Tangguh

Tangguh
Bab 42 Ikan bakar di Pantai Cipatujah Tasikmalaya.


__ADS_3

Sore itu Nata benar-benar dipijat oleh kedua istrinya, dia sampai tertidur saat dipijat oleh kedua istrinya itu. Nata sangat menikmati seluruh pijatan dari kedua istrinya itu, Nata lalu dibangunkan oleh kedua Istrinya karena hari sudah menjelang Maghrib.


“Enak banget pijatan kalian, membuat aku jadi terlena ketiduran. Hehehe.”


“Alhamdulillah kalau akang suka dengan pijatan kami.” Jawab Sabrina.


“Tadi pemilik penginapan datang kemari, menanyakan mau dibakar sendiri atau dibakarkan oleh mereka semua ikan itu ?” Tanya Jessy.


“Menurut kalian bagaimana ?”


“Pengen nyoba sih ngipasin dan membakar ikan sendiri, yaa Jess.” Jawab Sabrina lalu melirik kepada Jessy.


“Iya kang sepertinya seru deh bakar-bakar di tepi pantai.”


“Tapi semua ikannya sudah dibumbui kan oleh mereka ?”


“Aku tidak nanya itu tadi kang.” Jawab Jessy.


“Yaa sudah kalian mandi duluan, aku mau ke rumah pemilik penginapan ini untuk menanyakan semuanya itu sekalian nanti kita minta ditunjukkan tempat untuk membakar ikan-ikan itu dipinggir pantai, kalau kita bawa tenda seru juga tuh.”


“Iya nanti kalau kemari lagi bawa tenda kang.” ucap Sabrina.


“Iya nanti kita bisa pakai mobil kamu yang lebih panjang Sab, tendanya bisa nempel ke mobil.” Ucap Nata.


“Ihh mau dong kapan-kapan kita camping di tepi pantai.” Pekik Jessy dengan senangnya.


“OK deh kalian mandi dulu, aku mau kesana sekarang, ke rumah pemilik penginapan ini.” Ucap Nata lalu mengenakan kembali celana training dan t-shirt nya. Kemudian dia pergi menuju ke rumah pemilik penginapan yang tidak jauh letaknya dengan penginapan/ villa yang berada ditepi pantai Cipatujah Tasikmalaya itu.


Tidak berapa lama kemudian Nata datang lagi dengan ditemani oleh beberapa orang remaja yang membawa peralatan masak dan ikan segar yang sudah dibumbui oleh mereka. Tiga orang pemuda remaja yang menemani Nata itu terdiri dari dua orang yang sedang mengangkut peti plastik berisi ikan yang sudah dibumbui yang satu orang lagi membawakan arang batok kelapa dan tempat pembakaran. Nata lalu memperkenalkan kedua istrinya itu kepada mereka.


“Tempat atau lokasi yang bagus pemandangannya dimana ?” Tanya Nata.


“Disana pak, dekat batu karang, disana sudah ada sebuah pondok yang biasa dipakai untuk membakar ikan dan memancing.” Jawab seorang pemuda bernama Asep itu kepada Nata.


“Jauh ga tempatnya ?” tanya Jessy


“Tidak jauh bu, kalau jalan kaki hanya lima menit saja dari sini.”


“Baiklah kita Sholat Maghrib dulu nanti kita berangkat setelah Sholat Mahgrib, kalian sholat juga kan ?” Tanya Nata.


“Hehehe iya dong pak.” Jawab Tatang sang pemuda tanggung sambil nyengir.


Kemudian mereka sholat Maghrib berjamaah didalam penginapan itu. Setelah selesai sholat mereka berjalan menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh tiga orang pemuda tersebut. Setelah sampai di sebuah pondok yang benar-benar berada di bibir pantai batu karang mereka lalu menggelar semua peralatan masak tersebut.


“Pak mau pakai nasi nanti makannya ?” Tanya Tatang.

__ADS_1


“Tanya kepada kedua istri saya tuh, kalau aku sih ga akan pakai nasi.” Jawab Nata sambil mengipasi arang agar semakin menyala di perapian itu.


“Ga usah ahh, aku ga mau pakai nasi.” Ucap Sabrina yang mendengar pertanyaan dari Tatang tersebut.


“Aku juga, kan sudah ada beberapa jagung juga tuh untuk dibakar, jadi tidak usah pakai nasi.” Jawab Sabina.


“Nah kalian dengar kan ? mereka ga suka nasi, sukanya ikan mentah, hehehe.”


“hehehe. Ahh bapak bisa aja.” Kekeh Asep, Wawan dan Tatang, sambil membantu menyiapkan semua ikan dan lobster yang akan dibakar diatas arang batok kelapa itu.


“Kalian jangan pulang dulu yaa, bantu kami untuk menghabiskan ikan yang kami bakar.” Ucap Nata kepada tiga pemuda itu.


“Hehehe siap Pak.”


Sementara itu Sabrina dan Jessy duduk didalam bangku pondok tepi pantai, sambil menunggu ikan yang sedang dibakar, mereka menyiapkan beberapa wadah untuk ikan yang sudah selesai dibakar. Angin malam di tepi pantai menerpa hijab mereka di malam hari itu. Hanya dengan penerangan dari sinar lentera di pondok itu dan sinar bulan yang terang menambah suasana di tepi pantai itu menjadi sangat begitu alami, sangat jauh suasananya dengan hiruk pikuk kesibukan di kota besar.


“Sabrina, kalau kita punya rumah peristirahatan di tepi pantai seperti ini enak juga yaa ?”


“Iya kamu tinggal bilang saja kepada akang kita Jess.”


“OK nanti aku mau bilang deh.” Ucap Jessy sambil tersenyum, matanya yang sipit itu seolah sedang memejamkan mata pada saat dia tersenyum.


Saat sudah selesai semua ikan dan lobster itu dibakar, ketiga pemuda itu malah berpamitan kepada Nata.


“Pak kami mohon ijin untuk pulang.” Ucap Tatang mewakili dua orang temannya.


“Maaf pak, besok kami ujian, jadi tidak bisa berlama-lama disini.”


“Kalau begitu ambil nih untuk kalian bawa pulang sambil menemani belajar.”


“Tidak usah pak, kami sudah sering makan ikan seperti ini. hehehe.”


“Ehh bagaimana ini ? Tunggu sebentar, jangan pergi dulu.” Ucap Nata dengan kebingungan, kemudian dia menghampiri kedua istrinya yang berada di pondok tersebut.


“Itu anak-anak malah pada mau pulang, aku kira mau menemani sampai kita selesai disini.”


“Lho kenapa kang ?” tanya Jessy dan Sabrina sambil mengerutkan keningnya.


“Katanya mereka besok Ujian, jadi tidak bisa lama-lama berada disini. Kalian bawa uang cash kan ? tolong berikan kepada mereka, untuk uang jajannya besok.” Saran Nata kepada kedua istrinya itu.


“Ada kang, nih. Cukup ga segini ?” Ucap Jessy lalu mengeluarkan uang dari tas pinggangnya.


”Ini aku tambah kalau ga cukup.” Ucap Sabrina lalu menambahkan uang dari tangan Jessy kepada Nata.


“OK cukup lah.”

__ADS_1


“Bilang terima kasih dari kami kang.” ucap Jessy dan Sabrina.


“Iya nanti aku sampaikan.” Jawab Nata lalu dia kembali menemui ketiga pemuda tersebut.


“Ini sebagai ucapan terima kasih dari istri saya, tapi tolong bawa dulu ini semua kedalam pondok yaa.”


“Waduh banyak sekali pak, terima kasih, iya nanti kami bawa dan kami rapihkan disana.” Ucap Tatang. Kemudian ketiga pemuda itu mengangkut semua ikan yang sudah dibakar itu kedalam pondok. Setelah itu ketiga pemuda itu berpamitan kepada Nata dan kedua istrinya. Dengan berat hati Nata beserta Jessy dan Sabrina mengijinkan mereka untuk pulang ke rumahnya. Kini suasana di pondok itu menjadi sepi hanya tinggal mereka bertiga.  Nata, Jessy dan  Sabrina lalu mulai menyantap semua ikan yang sudah dibakar itu dengan lahapnya.  Mereka lalu duduk bersandar di bangku panjang pondokan itu sambil menatap laut lepas setelah kenyang selesai makan. Masih banyak sisa ikan yang belum mereka makan. Walaupun Lobster sudah lebih dulu mereka santap sampai habis, rupanya perut mereka sudah kekenyangan tidak mampu lagi menampung ikan bakar yang segitu banyaknya.


“Sayang yaa, alam yang sangat bagus ini kurang dikelola secara baik.” Ucap Sabrina yang sedang duduk di bangku sambil menyederkan punggungnya ke dinding kayu pondokan itu.


“Iya penerangan hanya menggunakan parafin sebagai lentera, padahal listrik di seberang jalan sana sangat terang benderang.” Tambah Jessy.


“Iya beginilah masyarakat di pedesaan, serba terbatas.” Ucap Nata.


“Kalau akang punya tempat seperti ini akan dibuat seperti apa ?” Tanya Sabrina mulai memancing pokok pembahasan baru.


“Aku akan kelola sebaik mungkin, namun aku tidak akan bergantung pada fasilitas yang sudah ada, aku bahkan akan mendirikan fasilitas yang baru dan bisa membuka lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat di sekelilingnya.”


“Kapan itu kang ?“ Tanya Jessy.


“Kalau kalian mau, besok lusa juga akan aku wujudkan, ehhh tunggu kalian mau tempat ini ?” Tanya Nata sambil mengerutkan keningnya, yang kemudian mulai menyadari arah pembicaraan dari kedua istrinya tersebut.


“Iya.” Jawab Sabrina dan Jessy dengan serempak, wajahnya nampak berseri seri walaupun sedikit tersembunyi dari gelapnya malam, namun sinar lentera dan sinar terang bulan  tidak mampu menyembunyikan wajah mereka


berdua yang terlihat begitu senang tersebut.


“Oo...ooww, baiklah kalau memang kalian suka tempat ini. Nanti kalau kita kemari lagi kita selidiki pemilik tempat ini, kita kelola untuk kepentingan masyarakat disini, sambil kita juga nanti bisa lebih menikmati keindahan alam disini.” Jawab Nata sambil menghela napas panjang.


“Terima kasih akang.” Ucap Jessy dan Sabrina lalu mereka bergantian mengecup bibirnya Nata. Membuat Nata menjadi gelagapan untuk bernapas, karena kini dia dicumbu oleh kedua istrinya yang cantik jelita itu dengan menggebu-gebu. Sinar lentera mulai meredup karena kehabisan parafin sebagai bahan bakarnya. Namun Nata bersama kedua istrinya semakin menggelora, bagaikan gemuruh suara ombak yang tidak pernah berhenti menerpa bibir pantai batu karang itu.


“Sudah sayang, jangan disini, nanti keburu ada yang akan datang kemari membawa tempat makanan ini.” Ucap Nata berusaha menghentikan serangan dari dua orang istrinya itu.


“Sisa ikannya kita bawa saja kang, aku masih mau kok.” Ucap Sabrina.


“Iya enak banget bumbunya. Walaupun aku suka dengan Sushi tapi yang ini lebih terasa di lidah rasanya.” Ucap Jessy juga.


“OK kita pindahkan ke tempat yang lebih kecil, nanti sisa perabotannya akan ada yang membawa kok.”


Setelah selesai mengemasi makanan, mereka kembali ke penginapan. Sesampainya di penginapan rupanya Sabrina dan Jessy sudah mulai tidak sabar lagi, Jessy dan Sabrina mulai kembali menyerang Nata, hingga mereka berdua terkapar kelelahan di tempat tidur setelah bercumbu dengan suaminya itu. Pada tengah malam Nata membangunkan Jessy dan Sabrina yang hanya berbalut selimut itu.


“Bangun sayang, kita belum sholat Isya lho. Ayo bangun.” Ajak Nata sambil membangunkan kedua istrinya itu dia mencium mereka bergantian.


“Ugghhh ngantuk, kang.” Keluh Sabrina. Jessy juga mulai mengucek matanya yang sipit itu.


“Iya nanti kita lanjutkan tidur lagi.”

__ADS_1


“Gendong.” Rengek Sabrina dan Jessy.


“Aduh manjanya kalian yaa.” ucap Nata, namun satu persatu tubuh istrinya itu dibawanya ke kamar mandi dengan dibopong olehnya. Dinginnya air pada tengah malam itu membuat bola mata Jessy dan Sabrina menjadi kembali terjaga. Setelah mandi, merekapun melaksanakan Sholat Isya. Di ruang depan penginapan itu. Jessy malah tertidur kembali diatas sajadahnya. Mau tidak mau akhirnya Nata membopong tubuh istrinya itu ke tempat tidur.


__ADS_2