Tangguh

Tangguh
Bekal


__ADS_3

Kakek dan Kak Raja mengobrol semalaman. Aku tidak diperbolehkan ikut dan berakhir diusir masuk ke dalam kamar. Paginya Ibu sudah menyiapkan sebuah bekal yang cukup banyak. Aku bingung karena dia memberikan itu padaku.


"Untuk Kak Juna?"


Aku menganga. Kenapa Ibu juga ikut-ikutan berlebihan seperti ini. Ibu mengomel saat aku protes. Katanya aku harus menyenangkan Kakek. Aku harus memperhalus hubungan itu. Ingin rasanya aku banting kotak bekal itu saking kesalnya. Namun karena aku masih sayang Ibu, aku tidak ingin dia kecewa.


Tapi, kalau dia tidak mau, atau sudah makan, aku harus apa?


Aku mendesah dan menelpon Kak Raja.


"Kak, Ibu membawakan bekal untukmu. Apakah kau sudah makan?"


"Hmm...antarkan saja."


Setelah mendapat persetujuan darinya. Aku segera bersiap untuk mengantarkan bekal untuk Kak Raja. Aku diantar supir Kakek ke perusahaan Kak Raja.


"Sudah buat janji?"


"Sudah. Kami janji bertemu siang ini," kataku menjawab pertanyaan seorang wanita yang kuduga sebagai sekretarisnya.


"Tapi Pak Arjuna sedang ada makan siang bersama koleganya. Sebentar lagi jam istirahat dimulai."


Aku mengedip terkejut. "Apa?"


What the hell Kak Raja?! Kalau kamu memang akan makan siang dengan orang lain kenapa harus menyuruhku untuk datang?!


Aku menipiskan bibirku cemberut. Sungguh aku kesal sekali. "Terimakasih," kataku datar pada wanita itu. Aku langsung berbalik bertepatan dengan pintu lift terbuka dan Kak Raja keluar dari sana.

__ADS_1


Aku menatapnya cemberut saat dia menghampiriku.


"Sudah lama? Dimana bekalnya?" Kak Raja mengernyit kemudian. "Kenapa dengan wajahmu?"


Aku menjauhkan kotak bekal itu ke samping. "Tidak usah. Biar aku yang makan. Nanti perut kakak kembung," ujarku menggerutu.


Kak Raja mengedip bingung dengan sebelah alis terangkat. Cih, pura-pura polos. Dasar.


"Kau kenapa? Apa ada yang mengganggumu? Siapa?"


Aku menatap Kak Raja lamat-lamat. Bibir aku katupkan rapat sebelum aku bersuara. "Kalau Kakak akan makan siang dengan orang lain, kenapa masih membiarkan aku untuk datang? Buang-buang tenaga saja aku datang ke sini."


Kak Raja tercenung di awal sebelum terkekeh samar. "Karena kamu bilang akan datang makanya Kakak rela membatalkan makan siang bersama kolega Kakak. Padahal Kakak tadi sudah di sana."


Gantian aku yang mengedip, terkejut. "Jadi Kakak belum makan siang?"


Sial. Aku malu sekali.


***


Kak Raja ngotot ingin mengantarku pulang. Akupun tidak ingin kalah ingin pulang sendiri. Bukan apa, aku tidak ingin menggangu waktu kerjanya. Jadi dengan segala alasan aku berhasil menolak tawarannya.


"Iya Kak, aku akan mampir ke rumah Diva sebentar," kataku menyebut nama temanku baikku waktu SMA. Lagipula benar juga, aku belum mengabarinya sama sekali.


"Baiklah," ujarnya mengalah. Aku tersenyum dan segera pamit. Lobi waktu itu sedang ramai karena pegawai waktu itu baru kembali dari makan siang. Karena itulah tanpa sengaja aku bertabrakan dengan seorang wanita yang memakai blazer dan rok span. Aku sontak saja meminta maaf dan membungkuk mengambilkan tasnya yang terjatuh.


"Maafkan aku Miss," kataku. Wanita itu terlihat kesal namun dia tidak mengatakan apa-apa. Dia mengambil tasnya.

__ADS_1


"Lain kali hati-hati."


Aku mengganguk saja dan dia berlalu melewatiku. Aku menghela napas dan segera keluar dari gedung kantor daripada kembali menabrak yang lainnya.


Keramaian membuatku sesak entah kenapa. Aku memesan taksi dan segera menuju rumah Diva. Gadis yang merupakan teman seperjuanganku sejak masa SMP. Aku jadi semakin merindukannya.


Aku sampai di depan rumah Diva yang pintunya tertutup. Aku mengetuk beberapa kali. Tapi, bukan Diva yang muncul, melainkan seorang laki-laki yang merupakan kakaknya Diva.


"Halo Kak Ivan. Divanya ada?"


Kak Ivan menatapku bingung sebelum membulatkan matanya. "Oh, Kara?"


Aku mengganguk.


"Wah, sudah lama sekali tidak bertemu. Kapan kembalinya?"


"Hampir satu bulan lalu Kak."


Kak Ivan mengangguk. "Diva di dalam. Masuk saja ke kamarnya."


Aku mengucapkan terimakasih dan masuk ke dalam rumah itu. Aku hapal betul denah rumah ini karena sering main di sini menemani Diva. Tanpa ragu aku menaiki tangga untuk pergi ke kamar Diva di lantai dua.


Tanpa mengetuk, aku membuka pintu dan perlahan mengintip ke dalam. Aku tersenyum lebar saat melihat sahabatku itu sedang berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


"Excuse me~"


***

__ADS_1


__ADS_2