
Semua legalitas perusahaan dan Serah terima Bank satu persatu dilalui tanpa ada hambatan yang cukup berarti. Dengan perlahan tapi pasti, grafik progress pekerjaan mulai menaik seiring dengan berjalannya waktu dan pencapaian semua persiapan pekerjaan yang ditangani oleh Tiga Serangkai Nata, Sabrina dan Jessy. Nata, Sabrina dan Jessy yang sudah mengirimkan CV (Curiculum Vitae) berserta lampirannya kepada Pak H. Mumuh itu kini secara resmi dan tercatat namanya di dalam akte perubahan pendirian Bank, selaku Pemilik dari Bank tersebut. Pada akta perusahaan juga dicantumkan bahwa bank yang sudah mereka miliki saat itu adalah merupakan salah satu dari sekian banyak bidang usaha yang mereka jalankan, sesuai dengan yang tercantum didalam akte perusahan tersebut.
Hari ini Nata dengan ditemani oleh Sabrina dan Jessy sedang melihat bangunan yang akan dijadikan kantor Pusat untuk perusahaan mereka itu. Bangunan yang nampak masih baru itu demikian megah dan mentereng berada di pusat kota. Bangunan berlantai lima itu memiliki dua lantai basement sebagai tempat parkir. Walaupun sebelumnya sudah melihat foto kiriman dari Jessy dan Sabrina, tetap saja Nata sangat penasaran dan ingin mengunjungi bakal tempat kerjanya nanti. Setiap lantai mulai dari basement hingga ke lantai paling atas yaitu lantai lima di masuki tiap ruangannya.
“Jessy nanti kamu tunjuk lagi desainer interiornya, kali ini jangan kamu langsung yang mengerjakannya. Datangkan langsung pada kesempatan pertama, langsung menemuiku nanti di Ruko.”
“OK siap Kang Boss.” Jawab Jessy.
“Akang sudah punya gambaran awal untuk merencanakan desain interiornya ?” Tanya Sabrina.
“Sudah, Pertama aku ingin nanti di lantai lima itu dijadikan masjid, masjid yang setiap hari dijadikan tempat ibadah setiap harinya oleh semua karyawan kita. Untuk lantai empat nanti akan kita jadikan ruang komisaris. Lantai tiga ruang beberapa staf, lantai dua dan lantai satu sebagai Bank customer publik room, tempat biasa bertransaksi antar bank atau antar kantor cabang, sekaligus sebagai pusat pelayanan untuk seluruh cabang di kantor pusat bank milik kita nanti.”
“OK Kang, besok jadwal kita untuk bertemu dan melakukan transaksi sekaligus membuat berita acara serah terima jual beli gedung ini di kantor Notaris.” Ucap Jessy.
“Jam berapa Jess ?”
“Jam sembilan pagi kang.”
“Kalau bisa, sekalian dengan serah terima jual beli lahan kosong yang kamu tunjukan itu Jess.”
“Bisa kang, kalau untuk itu bisa kapan saja, baiklah aku akan menghubungi pemiliknya sekarang.” Jawab Jessy lalu sambil berjalan keluar gedung mulai menelepon pemilik lahan kosong itu. Agar besok pagi bisa sekalian bertemu di Kantor Notaris.
“Baiklah sekarang kita lanjutkan meninjau lahan kosong yang akan kita bangun untuk sekolah atau kampus.” Ajak Nata. Lalu mereka berpamitan kepada sekuriti penjaga gedung itu. Mereka mulai naik lagi ke mobil double cabin milik Nata. Rubicon double cabin itupun kini mulai membelah jalan menuju ke lokasi yang sudah dicatat alamatnya oleh Jessy itu. Mereka pun sudah mulai meninggalkan pusat kota Bandung menuju ke arah barat.
Disebuah kawasan yang berbatasan antara Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat mereka berhenti. Terlihatlah sebuah lahan kosong yang datar dan terhampar luas berdekatan dengan jalan tol Cipularang.
“Ini dulu bekas kebun kang, luasnya sekitar sepuluh hektar. Pada awalnya akan dijadikan peternakan ayam, namun gagal karena pada masa pandemi hampir semua lapisan masyarakat mengalami resesi selama dua tahun itu.” Ungkap Jessy.
“Ohh baiklah, lalu status tanah ini sekarang sudah memiliki sertifikat Akta Tanah ?”
“Sudah kang, karena sebelum akan dijadikan peternakan ayam dan unggas lainnya sudah dilakukan sertifikasi atas tanah ini, namun seperti sekarang akang lihat sekarang semuanya menjadi terbengkalai.” tambah Jessy.
“Sangat disayangkan sekali, kalau luasnya sepuluh hektar artinya jika dijadikan meter persegi menjadi 100.000 m2 yaa ?”
“Benar kang seratus ribu meter persegi konversinya dari sepuluh hektar.” Jawab Sabrina.
“OK sebelumnya aku sudah membuat sket dengan luas tanah tersebut, namun aku belum memastikan bentuk dari luasan poligon tanahnya ini.”
“Kan sudah tergambar dalam foto copy sertifikat yang sudah pernah aku berikan kepada akang.” Jawab Jessy.
__ADS_1
“Maksud ku bentuk polygon luasan hasil dari pengukuran akhir nanti Jess, agar kita bisa dengan mudah membuat blok planner nya atas seluruh bangunan yang nanti akan kita bangun. Nanti tolong cari juru ukur untuk membantu kita secara real menghitung kembali seluruh lahan ini Jess.”
“OK Siap Kang Boss.”
“Pembangunannya akan kita rencanakan sesudah Bank mulai berjalan operasionalnya dibawah kendali kita, atau setahun sesudah lounching. Namun segera kita beli sekarang lahan ini, karena aku tidak ingin disalip atau didahului oleh orang lain yang kemungkinan juga berminat dan mengincar lahan strategis ini.”
“Bisa besok juga kang, sekalian dengan gedung Kantor Pusat Bank kita.” Jawab Jessy.
“OK boleh, lebih cepat lebih baik tuh. Setelah ini waktu aku berikan kepada kalian, silahkan kalian mau apa saja sebutkan. Mumpung hari masih pagi.”
“Ke tempat WO aja yuk kang.” ajak Sabrina
“Iya kang, supaya kita bisa menyamakan persepsi dengan pihak WO.” tambah Jessy.
“Hmmm boleh tuh. Setelah itu kita makan siang yaa. Sabrina kamu pegang mobil nih, kamu yang nyetir.” Ucap Nata lalu menyerahkan kunci mobil kepada Sabrina.
“Hehehe. Belum pernah aku nyetir mobil jeep, tapi dicoba deh.” Kekeh Sabrina.
“Iya aku mau duduk di belakang, silahkan kalian di depan berdua.” Lalu Nata mulai naik ke pintu belakang, berada didalam kabin dengan fasilitas lengkap itu. Nata lalu meraih beberapa botol minuman ringan, yang dua botol diberikan kepada Jessy dan Sabrina. Lalu terdengar Jessy memberikan instruksi kepada Sabrina bagaimana caranya mengendalikan mobil itu. Persis bagaikan seorang instruktur di sekolah mengemudi mobil.
“Banyak banget handle nya. Hehehe.“
“Namanya juga mobil mainan cowok Sab. Nanti aku ajak deh kamu off road ke luar kota, sekali-kali.” Ucap Jessy.
“Boleh, kalian mau mobil yang seperti ini ? ada kok yang matic nya juga.”
“Mau sih, kalau dikasih sama akang. Hehehe.” kekeh Sabrina.
“Serius ? OK kalian boleh ambil masing-masing satu.” Jawab Nata dengan enteng.
“Aku mau yang long chasis matic warnanya merah.” Ucap Sabrina
“Kalau aku mau yang short saja, tapi manual, biar bisa menjajal tebing, warnanya kuning, hehehe.” Jawab Jessy. Nata pun tersenyum mendengar celoteh dua gadis cantik calon istrinya itu. Lalu berkata lagi.
“Tinggal panggil saja Yanti untuk datang ke Ruko kita. Urus sekalian sama kalian berdua sampai selesai, aku tinggal bayar saja.”
“Wah nanti aku bakal keliatan tomboy seperti Jessy dong kalau pakai mobil jenis seperti ini. hehehe.”
“Seperti rugi banget kamu Sab. kalau keliatan tomboy.”
__ADS_1
“Jelas rugi dong, masa sudah perawatan kulit dan tubuh lalu belepotan lumpur lagi untuk off road, hahaha.”
“Anggap saja lumpur juga sebagai perawatan alami untuk kulit kalian.” Ucap Nata menimpali dari jok penumpang belakang.
“Isshh beda dong akang ku yang ganteng, lumpur untuk perawatan sama lumpur di jalanan.” Protes Sabrina, sambil terus mengawasi jalan raya, menuju ke tempat WO itu berada.
“Yanti sudah jawab ok tuh, kapan mau lihat unitnya katanya ?” Ucap Jessy yang sedari tadi langsung menghubungi sales mobil bernama Yanti itu.
“Kita usah
ke dealer mobil Jess, sebutkan saja jenis yang sesuai dengan keinginan kita. Duh kita jadi ketularan sama akang kita nih Jess. Main panggil orang saja, hehehe.”
“Iya tuh. Kang .... ehhh dia tidur Sab.” Ucap Jessy setelah menengok ke jok penumpang belakang Nata nampak sedang tertidur dengan lelapnya.
“Hmmmm artinya dia nyaman tuh Jess, aku sopirin mobilnya, hihihi.” Jawab Sabrina sambil mengintip kaca spion dilihatnya Nata sedang pulas tertidur.
“Pantesan tadi minta di sopirin, ternyata dia ngantuk tuh.”
Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah ruko, yang terletak di jalan Setia budi. Tertera di depan gedung ruko itu nama WO tersebut.
”Akang kita mau dibangunin sekarang Jess ?” tanya Sabrina.
“Kamu masuk duluan tanya dulu deh Teh Putrinya ada ditempat ga, biar aku nunggu disini sama akang.”
“OK deh. Nanti aku telepon yaa, kamu bangunin Kang Nata nya.”
“Iya Sabrina.”
Lalu Sabrina turun dari mobil itu, untuk menemui sang pemilik WO itu. Beberapa menit kemudian terdengar dering telepon berbunyi. Jessy segera menjawab telepon dari Sabrina. Nata yang mendengar suara dering telepon itu kini terbangun.
“Uhgghh sudah sampai yaa Jess. Sabrina mana ?” Ucap Nata sambil meregangkan badannya.
“Nah ini Kang Nata nya sudah bangun Sab. kita naik deh kesana.” Lalu telepon pun ditutup.
“Kang kita sudah ditunggu sama Teh Putri tuh.”
“OK ayo kita turun.”
“Naik kang.”
__ADS_1
“Iya turun dulu dari mobil ini. hehehe.”
“Ehhh iya. Hihihi.”