Tangguh

Tangguh
Bab 29 Hangatnya kebersamaan.


__ADS_3

Malam itu dengan mengendarai Rubicon Double Cabin warna hitam, Nata bersama Sabrina dan Jessy diajak untuk menikmati makan malam di sebuah rumah makan  terapung pada danau buatan atau waduk di daerah Cirata. Waktu menunjukkan pukul 19.30 saat mereka sampai di tempat itu.Nata bersama Jessy dan Sabrina lalu diantar dengan menggunakan perahu menuju ke tengah danau itu. Suasana di danau itu tidak terlalu gelap karena saat ini  Bulan bersinar dengan sangat terang. Jessy dan Sabrina yang mengenakan sweater penutup tubuhnya nampak begitu takjub saat melihat pemandangan di malam hari itu.


“Indah sekali ternyata pemandangan ditengah danau ini.” ucap Sabrina.


“Benar Sab. aku baru tahu ternyata selama tinggal di Bandung baru sekarang aku juga kemari.” Jessy pun berdecak kagum. Saat melihat di sekeliling danau itu terhampar air yang gemerlap terkena cahaya bulan purnama. Kemudian mereka memasuki ruangan rumah makan  terapung. Di tengah-tengah meja sudah terhidang masakan yang masih mengepul panas. Ada Sup ikan Patin, goreng gurame, aneka lalapan, aneka gorengan seperti tempe mendoan tahu goreng, rempeyek dan kerupuk udang tidak lupa juga ada beberapa jenis sambal, ada sambal terasi, sambel hejo, sambal karedok. Membuat Sabrina dan Jessy tak hentinya menelan salifa karena merasa ngiler dengan semua hidangan yang sudah tersaji di meja makan itu. Merekapun kemudian duduk lesehan mengelilingi meja makan itu.


“Pak mau nasi putih atau nasi beras merah ?”


“Bawa saja dua-duanya teh kemari.”


“Baiklah.” Jawab seorang penyaji makanan di rumah makan  terapung  itu.


“Kang Nata kok tahu ada tempat seperti ini ?” tanya Jessy dengan heran, sambil mengerutkan


keningnya.


“Iya tahu aja tempat yang bagus dan romantis, hehehe.”


“Gampang, cari saja di google map. Hehe. Aku juga dapat rekomendasi tentang tempat ini dari kawanku yang pernah kemari, kalian suka dengan tempat ini ?” Tambah Nata.


“Suka banget.” Jawab Jessy.


“Indah dan begitu romantis suasananya kang.” Ucap Sabrina menambahkan. Lalu sang gadis penjaja rumah makan itu kembali datang dengan membawa dua bakul kecil nasi putih dan nasi merah.


“Silahkah dinikmati semua makananya.” Ucap sang gadis penjaja makanan di rumah makan terapung itu.


Merekapun lalu mencuci tangan terlebih dahulu, lalu seperti biasa Nata memimpin do’a makan malam di rumah makan itu. Selanjutnya mereka makan dengan lahapnya. Sabrina yang pada dasarnya kurang menyukai rasa pedas, kini berulang kali dia menambahkan sambal dan lauknya keatas piring miliknya. Merekapun makan dengan meniru Nata yang makan dengan tangan, tanpa bantuan sendok maupun garpu. Dalam sekejap semua hidangan diatas meja makan itu hanya bersisa sedikit.


“Alhamdulillah nikmat banget masakannya kang, sambelnya ternyata enak meskipun agak pedas juga, hihihi.” Ucap Sabrina lalu duduk bersandar sambil meluruskan kakinya disamping Jessy yang berlaku sama. Nata lalu tersenyum melihat kedua calon istrinya nampak sangat puas dengan hidangan makan malam di rumah makan terapung itu.


“Syukurlah kalau kalian berdua menikmati semua hidangan ini. Kalian mau minuman penutupnya ? ada bandrek dan bajigur nih.”


“Mau dong kang.” Jawab Sabrina dan Jessy. Kemudian Nata memesan minuman tradisional itu kepada sang penunggu rumah makan terapung.


Nata juga duduk selonjoran, kemudian menyalakan rokok kretek dan menghisapnya dengan perlahan, dia begitu menikmati setiap hisapan dari rokok kretek yang tadi turut dipesannya.


“Baru sekarang juga aku melihat kang Nata merokok.” Tukas Jessy.


“Iya benar Jess, sepertinya sudah terbiasa merokok yaa kang ?”


“Kadang-kadang saja aku merokok, kalau lagi ingin saja.” jawab Nata sambil mengepulkan asap rokoknya.


“Silahkan diminum, awas masih panas bajigur dan bandreknya.” Ucap sang gadis penjaja rumah makan terapung itu.”

__ADS_1


“Iya terima kasih teteh.” Jawab Sabrina dan Jessy.


“Kalau punya rumah di tengah danau seperti ini asik juga yaa.” Ucap Sabrina sambil pikirannya membayangkan sesuatu.


“Haha, kita harus punya perahu dong.”


“Ahh hanya membayangkan jika kita punya rumah di tengah danau ini kok Kang, bukan artinya ingin sekali tinggal di tempat seperti ini.” Kilah Sabrina.


“Ohhh kirain benar-benar ingin punya rumah di tengah danau. Hehehe.”


“Tapi kalau punya tempat peristirahatan di suatu pulau, seru juga tuh yaa Sab.” Ucap Jessy sambil tersenyum.


“Nah itu juga seru, tapi kita kan pernah ke kepulauan Seribu Jess.”


“Sudah lama banget, waktu dulu kita kuliah.”


“Yuk ahhh kita pulang, nanti terlalu larut malam susah pulangnya.” Ajak Nata, kemudian Nata membayar semua makanan yang sudah mereka makan, bahkan mereka pun membungkus makanan untuk dibawa pulang. Setelah itu dengan menggunakan perahu mereka menuju ke tempat parkir kendaraan, lalu mulai menuju kembali ke arah Kota Bandung.


Tepat pukul sepuluh malam, mereka sudah tiba dan memasuki Ruko, untuk beristirahat malam


itu, perut mereka yang sudah terisi penuh membuat rasa kantuk tidak bisa lagi ditaha.


”Kang, malam ini kami boleh tidur bareng sama akang ?” tanya Sabrina.


”Hmm boleh, tapi kenapa tiba-tiba kalian ingin tidur bersamaku ?”


“Hemmm iya, kalau boleh itu juga kang.” tambah Jessy.


“OK lah kalau begitu.”


“Hore asyik.” Pekik Sabrina dan Jessy dengan kegirangan, kemudian mereka menuju ke kamarnya, untuk berganti baju tidur. Demikian juga dengan Nata, yang kini mengganti bajunya, dengan mengenakan piyama bercelana pendeknya itu. Tak lama kemudian kedua calon istrinya itu kembali masuk kedalam kamarnya Nata dengan mengenakan Piyama Kimono, sambil masing-masing menenteng bantal kesayangannya.


”Akang di tengah yaa.” ucap Sabrina.


“Iya.” Jawab Nata singkat. Kemudian Nata menguap panjang, tanda sudah sangat mengantuk, lalu tidur terlentang, disusul oleh Sabrina dan Jessy yang kini keduanya dengan ragu-ragu ingin memeluk Nata.


“Kalau mau peluk, peluk saja, aku sudah mengantuk.”


“Iya kang. Cup. Cup.” Jawab Sabrina dan Jessy lalu keduanya mengecup pipi kiri-kanan Nata. Kemudian Sabrina dan Jessy tidur dengan memeluk Nata dengan penuh senyuman bahagia. Suasana di kamar itu kini sangat sunyi, hanya terdengar suara lirih dari napas ketiga orang yang berada di dalam kamar itu yang sama-sama sudah sangat mengantuk dan tidur dengan nyenyaknya. Walaupun aroma napas dan wangi tubuh dari Sabrina dan Jessy sangat harum itu, ternyata tidak bisa dan tidak mampu mengusik lelap  tidurnya Nata, yang kini sedang berada di alam mimpinya.


Tepat pukul empat pagi, Nata mulai menggeliat, dia memang sudah terbiasa bangun pada jam empat pagi, tanpa alarm pun Nata terbangun, seolah alarm ritme kehidupannya telah beroparasi dengan otomatis. Nata lalu mulai membuka matanya, merasakan pelukan dari Sabrina dan Jessy disisi kiri kanan tubuhnya itu. Nata lalu tersenyum bergantian memandang wajah Sabrina yang bule berambut merah tebal  dan bermata biru itu, kemudian berganti memandang wajah oriental Jessy yang berambut hitam tebal keturunan Jepang.


“Jessy, Sabrina, sayang bangun yuk.” Ucap Nata dengan pelan sambil menggoyangkan tubuhnya untuk membangunkan kedua calon istrinya yang kini dengan sangat erat memeluknya.

__ADS_1


“Hhheemmmm, sudah pagi yaa ?” tanya Sabrina yang lebih dulu terbangun.


“Iya sayang.”


“Uhhhggghh nyenyak banget tidurnya.” Ucap Jessy yang ikut terbangun kemudian mereka dengan perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Mereka lalu memaksakan diri untuk melangkah menuju ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Air Wudhu yang segar itu seketika membuat mereka menjadi lebih terjaga, lebih bersemangat untuk memulai kegiatan di pagi hari itu. Nata dengan ditemani oleh Sabrina dan Jessy lalu menuju ke ruangan Mushola, Nata sudah mulai mengenakan kain sarungnya, demikian juga dengan Sabrina dan Jessy yang sudah mulai mengenakan mukena, mereka bersiap untuk melaksanakan Sholat Subuh berjamah di Mushola itu. Setelah selesai berdo’a dan berdzikir Sabrina lalu mencium punggung tangan Nata, lalu Nata membalasnya dengan mengecup kening Sabrina dan Jessy secara bergantian. Wajah kedua calon istrinya Nata itu semakin nampak bercahaya dengan air wudhu dan balutan mukena yang dikenakan mereka. Nata nampak tersenyum penuh dengan rasa bahagia. Dibalas oleh senyuman dari Sabrina dan Jessy.


“Sambil menunggu waktu, kita lanjutkan mengaji dulu berapa ayat yaa.” Ajak Nata lalu bangkit menuju ke arah rak buku, untuk meraih tiga buah Al-qur’an. Setelah itu Nata mulai membantu mengajarkan Sabrina dan Jessy untuk membaca beberapa ayat suci Al-qur’an  tersebut. Hati kedua calon istrinya Nata itu terasa semakin sejuk, saat mereka berdua sudah selesai belajar membaca Al-qur’an dengan bimbingan dari Nata.


“Alhamdulillah kang, terima kasih, teruslah bimbing kami sampai akhir.” Ucap Sabrina dengan air mata berlinang penuh rasa haru.


“Iya kang, kami bersyukur telah bertemu dengan akang, Insya Allah sampai akhir nanti kami akan selalu terus besamamu, mendampingimu kemana pun.” Tambah Jessy. Nata hanya tersenyum sambil bergantian memandang wajah cantik dari kedua calon istrinya itu.


“Kang, bolehkah jika nanti kami mengenakan jilbab ?” tanya Sabrina.


“Kamu serius Sab. ? Aku juga sebenarnya ingin seperti wanita muslimah lain, yang mengenakan


jilbab.”


“Silahkan, Alhamdulillah niat kalian sudah cicatat oleh Nya.” Jawab Nata sambil mengelus pucuk kepala Sabrina dan Jessy bergantian dengan penuh rasa kasih sayang.


“Kalau begitu, bagaimana jika nanti siang kita beli pakaian dan jilbab yuk Jess.”


“Ayo Sab. boleh yaa kang.”


“Boleh, sangat boleh, apa perlu aku antar kalian berdua juga ?”


“Hehehe, nanti akang bosan menunggu kami berbelanja, akang tunggu di rumah saja deh.” Kekeh Sabrina.


“Iya kami suka kalap kalau sedang berbelanja, sampai lupa waktu, hihihi.” Jessy pun nyengir dengan mimik muka yang lucu dan menggemaskan, kedua matanya nyaris terpejam saat Jessy tersenyum seperti itu.


“OK deh, aku jaga kandang saja, silahkan kalian berbelanja.”


“Makasih Akang, Muacch Muaach.” Pekik Jessy dan Sabrina, seraya memeluk tubuh Nata dengan sangat erat, menyebabkan Nata yang sedang duduk bersila itu menjadi jatuh terjengkang, Jessy dan Sabrina pun tak henti-hentinya mengecup Nata saking bahagianya.


”Aduuh ampun, aku ga bisa napas, kalian ini mau bunuh aku yaa ?”


“Hihihi, mana mungkin kami tega membunuh akang, yang sangat kami cintai.” Jawab Jessy.


“Iya mana mungkin. Akang mah aya-aya wae.” Tambah Sabrina yang mencoba berbicara dengan logat bahasa Sunda namun terasa masih kaku.


“Aku lapar, tolong siapkan sarapan dong.”


“Ohhh siap Kang Boss.”

__ADS_1


“Aku yang masak Sab. kamu buatkan minumannya saja.” ucap Jessy.


“OK bestie.”


__ADS_2