Tangguh

Tangguh
Bab 24 Fitting dan persiapan akad nikah.


__ADS_3

“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, ehh ada turis dari Kanada hihihi.”


“Ahhh Teh Putri bisa aja, lagi sibuk teh ?”


“Enggak juga, hanya ngontrol pekerjaan disini saja, lebih sibuk di rumah ngurus si kembar. Ada yang bisa saya bantu Sabrina ?”


“Kami mau memakai jasa WO teteh.”


“Kamu mau menikah Sab. sama siapa ? Kok sendiri datangnya ?”


“Ada dibawah teh, masih di dalam mobil tadi.”


“Ajak kemari dong kenalkan sama teteh.”


“Sebentar teh saya telepon dulu.” Sabrina lalu menelepon Jessy yang masih berada di dalam mobil bersama Nata. Tidak lama kemudian Nata dan Jessy nampak memasuki bangunan Ruko di jl. Setiabudi itu.


“Assalamualaikum.” Ucap salam Nata dan Jessy.


“Waalaikumsalam oh sama Jessy juga ?”


“Iya teh, kenalkan ini calon suami kami.” Jawab Jessy lalu memperkenalkan Nata kepada Putri sang pemilik WO.


“Kami ? maksudnya kalian akan menikah barengan ?”


“Benar teh, Sabrina dan Jessy ini adalah calon istri saya.” Jawab Nata mendahului menjelaskan kepada Putri.


“Ohhh mirip dengan kang Andi kalau begitu, hehehe.”


“Kang Andi siapa teh ?” tanya Nata.


“Suami kami bertiga, Suami dari teh Ane dan Teh Mira juga suamiku.” Ucap Putri menjelaskan.


“Ohhh begitu, suaminya sibuk dong ?”


“Iya sibuk, dia ngantor di Jakarta, seminggu sekali pulang ke Bandung, baru saja selesai membangun apartemen di Bandung tiga bulan kemarin, ehhh jadi ngelantur ayo kita bahas bagaimana konsep acaranya .”


“Ga apa-apa teh Putri, kebetulan kami juga sedang mencari kontraktor untuk membangun komplek sekolahan atau kampus, barangkali saja obrolan bisa nyambung.” Ucap Nata.


“Betul, lebih baik kita ngobrolnya di ruang sebelah yang lebih luas dan nyaman.” Ajak Putri kepada ketiga tamunya itu. Nata, Sabrina dan Jessy lalu mengikuti langkahnya Putri menuju ke ruangan yang banyak manequin yang mengenakan pakaian adat dan beberapa sketsel back ground untuk acara pernikahan. Sabrina, Jessy dan Nata nampak sangat takjub saat melihat di sekeliling ruangan itu sangat lengkap semua peralatan untuk acara pernikahan tersebut. Lalu mereka mulai membahas konsep acara pernikahan yang digabungkan dengan acara lounching pembukaan bank milik mereka itu. Putri yang memang sudah sangat berpengalaman dibidang tersebut mencatat semua keinginan custumer yang juga sebagai adik tingkatnya dulu semasa kuliah yaitu Sabrina dan Jessy. Putri lalu mendengarkan penuturan Nata yang memiliki gelar Doktor atau PhD di usia yang sangat muda yaitu 23 tahun. Bahkan sudah pernah bekerja di perusahaan asing dan memiliki saham di beberapa perusahaan besar skala internasional. Putri nampak sangat takjub dan sedikit terkejut dengan semua pencapaian Nata yang menurutnya genius itu. Putri juga merasa prihatin dan turut berduka saat mendengar kepergian dari orang tua Nata untuk selamanya setahun yang lalu.


Setelah pembahasan mengenai konsep pernikahan selesai, mereka lalu melanjutkan dengan membahas beberapa pekerjaan yang akan dilakukan, yaitu tentang pembangunan sekolah atau kampus. Putri lalu memberikan nomor telepon suaminya kepada Nata, agar Nata bisa langsung berbicara dengan Andi, suaminya itu.


“Jadi nanti pelaksanaan acara pernikahannya sudah pasti pada hari Minggu dan Senin tanggal


26 dan 27 bulan Juni 2022 yaa ?”


“Benar teh, mohon bantuannya. Apakah perlu uang muka untuk operasional ?” tanya Nata.

__ADS_1


“Perlu dong kang, iya kan teh ?” Jawab Sabrina sambil mengedipkan mata, yang disambut dengan senyuman dari Putri dan Jessy.


“Silahkan, kami juga perlu biaya untuk booking gedung dan beberapa hal lain yang harus disegerakan.” Jawab Putri.


“Baiklah kami minta nomor rekening dari teteh saja kalau begitu, nanti Sabrina yang akan menyelesaikan seluruhnya.” Ucap Nata.


“Ini semua sudah ada didalam katalog, mengenai perincian anggaran biaya secara pasti, nanti akan segera kami kabari secepatnya.”


“Siap teh, kalau begitu kami mohon pamit, karena masih ada yang harus dikerjakan lagi hari ini.” Ucap Nata berpamitan.


“Sibuk banget yaa, ok deh Selamat semoga sukses terus usahanya yaa dan semoga semua urusannya dimudahkan.”


“Aamiin, terima kasih Teh Putri.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy secara bersamaan.


Merekapun lalu pamit dari Ruko itu, untuk menuju ke sebuah tempat makan di kawasan dago utara. Sabrina masih melanjutkan mengemudikan kendaraan milik Nata itu. Kini Sabrina nampak sudah semakin lancar mengemudikan mobil itu. Sedangkan Nata sedang serius mengetik sesuatu dengan ponselnya di jok penumpang belakang.


“Ohhh jadi teh Putri itu istri ketiga dari Kang Andi ?” Tanya Nata setelah mereka selesai makan siang disebuah rumah makan yang mempunyai view kebun bunga dan aneka satwa unggas itu.


“Iya kang, Teh Putri itu dulu senior kami juga saat di kampus.” Jawab Jessy.


“Satu jurusan sama Jessy tapi sering ngumpulnya sama aku kang, yang beda jurusan.” Tambah Sabrina juga.


“Hehe, waktu kalian kuliah aku sudah magang di beberapa perusahaan di Texas, sekalian melanjutkan kuliah ngambil gelar pasca sarjana.”


“Iya akang dulu betah banget sekolah di luar negeri.”


“Alhamdulillah, disana ga begitu masalah kalau kita ngambil SKS sebanyak mungkin selama kita mampu, kalau disini berbeda yaa ?”


“Iya pada akhirnya aku punya usaha sendiri dan Sabrina juga mendapatkan pekerjaan di berbagai perusahaan besar, untuk menjadi tenaga HRD yang handal, kang.”


“Wah hebat, kalian berdua memang Wonder Woman versi realnya dibidang usaha, hehehe. Kembali lagi kepada topik rencana pekerjaan kita selanjutnya, kita sudah punya Ruko sebagai tempat tinggal dan Kantor sementara. Beberapa aset sudah kita beli, lalu masing-masing dari kita punya tugas atau job description masing-masing. Kamu Jessy yang menangani bidang teknis, akunting dan pemasaran. Sedangkan kamu Sabrina menangani pengembangan perencanaan dan pemaksimalan sumber daya manusianya. Aku sendiri bergerak di bidang eksekutif dan perencanaan global. Nanti ke depan kita perlu merekrut beberapa direktur untuk membawahi semua bidang kita, agar dapat membantu semua pekerjaan kita.” Kemudian Nata berhenti sejenak untuk minum, lalu melanjutkan lagi penuturannya.


“Aku sudah membuat konsep di grup Whatsapp kita tentang langkah-langkah apa saja yang harus kita kerjakan selanjutnya, aku sudah mensortir sesuai dengan skala prioritas atas semua perkerjaan yang akan kita tempuh. Semua itu sebagai pedoman kita sehari-hari. Nanti setiap minggu akan kita lakukan evaluasi untuk dapat meningkatkan lagi prestasi pekerjaan kita. Silahkan kalian baca dulu semua tugas yang sudah aku kirimkan di grup Whatsapp  kita itu.”


“Baik kang boss.” Jawab Jessy dan Sabrina serempak.


“Jika kurang paham, segera tanyakan langsung, kalian juga boleh saling berkordinasi untuk dapat saling membantu semua pekerjaan tersebut.”


“Siap, kang boss.” Lalu Sabrina dan Jessy mulai membaca semua tugas yang sudah ditulis oleh Nata di grup WA tersebut dengan sangat serius. Nata lalu memperhatikan Sabrina dan Jessy yang sedang membaca lalu mendengar dua calon istrinya itu yang kini sedang berdiskusi dihadapannya.


Kemudian Nata mengetik lagi di layar ponselnya. Sambil sesekali mengalihkan pandangannya kepada Jessy maupun Sabrina bergantian, yang berada di seberang tempat duduknya itu. Setelah itu Nata tersenyum.


“Silahkan kalian berdiskusi disini yaa, mumpung tempatnya nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. Aku mau kebawah dulu sebentar, kalian tunggu saja disini. Aku hanya pergi sekitar tiga puluh menit kok.”


“Akang mau kemana ?” Tanya Sabrina dan Jessy bersamaan.


“Mau belanja dulu sebentar dibawah.” Jawab Nata sambil meraih kunci mobil yang ada diatas meja.


“Jangan lama-lama kang.” Pekik Jessy.

__ADS_1


“Santai saja, kalian juga kan belum sholat dzuhur tuh.”


Lalu Nata berlalu dari rumah makan itu, menuju ke sebuah tempat yang tadi dihubunginya melalui ponsel.  Sabrina dan Jessy lalu melaksanakan Sholat Dzuhur dan berpesan kepada para pelayan di restoran tersebut untuk menjaga barang-barang yang ditinggalkan di atas meja makannya. Tiga puluh menit kemudian Nata nampak sudah kembali lagi, tepat tiga puluh menit seperti yang dijanjikannya. Nata yang membawa dua buah tas karton warna hitam itu lalu menghampiri Jessy dan Sabrina yang kini terlihat sudah segar kembali kedua wajahnya dan bercahaya karena sudah mengambil air wudhu. Namun Jessy dan Sabrina mengerutkan keningnya secara bersamaan, lalu bertanya kepada Nata.


“Habis belanja apa kang ? Apa tuh yang dibawa ?“ tanya Sabrina.


“Hmm ini untuk kalian berdua, sebagai syarat mas kawin untuk pernikahan kita nanti.” Jawab Nata dengan enteng.


“Kami tidak meminta apa-apa dari akang kok.” Ucap Jessy sambil menatap tajam.


“Iya kalian tidak meminta apa-apa, namun sudah sepatutnya aku selaku calon suami kalian memberikan sesuatu untuk kalian berdua, karena untukku pribadi kalian berdua itu sangat berharga, kalian berdua juga adalah wanita terhormat, sudah selayaknya menerima mas kawin dariku. Aku mohon kalian berdua tidak menolaknya. Please.”


“Apa sih isinya ?” Tanya Sabrina yang semakin penasaran.


“Buka saja, isinya sama kok.” Jawab Nata lalu menyerahkan dua buah tas karton hitam itu kepada Sabrina dan Jessy. Jessy dan Sabrina lalu mengeluarkan semua isi tas karton hitam itu dihadapan Nata, diletakannya satu persatu kotak dari dalam tas itu.


“Ini sungguh semua untuk kami ?” tanya Sabrina dan Jessy saat mulai terlihat apa yang ada didalam kotak-kotak kecil dari dalam tas itu.


“Iya sayang, itu semua untuk kalian calon istriku, tolong simpan dulu, untuk nanti sebagai mas kawin bagi kalian berdua.”


“Minggu kemarin akang sudah memberikan cincin berlian, aku kira itu sebagai mas kawin.” Ucap Jessy.


”Iya kang, apakah tidak berlebihan ?” tanya Sabrina yang tak kuasa menahan rasa haru atas semua pemberian dari Nata itu


“Tidak sayang, cincin minggu lalu yang aku berikan kepada kalian, anggap saja sebagai cincin pertunangan untuk kita. Sekarang yang kalian pegang itu adalah Mas Kawin untuk kalian. Adapun jumlah nominal uang dolar yang tertera di kartu debet itu sesuai dengan tanggal akad nikah kita nanti.”


“Wahh  ini ada mahkota, kalung, giwang dan cincin berlian juga.” Pekik Jessy.


“Simpan itu semua nanti didalam safety box ruko kita.”


“Terima kasih kang.” Ucap Sabrina dan Jessy yang serentak memeluk Nata dan menangis penuh rasa haru.


“Sama-sama sayangku Sabrina dan Jessy, kalian adalah kedua sayapku, kalian adalah bidadari penyemangat hidupku saat ini sampai akhir nanti.” Jawab Nata sambil balas memeluk kedua calon istrinya itu.


“Kita pulang yuk.”


“Akang sudah Sholat Dzuhur ?”


“Sudah sayang, tadi sambil menunggu semua barang ini dikemas.” Jawab Nata lalu mulai membantu membereskan semua barang yang berada diatas meja itu.


“ehhh kita bayar dulu semua.”


“Sudah kami bayar kang, waktu tadi akang pergi.” Jawab Sabrina


“Ohhh yaa sudah, Nih bawa lagi mobilnya Sab.” Nata lalu menyerahkan kembali kunci mobil itu kepada Sabrina.


“Kok aku lagi yang bawa sih ?” tanya Sabrina.


“Biar kamu semakin lancar, kan nanti kalian masing-masing juga punya mobil seperti ini.”

__ADS_1


“Kita manjakan akang kita Sab. dia sudah membuat kita berdua sangat berbahagia hari ini.” Ucap Jessy sambil mengedipkan mata kepada Nata.


__ADS_2