Tangguh

Tangguh
Bab 88-B. Pertemuan perdana Amanda dengan Opa Korea.


__ADS_3

“Tapi aku sedang berhalangan, ga bisa ikut kalian ke Masjid, tadi pagi baru saja bocor, hehehe.” Ucap Amanda.


“Ohh kita Sholat di ruangan aku saja kalau begitu Jess. Sekalian menemani Kak Amanda.” Usul Sabrina.


“Tidak apa-apa kok, silahkan saja kalian ke Masjid, aku menunggu disini saja deh.”


“Hmm baiklah kalau begitu, aku siapkan dulu minuman untuk Kak Amanda sambil menunggu kami.”


“Tidak perlu repot, tunjukkan saja tempatnya biar aku yang membuat sendiri, silahkan kalian berdua menyusul Nata ke Masjid. Is OK, i’ll do it thats by my self.” Ucap Amanda.


“Yaa sudah baiklah kalau begitu, kami tidak akan lama kok Kak.” Ucap Sabrina. Lalu Sabrina dan Jessy meninggalkan Amanda setelah menunjukkan lemari penyimpanan makanan dan minuman di ruang meeting itu.


Setelah selesai Sholat Ashar, mereka kembali di ruang meeting, Nata bahkan didampingi oleh beberapa orang Kepala Cabang yang turut serta sholat berjamaah tadi di masjid. Nampak Charlie juga berada di ruangan kerjanya Nata bersama tiga orang Kepala Cabang lainnya, diantaranya terlihat Tata Supriatna juga yang dengan sangat akrab berbincang bincang didalam ruangan kerja pemilik Bank tersebut.


“Ohhh jadi Pak Tatang ini asli putra Cianjur ?” Tanya Nata.


“Benar Pak Nata, Mamah saya yang berasal dari Korea.”


“Pantas saja Pak Tatang seperti orang Korea, mirip Opa Korea juga tuh. hehehe.” Ucap Charlie.


Sementara itu di ruang sebelah Sabrina dan Jessy sedang membicarakan juga kehadira para Pemimpin Cabang Bank NSP tersebut, masih di ruang meeting.


“Kita kesana yuk, aku kenalkan Kak Amanda dengan para Kepala Cabang itu.” Ucap Sabrina.


“Idih, swear aku malu Sab.”


“Santai saja lah Kak.” Ucap Jessy turut memberi semangat kepada Amanda.


“Iya nanti aku akan memperkenalkan Kak Amanda juga sebagai bagian dari Team Konsultan, yang menyusun struktruk organisasi Kampus dan Tempat Wisata kita.” Paksa Sabrina.


“Hmmm ok deh. Tapi kenapa yaa jantungku jadi berdebar kencang begini ? hihihi.”


“Itu tandanya memang sudah ada kecocokan diantara kalian berdua Kak.” Ucap Jessy.


“Iya tenang saja, kan ada kami berdua yang mendampingi Kak Amanda juga.” Ucap Sabrina, lalu mulai membuka pintu ruang meeting sebagai koneksi menuju ke ruang kerjanya Nata.


“Assalamualaikum bapak-babak semuanya.” Ucap Sabrina.


“Waalaikumsalam.” Jawab semua yang ada di ruang kerjanya Nata itu serempak dan menoleh melihat kedatangan tiga orang wanita yang sangat cantik. Bahkan terlihat Tatang Supriatna menatap tidak berkedip kepada Amanda yang berambut hitam lebat itu. Paras cantik dari Amanda seolah menyihir pandangan Tatang, untuk terus menatap pemilik wajah bule yang sangat cantik itu.


“Kenalkan ini Kak Amanda, beliau ini adalah seorang yang sangat handal dalam penyusunan organisasi dan tugas, beliau ini juga teman satu kampusnya Kang Nata sewaktu belajar di luar negeri.” Ucap Sabrina. Semua orang Kepala Cabang yang berada disana lalu berdiri menyambut tiga wanita cantik itu, menyalami Sabrina, Jessy dan Amanda, kecuali Tatang yang masih duduk terpaku dengan terus memandang wajah cantik dan moleknya Amanda.


“Kok malah bengong saja, ayo bangun Pak Tatang.” Tegur Charlie.


“Ehh iya, Perkenalkan juga saya Tatang Supriatna, dari Cianjur.” Ucap Tatang yang terakhir menyalami Amanda dan memperkenalkan dirinya. Semua orang yang ada disana melihat pemandangan dua orang yang sedang salah tingkah itu. Amanda dan Tatang masih terus berjabatan dan saling bertatapan mata agak lama.


“Sudah dong, nanti tangan kalian tidak bisa lepas deh.” Goda Nata.


“Ehhh iya, tinggal dimana bu Amanda ?” Jawab Tatang, seraya melepaskan genggaman jabat tangan dari tangan Amanda yang halus mulus itu, untuk menutupi rasa salah tingkahnya.


“Domisili saya di Jakarta, tapi sering juga ke Bogor dan Bandung untuk menemui beberapa client saya.”

__ADS_1


“Mohon maaf, saya pamit dulu Pak Boss.” Ucap Charlie.


“Iya saya juga, karena belum menyiapkan materi untuk bahan rapat besok.” Ucap Pak Budi yang merupakan Kepala Cabang dari Sumedang. Diikuti dua orang lainnya juga yang berpamitan dari ruangan kerjanya Nata.


“Pak Tatang tunggu dulu disini saja. Ada beberapa hal yang akan ditanyakan kepada Pak Tatang untuk wilayah Cianjur dan Sekitarnya.” Usul Sabrina, sambil mengedipkan mata ke arah Nata, sebagai kode.


“Ohh baiklah bu.” Jawab Tatang, kemudian duduk kembali di sofa bersama Nata, Sabrina Jessy dan pastinya juga Amanda yang tanpa disadari telapak tangannya semakin berkeringat saat memainkan ponsel dalam genggamannya.


“Kang aku mau ke toilet dulu yaa. Permisi.” Ucap Jessy.


“Aku juga ikut Jess, dari tadi minum terus, jadi beser nih.” Ucap Sabrina lalu bangkit mengikuti langkah Jessy.


“Iya jangan lama-lama.” Ucap Nata lalu melanjutkan ngobrol bareng bertiga dengan Tatang dan Amanda. Tak lama kemudian Sabrina kembali lagi.


“Kang, kok tissue-nya habis  sih?”


“Ahh masa, ok aku bawakan deh tunggu saja disana. Sebentar yaa, aku bawakan tissue dulu untuk istriku.”


“Oh iya silahkan Pak Nata.” Jawab Tatang.  Nata lalu mengeluarkan cadangan tissue, dari laci dibelakang ruang kerjanya. Kemudian menghampiri Sabrina dan Jessy yang masih berada di dalam Toilet.


“Ini tissue-nya sayang.”


“Psst, tissue-nya masih banyak kok Kang, biarkan dulu mereka ngobrol berduaan disana.”


“Ohhh ceritanya kalian berdua jadi mak comblangnya Amanda dan Tatang ?” Tanya Nata yang mulai menyadari maksud dan tujuan dari kedua istrinya itu.


“Psstt, jangan keras-keras, nanti mereka mendengarnya.” Hardik Jessy, sambil menutup bibirnya Nata dengan telunjuk jarinya.


“Iya cocok, tapi jangan lama lama dulu kita didalam sini.”


“Kita pindah ke ruangan aku atau ruangan Sabrina saja kang. Biarkan saja dulu mereka disana berdua, supaya lebih saling kenal.” Ucap Jessy lagi memberi usul. Kemudian Nata bersama Jessy dan Sabrina mengendap-endap, menyelinap melalui pintu rahasia yang menghubungkan ruang kerja Sabrina dan Jessy dengan ruang kerjanya.


“Hihi, kayak maling saja kita bertiga.” Ucap Nata.


“Biarin dong kang, apa salahnya sih memberikan kesempatan kepada mereka, siapa tahu nanti mereka memang berjodoh. Hihihi.” Ucap Sabrina.


“Kalau benar mereka berjodoh, aku akan memberikan fasitas bagi mereka berdua, sampai mereka nanti berbulan madu juga, akan aku tanggung deh semua biayanya. Angap saja semua itu merupakan bonus dari pekerjaan dan hadiah untuk perkawinan mereka dari kita bertiga.” Ucap Nata.


“Aamiin, kita berdoa yang terbaik saja untuk mereka berdua.” Ucap Jessy.


“Terima kasih yaa akang, atas dukungannya.” Ucap Sabrina lalu memeluk Nata, Jessy juga tidak ketinggalan untuk memeluk suami yang penuh dengan perhatian itu.


“Iya biar bagaimanapun Amanda adalah penyemangatku, saat aku dulu sedang belajar di luar negeri. Aku juga sejak dulu sudah menganggap Amanda sebagai kakak, seperti kalian berdua. Dia juga seakan terus memberi semangat dan memotifasi diriku, agar aku berhasil dalam studiku juga berhasil menjadi pialang dibidang properti, seperti kalian berdua lihat sekarang ini.” Ucap Nata sambil memeluk kedua istri yang dicintainya itu.


“Iya kang, semoga akang juga semakin berkembang usahanya, kami selalu akan terus mendukung semua usaha dan kegiatan Akang.” Ucap Jessy.


“Iya benar besie, agar nanti anak-anak kita juga dapat memetik dan menikmati hasil dari usaha kita bertiga kang.” Tambah Sabrina.


“Aamiin yaa mujiba salim.” Jawab Nata mengaminkan perkataan dari kedua istrinya itu.


“Aku jadi penasaran deh, sekarang Amanda dan Tatang lagi pada ngapain yaa ? aku buka CCTV deh.” Ucap Nata lalu beringsut menuju ke meja kerja Jessy, diikuti oleh Sabrina dan Jessy. Disitu di layar PC tersebut, Nata mulai memeriksa dan memantau ruangan dengan CCTV yang hanya bisa diakses oleh Sabrina, Jessy dan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Besarkan sedikit volume suaranya kang.” Pinta Sabrina yang juga terlihat sangat penasaran. Nata lalu menyetel Volume, agar mereka semua dapat mendengarkan juga apa yang sedang dibicarakan oleh Amanda dan Tatang tersebut.


“Wah mereka janjian untuk bertemu di suatu tempat tuh.” Ucap Jessy.


“Iya, hebat. Aku perhatikan keduanya terlihat saling tertarik, dari gesture tubuh dan tingkah laku serta tutur katanya sangat jelas tuh.” Ucap Sabrina sebagai ahlinya dibidang perilaku manusia.


“OK sudah cukup, mari kita kembali kesana, jangan membuat mereka jadi curiga nanti.” Ucap Nata.


“Jangan besama-sama juga kang, akang duluan deh. Nanti kami menyusul.” Ucap Sabrina.


“Iya sayang, muacch muacch. Ihhh bibir kalian berdua masih terasa pedas.” Keluh Nata.


“Hahaha, akang sih main sosor sembarangan.” Ucap Jessy dengan terbahak-bahak.


“Iya kami kan baru saja makan rujak. Rasakan deh sama akang, Hihihi.” Cicit Sabrina.


“Kena deh aku, sama ranjau dari kalian.” Ucap Nata mengerutu, sambil melangkah dan berlalu dari ruang kerjanya Jessy, menuju ke ruang kerjanya. Sabrina dan Jessy masih tertawa ngakak mendengar gerutu dari Nata itu.


“Kok lama banget Nat dari toiletnya ?” Tanya Amanda


“Iya tuh, macet juga pembilas toiletnya.” Jawab Nata beralasan.


“Pak Nata, saya mohon pamit yaa, Amanda nanti kita bertemu lagi deh.”


“OK siap Kang Tatang.” Jawab Amanda, mendahului jawaban dari Nata.


“Oh silahkan Pak Tatang. besok jam delapan yaa kita meeting.”


“Siap Pak Boss. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Jawab Nata dan Amanda. Setelah Tatang tidak terlihat dari sana, Nata bertanya.


“Kamu sudah manggil dia dengan sebutan Kang Tatang, kelihatannya kalian berdua sudah akrab deh.”


“Hehehe, dia kan lebih tua dari aku Nat. Wajar dong kalau aku sebut dia Akang juga, seperti kedua istrimu menyebut akang untukmu.”


“Heemm kenapa kamu ga mau disebut Kakak juga olehku ?”


“Hahaha, ogah aahh. Nanti aku terlihat semakin tua kalau kamu panggil aku kakak.” Jawab Amanda.


“Lho Pak Tatang sudah pulang ?” Tanya Sabrina pura-pura terkejut.


“Iya kok cepat amat sih ?” Tanya Jessy pula.


“Kata Kang Tatang, dia mau kembali ke penginapan Jess.”


“Wow Kang Tatang, bukan Opa Tatang ? hihihi.” Ucap Sabrina.


“Awas loe Sab, mulai berani ngeledek aku yaa sekarang.” Ucap Amanda sambil tersenyum kemudian tersipu malu dihadapan Nata, Jessy dan Sabrina itu.


“Ampun Kakak, i’m so sorry.” Ujar Sabrina sambil mengangkat kedua telapak tangannya didepan dada. Amanda pun ngakak melihat tingkahnya Sabrina yang menurutnya sangat lucu itu.

__ADS_1


__ADS_2