Tangguh

Tangguh
Bab 18 Persiapan meeting.


__ADS_3

Sepuluh menit kemudian bel pintu ruko berbunyi, Nata lalu melihat ke layar monitor CCTV, dia melihat seorang kurir sedang berada di depan ruko sambil  menenteng kantong plastik besar.


”Pesanan kita sudah datang, yuk kita sekalian makan dibawah.” Ajak Nata. Jessy dan Sabrina segera turunm mengikuti langkah Nata ke lantai satu. Nata lalu membuka kunci pintu ruko itu, lalu memberikan sekedar uang untuk tips kepada kurir pengantar makanan itu. Kemudian Nata menghampiri meja makan di lantai satu itu, nampak Sabrina dan Jessy sedang menyiapkan alat makan, Nata pun segera membuka satu persatu makanan yang tadi dipesan oleh Jessy dari kantong plastik.


Dihalaman parkir ruko yang  luas itu, nampak mang Engkus sang penjual surabi  sedang kebanjiran order. Sesekali mang Engkus melirik ke pintu ruko, karena dia ingin  segera menyampaikan berita baik untuk Nata. Saat para pembeli semuanya sudah selesai dilayani, Mang Engkus lalu mengetuk pintu, memencet bell pintu ruko itu.


“Siapa tuh yang memencet bell  ? kamu pesan makanan lagi ?” tanya Nata sambil menatap Jessy dan Sabrina bergantian, saat selesai makan malam.


“Enggak kok.” Jawab mereka bersamaan.


“Biar aku saja yang buka pintu.” Sabrina lalu bergegas menuju ke pintu depan dan membuka kunci pintunya.


“Cari siapa ?”


“Ehhh punten neng, saya mau cari pak Nata.”


“Ohhh siapa anda yaa ?”


“Saya Mang Engkus, neng, yang jualan surabi di depan.”


“Maaf saya lupa, silahkan duduk. Saya panggil kang Nata nya.”


“Iya terima kasih neng.” Mang Engkus lalu duduk di sofa kursi tamu itu. Pandangannya beredar mengelilingi ruang tamu itu, dia nampak sangat takjub dengan penataan interior ruang tamu itu.


“Ehhh Mang Engkus bagaimana mang ? sudah ada pergembangan baru  tentang surat ijin domisili perusahaan saya ?” tanya Nata. Sabrina dan Jessy yang mendengar pembicaraan antara Nata dengan Mang Engkus itu dari ruang makan langsung memasang telinga untuk menguping, sambil membereskan meja makan.


“Sudah den, ini sudah Mang Engkus bawa, berkasnya dari kelurahan.”


“Uang untuk biaya semua itu kurang ? sudah habis yaa ? ”


“Ahhh tidak den, malah banyak sisanya, ini Mang kembalikan, karena banyak sekali  jumlahnya.”


“Tidak perlu Mang Engkus. Untuk Mang Engkus saja, siap tahu bisa untuk nambah modal, bikin dong tempat ngopinya juga di pojokan, supaya yang memesan surabi bisa nunggu sambil ngopi.”


“Wah banyak sekali ini mah den sisa uangnya, mamang jadi bingung kalau kebanyakan begini,  tapi baiklah nanti mamang akan bikin tempat ngopinya, kopi dari priangan.” Jawab mang Engkus sambil garuk


garuk kepala.


“Sekarang jualannya berdua mang ?”


“Iya, dibantu sama istri, den.... maaf ga bisa lama, kasihan istri saya sendirian diluar, saya pamit mau melanjutkan dagang surabinya den, eehh ini ada titipan surabi buat aden sama neng geulis.”


“Ahh pakai repot segala mang Engkus mah, terima kasih yaa mang, surabinya masih haneut pisan. Hehehe.”

__ADS_1


“Sama-sama den, terima kasih juga, sudah memberikan tambahan modal  untuk mamang.”


Nata pun mengantar mang Engkus sampai pintu ruko itu. Kemudian Nata membawa bungkusan yang berisi dus surabi itu ke meja makan.


“Kalian mau surabi nih, ada yang manis ada juga yang asin, isi keju, telur ayam  atau oncom.” Ucap Nata sambil membuka dus yang masih mengepul  kan uap panas dari surabi yang berada di dalamnya.


“Wah banyak amat surabinya kang berapa semuanya ?” tanya Jessy.


“Pisaunya  25  ribu, surabinya semua 52 ribu jadi 77 ribu. Hehehe.”


“Idihh bercanda. Ga akan habis nih kalau kita makan sekarang.”


“Habis lah kalau disimpan di meja kerjaku, aku mau ngelembur, nyusun semua data data dari kalian tadi, juga data dari mang Engkus.”


“Hmmm mau ditemani ngelemburnya ?” tanya Sabrina.


“Jangan. Nanti malah ga selesai-selesai ngerjakan semua ini.”


“Hehehe. Takut dia Jess. Ayo ahhh kita tinggal kan akang duluan, kita lanjutkan nonton


diatas Jess.”


“Selamat berkerja akang sayang.” Muach Muacchh. Ucap Jessy dan Sabrina sambil bergantian mengecup pipinya Nata. Lalu mereka berlarian menuju ke lantai tiga ruko itu.


“Huh dasar ceweq, gangguin melulu, sabar dong, ini juga semua nanti untuk kalian juga.” Gerutu Nata, sambil tangannya dengan lincanya mengendalikan mouse dan keyboard untuk menyusun semua data yang didapatkannya itu.


“Duh kenapa kalian tidur disini sih ? seperti tidak punya kamar saja.” Guman Nata.


Nata yang tidak mau mengganggu tidur kedua calon istrinya itu lalu mengambil sebuah selimut, menyelelimuti kedua gadis cantik itu dengan selimut tebal yang diambilnya dari sebuah lemari. Kemudian Nata membawa sebuah bantal dan kain sarung keluar dari ruang tidurnya, dia lalu merebahkan diri disofa ruang karaoke yang tidak jauh dari kamarnya di lantai tiga itu. Kedua matanya yang sudah sangat lelah itu kini langsung terpejam.  Pagi harinya dia dibangunkan oleh Sabrina dan Jessy.


“Kang bangun, sudah adzan subuh tuh. Kenapa  tidur disini ?”


“Kenapa sih ga tidur di kamar ?” Tanya Sabrina dan Jessy secara bergantian.


“hhgggmmm, ohhh sudah pagi yaa ?” Nata malah balik bertanya, tidak menjawab pertanyaan kedua calon istrinya itu. sejenak dia mereganggan anggota badannya yang berbaring diatas sofa empuk di ruang karaoke itu.


“Iya dari tadi kami cari, ternyata akang tidur disini.” Keluh Sabrina.


“Abis, kalian tidur di kamarku sih. Jadi aku ngungsi kemari.”


“Kan akang bisa tidur di kamar aku atau kamar Jessy.”


“Ogah aahh, ga enak tidur di kamar ceweq, kalau belum sah, hehehe.” Lalu Nata bangkit, dengan kain sarung yang masih melilit tubuhnya dia berlalu meninggalkan Jessy dan Sabrina yang saling pandang itu, menuju ke kamar mandi untuk mengambil air Wudhu. Setelah itu dia menuju ke Mushola yang terletak di lantai dua. Disana sudah menunggu Sabrina dan Jessy yang sudah mengenakan mukenanya masing-masing. Sajadah merekapun sudah terhampar rapi mengarah ke kiblat. Lalu Nata melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama kedua calon istrinya itu. Sesudah selesai sholat, berdoa dan berdzikir. Jessy bertanya kembali kepada Nata.

__ADS_1


“Kang kenapa sih sekarang ga mau bobo bareng kita lagi ?“


“Iya kan kangen tau, sudah lama ga bobo bareng.”


“Nanti saja sayang, kalau kita bobo bareng, aku takut nanti tidak bisa menahan nafsu, yang bisa merusak rasa sayangku kepada kalian. Sabar yaa, tunggu kita sah dulu deh.” Jawab Nata lalu mencium kening Jessy dan Sabrina bergantian.


“Baiklah kami akan membantu mempercepat proses legalitas perusahaan kita, supaya kita segera melangsungkan pernikahan.”


“Iya setuju, supaya kita nanti bisa dikelonin setiap malam bobonya sama akang kita yaa Sab. hihihi.”


“Nah itu bagus, tuh kalian ngerti juga.”


“Tapi bukan artinya akang menghindar dari kami kan ?” Tanya Sabrina.


“Masa sih aku menghindar dari bidadari secantik kalian ini ? aku hanya menghormati kalian, karena kalian berdua itu wanita terhormat, aku harus menjaga kehormatan kalian berdua, jangan punya pikiran macam-macam lagi yaa sayang.”


“Tapi kami kangen dipeluk akang, iya kan Sab ?.” Rengek Jessy


“Sini akang peluk kalian berdua, sambil mendoakan supaya hubungan kita kelak kekal tanpa ada hal apapun yang menghalangi niat baik kita bersama.” Kemudian Nata memeluk Jessy dan Sabrina yang masih memakai mukena itu dengan hangat dan erat.


“Akang sungguh berbeda dengan pria lain, ini yang membuat kami semakin sayang dan hormat kepada akang.”


“Benar Sabrina, aku jamin tangan dan kaki akang kita akan aman, tidak seperti lelaki lain yang mencoba menjamah kami dengan paksa, sehingga mereka kaki atau tangannya patah, akibat ulah mereka juga sih.”


“Nah sekarang, hari ini jadwal pertemuan dengan Notaris dan para pemilik aset. Bagaimana sudah kalian atur semua ?”


“Sudah kang, katering sudah beres, semua pihak siap datang nanti jam sepuluh siang, yang mendapat giliran pertama adalah pemilik bank yang akan menjual semua asetnya.”


“Nanti yang menyajikan makanan dan minuman kami berdua kang, perama untuk menjaga privasi dan kerahasiaan transaksi untuk yang kedua adalah agar tidak banyak orang yang turut mengatur transaksi antara akang dan pemilik aset itu.”


“Baiklah, aku juga sudah mempelajari karakter pemilik bank itu, juga sudah membaca sebab-sebab mengapa dia menjual aset itu semuanya. Nah sekarang masih ada waktu sebentar untuk membenahi ruang meeting kita, sekarang pukul lima pagi, ada sekitar lima jam lagi kedepan untuk mempersiapkan diri kita masing-masing, ruang parkir di basement juga diharapkan mampu menampung kendaraan notaris dan owner bank tersebut. Ohh iya dari owner bank itu ada berapa orang rencana yang akan datang ?”


“Hanya dua orang kang, dia datang bersama istrinya.” Jawab Sabrina.


“Dari Notaris juga hanya pak H. Mumuh dan sekretarisnya.”


“Sip, kalau begitu, kita siapkan dulu semua perangkat sebagai alat bantu meeting, layar serta infocus dan sound system kita benahi dulu, jangan ada kabel yang berseliweran.”


“Aman kang, semua sudah dibenahi. Tinggal memakai mike wireless dari ruang karaoke kita saja untuk dipakai di ruang meeting.”


“Apakah lebih baik kalau memakai mike khusus untuk meeting Jess ?”


“Ohh iya nanti aku periksa di gudang peralatan kang, sudah aku bawa sih dulu, tapi belum sempat dipasang. Kalau sound systemnya sih sudah terpasang semua.”

__ADS_1


“OK yuk sekarang kita mulai benahi. Sab.... tolong catat semua yaa, nanti kamu juga sebagai notulen rapat dan kamu Jess sebagai MC nya, silahkan kalian kerja sama dengan baik.”


“Siap kang Boss.” Jawab Sabrina dan Jessy. Kemudian mereka merapikan semua alat sholatnya. Lalu beranjak menuju ke lantai satu, tempat ruang meeting yang akan dijadikan tempat untuk bernegosiasi dan bertransaksi dengan disaksikan oleh team Notaris yang mereka tunjuk sebagai langkah awal. Sabrina lalu membuat jadwal rapat, serta roundown acaranya dengan laptopnya, sedangkan Jessy menyiapkan mike khusus untuk rapat yang nanti akan dipakai meeting.


__ADS_2