
Pukul tujuh pagi Charlie sudah berada di Ruko itu, dia sudah siap untuk mengantar Nata, Sabrina dan Jessy ke Bandara, sesuai dengan yang dipesankan oleh Nata.
“Charlie ini kunci mobilnya, nanti mobilnya kamu simpan saja di kantor pusat, dua hari kemudian kami akan kembali.”
“Siap Kang.”
Lalu Nata bersama Sabrina dan Jessy pergi dengan mengendarai Rubicon milik Nata tersebut menuju Bandara diantar oleh Charlie. Dengan hanya membawa satu traverler bag besar. Setelah mereka sampai di Bandara, Jessy lalu menanyakan ke bagian pemberangkatan di Bandara tersebut, tentang keberadaan pesawat yang sudah mereka sewa itu. Setelah mendapat jawaban, Jessy lalu menghampiri kembali Nata dan Sabrina yang sudah berada di lobby bandara.
“Kita masuk melalui pintu khusus untuk penerbangan charter kang, disana letaknya.” Ucap Jessy sambil jari telunjuknya menunjuk ke sebuah pintu yang dijaga oleh para petugas bandara.
“OK mari kita kesana sekarang.” Ajak Nata. Kemudian mereka melaporkan kepada para petugas di pintu khusus bandara itu. Para petugas pun lalu memeriksa pasport dan semua barang bawaan Nata berserta Sabrina dan Jessy, setelah selesai merekapun dipersilahkan untuk memasuki sebuah hanggar pesawat. Disana, di hanggar itu sudah menunggu pesawat charteran mereka. Dua orang Pilot dan Co-pilot menghampiri Nata, Sabrina dan Jessy.
“Kenalkan saya Rivai, Pilot pesawat ini dan ini Co-pilot saya, Abdurahman.”
“Ohh baik, saya Nata tanpa de coco, dan ini kedua calon istri saya Sabrina dan Jessy. Hehehe.” Ucap Nata untuk mencairkan suasana sambil tersenyum.
“Haha Pak Nata ini pandai bergurau, mari silahkan naik ke pesawat.”
Merekapun lalu naik ke pesawat tersebut, diiringi decak kagum dari Sabrina dan Jessy yang baru kali ini menaiki pesawat private jet tersebut. Didalam Pesawat mereka disambut oleh dua orang Pramugari cantik.
“Selamat datang Bapak dan Ibu, semoga menikmati penerbangan bersama kami.” Sapa salah seorang dari dua pramugari yang ada di pesawat itu.
“Terima kasih.” jawab Sabrina dan Jessy bersamaan.
“Mari saya bantu untuk menyimpan traveler bagnya Pak.” Ucap seorang pramugari yang seorang lagi, lalu meraih traveler bag dari tangannya Nata.
“Terima kasih.” Jawab Nata juga.
Kemudian mereka duduk di kursi penumpang yang interior serta tempat duduknya terlihat sangat nyaman, mewah dan elegan. Membuat Nata, Sabrina dan Jessy bagaikan Raja dan Ratu selama mereka terbang dengan pesawat tersebut. Ditengah perjalanan Nata, Sabrina dan Jessy disuguhkan dengan hidangan makan siang oleh kedua Pramugari tersebut. Nata Jessy dan Sabrina sangat menikmati hidangan makan siang tersebut. Karena penerbangan yang menempuh waktu selama hampir sepuluh jam dengan private jet tersebut, dua orang pramugari tersebut menyiapkan dua kali menu makanan untuk makan siang serta makan malam di dalam pesawat itu. Sesampainya di Bandar Udara Internasional King Abdulaziz, Nata bersama Sabrina dan Jessy lalu mencari penginapan terdekat. Mereka memilih penginapan yang sangat dekat dengan Masjidil Haram, sesudah mereka sampai di penginapan, Nata lalu menghubungi salah seorang relasinya yang berada di Makkah itu. Oleh relasinya tersebut lalu ditunjukkanlah seseorang yang sudah terbiasa menikahkan pasangan di Masjidil Haram. Relasinya yang bernama Anwar itupun bersedia untuk menjadi saksi atas pernikahan Nata dengan Sabrina dan Jessy. Merekapun lalu bersepakat bahwa besok pagi setelah selesai Sholat Subuh di Masjidil Haram akan bertemu untuk melaksanakan akad nikah tersebut.
__ADS_1
“Kalian mau berbelanja ? ayo aku antar.”
“Hehehe, mau dong kang. Jadi bagaimana Penghulunya sudah siap kang ?” Tanya Sabrina.
“Sudah, besok pagi kita menikahnya.”
“Kang nanti bulan madu kita kesini lagi yaa, kita sekalian ibadah Umroh atau Haji saja disini.” Usul Jessy.
“Sungguh kamu pengen berbulan madu disini ?”
“Iya sepertinya nyaman dan sangat religius banget suasananya, iya kan Sab.” Jawab Jessy lalu melirik ke arah Sabrina.
“Iya aku juga sangat betah disini, ayo sekarang kita cari baju untuk kita kenakan besok.” Ajak Sabrina dengan penuh semangat. Mereka pun lalu turun dari kamar hotelnya, kini mereka membaur dengan masyarakat di kota Makkah tersebut di sebuah pertokoan, Sabrina dan Jessy lalu memilih pakaian yang akang mereka kenakan besok, meskipun sebenarnya sudah ada pakaian yang dibawa dari Indonesia sebelumnya, yang disimpan di traveler bag. Jessy dan Sabrina juga memilihkan pakaian untuk dikenakan oleh Nata. Tidak lupa mereka juga membeli masing-masing satu baju ihrom untuk dikenakan di Masjidil Haram.
Malam semakin larut di kota Makkah itu saat mereka sudah selesai berbelanja. Mereka lalu beristirahat di dalam kamar hotel. Untuk menunggu waktu, dengan iseng Nata membuka ponselnya, lalu mengalihkan dengan mode Wifi pada sambungan ponselnya itu, ternyata wifi disana tidak ber-password alias free, bisa dipakai oleh siapapun. Nata lalu dengan penasaran melihat CCTV di ruko miliknya itu. Suasana sangat sunyi dan sepi di Roko miliknya itu, karena perbedaan empat jam antara Arab Saudi dan Indonesia.
“Lagi ngapain sih kang ?” Tanya Sabrina.
“Pasti sepi.”
“Iya dong disana kan sudah jam dua malam. Yuk ahh tidur.”
“Ga tidur sama kami Kang ?”
“Hmmm besok saja, aku harus bangun pagi, kalau tidur sama kalian, nanti malah ga bisa tidur..“
“Ahh bisa aja akang, yaa sudah, Jessy malah sudah tidur dululan tuh.” Jawab Sabrina lalu berbaring di kasur yang sama dengan Jessy.
Nata pun mulai memejamkan matanya, semalam juga dia hampir tidak tidur. Kini rasa kantuk sangat melandanya. Demikian juga dengan Sabrina, Jessy malah sudah tidur lebih dulu.
__ADS_1
Pukul empat pagi waktu setempat, Nata terbangun karena bunyi alarm dari Ponselnya. Nata lalu melirik kedua calon istrinya yang masih pulas tertidur. Dia lalu bangkit dari tempat tidurnya, menuju ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Lalu mengenakan baju Ihram, bersiap untuk sholat Subuh di Masjidil Haram.
“Mau ke Masjid kang ?” Tanya Jessy yang terlihat sudah bangun lebih dulu.
“Iya, nanti kalian susul aku saja yaa, aku tunggu dekat sumur zamzam.”
“Iya kang, nanti kami akan menyusul kesana.”
Nata lalu pergi dari kamar hotel tersebut, untuk menuju ke Masjidil Haram, dia juga ingat sudah ada janji dengan Anwar, lelaki teman sesama kampus saat berkuliah di Amerika, yang saat ini bermukim di Arab Saudi pengembangkan usaha dibidang traveler dan tour. Setelah selesai Sholat Subuh, Nata lalu bertemu dengan Anwar di dekat sumur air Zamzam. Anwar lalu memperkenalkan salah seorang sahabatnya yang juga merupakan seorang penghulu yang sering menikahkan pasangan di Masjidil Haram itu.
“Siapa nama calon istrimu itu ?” Tanya Anwar.
“Sabrina Lawrensky, Binti Karl Lawrensky, asal Kanada dan Jessy Nakamura, binti Kenzi Nakamura, asal Jepang. Mereka sudah lama bermukim di Indonesia, bahkan sudah menjadi warga negara Indonesia.” Jawab Nata.
“Oh calon istrimu itu dua orang.” ucap Anwar lalu mencatat semua informasi awal itu dengan menggunakan ponselnya.
“Iya, ga masalah kan ?”
“Tidak, kapan mereka kemari ?”
“Sebentar lagi, tadi kami berjanji bertemu disini, tuh mereka.” Jawab Nata lalu menunjuk Sabrina dan Jessy, kemudian melambaikan tangannya kepada mereka berdua.
“Nah karena sudah lengkap semua, mari kita masuk kembali ke dalam masjid, kita lakukan disana ijab kabulnya.” Ajak Anwar, setelah melihat kedatangan Sabrina dan Jessy yang juga kini mengenakan baju irhram. Akad nikah secara sederhana itu pun dimulai, dengan penuh khidmat. Bahkan tidak disangka oleh mereka banyak jamaah pengunjung masjidil haram itu turut duduk dan mengucapkan selamat kepada Nata, Sabrina dan Jessy, seolah mereka itu saksi dadakan yang jumlahnya sangat banyak dan entah datang dari mana. Sesudah acara ijab kabul tersebut lalu Nata berpamitan kepada Anwar dan penghulu berkebangsaan Arab itu. Para saksi yang tadi terlihat sangat banyak, kini seolah lenyap tak bersisa, hanya terlihat ribuan orang sudah kembali melaksanawan tawaf mengelilingi ka’bah.
“Nanti aku kirimkan ke kamar Hotel, surat keterangan menikahnya kepadamu Nata.” Ucap Anwar.
“Baik terima kasih atas semua bantuannya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Sama-sama semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah Warohmah.”
__ADS_1
“Aamiiin. Mari sayang kita ke kamar hotel lagi.” Ajak Nata kepada Sabrina dan Jessy yang kini sudah sah secara agama menjadi istrinya. Beberapa foto saat mereka menjalankan akad nikah pun kini menjadi bukti dan saksi atas proses menikahnya mereka di Masjidil Haram itu. Suasana hati yang dirasakan oleh Sabrina dan Jessy sangat plong, ringan tanpa beban lagi. Rasa haru, bahagia, senang, suka cita berbaur berkecamuk di dalam hati mereka. Nata yang sedang menggandeng tangan Jessy dan Sabrina juga demikian. Kini dengan sangat erat memegang tangan kedua istrinya yang sangat dicintainya itu.