
“Kok sensitif sih kalian ini.“ Nata masih menikmati sisa roti dalam genggamannya.”
“Stop kang, tolong yaa, please.” Sabrina menghiba, agar Nata tidak melanjutkan pembicaraan pada topik yang menurut kedua gadis cantik itu sangatlah menjijikkan.
“OK deh, maaf yaa. Aku kira kalian hanya gimic doang. Hehehe.”
“Ga lucu ahhh kang. awas yaa jangan pernah dilakukan lagi !.” Ancam Jessy.
“Iya-iya maaf deh sekali lagi. Tolong minta minumnya dong, seret nih kerongkonganku.” Sabrina yang sedang duduk lebih dekat dengan rak, lalu menyerahkan setbotol air mineral untuk Nata.
“Terima kasih yaa Sabrina yang cantik.”
“Sama sama akang yang ganteng.” Sabrina pun tersipu saat mendengar pujian itu.
“Aku ga dibilang cantik.” protes Jessy.
“Kamu juga Jessy cantik, akang sayang sama kalian semua. Hehe.”
“Aku mau masak nasi dulu yaa, sekalian mau coba beberapa perlengkapan dapur yang telah kita beli.”
“Mau bikin sushi Jess ?”
“Enggak juga kang, kami hanya beli beras dan sayuran saja, juga telur, tidak beli ikan untuk bahan bikin sushi nya, emangnya akang doyan dengan sushi ?.”
“Hehehe doyan juga dong, Teriyaki juga Yaki yang lainnya.”
“Nah untuk Japanese food, Jessy Nakamura ini lah ahlinya kang, bukan promosi lho, namun memang kenyataannya begitu.” Ungkap Sabrina dengan tersenyum bangga. Sedangkan Jessy terlihat sedang mencuci beras di dapur.
“Kalau kamu bisa mengolah Western Food juga ?” tanya Nata.
“Hehehe aku lebih suka membelinya, bukan memasaknya kang. Tapi nanti aku buatkan deh sekali-kali wafel panecake.”
“Hmmm mirip martabak kan?”
“Iya mirip adodan martabak manis.”
“Nanti kita belanja lagi deh untuk melengkapi dapur kita, juga sekalian membawa barang-barang aku yang masih tertinggal di apartemen.”
“Ehh ngomong-ngomong soal apartemen, nanti kamar apartemen akang jadi kosong dong ? karena kita pindah kemari.”
“Kan kemarin kita sudah sepakat, bahwa nanti apartemen ku disewakan lagi saja kepada orang lain.”
__ADS_1
“Aku harus mengembalikan uang sewa apartemen dong kalau begitu.”
“Tidak perlu juga Sabrina, anggap saja itu rejeki mu yang diterima dari Allah, melalui tanganku. Tapi nanti sisakan satu kamar apartemen untuk kita bertiga, jika sesekali kita perlu suasana ngumpul seperti kemarin di apartemen, Ehh unit apartemen yang kamu sewakan ada berapa sih ?.”
“Hehehe sedikit kang, hanya sepuluh unit.”
“Wah itumah cukup banyak dong, sudah terisi semua ?”
“Nah yang satu kamar aku tempati sendiri, kadang bersama Jessy. Untuk delapan kamar sudah ada yang menyewanya lebih awal dari akang, lalu yang kemarin tersisa satu kamar disewa oleh akang sebulan.”
“Ohhh jadi usaha sewa apartemen itu adalah usaha sampingan kamu Sab ?“
“Iya kang, untuk house keeping atau penyedia jasa cleaning service aku sudah kontrak jasa mereka dari awal kami memiliki apartemen, jadi dari 10 unit apartemen, 5 unit milik Jessy, 5 unit lagi milikku.”
“Wah pantas saja mobil kalian bagus-bagus, keluaran terbaru pula.”
“Rahasia kang, mobil itu dijual murah banget oleh seorang bule wanita yang berasal dari Jerman, dia menjual mobil itu murah banget kepada saya karena dia harus segera kembali ke negaranya, karena harus meneruskan bisnis keluarganya saat ayahnya meninggal.”
“Ohhh sungguh beruntung sekali kamu.”
“Iya kadang kami mendapatkan seorang penyewa yang kaya raya, kadang juga kami hanya untung tipis dari jasa penyewaan apartemen itu.”
”Aku yang pesan !” Pekik Jessy dari dapur kemudian bergegas menghampiri Sabrina yang sedang membukakan pintu, sebelum Nata dan Sabrina bertanya kepada Jessy tentang order air mineral galon itu. Nata yang tadinya akan bertanya pun lalu hanya menatap sambil mengerutkan dahinya. Kemudian satu persatu galon itu diangkut oleh kurir menuju ke dapur. Setelah selesai Jessy lalu memberikan tips sebagai ucapan terima kasih kepada kurir Ojol tersebut yang telah membantunya membelikan dua galon air mineral, untuk mereka selama tinggal di Ruko itu.
“Tadinya kami akan membeli dari Toserba itu, namun ternyata rolly kita sudah penuh sesak dengan barang-barang belanjaan kita kang.” Jessy pun menjelaskan, lalu meneruskan memasak nasi dengan magic jar yang baru dibeli dari Toserba itu.
”Ohhhh, OK terima kasih yaa untuk kalian para gadis cantik, yang aku sayangi.” Kini Nata memuji Sabrina dan Jessy secara bersamaan agar cukup adil dalam memperlakukan kedua gadis cantik itu.
“Sama-sama akang ganteng.” Jawab Jessy dan Sabrina bersamaan.
“Ohh iya Sabrina, kamu baca deh program rencana kerja yang sudah aku buat di group whatsapp. Kamu diskusikan dulu terlebih dahulu dengan Jessy, jika ada yang kurang jelas nanti kalian tanya kepadaku.”
“OK siap kang boss.”
“Sebelum aku menerangkannya kita tunggu dulu Jessy selesai menanak nasi.”
“Sudah Kok tinggal menunggu matang saja, kan otomatis berhenti memasak jika sudah matang.” Ucap Jessy lalu mereka bertiga pindah untuk duduk di sofa lantai satu ruko itu.
“OK aku jelaskan dulu sedikit yaa, begini yaa Sabrina dan Jessy, program rencana kerja itu akan kita jadikan sebagai titik acuan, atau Joob rules pada bidang usaha apapun yang nanti akan kita geluti. Nanti aku akan membagi tugas juga untuk kalian, setelah ini aku akan susun job deskription nya untuk kalian berdua juga untukku pribadi. Aku akan menerima saran atau pendapat apapun dari kalian yang bertujuan untuk keberhasilan usaha kita nanti. Jelas yaa ?”
“Untuk sementara jelas kang, lanjutkan.”
__ADS_1
“Lalu secara profesional aku akan bertanya kepada kalian berdua, kalian mau minta digaji berapa ? atau kalian mau minta persentase dari profit keuntungan dari setiap hasil usaha ? silahkan pilih.”
“Wow, keren juga nih penawaran akang. Yaa Sab ? kami harus berunding dulu kang, boleh kan ?”
“Boleh, tapi jangan lama lama.” Jawab Nata lalu mempersilahkan Jessy dan Sabrina untuk berunding. Sambil menunggu berunding lalu Nata menyeduh kopi dengan air panas yang sudah tersedia didalam dispenser, diseduhlah kopi instant itu oleh Nata lalu dibawanya tiga cangkir kopi itu dengan sebuah nampan kehadapan Jessy dan Sabrina.
“OK kang, kami minta persentase profit saja dari keuntungan hasil setiap usaha.”
“Wah ternyata kalian sangat cerdas yaa diberikan pilihan itu. Profit kalian bisa unlimited setiap bulannya tuh jika usaha sudah berjalan dengan lancar. Hehehe.”
“Iya justru hasil kesepakatan ini berdasarkan karena kami sudah melihat dan membaca dari apa yang sudah akang buat tadi, program rencana kerja sangat jelas, simple dan mudah dimengerti bagi kami.”
“OK besok jika kita ke kantor notaris, tolong diagendakan juga untuk hari berikutnya tentang pendirian usaha, sebagai langkah awal legalitas sebuah perusahaan. Catat juga nanti modal awal dari aku, sebagai pencetus dan pemilik perusahaan aku bagi tiga atas namaku, dan kalian berdua. 40% dan dua kali 30% untuk kalian berdua, demikian juga dengan keuntungan perusahaan. Langsung dibagi sebesar itu. Apakah kalian setuju ?”
“Tunggu kang, maksudnya modal dari akang sebanyak 100% namun di tulis di dalam akte perusahaan nanti tertulis untuk kami masing masing 30% dan untuk akang sebesar 40%, apa benar begitu ?”
“Tepat sekali Jess. Aku ulangi lagi pertanyaannya kalian setuju dengan hitungan itu.”
“Akang tidak merasa rugi ?” tanya Sabrina dengan heran.
“Tidak dong, karena aku sudah sangat beruntung memiliki kalian berdua sebagai asset dan partner usaha bagikut. Jadi jika ditelaah secara management resiko, menurutku sangat aman.”
“Baiklah kalau begitu kang, kami setuju, iya kan Sab ?” tanya Jessy kepada Sabrina, Sabrina yang sudah dari kecil mengenal insting usaha dari Jessy kemudian tidak ragu-ragu lagi untuk mengatakan persetujuannya itu.
“Iya betul Jess aku juga setuju.”
“Ok sini pegang tanganku, kita ucapkan ikrar untuk kita, merupakan tiga serangkai yang akan memulai usaha.”
Setelah mengucapkan ikrar dan berdoa untuk kelancaran usaha mereka kemudian mereka bertiga berpelukan.
“Terima kasih yaa kang, akang sudah mempercayakan kepada kami, ini adalah amanah bagi kami, semoga kita kedepan usahanya lancar tanpa ada kendala yang berarti.”
“Iya kang, Sabrina juga mengucapkan terima kasih kepada akang.”
“Sama-sama, sekarang kita bersulang untuk mengawali langkah kita kedepan, dengan secangkir kopi yang masih hangat ini.” ajak Nata, lalu ketiganya saling menyentuhkan bibir cangkir itu di satu titik tengah. Kemudian mereka bertiga menikmati minum kopi dan beberapa bungkus makanan cemilan yang sudah mulai dibuka oleh Jessy dan Sabrina. Ketiga insan yang berbeda budaya dan adat istiadat itu kini nampak sudah semakin kompak dan saling mengetahui satu sama lain.
Saat malam tiba, mereka lalu makan bersama di ruko itu, dengan menghadap meja bundar ketiga pemuda pemudi itu mulai menikmati makan malam bersama. Nata lalu memeriksa semua pintu dan menguncinya, termasuk menurunkan rolling door garasi dan rolling door dinding kaca tebal di lantai bawah itu, setelah dirasa sudah aman, lalu menysul Sabrina dan Jessy yang sudah merapikan tempat tidur, dengan seprai baru yang tadi dibelinya dari Toserba. Merekapun beristirahat lebih awal di kamar tidur. Dalam satu kamar, namun dengan dua buah tempat tidur. Karena mereka besok pagi harus siap menandatangani berita acara serah terima ruko
dihadapan Notaris, berserta pemilik lama ruko itu. Sabrina dan Jessy tidur dalam satu kasur yang sama. Sedangkan Nata tidur di kasur seberangnya. Kini ruko yang baru mereka beli itu, sudah sunyi senyap. Hanya terdengar suara napas teratur dari ketiga pemuda pemudi itu di lantai tiga ruko, yang sudah terlelap
tidur.
__ADS_1