
Siang itu Nata mengemudikan mobil Ferrari Merah itu bersama Sabrina dan Jessy, menuju ke kedai Kopi Pekat milik Andi. Ternyata disana sudah ada Mira dan Putri.
“Wah mimpi apa nih, kalian ga kesasar sampai kemari kan ?” Tanya Mira.
“Hehe tidak Teteh.” Jawab Sabrina lalu bersama Jessy cipika cipiki dengan Mira dan Putri yang menyambutnya dengan ramah di kedai Kopi Pekat itu.
”Teh Ane kemana ?” Tanya Jessy.
“Dia sedang dapat giliran tugas seminggu ini untuk mendampingi Kang Andi.” Jawab Putri.
“Ohhh begitu, Kang mau pesan apa ?” Tanya Sabrina.
“Apa saja deh yang penting ada nasinya juga.” Jawab Nata, yang dari tadi terdiam sedangkan matanya memandang menjelajahi semua sudut Kedai Kopi Pekat itu.
“Kalau aku kesini karena sudah kangen ingin merasakan kembali rujak serut yang disajikan disini.” Ucap Jessy sambil tersipu-sipu.
“Wah jangan-jangan kamu sedang ngidam tuh.” Ucap Mira. Dengan pandangan penuh selidik terhadap Jessy.
“Ceritanya kamu nyusul Sabrina yaa Jess ?” tanya Putri juga.
“Emangnya balapan mobil, pakai istilah susul menyusul. Hihihi.”
“Ehh serius lho, setiap yang makan rujak serut disini sore harinya atau besoknya langsung cek kehamilan di dokter kandungan.” Jawab Putri.
“Masa sih ? Kok bisa begitu ?” Tanya Jessy dengan wajah menunjukkan penuh dengan rasa heran. Keningnya langsung berkerut menunjukkan ekspresi herannya.
“Lebih baik nanti kamu periksa ke dokter kandungan deh Jess, semoga hasilnya positif.” Saran Mira.
“Aamiin, OK deh teh nanti aku akan periksa, sekarang perutku lapar, ingin segera diisi hehehe.” Kekeh Jessy. Keempat ibu-ibu muda itu lalu mulai memesan makanan dan berceloteh dengan riangnya, sedangkan Nata mengisi waktu menunggu datangnya makanan dengan berkeliling keseluruh area Kedai Kopi Pekat itu, sembari menghisap rokok kretek kegemarannya. Area kedai Kopi Pekat yang berada di bukit Dago Pakar yang berudara sejuk itu terasa membuat nyaman, Nata lalu duduk di sebuah kursi di balkon kedai itu sambil memandang indahnya Kota Bandung dari arah Utara. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah mendekati Nata.
“Kang kok ga bilang-bilang sih naik kesini ?” Tanya Sabrina, yang kemudian turut duduk disampingnya Nata.
“Aku sedang merokok, kalau merokok di bawah nanti asapnya mengganggu kalian, jadi aku duduk disini saja sementara.” Kilah Nata berdalih sebagai alasan untuk menjelaskan kepada Sabrina.
“Heem Kang, sepertinya Jessy sedang hamil juga deh.” Ucap Sabrina sambil memandang wajahnya Nata, kedua bola mata berwarna biru indah itu seakan turut menanti jawaban dari Nata.
“Alhamdulillah kalau begitu, nanti kamu juga ikut yaa untuk mengantar periksa kandungan, sekalian kamu juga diperiksa lagi.”
“Iya Kang, kalau sudah selesai merokoknya kita makan bareng dibawah yaa, aku kembali lagi kesana sekarang. Cup.” Ucap Sabrina lalu mengecup pipinya Nata.
“Iya sayang, nanti aku nyusul, tanggung sedikit lagi nih.” Jawab Nata dengan senyuman tersungging di bibirnya, Sabrina lalu dengan perlahan kembali menuju ke lantai bawah, bergabung kembali bersama Jessy, Mira dan Putri.
”Waduh kamu sudah makan rujak duluan Bestie.” Tegur Sabrina saat melihat Jessy sedang menyantap rujak serut dengan lahapnya.
“Hehehe iya Sab, enak banget nih, segar, tidak terlalu pedas juga. Kamu mau ? nih ada beberapa piring.”
“Mau dong, sambil nunggu pesanan makanan lainnya, kita makan rujak dulu deh.”
“Akang kita pasti sedang merokok yaa ?”
“Iya Jess, nanti dia akan kembali kemari setelah selesai merokok. Waah enak banget rujaknya.”
“Mau diantarkan juga untuk Kang Nata rujaknya ?” Tanya Putri.
__ADS_1
“Tidak perlu teh, sebentar lagi juga akang kembali kesini.” Jawab Sabrina. Tidak berapa lama kemudian Nata kembali duduk bergabung di lantai satu Kedai Kopi Pekat itu.
“Ohh iya tolong sampaikan terima kasih kepada Charlie, karena tempo hari sudah mengajarkan cara menggunakan aplikasi perbankan di ponsel kami.” Ucap Mira.
“Iya teh nanti saya sampaikan, mulai sekarang Charlie akan memimpin Kantor Cabang Utama Bank NSP di Jakarta.” Jawab Jessy.
“Hebat, sampaikan selamat juga dong dari kami. Kantornya dimana alamatnya ?” Tanya Putri.
“Tidak jauh dari Kantornya Kang Andi kok teh.” Ucap Sabrina turut menjawab pertanyaan dari Putri.
“Keluarganya juga ikut diboyong ke Jakarta juga dong ?” Tanya Mira.
“Iya dia tentu dong Lusy dan anaknya juga dibawa kesana, dia juga diberikan fasilitas rumah dinas sebagai Kepala Kantor Cabang Utama.”
“Nah ini makanan pesanan kalian sudah datang. Ayo kita makan.” Ucap Putri, saat beberapa orang pelayan di Kedai Kopi Pekat itu mulai menyajikan makanan diatas meja besar itu.
“Wangi pepes ikan mas nih.” Pekik Nata yang baru turun dari balkon kedai itu.
“Iya Kang, pepes ikan mas tulang lunak lho, resep dari teh Ane.” Ucap Putri menjelaskan masakan yang sudah terhidang di meja makan itu. Nata lalu duduk dan memimpin doa makan, mereka pun mulai makan bersama.
“Mantap teh, tulang ikannya benar-benar lunak, kalau bisa malah daun pisangnya juga bisa dimakan, hehehe.” Kekeh Jessy yang menikmati juga pepes ikan mas itu.
“Bestie mau saingan sama kambing yaa makan daun-daunan ?” Tanya Sabrina. Semua orang yang ada disana pun tertawa saat mendengar celotehan polos dari Sabrina itu.
“Enak saja aku disamakan dengan kambing, hihihi.” Jawab Jessy.
“Saya pamit dulu sebentar yaa, mau jemput anak-anak dari play group. Tenang saja, kalian disini masih di temani oleh Teh Mira kok.” Ucap Putri.
“Ohh jam dua siang pulangnya ? bawa mereka semua kesini teh, aku kangen juga sama si kembar.” Ucap Sabrina.
“Tidak terasa sudah hampir dua jam kita disini.” Ucap Nata sambil mengusap mulutnya dengan tissue.
“Iya Kang Nata, kalau sudah nongkrong di kedai memang waktu terasa berjalan dengan cepat, begitu juga kalau kami dengan Kang Andi sedang nongkrong disini.” Jawab Mira.
“Yang membuat betah itu adalah suasana dan penataan semua ornamen di kedai ini, kita seperti tersihir untuk berlama-lama disini, hehehe.” Tambah Sabrina.
“Ehh Teh Putri menjemput empat orang anak dong dari Play Group ?” Tanya Jessy.
“Iya, tadinya hanya anaknya aku dan Ane yang sekolah, namun ternyata si kembar seperti ingin juga bersekolah seperti kedua kakaknya.”
“Seru juga yaa, kalau di rumah bagaimana ?” Tanya Sabrina.
“Biasalah pasti repot dong, namanya juga anak-anak, untungnya kami juga dibantu oleh dua orang baby sitter baik di rumah, maupun di sekolah mereka.” Jawab Mira.
“Hmmm Akang malah ingin punya selusin anak dari kami, hehehe.” Ucap Jessy.
“Iya enam orang dari aku dan Jessy. Teh. Katanya supaya rumah jadi ramai. Iya ga Kang ?” Tambah Sabrina sambil melirik ke arah Nata.
“Iya inginnya sih begitu, tapi semua itu kita serahkan kepada Yang Maha Memberi.” Jawab Nata.
“Waduh selusin ? Ngurus empat orang anak saja kami sudah mulai kerepotan, apalagi selusin, hehehe.” Kekeh Mira.
“Insya Allah semoga kami sanggup teh, seperti teteh juga nanti kami akan memakai jasa baby sitter untuk membantu mengasuh anak-anak kami.” Jawab Sabrina.
__ADS_1
“Ohh iya teh, kami akan mulai menjalankan program berbagi, kami akan setiap hari memesan makan untuk dibagikan kepada yang berhak menerimanya, untuk itu kami akan memesan makanan dari katering di kedai ini. Semua ide ini tercetus dari Sabrina dan Jessy.” Ucap Nata.
“Boleh, berapa bungkus nasi yang akan dibagikan ?”
“Untuk langkah awal sekitar lima puluh bungkus dulu, kita berdayakan para driver Ojol untuk membagikan semua makanan tersebut.” Tambah Nata.
“Kami juga mau dong turut serta untuk ikut dalam program berbagi tersebut, nanti akan saya bicarakan dulu dengan kang Andi juga Ane dan Putri deh, boleh ga kalau ngajak teman-teman yang lain juga ?”
“Silahkan saja teh, tapi kalau bisa jangan di ekspose ke medsos deh.”
“Bagaimana kalau kita bentuk saja sebuah WA Group, yang anggotanya terdiri dari beberapa orang yang ikut dalam program berbagi berkah ?” Tanya Jessy.
“Iya Jess, silahkan saja tapi aku jangan masuk ke grup tersebut, kalian berdua saja yang jadi anggotanya, aku hanya memantau saja semua kegiatannya.” Jawab Nata dengan serius.
“OK deh nanti kita kumpulkan beberapa anggota dari emak-emak saja, para bapak cukup memantau saja, hehehe.” Kekeh Mira.
“Setuju teh, kita buat saja sekarang, aku Jessy, Teh Mira Teh Ane dan Teh Putri sebagai anggota awal dari grup tersebut.”
“Kamu Jess buat sekarang saja, sekalian kita rencanakan dalam grup itu untuk pendistribusiannya, kemana saja sebaiknya.”
“OK Siap teh.”
“Kalau dari kalian 50 bungkus dari aku 50 bungkus, total jadi 100 bungkus, cukup deh sebagai langkah awal, kapan akan dimulainya ?”
“Kalau mulai besok pagi siap teh ?” Jawab Sabrina.
“Siap dong, menu makanannya setiap hari berganti yaa ?” Tanya Mira.
“Silahkan saja dari pihak katering untuk mengatur menunya setiap hari.” Jawab Jessy dengan semakin antusias membahas hal tersebut. Sementara itu Nata hanya menyimak pembicaraan tiga orang ibu muda itu dengan seksama. Dalam hatinya dia sangat bersyukur karena ternyata Mira juga tertarik dengan program berbagi berkah itu, semoga saja lebih banyak orang yang tertarik dengan program tersebut dikemudian hari.
Setelah selesai mendiskusikan program berbagi berkah tersebut, Nata bersama Sabrina dan Jessy kembali menuju ke kantor, sebelumnya mereka mampir dulu ke rumah sakit bersalin, untuk memeriksa kondisi dari Sabrina dan Jessy. Benar saja ternyata kini didalam rahimnya Jessy juga sudah tumbuh benih janin. Betapa senangnya Jessy saat itu.
“Alhamdulillah ternyata aku juga hamil seperti kamu sekarang bestie.” Ucap Jessy sambil memeluk Sabrina.
“Iya Syukur Alhamdulillah, semua doa kita dikabulkan.” Jawab Sabrina balas memeluk Jessy dengan eratnya, disaksikan oleh Nata saat mereka selesai memeriksakan kandungannya itu. Jessy dan Sabrina pun menghambur memeluk Nata dengan penuh suka cita.
“Iya tepat bedanya sebulan sesudah Sabrina dinyatakan hamil juga. Alhamdulillah.” Jawab Nata sambil memeluk tubuh kedua istrinya yang sangat dicintinya itu.
“Hehe selamat yaa.” Ucap Dr. Khaerunissa mengejutkan Nata, Sabrina dan Jessy yang seolah lupa diri berpelukan didepan Dokter yang baru saja selesai memeriksa kandungannya Jessy itu.
“Ehhh maaf dokter, kami sampai lupa.” Ucap Nata tersipu malu, demikian juga dengan Sabrina dan Jessy mereka lalu melepaskan pelukan terhadap suaminya itu.
“Tidak apa-apa Pak Nata. Jangan lupa nanti setiap dua minggu kontrol kemari yaa, ini ada resep dari saya, beberapa vitamin juga obat untuk mengurangi rasa mual.” Jawab Dokter tersebut.
“Baik Dokter terima kasih atas semua bantuannya. Insya Allah kami akan kembali kemari untuk kontrol rutin.”
“Sama-sama Pak Nata, untuk ibu Sabrina dan ibu Jessy jangan terlalu lelah dulu bekerja yaa.”
“Iya Dokter.” Jawab Sabrina dan Jessy. Setelah selesai melaksanakan kewajiban administrasi merekapun meninggalkan rumah sakit bersalin tersebut menuju ke kantor pusat Bank NSP. Ferrari Merah yang dikemudikan oleh Nata itu berjalan dengan perlahan menuju ke Kantor mereka. Nata duduk sendirian di depan sedangkan kedua istrinya itu duduk di jok penumpang belakang, tak henti-hentinya Jessy mengucapkan rasa syukur sambil memeluk Sabrina yang duduk disampingnya itu. Nata memperhatikan hal tersebut dari kaca spion, dia pun turut bersuka cita atas kehamilan kedua istrinya itu yang berselang sebulan. Senyuman di bibirnya Nata nampak tergambar di raut wajah gantengnya. Saat mereka sudah sampai di ruang kerja mereka, Sabrina dan Jessy kembali memeluk Nata.
“Kang terima kasih yaa.” Ucap Jessy.
“Justru aku juga yang seharusnya berterima kasih kepada kalian berdua, karena kini aku sekarang sudah menjadi calon Abah untuk anak-anak yang sedang kalian kandung itu. Aku sayang sama kalian berdua.”
__ADS_1
“Kami juga kang, sama.” Jawab Sabrina dan Jessy bersamaan. Mereka tidak menghiraukan banyaknya pekerjaan yang sudah menunggu di meja kerja mereka masing-masing, kini yang dirasakan oleh Nata, Sabrina maupun Jessy adalah rasa bahagia yang tidak terhingga.