
Sore itu mereka sudah kembali dari Ciwidey, suasana yang seharusnya menyenangkan, nampak tidak begitu bagi Jessy dan Sabrina yang masih termakan api cemburu itu. Setelah mereka sampai di basement, Sabrina dan Jessy dengan begitu saja meninggalkan Nata sendirian di dalam basement. Nata pun mengerutkan keningnya, tanda tidak mengerti dengan kedua tingkah laku calon istrinya itu. Nata lalu menutup pintu rollingdoor dan pintu dalam garasi basement itu. Sejenak lalu Nata terpaku, dia harus segera membenahi pintu masuk ke basement ruko itu, karena dirasanya kurang praktis harus selalu turun dari kendaraannya untuk menutup pintu sebelum maupun setelah keluar dari basement.
Nata lalu menelepon beberapa vendor yang bisa mengerjakan pekerjaan membuat pintu otomatis dengan penggerak tenaga baterai, agar tidak mengganggu jika tidak ada tenaga listrik dari PLN. Sambil berjalan menuju ruangan kerjanya di lantai satu, dia menelepon perusahaan vendor itu. Saat dia sampai di ruangan Ruko yang dijadikan kantornya saat ini dia melihat kedatangan seorang sales cantik, yang kemarin bertransaksi dengannya. Kini sang sales cantik bernama Yanti itu terlihat sedang berbicara dengan Sabrina dan Jessy. Karena sudah ditangani oleh Jessy dan Sabrina Nata pun memasuki ruang kerjanya. Dua perangkat komputer berjenis PC dan Laptop pun segera dinyalakannya kembali. Karena sesuai sengan Vendor mereka mengirimkan data-data untuk merehab pintu basement.
Nata lalu menyetujui salah satu desain yang menurutnya simpel dan lebih mudah cara pengoperasiannya. Karena hanya menggunakan aplikasi dari ponsel atau secara langsung bisa menggunakan remote yang sebesar kunci mobil.
“Kang ini BPKB dan Faktur pembelian mobil barunya.” Ucap Jessy lalu duduk di kursi hadap didepan mejanya itu.
“Ohh ternyata lebih cepat selesainya. Alhamdulillah kalau begitu. Sabrina mana ?”
“Dia masih ngobrol sama Yanti sales cantik itu.” Jawab Jessy dengan menekankan kata Cantik kepada Nata, namun Nata tidak menghiraukannya, malah bertanya tentang hal lain kepada Jessy.
“Jess tanah yang sudah kamu bawa foto copy sertifikatnya kapan akan kita lihat ?”
“Kapan saja boleh kata pemilik tanah tersebut kang. tanah itu sudah dia tititipkan kepada adiknya yang rumahnya berdekatan dengan lokasi tanah yang akan dijual olehnya itu.”
“Terus kalau bank yang akan dijual bagaimana ?”
“Kalau untuk itu biar nanti Sabrina yang menjelaskannya langsung Kang..”
“Nanti kita bisa pasang ATM di ruko ini di ruang kerja kita, agar bila perlu uang cash setiap saat selalu tersedia. Jika transaksi pembelian Bank sudah selesai dan Bank sudah kita ambil alih pengoperasiannya.” Ucap Nata sambil menunjuk sebuah sudut koridor yang berdekatan dengan ruang kerja Jessy, Sabrina dan ruang kerja miliknya yang semuanya mempunyai dinding kaca akrilik itu sebagai sekat tiap ruang kerja mereka.
“Tuh Sabrina datang.” Ucap Jessy.
“Lama juga kamu ngobrol sama sales itu Sab. mau beli mobil juga ?” tanya Nata dengan wajah serius.
“Engak juga kang, ternyata Yanti itu temanku semasa kuliah. Jadi kami ngobrol banyak deh.”
“Ohhh sama-sama di jurusan psikologi ?”
__ADS_1
“Iya benar, namun dia sudah beberapa kali pindah kerja, terakhir yaa di dealer mobil itu.”
“Hmmm ternyata Bandung sempit juga yaa, ketemunya itu-itu lagi. Hehehe. Terus ngobrol apa lagi sama dia Sab. ?”
“Aku sampaikan saja, bahwa sebentar kali kita akan segera menikah, dia pun terkejut kang dan langsung berpamitan. Dan bilang bahwa saya sungguh beruntung katanya menjadi istrinya akang nanti. Hehehe.” Kini wajah Sabrina dan Jessy kembali ceria saat mendengar cerita dari Sabrina itu
“Bagus lah, katanya dia itu mau datang besok, kok tiba-tiba nongol barusan ?”
“Katanya sih besok dia jadwalnya padat, barusan dia bawa BPKB dan Faktur pembelian karena kebetulan akan menemui seorang costumer yang lokasinya searah sore ini dengan Ruko kita.”
“Ohh begitu, kembali lagi ke pokok pembicaran, bagaimana dan siapa pemilik Bank itu, mengapa dia menjual bank lalu sekarang posisi pemilik bank itu ada dimana ?”
“Aku haus, boleh ngambil air minum dulu kang ?”
“Iya boleh sayang, kamu juga Jess sayang, silahkan minum dulu, sekalian tolong bikinkan aku kopi deh.”
“Ehhh Jess, persiapan kita nanti untuk menikah, lebih baik sewa jasa Wedding Organizer saja yaa ?” tanya Sabrina yang sedang menyeduh satu pitcher air teh disamping Jessy yang sedang menyeduh air kopi untuk Nata di dapur mereka itu. Sabrina lalu menuangkan bongkahan es batu kedalam pitcher air teh yang dibuatnya dan diberikan sedikit perasan lemon dan cairan sirup pemanis.
“Iya Sab, aku sih setuju saja, sekarang yang lebih utama adalah meeting dengan notaris dan para pemilik aset yang akan kita beli, saranku bagaimana jika kita ajak kemari saja meetingnya, untuk makanan dan tinggal pesan katering saja, toh kita sekarang sudah mempunyari ruang meeting di lantai satu Ruko ini.”
“Benar juga saranmu Jess, jangan akang kita menunggu terlalu lama, termasuk menunggu kopi yang kamu buatkan itu untuknya. Hehehe.”
“Aku nanti minta air es teh nya bestie.”
“Beres deh, ayo kita temui lagi Akang Boss kita.” Mereka pun lalu memasuki lagi ruangan kantornya Nata. Wangi harum kopi seketika membuat Nata yang sedang membaca email mengalihkan pandangannya kepada Jessy yang sedang membawa secangkir kopi untuk Nata itu. Lalu Jessy dan Sabrina duduk di kursi hadap setelah mereka menuangkan air es teh ke dalam gelasnya masing-masing. Nata yang sudah tidak sabar segera meraih cangkir kopi itu.
“Awas, masih panas kang.”
“Ehhh iya panas banget, aku ga tahan menghirup aroma dari kopi buatanmu Jess.”
__ADS_1
“OK kang, sambil menunggu kopinya dingin, aku akan ceritakan tentang siapa pemilik bank itu dan mengapa mereka menjual asetnya.”
Sabrina lalu menceritakan kolega yang sudah dikenalnya sejak lama itu, lalu menceritakan mengapa sang pemilik bank berniat menjual semua aset yang sudah lama dibangunnya. Sampai detail dan dapat dimengerti oleh Nata.
”Sepertinya kita membutuhkan team Notaris dan team audit deh, untuk menghitung dan meneliti seluruh aset bank yang akan kita beli itu.”
“Iya kang, Notaris kita juga bilang begitu, jadi kita perlu meeting untuk membentuk team kita terlebih dahulu yang sesuai dengan bidangnya. Nah bagaimana jika kita adakan saja disini meetingnya kang ? kita kan sudah punya ruangan yang sangat memadai untuk mengadakan meeting di Ruko ini.”
“Boleh, silahkan kamu atur berdua dengan Jessy sekalian kamu bantu juga Jessy untuk transaksi pembelian tanah yang masih berupa lahan kosong itu.”
“Baik kang, ayo Jess kita diskusi berdua dulu, bawa saja air tehnya itu ke ruang kerja kita.”
“OK,” Jawab Jessy singkat, lalu membawa minuman itu menuju ke ruang kerjanya.
Kini Nata kembali mengawasi layar monitornya, melihat gambar desain pintu basement itu dengan lebih teliti. wah bagus juga, simpel dan canggih, mudah dioperasikan juga.’ Guman Nata. Lalu Nata membuat janji untuk segera menyelesaikan pekerjaan itu, sekalian Nata juga menanyakan tentang pemasangan lift untuk tahap keduanya nanti.
Matahari mulai redup sinarnya, sudah berlalih ke bagiian lain untuk menyinari bagian yang belum disinarinya itu. Malam mulai terasa semakin gelap. Nata telah menyalakan semua lampu luar Ruko itu dengan bantuan remote nya. Setelah mereka selesai Shalat Maghrib berjamaah kini Nata bertiga dengan Jessy dan Sabrina duduk santai di lantai tiga, didalam ruangan yang sudah dibuat home theater itu. Mereka sedang menikmati alunan musik dari sound system yang tadi diperasikan oleh Nata. Jessy dan Sabrina duduk bersender ke bahunya Nata. Nata pun membelai kepala kedua calon istrinya itu dengan pelan dan lembut, Sabrina dan Jessy melepaskan mukena yang dikenakannya, kepalanya dan sekujur badannya masih tertutup kain mukena dengan warna cream itu.
“Kalian belum lapar ?” tanya Nata kepada Jessy dan Sabrina.
“Belum terlalu lapar sih, akang mau pesan makanan ? biar aku pesankan dengan ponselku, kamu mau makan apa Sab ?”
“Apa saja deh Jess, yang penting selalu dekat dengan akang kita. Hehe.”
“Pesan masakan padang saja yaa ? biar hangat karena banyak rempah-rempahnya.“ tawar Jessy.
“OK cocok tuh Jess, rendang, terong balado dan gulai cincang, aku pesan itu.”
“OK pesan tiga porsi saja sekalian kalau begitu, aku juga suka banget tuh.” Jessy lalu mengetik pesanan itu melalui aplikasi di ponselnya. Sedangkan kini Sabrina malah memeluk lebih erat tubuh Nata. Nata pun membiarkan calon istrinya itu memeluknya bahkan kini dia mencium kening Sabrina, yang sedang memejamkan mata sambil memeluk Nata. Nata lalu bergantian mengecup keningnya Jessy, dengan sangat lembut. Ternyata api cemburu itu kini telah padam dengan sendirinya.
__ADS_1