
Hari Rabu pukul delapan pagi, Nata yang mengendarai Rubicon Double Cabin diikuti oleh Sabrina dan Jessy yang mengendarai Ferrari Merah menuju ke Komplek perumahan Setra Duta Kota Bandung yang langsung berbatasan dengan Kota Cimahi.
Sabrina dan Jessy nampak sangat takjub saat melihat bangunan dengan desain yang futuristik dan modern tersebut, dengan didampingi oleh Wibisana dan Cintya. Kemudian setelah mereka selesai melihat semua isi rumah tersebut, mereka duduk di gazebo dekat kolam renang rumah tersebut. Sementara itu tuan rumah menyiapkan makanan dan minuman untuk tamunya.
“Kang ini sungguh semua furniturenya juga di jual ?” Tanya Sabrina.
“Iya kang, lengkap banget, pantas saja akang langsung berminat untuk membelinya, kalau di kalkulasi sangat murah banget jadinya nih.”
“Iya karena mereka katanya harus segera pindah ke Eropa, tidak mungkin juga membawa semua perabotan rumah ini kesana.” Jawab Nata.
“Akang hebat banget deh. Top markotop lah.” Puji Sabrina sambil mengangkat dua jari jempolnya.
“Kita pasti akan betah tinggal di rumah ini yaa bestie, ngasuh anak dan membesarkan mereka di rumah ini.” Ucap Jessy.
Tidak lama kemudian tuan rumah datang dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka.
“Bagaimana, sudah sepakat ?” Tanya Wibisana.
“Sudah pak, terima kasih, pakai repot-repot segala.” Jawab Jessy.
“Memangnya Pak Wibisana ini mau pindah kemana ?” Tanya Sabrina.
“Kami mau pindah ke Denmark, untuk mengurus peternakan dan pertanian peninggalan orang tua dari Cintya.” Jawab Wibisana.
“Iya sebenarnya berat juga sih meninggalkan rumah ini, rumah ini adakah tempat ketiga anak kami dilahirkan disini. Ibu Sabrina dan Ibu Jessy juga bukan dari Indonesia yaa ?” Tanya Cintya dengan bahasa Indonesianya yang sangat fasih.
“Iya saya dari Kanada sedangkan Jessy dari Jepang.” Jawab Sabrina.
“Tuh sekretaris dari Notaris kita datang kang.” Ucap Jessy menunjuk seseorang yang melangkah bergabung dengan mereka di gazebo rumah itu.
“Maaf saya terlambat, tadi saya sampai nyasar dulu ke Cimahi, lalu kembali lagi sesuai dengan peta yang dikirimkan oleh ibu Sabrina.”
“Ohhh kasihan amat, memangnya ngambil jalur kemana tadi?”
“Saya kebablasan malah masuk pintu tol Pasteur, lalu kembali lagi keluar dari pintu Tol Baros kesini, hehehe.” Jawab Rini. Kemudian menyalami dan menyebutkan namanya kepada Nata dan Cintya.
“Waduh lumayan jauh tuh. Untung saja ga terus ke Jakarta. Hihihi.” Cicit Jessy. Memperlihatkan gigi putih cemerlangnya.
“Saya ambilkan minumannya satu lagi deh untuk Ibu ini, ehh maaf tadi lupa siapa namanya ?” Tanya Cintya.
“Saya Rini bu, sekretarisnya pak H. Mumuh.”
“Ohh baiklah bu Rini, mohon tunggu sebentar yaa, pasti haus deh karena kesasar. Hehehe.”
__ADS_1
“Terima kasih bu. Maaf langsung saja yaa, saya sodorkan konsep atau draft dari berita acara serah terima jual beli rumahnya. Ini tolong dibaca dulu pak. Masing-masing untuk Pak Nata dan Pak.”
“Wibisana.” Jawab Wibisana dengan cepat.
“Ohh iya, untuk pembayaran bagaimana mau per termint atau mau cash langsung ?”
“Saya akan berikan cek tunai saja, bu. Karena Pak Wibisana ini harus segera terbang ke Denmark. Kemarin saya sudah berikan transfer sebesar 100 juta, nah sekarang akan saya lunasi saja semuanya.” Jawab Nata.
“Baiklah saya tulis dulu dengan pinsil, besok saya print lagi untuk.”
“Kalau mau print disini juga boleh bu, agar bisa lebih cepat. Di ruangan Gazebo ini ada printer dan laptop kok. Dan ini saya tunjukan juga sertifikat asli tanah dan bangunan rumah ini.” Saran Wibisana, lalu menunjukkan sertifikat rumah atas namanya sendiri.
“Baiklah pak Wibisana, saya juga bawa laptop, nanti kita tinggal cetak saja kalau begitu berita acaranya. Namun terlebih dahulu tolong dibaca dulu semua draft berita acara ini, sebagai prosedur awal.” Ucap Rini lalu mengeluarkan laptopnya. Nata dan Wibisana juga membaca dengan seksama semua pasal dalam berita acara serah terima jual beli tersebut. Sementara itu Jessy dan Sabrina bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mengelilingi kolam renang dekat gazebo tersebut.
“Nanti kita setiap hari bisa berenang disini Sab.”
“Iya Jess, aku tidak menyangka ternyata akang kita memberikan rumah megah seperti ini untuk kita tinggali bersama. Aku semakin sayang sama akang kita, kalau kamu bagaimana Jess ?”
“Sama dong Sab, aku juga semakin sayang dong, apalagi kita berdua sekarang sedang mengandung anak dari akang kita. Semoga nanti anak-anak kita juga betah berada di rumah ini Sab.”
“Aamiin.” Jawab Sabrina, lalu dia melihat Nata melambaikan tangannya agar segera kembali mendekat.
“Ayo kita kembali lagi, sepertinya kita harus menandatangani surat berita acara itu juga Jess. Tuh kita sudah dipanggil sama akang kita.”
“Iya Sab.” Jawab Jessy, kemudian mereka menghampiri Nata dan Wibisana yang sudah selesai membaca dan menandatangani surat berita acara tersebut.
“Hehe iya maaf, kami terlalu asik melihat-lihat rumah ini tadi.” Jawab Sabrina. Lalu Sabrina dan Jessy menandatangi surat berita acara tersebut.
“Nah karena prosedur awal sudah dipenuhi oleh kedua belah pihak. Dengan demikian berita acara serah terima jual beli rumah ini sudah selesai.”
“Belum dong Rin, kan aku belum menyerahkan cek untuk Pak Wibisana.”
“Iya, saya juga belum menyerahkan sertifikat tanah dan bangunan ini.”
“Iya silahkan pak, bapak-bapak atur saja dulu. Saya hanya menyaksikan saja. hehehe.” Kekeh Rini. Nata lalu segera mengeluarkan buku cek dari dalam tas-nya, selanjutnya menulis nominal sesuai dengan kesepakatan antara Nata dan Wibisana. Rini segera mengabadikan moment tersebut dengan menggunakan ponselnya, saat Nata dan Wibisana saling bertukar sertifikat dengan cek yang sudah ditulis oleh Nata tersebut. Rini lalu mengirimkan semua foto kepada Sabrina, mulai dari foto saat Nata dan Wibisana sedang menandatangani surat berita acara sampai dengan serah terima sertifikat itu. Tak lupa dia juga mengirimkan foto tersebut kepada atasannya yaitu pak H. Mumuh sebagai Notaris.
“Saya juga sekalian menyerahkan kunci rumah ini, kami semua sudah seminggu ini menginap di apartemen milik kami sebagai persiapan untuk pergi ke Eropa.” Ucap Wibisana lalu menyerahkan semua kunci rumah kepada Nata.
“Kenapa buru-buru amat pak ?” Tanya Nata dengan heran.
“Bukan, terburu-buru memang kami sudah berniat sejak awal, maka dari itu kami juga tidak tinggal disini lagi sejak seminggu yang lalu.” Jawab Wibisana.
“Selamat yaa, semoga Pak Nata beserta Ibu Sabrina dan Ibu Jessy betah di rumah ini.” Ucap Cintya juga, kemudian menyalami Nata, Sabrina dan Jessy.
__ADS_1
“Terima kasih Ibu Cintia dan Pak Wibisana.” Jawab Nata, Sabrina dan Jessy bersamaan.
“Heemm saya boleh pamit sekarang ?” Tanya Rini.
“Ohh silahkan Jawab Nata.”
“Baiklah pak, saya akan mengurus segera balik nama sertifikat ini segera di kantor BPN. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” jawab semua orang yang ada di rumah itu secara serempak.
“Kami juga mau pamit Pak Nata.” Ucap Wibisana mewakili istrinya.
“Iya pak, nanti kapan-kapan kami akan berliburan ke Denmark deh, jika boleh.” Balas Nata lalu menjabat tangan Wibisana dengan sangat eratnya.
“Baiklah kami tunggu disana, kirim saja berita melalui email, karena mungkin nomor ponsel saya nanti tidak akan bisa aktif lagi disana, berganti dengan nomor ponsel yang baru. Semoga pertemuan kita yang singkat ini menjadi awal dari ikatan persaudaraan yang kuat, karena saya sendiri adalah anak tunggal, seperti halnya istri saya juga.”
“Aamiin, sama dong pak, saya juga anak tunggal. Insya Allah secepatnya kami akan berlibur kesana deh, sampaikan juga salam kami untuk anak-anak bapak. Untuk Ibu Cintya juga terima kasih.” Ucap Nata lalu bergantian menjabat tangannya Cintya diikuti oleh Sabrina dan Jessy.
“Sama-sama Pak Nata. Besok sore kami akan segera terbang menuju ke Eropa, Nanti anak saya yang sulung akan menyusul sebulan kemudian, karena dia tanggung sedang menyelesaikan kuliahnya di Bandung.”
“Iya selamat jalan untuk Ibu dan Bapak. Kami berjanji akan merawat rumah ini, semoga juga kami betah tinggal disini.” Ucap Nata. Kemudian Nata, Sabrina dan Jessy mengantarkan Wibisana dan Cintya sampai ke halaman rumah.
“Bagaimana senang ga ? Kalian bakal betah ga di rumah ini ?” Tanya Nata setelah dia masuk kedalam rumah.
“Senang banget kang, ini bagaikan rumah idaman kami selama ini, semoga saja kami juga betah disini, kalau perlu malam ini juga kita menginap disini. Hehehe.” Jawab Jessy.
“Iya kang, untuk sementara biar saja ruko kita jangan direhab dulu, biar nanti saja anak buahnya Jessy yang merehab Ruko kita. Kami boleh shopping dulu kang ? untuk mengisi lemari pakaian kita ?”
“Silahkan saja, kalian yang jadi ratu di rumah ini, benahi dan isi saja sesuai dengan keperluan, aku mau ngantor dulu yaa, kalian tinggal disini berdua ga apa-apa kan ? Ohh iya besok lusa kita akan tambahkan fasilitas untuk basement juga pintu gerbang rumah ini, agar bisa pakai remote aplikasi ponsel.”
“Iya Kang santai saja, akan aku suruh anak buahku untuk menginstall semua peralatan tambahan termasuk CCTV juga.” Jawab Jessy.
“Jess untuk makan siang, kita arahkan katering kesini saja, kalau untuk akang seperti biasa, dikirimkan ke kantor langsung.”
“OK bestie.”
“Yaa sudah aku pamit dulu yaa, sudah hampir jam sepuluh nih, ga enak sama anak buah di kantor, aku sudah terlambat dua jam. Muach Muach.” Ucap Nata lalu mengecup kening Sabrina dan Jessy. Saat dia akan melangkah pergi Jessy dan Sabrina protes.
“Ini yang di dalam perut belum dipamitin ?” Ucap Sabrina dan Jessy.
“Ehh lupa, Abah pergi dulu yaa nak, kalian jangan nakal didalam perut Ambu kalian. Cup Cup.”
“Iya Abah. Hihihi.” Jawab Sabrina dan Jessy cekikikan.
__ADS_1
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”