Tangguh

Tangguh
Bab 70 Para Bumil yang sensitif.


__ADS_3

Sesudah selesai Sholat Isya, Nata mengajak kedua istrinya untuk beristirahat di kamar tidur mereka. Tidak henti hentinya Nata memeluk dan bergantian menciumi Sabrina dan Jessy bergantian, sebelum mereka benar-benar tertidur dengan lelapnya di malam hari itu. Senyuman tiga orang yang tidur dalam sebuah pembaringan itu terlihat pula saat mereka sedang tertidur lelap. Seolah ketiga orang di dalam satu selimut itu tengah bermimpin dengan sangat indahnya.


Pada pagi harinya Nata bangun terlebih dahulu, menyiapkan sarapan pagi sebelum melaksanakan sholat Subuh.


“Sab, akang kita kemana ?” tanya Jessy yang terbangun dari tidurnya di pagi hari buta itu. Saat dilihatnya ternyata tubuh yang memeluk mereka sepanjang malam sudah tidak berada di tempat tidur.


“Mungkin sudah bangun dan sedang di kamar mandi.” Jawab Sabrina lalu bangkit dan duduk di pinggir pembaringan itu.


“Tapi ga kedengaran tuh suara dari kamar mandi, kita lihat saja yuk.” Ajak Jessy.


“Hehehe, kamu mau lagi ? Semalam kamu bilang katanya ga kuat.”


“Idih bukan untuk itu.” Jawab Jessy tersipu malu. Merekapun memeriksa kamar mandi, ternyata memang tidak terliha Nata ada disana.


“Kemana yaa dia ?” Tanya Sabrina, namun dia mulai mendengar kesibukan di bawah sana, di lantai satu.


“Sepertinya dia sedang di dapur tuh. Ayo kita turun saja.” Ajak Sabrina lagi.


“Iya mungkin.” Jawab Jessy lalu bersama dengan Sabrina menuruni lantai tiga ruko itu dengan menggunakan lift, benar saja saat pintu lift terbuka, mulai terciumlah wangi dari masakan yang sedang disiapkan oleh Nata di dapur.


“Ehh akang masak ?“ Tanya Jessy.


“Bukan, aku sedang olah raga, hehehe.” Jawab Nata yang sedang sibuk di dapur itu.


“Kalian duduk saja, nanti kita mandi bareng lalu sesudah sholat Subuh kita sarapan bareng.”


“Yaa sudah kami mau mandi duluan saja deh.” Jawab Sabrina lalu berjalan dengan Jessy kembali menuju ke lift dan naik ke lantai tiga. Tidak lama kemudian Nata sudah menyusul ke kamar mandi.


“Hoooammm aku masih ngantuk kang.” Ucap Sabrina.


“Iya aku juga sama masih ngantuk.” Ucap Jessy pula. Saat mereka sudah selesai melaksanakan Sholat Subuh. Sabrina dan Jessy lalu berbaring sambil berpelukan dengan Jessy di atas sajadah yang baru saja dipakai oleh keduanya setelah Sholat Subuh itu.


“Kasian kalian berdua capek yaa ? Aku bawakan kesini saja makanannya deh.”


“Jangan !!.” Pekik Sabrina dan Jessy. Namun keduanya masih memejamkan mata.


“Kenapa ?”


“Ini kan tempat Sholat, bukan tempat makan.”


“Ini juga bukan tempat untuk tidur, kalau mau tidur ke kamar saja. hehehe.” Lalu Nata mencium pipi Sabrina dan Jessy.


“Kang aku mau libur hari ini boleh ?” Tanya Jessy.


“Aku juga kang.”


“Boleh, tapi aku ga bisa menemani kalian berdua di rumah, banyak pekerjaan di kantor.”


“Iya ga apa-apa deh, lemes banget aku hari ini, tapi pengen makan rujak, hihihi.” Kekeh Jessy yang mulai membuka mata sipitnya itu.

__ADS_1


“Makan nasi dulu yaa, aku tadi bikin nasi goreng ikan jambal sama petai lho.” Ucap Nata mulai menggoda kedua istrinya itu.


“Ihhh mau dong, awas jangan dihabiskan.” Ucap Sabrina yang seketika bangkit dan duduk menatap Nata, diikuti oleh Jessy.


“Kalau Nasi gorengnya dicampur dengan rujak boleh ga ?”


“iiih aneh-aneh saja kamu Jess, nanti jadi berantem dong nasi gorengnya sama rujak. Hahaha.”


“Rujak serut yang dibungkus kemarin masih ada banyak kok di lemari es. Aku simpan disana Jess.” Ucap Sabrina.


“Akang ga boleh makan rujak itu yaa, itu untuk bayi kami.” Rengek Jessy.


“Iya-iya silahkan saja, yang penting kalian makan nasi dulu.”


“Gendong kang.” Ucap Sabrina dan Jessy bersamaan.


”Waduh masa harus gendong kalian berdua bersamaan sih ?”


“Suit Jess, siapa yang akang kita gendong sama akang kita duluan.” Ajak Sabrina.


“OK. Batu Gunting Kertas yaa.”


“Iya.” Jawab Sabrina dengan serius. Nata lalu tersenyum melihat tingkah kedua istrinya itu.


“Hore aku yang menang.” Pekik Jessy saat dia ternyata menang dalam adu suit itu.


“Ehh tiga kali dong.” Ucap Sabrina dengan penasaran. Kemudian mereka mengulang lagi adu suit itu.


“Curang kamu ngintip.” Ucap Sabrina dengan cemberut.


“Sudah, nanti juga kamu akan aku gendong deh. Cup.” Ucap Nata mengecup pipinya Sabrina itu, yang kemudian membuat Sabrina kembali tersenyum.


“Jangan lama-lama, awas jangan habiskan nasi gorengnya Jess.”


“Iya tenang saja, dadah babay. Hihihi.” Ucap Jessy dengan senyum kemenangannya saat digendong oleh Nata menuju ke lift. Didalam lift Jessi mencium habis-habisan Nata yang sedang menggendongnya itu.


“Kamu curi kesempatan yaa ?”


“Iya, habisnya pipinya akang halus banget deh, seperti kulitnya bayi. Hehehe.” Ucap Jessy.


“Jangan makan duluan yaa, nanti kita makan bareng.” Ucap Nata saat mereka sudah sampai di ruang makan.


“Siap Kang Boss.” Jawab Jessy lalu duduk di kursi makan tersebut. Nata lalu kembali menuju ke lantai tiga, untuk menjemput Sabrina. Sesampainya di Mushola nampak Sabrina malah sedang tertidur.


“Bangun sayang.” Ucap Nata lalu mulai menggendong Sabrina yang masih mengenakan mukena itu. Sabrina masih saja terlelap dalam tidurnya. Nata lalu dengan jahilnya mengecup bibirnya Sabrina, menggelitik rongga mulut Sabrina sampai dia terbangun.


“Nasi gorengnya jangan dihabiskan.” Ucap Sabrina seperti orang yang sedang ngelindur.


“Enggak kok sayang. Akang bikin banyak kok, tenang saja.” Jawab Nata sambil melangkah menggendong Sabrina menuju ke lift.

__ADS_1


“Cium lagi dong Kang.” rengek Sabrina. Nata lalu mengecup lagi bibirnya Sabrina yang tipis itu, sampai membuat Sabrina kegelian, karena rongga mulutnya terasa digelitik oleh lidahnya Nata. Nata sampai lupa menekan tombol menuju ke lantai satu.


“Sudah dulu yaa, Jessy menunggu kita dibawah tuh.” Ucap Nata menyudahi kecupan yang sangat dalam itu terhadap Sabrina.


“Aku mau seperti tadi malam kang.” rengek Sabrina dengan pandangan penuh pengharapan kepada Nata.


“Iya nanti aku berikan untuk kalian berdua sebelum aku berangkat ke kantor deh.” Jawab Nata lalu menekan tombol angka satu. Lift pun turun menuju ke lantai satu. Nata dengan masih menggendong Sabrina menuju ke meja makan. Dengan perlahan dia meletakkan tubuhnya Sabrina di kursi makan itu.


“Kok lama banget sih kalian berdua ?” Protes Jessy.


“Aku membangunkan dulu Sabrina yang tadi ketiduran sayang.”


“Ohhh kirain ada serang fajar hehehe.”


“Mana mungkin secepat itu bestie, hihihi.”


Mereka lalu mulai makan bersama di pagi hari itu, Sabrina dan Jessy sampai menambah porsi makan mereka saat menikmati nasi goreng ikan jambal petai buatan Nata tersebut dengan lahapnya. Sampai pada akhirnya mereka duduk tidak berdaya di kursi makan tersebut.


“Nikmat banget nasi gorengnya, tidak pernah aku makan sebanyak ini kalau sarapan pagi.” Ucap Jessy.


“Iya aku juga Jess. Kalau nanti kita gemuk bagaimana ? hehehe.”


“Kalian gemuk juga tetap cantik kok.” Tukas Nata dengan entengnya.


“Awas saja kalau nanti akang melirik gadis lain selain kami berdua.” Ancam Sabrina.


“Hahaha, mana mungkin dong sayang, untukku kalian berdua itu adalah cinta pertama dan terakhirku.”


“Awas saja nanti, kalau akang ingkar janji, kami akan membuat Somasi untuk akang.” Ucap Jessy dengan ancaman tak kalah seramnya.


“Iya sekarang akang masih melihat bentuk tubuh kami masih langsing, nanti kalau kami berdua jadi buncit dan gendut, akang akan berpaling kepada gadis cantik lainnya.” Tambah Sabrina.


“Astagfurullah, kalian ketakutan amat sih ? Apa perlu akang membuat surat pernyataan diatas materai dan ditandatangani oleh Notaris juga ?”


“Janji yaa kang.” ucap Jessy dan Sabrina sambil memperlihatkan jari kelingkingnya.


“Jessy dan Sabrina ku sayang, bumi dan langit beserta seisinya menjadi saksi. Kenapa sih kalian berdua menjadi paranoid begini ? apakah semua ibu hamil memang menjadi sensitif seperti kalian berdua ?” Tanya Nata dengan memandang wajah kedua istrinya itu bergantian.


“Hehe maaf, aku bercanda kang.” Ucap Sabrina lalu bangkit dan duduk di pangkuannya Nata lalu memeluknya dengan erat dan menciumi pipinya Nata itu.


“Gantian dong, bestie.” Protes Jessy.


“Hehehe iya bestie.”


“Kita pindah duduk di sofa saja yaa, supaya kalian berdua aku pangku disana.” Ajak Nata sambil menunjuk ke ruang tamu. Merekapun lalu duduk di sofa empuk itu. Sabrina dan Jessy dengan puasnya bermanja-manjaan bersama suami tercinta mereka, sampai pada akhirnya mereka kelelahan dengan tubuh bermandi keringat. Pakaian mereka teronggok di lantai ruang tamu itu, menjadi saksi atas serangan fajar yang telah dilakukan oleh Jessy dan Sabrina terhadap Nata. Untung saja kaca ruko mereka masih tertutup sekelilingnya dengan rolling door, walaupun rolling door sudah terbuka juga kaca tebal ruko tersebut hanya dapat menembus pandangan dari dalam ruko, sehingga kegiatan mereka di ruang tamu itu tidak bisa terlihat dari luar ruko.


Jam dinding di ruang tamu ruko tersebut sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Nata bersama Sabrina dan Jessy mulai memunguti satu persatu pakaian yang berserakan di lantai ruang tamu itu.


“Terima kasih yaa kang.” Ucap Jessy dan Sabrina dengan senyum penuh kepuasan.

__ADS_1


“Sama sama Jessy dan Sabrina sayangku. Aku harus mandi lagi deh.”


__ADS_2