Tangguh

Tangguh
Bab 61 Berziarah ke makam.


__ADS_3

“Tamu bulanan kamu sudah ternyata sudah berlalu sayang.”


“Iya kang, alhamdulillah tadi subuh juga aku sudah bersih tapi masih ragu-ragu, makanya aku sholat sendiri tadi subuh di kamar, saat akang sama Sabrina sedang sholat subuh.”


“Aku sayang kamu Jess.”


“Aku juga kang, aku sangat berbahagia sekali saat bersama akang, tapi rasanya tidak lengkap kalau Sabrina tidak ada disisi kita.”


“Jess kamu mencium wangi masakan ?”


“Iya kang, rupanya sudah selesai tuh masaknya, aku dandan dulu yaa kang, akang duluan saja temui mereka.”


“OK aku tunggu di meja makan, jangan lama-lama yaa sayang. Cup.” Ucap Nata yang masih mengenakan kain sarung lalu meninggalkan Jessy didalam kamarnya.


“Ohhh Aden baru selesai Sholat ?” Tanya Tanya Bi Eha.


“Iya Bi, barusan sama istri saya Sholatnya.”


“Hebat Aden mah selalu disiplin, cong dur langsung ambil wudhu, hehehe.”


“Bibi sudah Sholat ?”


“Belum den, barusan baru saja selesai bantuin masak sama Bi Endah, tuh Bi Endahnya sedang menyelesaikan membuat sambal goang nya.”


“Iya deh, hemmm harum banget masakannya, panggilkan Mang Undang, Mang  Dudung sama Mang Sobri sekalian yaa Bi, kita makan siang berjamaah.”


“Mereka belum kembali dari masjid den.”


“Ohhh, berarti yang tadi Adzan di masjid Mang Dudung dong ?”


“Hehehe iya den, seperti biasa. Yaa sudah, saya mau sholat dulu yaa den, tunggu saja sebentar, mereka ga akan nginep di Masjid kok.” Ucap Bi Eha sambil ngeloyor pergi ke belakang rumah, menuju ke kamarnya.


“Hahaha, dasar bi Eha mah.”


“Kok belum pada ngumpul kang ?” Tanya Jessy.


“Iya Mang Undang, Mang  Dudung sama Mang Sobri sholatnya di Masjid, kita tunggu saja sebentar.”


“Aku ambilkan minum nya dulu kalau begitu, dapurnya disana kan kang ?”


“Iya, ada Bi Endah juga tuh sedang ngulek sambal.”


“OK” Jawab Jessy dengan singkat, lalu dia melangkah menuju ke dapur. Menemui Bi Endah yang sedang mengulek sambal didapur.


“Bi, boleh pinjam gelasnya ?”


“Ehh Neng Jessy, biar sama Bibi saja neng.”


“Jangan Bi, biar saya saja hanya air minum saja kok, ini tugas saya untuk melayani suami saya dan lagi Bibi kan sudah masak.”


“Ohhh iya Neng, gelasnya yang itu warna biru yang biasa di pakai Den Nata.”


“Ohh yang ini yaa Bi, Kang Nata disini biasa minum air teh yaa ?”


“Iya Neng, teh nya alami dipetik dari kebun sendiri, yang diambil pucuknya saja.”


“Ohhh pantas saja rasanya beda, lain dari pada yang biasanya, lebih wangi, segar dan enak, mirip seperti teh dari Jepang.”


“Memang dulu kakek buyutnya Nata dikasih bibit pohon tehnya dari Jepang Neng.”


“Wah serius Bi ? pantas saja seperti minum teh dari Jepang. Terima kasih yaa Bi.” Ucap Jessy lalu membawa dua mug untuk Nata dan dirinya sendiri ke meja makan.


“Sama-sama Neng.”


“Duh cantiknya Neng Jessy, sudah begitu baik dan ramah juga orangnya.” Guman Bi Endah lalu membawa cobek berisi sambal yang baru saja diuleknya, menyusul Jessy.


“Tahu aja kamu gelas yang biasa dipakai olehku disini.”

__ADS_1


“Kan dikasih tahu sama Bi Endah, Kang. Aku pilih mug yang warna pink, ini suka dipakai sama siapa dulu ?”


“Itu gelas milik Almarhum Ibuku.” Jawab Nata seketika terbayang wajah Almarhumah Ibunya.


“Ohhh maaf, aku ganti deh.”


“Jangan sayang, anggap saja kamu sekarang berkenalan juga dengan Ibuku, nanti setelah makan siang kita ke makam mereka yaa.” Raut wajah Nata seketika berubah, menjadi sendu.


“Dimana makamnya ?”


“Itu dibelakang rumah ini, ada kebun dan makam khusus keluarga, nanti ingatkan aku untuk membawa air yang sudah aku sediakan tadi di kamarku untuk menyiram makam Ayah dan Ibuku.”


“Iya kang, akang jangan sedih dong.”


“Tidak, aku tidak sedih, aku hanya ingat mereka berdua.”


“Kang nanti boleh ga saat kita di makam, aku rekam terus aku kirimkan juga ke Sabrina ?”


“Boleh sayang, tapi kamu jangan menangis disana yaa.”


“Aku usahakan kang.” Ucap Jessy lalu memeluk suami yang sangat dicintainya itu.


“Adeuh penganten baru mah, berpelukan wae yeuuh.” Ucap Mang Dudung mengagetkan Nata dan Jessy, Mang Dudung yang baru saja pulang dari Masjid, dia masih mengenakan kain sarungnya, diiringi oleh Mang Undang dan Mang Sobri.


“Ayo Mang Undang, Mang  Dudung sama Mang Sobri, kita makan bareng.”


“Siap Den, padahal mah makan duluan saja tidak apa-apa kok.” Ucap Mang Sobri.


“Supaya lebih nikmat, Bi Endah sama Bi Eha juga ajak, kita makan bareng.”


“Bi Endah nya sedang sholat dulu, barusan gantian sama saya Den.” Jawab Bi Eha yang baru bergabung di meja makan.


“Ohhh yaa sudah, kita mulai saja kalau begitu.”


“Ehhh kang, teh ini mirip teh dari Jepang, kata Bi Endah katanya memang bibitnya berasal dari Jepang.”


“Dimana pohonnya ?”


“Tuh di bukit sana, kenapa ?”


“Ohhh disana, ga apa apa, hanya nanya doang sih, karena rasa tehnya wangi, sangat segar, alami mirip teh tadi Jepang.”


“Besok Mamang bawakan deh, Neng Jessy sama Aden mau menginap disini kan ?” Tanya Mang Dudung.


“Iya, tapi besok pagi kami mau ke Cipatujah dulu, lalu kembali lagi kemari sesudah dari sana.”


“Ayo ahhh kita makan dulu, lapar nih.” Ucap Nata lalu memimpin doa makan, setelah itu merekapun makan nasi tutug oncom dengan lauknya berupa ikan nila goreng, aneka lalapan  dan kerupuk. Memang benar ternyata lebih nikmat makan bersama dari pada makan sendiri-sendiri. Terbukti nasi tutug oncom sebanyak dua bakul itu habis dimakan oleh tujuh orang yang ada di rumah itu.


“Alhamdulillah nikmat mana lagi yang kau dustakan. Hehehe.” Kekeh Mang Sobri sambil mengusap perutnya yang sudah kenyang itu. Semua orang yang ada di ruang makan itu kini tertawa mendengar dan melihat tingkah kocak dari Mang Sobri.


“Saya pamit mau ke makam dulu, nanti tolong siapkan motor trail, aku sama Jessy mau ke bukit kebun pohon teh.”


“Siap Den, nanti Mamang siapkan Motornya dari Gudang.” Jawab Mang Dudung.


Nata dan Jessy lalu masuk ke dalam kamarnya Nata untuk membawa air doa dalam botol yang sudah disiapkan oleh Nata di kamarnya, Jessy membawa keranjang bunga yang masih kosong, tidak lupa mereka membawa ponsel milik Nata dan Jessy. Sambil berjalan menuju ke makam Nata juga memetik beberapa bunga mawar, dahlia dan melati yang ada disepanjang jalan menuju ke makam keluarga. Nata dan Jessy lalu duduk bersimpuh di depan makam sepasang makam yang berdampingan, Nata dan Jessy duduk bersila diatas rumput yang bagai permadani di komplek makam keluarga.


“Ayah dan Ibu,  ini Nata datang bersama salah seorang dari dua istriku Jessy, Sabrina tidak bisa ikut, karena sedang ada janin calon cucu dari Ayah dan Ibu.” Ucap Nata lalu menggengam telapak tangannya Jessy dan mengarahkan pada batu nisan untuk turut diusapnya. Setelah itu Nata membacakan beberapa Ayat Suci Al-Qur’an dan mengucapkan do’a bagi Ayah dan Ibunya, kemudian bergantian menaburkan bunga dan menyiramkan air di pusara Ayah dan Ibunya itu. Setelah itu pindah ke dua pasang makam lainnya yaitu makam Nenek dan Kakek dari pihak Ayah dan Ibunya Nata. Melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan di pusara Ayah dan Ibunya.


“Ohh jadi ini makam Kakek dan Nenek dari Kang Nata.”


“Iya sayang.”


“Semoga diterangkan alam kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur dan dikumpulkan bersama kita nanti di surga. Aamiin.” Ucap Jessy.


“Aaamin yaa robbal ‘alamiin.”


Nata dan Jessy lalu meninggalkan makam keluarga, menuju ke gudang. Disana sudah nampak Mang Dudung sedang menyalakan dan memanaskan Motor trail yang akan digunakan oleh Jessy dan Nata.

__ADS_1


“Motornya sudah siap Den, bensin sudah diisi penuh.” Ucap Mang Dudung.


“Terima kasih yaa Mang, saya minta tolong simpan kembali keranjang bunga dan botol ini di kamar saya.”


“Mangga Den. Hati hati di jalan, banyak lumut di bukit.”


“Iya Mang.“ Jawab Nata lalu Jessy pun naik di jok belakang, dibonceng oleh Nata, dengan perlahan Nata mulai mengemudikan sepeda motor trail itu.


“Memangnya kalau pakai mobil  ga bisa kang ?”


“Mobil kamu terlalu lebar, nanti baret-baret kena ranting pohon di kiri kanan jalan, karena jalannya pas banget untuk satu mobil kecil.”


“Ohhh begitu.” Ucap Jessy lalu memeluk semakin erat pinggangnya Nata.


“Sudah lama aku tidak dibonceng motor seperti ini, seru juga kang.”


“Kamu senang Jess ?”


“Tentu saja kang, apalagi kalau sama akang diboncengnya.”


“Ihhh geli, jangan sambil ciumin leherku dong.” Rengek Nata.


“Hehehe, Aku sayang sama akang.”  Ucap Jessy dalam bahasa Jepang.


“Sama-sama Jessy istriku.” Jawab Nata juga dalam bahasa Jepang.


“Ehhh akang ternyata bisa berbahasa Jepang.”


“Sedikit saja, kan dulu di kampusku juga banyak mahasiswa keturunan Jepangnya, mereka juga aku ajarkan bahasa Indonesia.”


“Ohhh iya.”


Jalan di perkebunan itu kini semakin menanjak dan menyempit, benar saja jika mereka mengendarai mobil, pasti banyak bekas baret-baret di mobil Rubicon Kuning milik Jessy itu.


“Sempit banget sampai sini, masih jauh kang ?”


“Sebentar lagi, sekitar satu kilometer lagi, sekarang kamu pegang lebih erat Jess, karena didepan sana jalan berbatu banyak lumutnya, licin banget.”


“Iya lebih lembab sekarang jalannya, mulai dingin juga nih.” Ucap Jessy sambil lebih mempererat lagi pegangan di perutnya Nata. Nata semakin berhati-hati saat melewati jalan berbatu yang licin karena dilapisi lumut itu, dengan penuh konsentrasi Nata berusaha menyeimbangkan laju motor trailnya itu. Setelah melalui jalan berbatu yang penuh dilapisi lumut itu Nata berhenti sejenak.


“Tuh lihat rumah kita dibawah sana.”


“Wow keren amat pemandangannya kang.”


“Nanti pulangnya kita jalan memutar, lewat jalan raya yang sering dipakai oleh truck pengangkut hasil perkebunan.”


“Kenapa tadi tidak lewat sana kang ?”


“Jauh jalannya Jess. Hampir setengah jam kalau lewat sana.”


“Ohhh begitu.”


“Nah ini kebun tehnya.”


“Apa benar tidak boleh memetik di sore hari kang ?”


“Iya, katanya nanti kualitas tehnya jadi kurang baik, meskipun kita sama memetik pucuknya juga.”


“Kalau di China, Korea dan di Jepang memetiknya hanya bisa dua bulan dalam setahun.”


“Iya kalau di negara empat musim memang begitu, hanya bisa memetik di musim semi saja, kita harus banyak bersyukur tinggal di Indonesia, tidak akan kekurangan pangan dari tumbuhan karena setahun bisa panen sampai empat kali, bahkan ada yang bisa lima kali. Kalau di negara empat musim hanya bisa panen sekali setahun.”


“Alhamdulillah yaa kang.”


“Iya. Kita turun dulu yaa sekarang, sambil menikmati udara sore hari yang cerah ini.” Ucap Nata lalu turun dari motornya kemudian memeluk Jessy yang kedinginan.


“Enak hangat kalau sedang memeluk dan dipeluk sama akang. Hihihi. Cup.” Ucap Jessy lalu mengecup pipinya Nata.

__ADS_1


__ADS_2