
Meskipun kultur adat dan kebiasaan kedua istrinya Nata itu berbeda, namun hati mereka tidak bisa berkata lain hanya satu kalimat yang bisa menyatukan mereka bertiga yaitu Cinta dan kasih sayang. Nata berpikir apapun akan dilakukan terhadap kedua istrinya itu meskipun itu berupa nyawa sebagai taruhannya. Ini sebagai bukti yang sangat kuat bahwa Nata sangat mencintai kedua istrinya itu, dia bahkan sangat sukar membedakan kasih sayang terhadap kedua istrinya itu. Singkatnya begini apabila Sabrina diberi satu maka Jessy juga akan diberikannya satu, apabila Jessy diberi sepuluh maka Nata juga akan memberikan sepuluh sebagai hak atas kedua istrinya yang sangat dia cintai itu.
Maka ketika Jessy meminta giliran hari ini adalah menemani dia untuk test drive mobil barunya Jessy, Nata sangat konsekuen dengan semua keputusanya itu. Nata lalu duduk di kursi penumpang Rubicon Kuning Manual transmision itu. Sementara Jessy memegang kemudi mobilnya, Sabrina duduk di depan di sampingnya Jessy. Seperti kemarin, Jessy mengisi dulu BBM untuk mobilnya yang baru itu di SPBU terdekat. Setelah itu mobil itu meluncur ke arah Timur, bukan ke Barat barat seperti kemarin.
“Kamu mau bawa kita kemana pagi ini Jess ?” Tanya Nata.
“Ke Kota kelahiran Akang.”
“Tasik ?” tanya Nata dengan kening berkerut.’
“Iya kenapa ga boleh ?”
“Boleh saja, memangnya kamu tahu jalan kesana ?”
“Aku sering bawa mobil yang lebih besar daripada yang ini kang kemana-mana, akang lupa yaa ?”
“Ohhh iya, hehehe.” Kekeh Nata. Sedangkan Sabrina nampak masih duduk manis sambil membaca sesekali menulis di ponselnya.
“Hampir empat jam lho kesana, belum ada jalan tol juga untuk sampai kesana.” Nata mengingatkan kembali.”
“No problemo.” Jawab Jessy dengan penuh percaya diri. Kini mereka mulai masuk pintu tol Padalenyi dari arah pintu tol Buah Batu. Selama ini mobil yang masih dalam kondisi prima itu nampak sangat garang dan gesit saat berada di jalan tol.
“Awas jangan sampai kita dikejar oleh Mobil Patroli jalan tol lho, jangan terlalu ngebut.” Nata kembali mengingatkan.
“Hehehe hanya cek tenaganya saja kang, nanti juga pelan lagi kok.” Kekeh Jessy.
“Jess nanti masuk rest area sebentar yaa, aku pengen pipis.” Pinta Sabrina.
“OK Sabrina bestieku sayang.” Jawab Jessy. Kemudian sebelum keluar dari pintu tol Cileunyi mereka merapat menuju rest area. Nata dan Jessy tidak turun dari mobil mereka berdua hanya menunggu di dalam mobil sambil mendengarkan lagu yang diputar di mobil itu. Tak lama kemudian Sabrina kembali masuk kedalam mobil, namun tidak duduk di depan lagi, melainkan duduk disampingnya Nata.
“Jess aku dibelakang yaa, ngantuk banget nih.” Kelu Sabrina.
“OK Bestie.” Jawab Jessy lalu wanita berdarah Jepang itu segera meneruskan mengemudikan mobilnya menuju ke Tasikmalaya.
Pada saat tidur Sabrina memeluk tubuh Nata dan menyandarkan badannya ke tubuh Nata, Nata pun lalu mengerti kemudian balas memeluk tubuh indah istrinya itu. Alunan suara musik yang merdu dan goyangan kendaraan yang halus suspensi dari mobil itu membuat Nata juga seperti dininabobokan, Nata pun mulai terasa mengantuk. Kini Nata dan Sabrina tidur dengan saling berpelukan dengan kepala saling bersentuhan. Jessy lalu memperhatikan Sabrina dan Nata itu dari kaca spionnya. Mobil sudah mulai memasuki Limbangan Garut terus menuju ke arah Timur. Saat tiba di tanjakan Gentong Jessy lalu memasuki rest area tanjakan Gentong. Dengan perlahan lalu mulai memarkir Mobilnya. Nata kemudian terbangun karena merasakan mobil yang ditumpanginya berhenti dan parkir.
“Kita sudah sampai Jess ?” Tanya Nata dengan suara pelan, karena khawatir membangunkan Sabrina yang masih terlelap tidur itu.
“Belum kang, enak banget kalian berdua tidur. Aku juga jadi pengen hehehe.”
“Ayo sini, masih muat kok untuk bertiga di belakang.” Ucap Nata lalu menggeser sedikit tempat duduknya, untuk memberi tempat kepada Jessy. Sementara itu Sabrina masih sangat pulas tidurnya. Jessy lalu turun dari jok kemudinya, lalu menghampiri tempat duduk disampingnya Nata. Setelah itu lalu Jessy mencium dan ******* bibirnya Nata dengan sangat lembut. Nata pun membalas ******* bibir istrinya itu dengan tak kalah lembut dan hangatnya. Jessy nampak mulai terpengaruh dengan suasana, lenguhanpun tak dapat ditahannya.
“Kamu mau kita sekarang melakukannya disini ?” tanya Nata.
“Enggak kang, aku hanya ingin dipeluk dan dicium saja dulu sambil beristirahat sebentar disini.” Jawab Jessy lalu melanjutkan mencium lagi suaminya. Hijab dan kancing baju depan Jessy kini mulai berantakan karena jamahan dari kenakalan tangannya Nata. Gerakan dari Nata dan Jessy itu akhirnya membuat Sabrina terbangun.
__ADS_1
“Ihh kalian malah bercumbu di mobil.” Keluh Sabrina, namun diapun akhirnya bergabung dengan Nata dan Jessy.
“Ahhhh sudah, nanti ada orang lain yang memperhatikan mobil ini bergoyang.” Ucap Nata berusaha untuk menghentikan kegiatan kedua istrinya itu.
“Hihihi dia takut Jess.” Ucap Sabrina yang sudah berhasil membuka Jacket kulit dan bajunya Nata itu.
“Sebentar saja kang, tolong puaskan aku.” Rengek Jessy.
“Sabar yaa, nanti kita cari penginapan di depan saja.” Jawab Nata lalu mulai memakai kembali bajunya.
“Ihhh akang, nanggung nih.” Rengek Jessy lagi.
“Sini biar aku saja deh yang gantian nyetir, aku tahu di daerah sini ada penginapan yang dekat.” Ucap Nata kemudian. Jessy pun, menurutinya.
“Kunci kontaknya masih menempel kok di sana.” Jawab Jessy, dia tidak berusaha untuk membenahi pakaiannya yang sudah acak-acakan itu.
“Sudahlah Jessy, nanti kita lanjutkan di penginapan saja, sekarang kita lanjutkan tidur, temani aku tidur dibelakang sini.” Bujuk Sabrina yang sangat paham dengan keinginan Jessy itu. Nata lalu turun dari mobil itu. Kemudian naik ke jok pengemudi, lalu mobil itu mulai kembali meluncur di jalanan, untuk mencari penginapan terdekat. Nata yang sudah cukup tidur selama setengah jam itu kini merasa segar. Dia mulai mengemudikan mobil menuju ke tempat yang sangat dia ketahui. Dilihatnya dari kaca spion kedua istri tercintanya kini kembali tertidur. Waktu tempuh yang biasa dilalui dengan dua jam kini hanya satu jam saja Nata mengendalikan Mobilnya hingga mereka kini berada disebuah pantai yang indah. Di pesisir selatan pulau Jawa. Nata sudah memarkirkan kendaraanya itu di sebuah penginapan dengan pemandangan yang menghadap langsung ke pantai. Luasnya Samudra Hindia terpampang di depan sana.
“Kita sudah sampai kang ? Ehh kok bukan di kota ? Malah di pantai.” Tanya Sabrina yang lebih dulu terbangun.
“Hehehe. Kalian nyenyak banget tidurnya, tunggu saja kalian berdua didalam mobil, aku mau memeriksa dulu penginapannya.”
“Iya kang. Jess bangun, kita sudah sampai bestie.”
“Ugghhh sampai dimana ?” tanya Jessy sambil mengucek matanya.
“Hah ? jauh banget dong dari kotanya.” Pekik Jessy dengan terkejut lalu bangkit, matanya lalu memandang sekeling pemandangan di luar mobil itu.
“Iya signal ponsel juga lemah disini.” Ucap Sabrina saat memeriksa ponselnya.
“Padahal aku ingin sekali ke rumahnya akang kita Sab.” keluh Jessy.
“Belum saatnya Jessy dan Sabrina sayangku. Nanti juga kalau sudah tiba saatnya, kita akan dikenalkan
kepada saudara-saudaranya, sabar saja. Ayo kita turun, kalian ada yang bawa uang cash ?” tanya Nata.
“Ada kang di kantong kecilku.” Jawab Sabrina.
“Aku juga ada, disini ga bisa pakai pembayaran elektronik yaa?”
“Iya dong sayang, makanya aku tanya juga, rapikan dulu baju kalian berdua, jangan sampai menjadi pemandangan gratis untuk mereka nanti. Hehehe.”
“Berapa kang sewa penginapannya ?” Tanya Sabrina.
“Hanya Rp. 250.000. semalam.” Jawab Nata.
__ADS_1
“Hah murah banget, pasti tadi akang sudah tanya pakai bahasa Sunda yaa ?” tanya Sabrina lagi.
“Iya dong, aku bilang sedang jadi Guide untuk turis asing, hihihi.”
“Ihh dasar borokokok akang mah. Hihihi.” Ucap Jessy, Sabrina pun ikut tertawa geli saat mendengarkan bahasa yang diucapkan oleh Jessy tersebut. Setelah pakaian kedua istrinya rapi kembali, mereka turun dari mobilnya, lalu mengikuti langkahnya Nata untuk masuk kedalam rumah yang dijadikan tempat penginapan itu.
Sang pemilik penginapan pun menyambut kedatangan Sabrina dan Jessy dengan penuh hormat. Lalu pemilik penginapan itu menunjukkan kamar-kamar, didala rumah penginapan itu terdapat dua buah kamar tidur kamar tidur yang satu nampak lebih besar dari kamar tidur yang kedua, dua buah kamar mandi terletak di luar kamar tidur. Namun semuanya nampak masih sangat terawat rapi dan wangi membuat Sabrina dan Jessy langsung menyetujui penginapan yang ditunjukkan oleh Nata itu.
“Kami bayar dua malam sekaligus yaa Pak.” Ucap Sabrina dengan logat bulenya yang kental itu.
”Baik neng, silahkan, semoga beta, kalau butuh makanan atau perlenkapan lain bilang saja sama abah.” Jawab yang pemilik penginapan itu dengan sangat ramah.
“Aku mau ambil baju ganti kita di mobil.” Ucap Jessy.
“Hah Kalian bawa baju ganti ? ck ck ck.” Tanya Nata dengan berdecak heran.
“Iya dong, sekarang kami sudah prepared duluan kang, kami juga bawa baju ganti untuk akang kok.” Jawab Sabrina. Nata lalu membantu kedua istrinya untuk menurunkan Traveler bag di dalam bagasi mobil Rubicon Kuning Manual transmision itu.
“Benar-benar niat yaa, kalian.” Ucap Nata sambil garuk-garuk kepala saat mereka sudah berada
kembali didalam rumah penginapan tepi pantai itu.
“Hehehe. Pokoknya kami harus selalu siap membawa traveler berisi baju ganti, di dalam bagasi mobil, supaya siap selalu untuk menculik akang kemana pun pergi.”
“OK sip, kalian memang berdua adalah istriku yang sangat sigap.” Ucap Nata sambil mencium Sabrina dan Jessy bergantian, namun saat mencium Jessy, Jessy tidak melepaskan ******* dari bibirnya Nata tersebut, dia malah memeluk dan membanting Nata ke arah tempat tidur.
Sabrina segera menutup dan mengunci pintu penginapan itu, agar lebih aman dan nyaman tanpa ada gangguan dari siapapun saat mereka berada didalam rumah penginapan tersebut. Sabrina bahkah membantu Jessy untuk melucuti semua pakaian Nata dan Jessy. Setelah itu dia baru membuka semua pakaian miliknya juga. Suara debur ombak di pantai pada siang hari itu seolah meredam suara di dalam penginapan itu. Karena didalam kamar tidur utama penginapan itu kini hanya terdengar lenguhan, erangan dan ******* yang bergantian dari tiga orang yang berada didalam kamar tidur utama penginapan itu. Mereka masih berpelukan dan bermandi keringat yang deras didalam kamar itu, saat dari kejauhan terdengar suara Adzan Dzuhur. Nata lalu bangkit dari tempat tidur itu, diikuti oleh Sabrina dan Jessy.
“Aku mandi disana yaa, kalian disitu berdua mandinya.” Ucap Nata.
“Iya kang.” Jawab Sabrina dan Jessy.
Setelah selesai mandi Nata yang sudah lebih dahulu selesai mandi lalu mulai membuka traverler bag besar yang dibawa oleh kedua istrinya itu. Benar saja semua pakaian miliknya maupun milik Sabrina dan Jessy dibawa lengkap didalam koper itu. Nata lalu mengeluarkan tiga helai handuk, kain sarung dan Sajadah, juga mengeluarkan mukena dan sajadah untuk kedua istrinya itu. Sebelum mengenakan kain sarung dia lalu mengeringkan badannya dengan handuk yang tadi dikeluarkan dari traveler bag tersebut, lalu sambil mengerinkan badannya Nata menghampiri kamar mandi yang dipakai oleh Jessy dan Sabrina.
“Sayang, ini handuk untuk kalian berdua.” Ucap Nata sambil mengetuk pintu kamar mandi tersebut. Lalu pintu kamar mandi itu terbuka, Sabrina yang membukakan pintu kamar mandi lalu meraih dua helai handuk yang disodorkan oleh Nata kepadanya.
“Thanks kang.”
“OK No problem.”
__ADS_1
Nata lalu mulai mengenakan pakaian dalam dan sarung yang tadi dikeluarkannya, terakhir dia kenakan kembali t-shirt nya. Setelah itu dia mencari arah kiblat dengan menggunakan ponselnya di ruang tamu yang luas pada penginapan itu. Lalu disusunlah tiga helai sajadah yang dikeluarkannya sesuai dengan arah kiblat yang tadi ditemukan dengan ponselnya itu. Dua helai sajadah sudah disiapkan dibelakang sajadah miliknya dilengkapi diatasnya dengan mukena milik Jessy dan Sabrina.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, lalu keluarlah kedua istrinya Nata itu dengan hanya berbalutkan kain handuk besar. Rambutnya Jessy dan Sabrina nampak masih basah, kemudian Sabrina dan Jessy mulai mencari dan mengenakan kembali pakaian dalamnya yang berada didalam kamar tidur.