang.” Jessy kemudian berlalu mengemudikan truk kontainer itu, entah mau diparkir kemana, hanya Jessy yang tahu tentang hal itu, yang jelas sekarang halaman parkir Ruko itu kini menjadi lenggang kembali.
Nata lalu menghampiri semua palet yang sudah diturunkan oleh Jessy, Nata dan Sabrina lalu mengambil alat-alat yang berada diatas palet nomor satu itu. Alat-alat itu untuk membuka semua palet yang kini berada di ruangan bekas toko itu. Ternyata isinya adalah semua barang furniture dan interior yang sudah dipesan oleh
Jessy. Dalam setiap palet pun tertera daftar items barangnya. Saat membuka palet yang ketiga Jessy sudah kembali berada di dalam ruko, kini dia mengendarai sebuah mobil bak terbuka. Papan papan palet yang sudah dibongkar itupun lalu segera ditumpuk diatas belalai forklift oleh Jessy lalu dibawa ke halaman dan di satukan di
dalam mobil bak terbuka itu. Agar tidak mengganggu yang sedang membongkar palet. Akhirnya palet yang terakhir atau palet yang ke sepuluh sudah selesai dibongkar oleh Nata dan Sabrina.
Kini didalam ruko itu sudah berbaris semua barang yang akan diterapkan di dinding, maupun disusun di setiap lantai bangunan ruko itu, sesuai dengan gambar desain interior yang diserahkan oleh Nata kepada Jessy. Aneka barang, berupa furniture, perabotan dapur, peralatan elektronik, satu persatu mulai terlihat, mereka tinggal menempatkan pada ruang yang sesuai dengan gambar desain yang sudah di berikan gambarnya oleh Nata. Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuh Nata, maupun Jessy dan Sabrina saat mereka baru sebagian menempatkan beberapa furniture dan barang-barang yang sudah masuk kedalam ruko milik mereka itu.
“Kita istirahat dulu yuk, besok kita lanjutkan lagi.” Ajak Nata yang kini terasa mulai lelah.
“Mobil bak kamu, disimpan saja dulu didalam parkiran basement kita Jess.” Lanjut Nata.
“Baiklah kang, kita juga sudah mulai lapar nih, tidak terasa sudah jam tujuh malam.”
__ADS_1