Tangguh

Tangguh
Bab 53 Ke Dokter Ahli Kandungan.


__ADS_3

“Sabrina...... Jessy !” Pekik Nata pada saat dia sedang menggosok gigi di hadapan cermin, setelah mereka selesai sholat Subuh. Namun Sabrina dan Jessy segera masuk ke dalam lift pura-pura tidak mendengar teriakan dari Nata Suaminya itu.


“Sepertinya akang sedang mengosok gigi tuh.”


“Iya Jess, pasti dia melihat bayangan di cermin yang ada diatas wastafel itu, biarkan saja deh, hihihi.”


“Dia marah banget kayaknya, tenang nanti yang jawab, dia juga sudah membuat tubuh kita seperti itu, sehingga kita waktu tempo hari jadi sangat malu saat mau dirias oleh penata rias kita. Untung saja kita memakai baju yang sangat tertutup. Saat berada di pelaminan. Hehehe.”


“Sudah, lebih baik kita memasak saja kalau begitu, siapa tahu nanti dengan masakan kita yang enak membuat akang kita lupa atas tanda bibir kita di sekujur tubuhnya.”


“Hehehe, iya Sab. semoga.”


Sementara itu di kamarnya, Nata sedang berdandan memakai setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu hitamnya yang mengkilat pada hari pertama memimpin sebagai pemilik Bank NSP di kantor Pusat.


“Huff untung saja tidak ada jejak bibir mereka di leherku.” Guman Nata lalu turun ke lantai satu tanpa menggunakan lift, dia mampir dulu untuk mengambil laptop yang sudah dua hari berada di ruang karaoke, setelah laptop itu dimasukkan kedalam koper samsonite-nya dia lalu turun menuju ruang makan yang terletak di lantai satu Ruko itu. Suara sepatu Nata yang terdengar nyaring saat berjalan di lantai keramik itu terdengar oleh Jessy dan Sabrina yang baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Dari dalam dapur lalu Sabrina dan Jessy menghampiri Nata yang sudah duduk di kursi meja makan tersebut sambil membaca beberapa berita melalui ponselnya.


“Wow keren, ganteng banget suami kita Sab.”


“Iya Jess, untung saja kita sarapan paginya ga masak Sotong, nanti bikin belepotan kemeja  dan jas-nya yang sudah kinclong itu. hehehe.”


Jessy dan Sabrina lalu meletakan semua hidangan yang sudah dimasaknya pada pagi hari itu dari dapur. Hal itu membuat Nata menghentikan kegiatannya dalam memelototi ponsel yang digenggamnya itu, selera makannya langsung meningkat tajam begitu melihat semua hidangan yang disajikan di meja makan oleh Sabrina dan Jessy itu. Nata langsung memimpin doa untuk santap sarapan pagi hari itu bersama kedua istrinya. Setelah itu tanpa banyak komentar lidahnya langsung bergoyang, gerahamnya langsung mengunyah tiap suapan dari sendok. Hingga pada akhirnya dia merasa cukup kenyang, makanan diatas piringpun kini tanpa ada sisa makanan lagi.


“Alhamdulillah, masakan kalian berdua sangat enak dan lezat. Apa sih bumbunya ?” Tanya Nata dengan penasaran.


“Bumbunya adalah kasih sayang dan cinta buat akang dari kami berdua. Hehehe.” Jawab Sabrina yang belum selesai makan.


“Wah ada bumbu rahasia itu ternyata. Pantas saja sangat enak. Kalian berdua mau ikut ke kantor ga ?”


“Ikut dong kang, kami sudah siap kok, tinggal tancap make up saja sebentar.” Jawab Jessy.


“Iya nanti jangan lupa pulangnya ke dokter kandungan yaa kang.” Sabrina pun turut bicara saat dia sudah selesai makan sarapan pagi bersama Jessy dan Nata itu.


“Nanti siang, ada dari dealer motor matic kemari kang. Bagaimana kalau nanti pada jam istirahat aku kemari dulu untuk menerima mereka ?” Tanya Jessy mengingatkan.


“OK bagi tugas saja, kamu selesaikan urusan dengan dealer motor itu, setelah itu kamu boleh nyusul kami kembali ke kantor atau menunggu disini sampai kami pulang sore harinya.” Jawab Nata.


“Aku nunggu disini saja kang, karena agak pening juga kepalaku, biasa kalau hari pertama datang bulan suka begini, mungkin karena sedang banyak-banyaknya.” Jessy pun pada pagi hari itu terlihat wajahnya begitu pucat. Nata lalu menghampiri Jessy.


“Kamu mau kan kalau minum obat tambah darah yaa sayang.” Ucap Nata sambil membelai puncak kepalanya Jessy


“Di kotak obat persediaan kita masih ada kan obat-obatan itu ?” tanya Nata.


“Ada kang dekat kotak penyimpanan kunci mobil.” Jawab Sabrina. Nata lalu berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Sabrina lalu membawa beberapa butir obat penambah darah dan penghilang rasa nyeri untuk Jessy.


“Ini kamu minum dulu obatnya, lebih baik kamu ga usah ke Kantor dulu deh.”


“Enggak kang, ini hari pertama kita ngantor, biar nanti minta antar saja ke Charlie untuk pulang kemari, masih bisa jalan kok, tenang saja kang.” Jawab Jessy lalu meminum obat yang diterimanya dari Nata itu.


“No, jangan merepotkan Charlie dia sudah banyak tugas hari ini dariku, biar aku saja sekalian keluar dari Kantor.”


“Terima kasih kang.” Jawab Jessy dengan terharu karena Nata begitu perhatian kepadanya. Nata lalu mengecup bibirnya Jessy.


“Sama-sama, Jessy sayang, aku sayang sama kalian berdua.” Ucap Nata lalu bergantian mengecup bibirnya Sabrina.


“Inilah yang membuat kami jatuh hati terhadap akang, karena perhatian akang kepada kami sangat tulus. Iya kan Jess ?” Ucap Sabrina.


“Benar bestie, sudah ganteng, tampan, sholeh, baik hati dan mmpppphh.” Jessy tidak bisa melanjutkan lagi kata-katanya karena kini mulutnya telah dibungkam kembali oleh bibirnya Nata.


“Jangan terlalu memuji seperti itu, jangan membuatku menjadi terlena Jessy sayang. Ayomari kita berangkat ke kantor.”


“Sebentar, kita bereskan dulu semua piring ini.” ucap Sabrina.


“Biar aku saja nanti yang membereskannya Sab.” Cegah Jessy.

__ADS_1


“Ohh ok. Kami mau merapihkan dulu make up nya deh.” Ucap Sabrina lagi sambil mengeluarkan peralatan make up dari tasnya.


“Aku tunggu di basement yaa.” Ucap Nata sambil meraih koper Samonite miliknya.


“Pakai mobil Mercedes aku saja kang, sudah lama tidak dipanaskan.” Pekik Sabrina, lalu melanjutkan memoles bibirnya dengan lipstik warna pink.


“Iya Sabrina sayang.” Nata lalu meraih kunci mobil Mercedes Silver itu dari kotak penyimpanan kunci. Nata mulai menyalakan mobil itu dari dalam basement, setelah itu dia membuka pintu gerbang basement dengan menggunakan aplikasi ponselnya. Tak lama kemudian Jessy dan Sabrina datang menghampiri Nata dan masuk kedalam mobil Mercedes Silver itu.


“Aku duduk di belakang saja yaa.” Ucap Jessy lalu duduk sambil menyandarkan diri dengan nyaman di jok penumpang belakang mobil mercedes itu.


“Itu Erna mau pergi juga, ajak naik ke mobil ini saja.” Tunjuk Sabrina saat mobil yang mereka tumpangi keluar dari basement itu. Nata lalu menghentikan kendaraannya, lalu menutup lagi pintu gerbang basement dengan aplikasi dari ponselnya.


“Erna sini naik.” Pekik Jessy sesudah jendela mobil mercedes dibukanya.


“Biar kak, saya mau pakai Ojol saja.” Jawab Erna yang berdiri disamping mobil mercedes silver itu.


“Ayolah, sekalian kami saja, bersama kami pergi ke kantornya.” Jessy kembali memaksa Erna untuk memasuki mobil itu dia bahkan membukan pintu mobil itu untuk Erna. Dengan sikap malu-malu dan sungkan lalu Erna memasuki mobil itu. Setelah pintu ditutup kembali Nata lalu melanjutkan mengemudikan mobilnya menuju ke kantor pusat Bank NSP itu.


“Yadi berangkat ke kampus yaa ?” Tanya Nata dari jok pengemudi.


“Belum Pak. Dia tadi aku lihat sedang merapikan draft skripsi yang sedang diajukan kepada dosennya. Katanya nanti siang dia menghadap dosen untuk bimbingan skripsinya itu.” Ucap Erna menjelaskan dengan terperinci tentang kondisi kakakya yang sedang menyusun skripsinya itu.


“Semoga cepat selesai yaa dan siap bekerja di kantor membantu Charlie.” Ucap Sabrina yang duduk di jok penumpang depan disampingnya Nata itu.


“Aamiin mohon do’a-nya saja Sis.”


“Nanti juga kamu ikut program kuliah kelas karyawan. Kalau butuh sesuatu bilang saja sama Jessy atau Sabrina.” Ucap Nata.


“Baik pak, terima kasih.” Jawab Erna.


“Kalau kamu nanti mau melanjutkan kuliah, mau ambil jurusan apa Na ?” Tanya Jessy yang duduk disamping Erna itu.


“Ehmm Teknik Informatika saja, untuk melanjutkan ilmu yang sudah saya miliki sebelumnya kak.” Jawab Erna lagi sambil menundukkan kepalanya masih dengan sikap penuh malu-malu saat berada di mobil pemilik bank tempat dia kini bekerja sebagai operator EDP di Bank NSP itu.


“Tolong parkirkan di basement yaa.” Ucap Nata sambil membawa koper samsonite nya lalu menyerahkan kunci mobil kepada salah seorang petugas yang menyambutnya itu.


“Baik Pak.” Jawab seorang petugas sekuriti itu lalu masuk ke dalam mobil dan memarkirka kendaraan ke dalam basement, sesuai dengan perintah dari Nata selaku pemilik bank tersebut.


“Saya mohon ijin masuk ruangan dulu kak.” Ucap Erna kepada Jessy.


“Nanti sore kami tunggu di rumah yaa, ajak kakakmu Yadi juga.”


“Baiklah kak.” Ucap Erna lalu memasuki ruangan kerjanya yang berada di lantai satukantor pusat bank tersebut. Sedangkan Nata yang didampingi oleh Sabrina dan Jessy naik ke lantai empat, tempat ruangan kantornya berada. Beberapa Karyawan, Staf dan Direksi nampak sibuk membenahi ruang kerjanya masing-masing di hari pertama mereka mulai beroperasi kembali itu. Begitu juga dengan charlie yang berada di lantai tiga yang tengah mengadakan briefing sehubungan dengan sistem operasional baru yang sudah diterapkan di Bank NSP tersebut. Nata, Sabrina dan Jessy kini duduk meja kerja pada tiga buah ruangan yang mempunyai connecting door khusus dibelakang ruang kerjanya itu. Dibelakang ruang kerja mereka juga ada sebuah kamar untuk beristirahat bagi Nata, Sabrina maupun Jessy.


Pagi hari itu Nata, Sabrina dan Jessy sangat sibuk dengan membalas begitu banyaknya email yang diterima oleh mereka, email yang  berupa ucapan selamat dari beberapa kolega, teman dan rekan bisnisnya. Email yang sudah dibuat khusus dengan domain sesuai nama bank mereka itu. Pagi hari sampai menuju siang hari terasa begitu singkat oleh mereka.


Pada siang harinya, Nata dengan didampingi oleh Sabrina dan Jessy kembali ke Ruko mereka sekalian makan siang dulu disana. Setelah selesai makan siang Nata dan Sabrina keluar lagi dari Ruko tersebut, dengan tujuan untuk menemui Dokter kandungan, guna memeriksa keadaan Sabrina yang sudah terlambat datang bulan itu. Jessy sesuai dengan keinginan juga tugasnya untuk sementara tidak turut serta mendampingi Sabrina. Jessy kini sedang menunggu tamu dari dealer motor, motor matic yang nantinya akan diberikan kepada Erna dan Yadi.


Nata dan Sabrina saat ini sudah berada disebuah halaman parkir rumah sakit bersalin, mereka memang sudah menelepon terlebih dahulu dokter yang akan memeriksa kandungan Sabrina itu.


“Aku nervous kang.” Ucap Sabrina saat mereka duduk menunggu giliran untuk dipanggil di ruang tunggu pasien yang akan diperiksa oleh dokter ahli kandungan itu.


“Tenang saja Sabrina sayang, aku kan ada disampingmu.” Jawab Nata seraya mempererat memegang jemari tangannya Sabrina.


“Nyonya Nata silahkan masuk.” Ucap seorang suster memanggil Sabrina untuk mempersilahkan memasuki ruang periksa. Tangan Sabrina semakin erat memegang telapak tangan Nata saat memasuki ruang periksa itu. Seorang dokter cantik berjilbab nampak duduk menunggu kedatangan mereka di depan meja kerjanya.


“Selamat datang Nyonya Nata.”


“Panggil saja saya Sabrina, Dokter.”


“Baiklah Bu Sabrina, silahkan berbaring di tempat tidur periksa.”


“Boleh ditemani oleh suami saya dokter ?”

__ADS_1


“Ohhh boleh. Panggil saja saya Nissa bu, bu Sabrina sudah lama tinggal di Indonesia ?” Jawab Dokter yang didada kirinya tertera nama Dr. Khaerunissa SpK.


“Saya memang lahir di Kanada namun sejak umur satu tahun saya sudah tinggal bersama ibu saya di Indonesia, Dokter Nissa.” Jawab Sabrina, yang kini tangannya semakin berkeringan saat menggenggam telapak tangan Nata yang duduk disamping tempat tidur tempat dia berbaring itu.


“Ohh pantas saja bahasa Indonesianya sangat fasih dan lancar. Maaf saya buka kancing bajunya yaa.”


“Silahkan dokter Nissa.” Jawab Sabrina lalu menatap Nata yang sedang duduk disampingnya seolah meminta kekuatan doa dari suaminya itu. Peralatan yang lengkap itu kini mulai dinyalakan oleh Dr. Khaerunissa SpK. Jel mulai dilumuri di peralatan dan perut Sabrina yang putih mulus serta langsing itu.


“Ohhh ternyata memang benar, Bu Sabrina terlambat datang bulan karena kini sudah ada calon janin, sebentar saya perbesar dulu yaa fokusnya.” Ucap Dokter cantik itu.


“Nah sekarang lebih jelas lagi, masih sebesar biji kacang merah.” Ungkap Dokter Khaerunissa lagi. Nata dan Sabrina lalu turut menatap monitor yang berada disamping pembaringan itu. Sabrina lalu meneteskan air mata bahagianya.


“Itu anak kita kang ?”


“Benar sayang, dokter boleh minta di print hasilnya ?” Ucap Nata dengan sangat senangnya.


“Ohhh boleh Pak Nata, anak pertama yaa ? Selamat yaa, tolong nanti jangan terlalu sibuk dan kerja berat dulu Bu Sabrina-nya yaa pak.”


“Iya baik dokter, terima kasih atas ucapan selamatnya.”


“Sama-sama Pak. Nata. Apakah selama ini ada rasa mual atau pusing  Bu ?”


“Tidak ada Dokter, saya justru merasa normal saja, tidak mengalami hal apapun. Hanya saja sekarang kok saya lebih menyukai bahan makanan yang berasal dari susu, seperti keju, yogurt.”


“Ohhh memang tidak semua perempuan mengalami rasa mual, tergantung kondisi dari ibu hamil tersebut, namun saya berikan resep berupa vitamin untuk menambah vitalitas dan stamina, juga penghilang rasa mual, jika nanti merasakannya.


Kalau sekarang lebih suka makanan tersebut, itu namanya ngidam bu.” Jawab Dr. Khaerunissa SpK. Dengan jelas dan gamblang menerangkan kondisinya Sabrina itu.


“Terima kasih banyak yaa dokter. Sayang kita akan punya anak.” Ucap Nata sambil menatap Sabrina lebih dalam lagi. Tatapan yang mencerminkan rasa bahagia tak terhingga pada istri yang sangat dicintainya itu. Jemari Nata meremas dengan halus jemarinya Sabrina yang halus itu.


“Iya sama-sama pak Nata. Ini resepnya nanti bisa dibeli di apotik mana saja.”


“Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yaa Bu Dokter.” Ucap Sabrina lagi.


“Sama-sama jaga kehamilannya yaa bu, jangan terlalu lelah bekerja.”


“Baiklah dokter. Kami mohon pamit.” Ucap Nata lalu membantu merapikan pakaian dan kerudung yang dikenakan oleh Sabrina itu. Setelah itu Nata lalu menuju ke loket pembayaran, kemudian membelikan resep yang tadi di berikan oleh dokter kandungan itu di sebuah apotik yang masih berada didalam komplek bangunan rumah sakit bersalin itu.  Kini Nata nampak lebih berhati-hati lagi memapah istrinya menuju ke dalam mobil yang diparkirkan di halaman parkir depan rumah sakit itu.


“Kang tidak perlu begini juga, aku masih bisa jalan sendiri kok.” Protes Sabrina, saat Nata membantu membukakan pintu mobilnya.


“Hehehe maaf sayang, abisnya aku senang banget deh.” Nata lalu duduk di belakang kemudi. Kemudian menatap lagi pada wajah Sabrina yang sangat cantik mempesona itu.


“Ayo jalan kang.”


“Sebentar sayang, aku merasa ini seperti mimpi, tolong cubit aku deh.”


“Nih Aku cubit.” Ucap Sabrina lalu mencubit hidungnya Nata.


“Ohhh benar, ini bukan mimpi. Terima kasih yaa Sabrina ku sayang.” Nata lalu mendekatkan bibirnya dan ******* bibir tipisnya Sabrina yang merah muda itu. Sejenak Sabrina membalas semua ******* bibir dari Nata suaminya itu, lalu mendorong dadanya Nata.


“Kang ini di tempat parkir, mobil ini bagai aquarium, semua orang dapat melihat kita sedang berciuman disini.” Ucap Sabrina mengingatkan Nata.


“Biarkan saja, kita kan suami istri.”


“Aku yang malu dong kang.” ucap Sabrina sambil menundukkan kepalanya.


“Iya deh nanti kita lanjutkan di rumah saja yaa. hehehe.”


“Kita belum sholat Ashar lho kang.”


“Astagfirullah, aku sampai lupa.” Ucap Nata seraya melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore.


“Kita cari masjid terdekat disini yaa sayang. Terima kasih sudah diingatkan.” Nata lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit bersalin itu.

__ADS_1


“Iya kang.” Jawab Sabrina dengan tersenyum manis kepada Nata.


__ADS_2