Tangguh

Tangguh
Bab 73 Hari pertama di rumah baru.


__ADS_3

Setelah Nata meninggalkan rumah barunya itu, Jessy dan Sabrina mengecek kamar tidur. Semua kamar tidur di lantai satu dan lantai dua mereka periksa, termasuk kamar mandi yang berada didalam ruang tidur juga. Setelah itu mereka lalu pergi ke dapur. Membuka lemari es yang masih tersimpan makanan dengan rapi.


“Kita cek dulu semua makanan yang ada disini Jess, kalau ada yang sudah expired kita buang saja.”


“Iya bestie. Kompor dan semua peralatan di rumah ini terlihat masih baru lho.”


“Iya Jess. Rejeki untuk anak kita nih. Lift juga sudah ada, kita tidak perlu repot-repot lagi untuk naik turun ke lantai dua. Sepertinya nanti kita akan perlu pembantu rumah tangga,  Jess.”


“Benar bestie, apalagi nanti kalau perut kita sudah semakin buncit. Pasti ribet banget deh. Hemm, bagaimana kalau kita tanya ke Lusy untuk mencarikan ART bagi kita ?” Tanya Jessy.


“Atau pakai jasa cleaning service yang online saja deh supaya ga ribet. Untuk masalah masak memasak kita kan bisa pesan dari katering.” Jawab Sabrina membuka sulusi atas permasalahan mengurus rumah besar itu.


“Setuju deh, tapi untuk mengantisipasi keamaman kita pasang dulu CCTV. Aku mau telpon anak buahku di toko deh agar mereka mengirimkan dan memasang CCTV di rumah ini.”


“Jangan kamu pasang di ruang tidur utama kita juga dong Jess.”


“Hehehe, ga perlu dong. Nanti malah ditonton semua orang yang bisa hack CCTV. Ehh Nanti aku mau pesan rujak serut juga deh ke katering, rujak serut kita kan ditinggal di ruko.”


“Iya boleh, mumpung belum waktunya pengiriman makanan.” Jawab Sabrina.


Kemudian dua orang istrinya Nata itu mulai sibuk menghubungi pihak katering dan toko komputernya Jessy. Setelah selesai mereka duduk dengan santai sambil menonton TV di ruang keluarga. Sesekali mereka mengamati ponsel yang mereka genggam untuk memantau dan memeriksa email dari kantor mereka.


“Jess coba kamu lihat deh, kamu perhatikan nasabah baru di kantor pusat dan kantor cabang yang baru meningkat dengan sangat banyak.”


“Iya benar Sab. Ini semua berkat Charlie yang bertangan dingin dalam menggarap operasional maupun promosi dari Bank milik kita. Padahal kita belum menggunakan iklan lho untuk semua media.”


“Iya strategi promosi yang divisinya berada dibawah aku langsung belum bergerak keluar, mereka masih melakukan produksi yang akan dijadikan sebagai alat promosi untuk disebarkan dimedia cetak maupun elektronik.”


“Heemm bagaimana kalau sebagai langkah awal, kita sponsori program berbagi berkah yang sudah berjalan selama lima hari ini ?”


“Harus ditanyakan dulu kepada akang kita, kan dia punya prinsip untuk tidak Riya saat sedang melakukan kebaikan.” Jawab Sabrina yang sudah mengenal dalam pribadi Nata tersebut.


“Tapi kan kita bertujuan untuk mempromosikan, bukan bersikap Riya terhadap kegiatan beramal.”


“Iya bagaimanapun, apapun alasannya kita harus dengan secara pelan-pelan menjelaskannya Jess.” Jawab Sabrina dengan nada suara penuh kewibawaan dan kebijaksaanaan, suara yang menyejukkan itu membuat Jessy tidak ngotot dan bersikeras untuk mengadu argumentasi terhadap sahabat karibnya yang kini bahkan berbagi kasih dengan Nata sebagai suaminya itu.


“Duh lama juga yaa datangnya rujak serut.” Keluh Jessy.


“Hehe kalau kamu ga sabar amat, datangi saja kesana.”


“Ahh males nyetir Sab, pasti sedang macet siang ini di jalanan. Kamu jadi ngorder pakaian untuk kita ? Kita ga bawa baju ganti lho.”


“Ohh iya, hampir saja kita lupa, aku undang saja kemari beberapa teman yang punya factory outlet deh.” Jawab Sabrina lalu dengan lincah mulai mengetik pesan pada layar ponselnya.


“Untung aku bawa laptop, bisa browsing dulu pakaian, sepatu juga tas untuk kita, apakah kita perlu beli baju hamil juga Sab ?” Tanya Jessy sambil mengeluarkan laptop dari tas yang dibawanya dari sejak awal mereka datang ke rumah baru tersebut. Sabrina pun segera menghentikan sementara sambil turut mengamati layar laptopnya Jessy tersebut itu.

__ADS_1


“Boleh Jess pesan saja baju hamil, tapi kalau bisa yang bisa dipakai ke kantor juga. Jangan lupa juga pesankan baju untuk akang kita.”


“Yang begini mau ga ?” tanya Jessy sambil menunjuk di layar laptopnya itu.


“Ihhh lucu banget, mau dong, kita pesan dua sekalian.” Jawab Sabrina dengan girangnya.


“Kalau ini ?”


“Mau juga. Pokoknya aku percayakan sama kamu deh Jess. Setiap baju yang kamu pilih pesan dua, sesuai dengan ukuran kita. Ini web site outlet milik teman kita kan ?”


“Iya, teman satu genk kita waktu di kampus, hehehe.”


“Dia kan datang juga waktu kita melaksanakan resepsi pernikahan.”


“Yups, benar Sab. usaha dibidang fashionnya maju pesat, sayangnya dia masih jomblo, mungkin waktunya tersita, jadi tidak sempat mencari cowoq hehehe.”


Saat Jessy dan Sabrina sibuk memilih baju, Nata juga sedang sibuk menerima laporan dari Yadi dan Erna yang mulai memaparkan hasil desain presentasi tentang lokasi konservasi sekaligus sebagai Resort dan Tempat Wisata di Cipatujah.


“OK Yadi dan Erna saya terima semua draft presentasi proposal kalian, sekarang kalian berdua berdua sebaiknya ikut saya, kalau Yadi tentunya sudah pernah mengunjungi lokasi proyek pembangunan kampus, namun Erna belum pernah. Yad kamu bisa menyetir mobil ?”


“Belum bisa pak, belum berani karena belum punya SIM-A. Kalau dulu sih pernah coba-coba belajar mengemudikan mobil pada teman di kampus.”  Jawab Yadi dengan polosnya.


“Mulai besok kamu cari tempat kursus mengemudi mobil, cari yang cepat bisa dan langsung memiliki SIM-A saat lulus kursus mengemudi.”


“Siap Pak.” Jawab Yadi. Nata lalu membenahi meja kerjanya dan memasukkan barang-barang yang akan dibawanya ke dalam tas Samsonite-nya itu. Saat Nata akan keluar dari ruang kerjanya seorang OB memberikan makanan katering untuk Nata.


“Siap pak.” Jawab OB tersebut dengan senangnya.


“Tasnya biar saya yang bawa saja pak.” Ucap Yadi. Nata pun tidak menjawabnya namun menyerahkan tas miliknya untuk dibawakan oleh Yadi.


Nata Yadi dan Erna lalu masuk ke dalam lift, menuju ke lantai basement tempat Rubicon Hitam itu terparkir disana. Lima menit kemudian mereka sudah berada di jalan raya menuju ke lokasi pembangunan kampus.


“Semoga tahun ini pembangunan kampus selesai, supaya nanti Erna dapat kuliah di Kampus tersebut, kamu jangan memikirkan biayanya, nanti pihak kantor yang akan menanggung semua biaya kuliah termasuk transportasi untukmu, Erna.”


“Terima kasih Pak.” Jawab Erna yang duduk di Jok Penumpang belakang.


“Sebelumnya kita mampir dulu untuk makan siang yaa, sekalian sholat di mushola rumah makan. Nanti gantian saja Sholatnya.” Ajak Nata. Lalu menepikan mobilnya untuk parkir di halaman rumah makan khas Sunda tersebut.


“Erna silahkan pesan dulu, terus Sholat. Nanti kami gantian.”


“Baik pak.” jawab Erna lalu memesan makanan yang akan disantapnya.


“Yad. Kamu kan masih setiap hari memantau perkembangan pembangunan kampus, sudah sejauh mana progressnya ?”


“Sekarang sudah 30% pak, pekerjaan pondasi sudah selesai, tinggal menunggu kering pondasinya. Beberapa foto dari kemajuan pekerjaan sudah saya kirimkan juga ke email Bapak.” Jawab Yadi.

__ADS_1


“Ohh iya maaf, saya belum sempat mengecek email dari kamu.”Ucap Nata.


Setelah selesai makan dan Sholat Dzuhur, mereka melanjutkan perjalanannnya menuju ke lokasi pembangunan  Kampus. Satu jam kemudian mereka sudah sampai di lokasi pembangunan Kampus. Nata dengan didampingi oleh Yadi dan Erna langsung menuju ke sebuah direksikeet yang dibangun dengan mengggunakan kontainer sebagai bangunan sementara saat dibangunnya Komplek Kampus seluas sepuluh hektar tersebut.  Seluruh area kini sudah nampak tertata dengan rapi, beberapa pondasi bangunan sudah selesai dibangun oleh pihak Kontraktor. Nata nampak tersenyum puas saat melihat kondisi kemajuan proyek tersebut. Arwan sebagai manager site area, langsung menyambut kedatangan Nata yang datang bersama Yadi dan Erna tersebut.


“Wah Kang Boss datang langsung kemari nih.”


“Hehe iya Bang Arwan, sekalian untuk menyampaikan proposal yang berkaitan dengan dibangunnya Kampus ini. Coba Yadi tunjukkan presentasi proposalnya.” Ucap Nata.


“Siap Pak Boss.” Jawab Yadi yang segera membuka laptop. Slide dan Video langsung ditayangkan oleh Yadi, suara sebagai narasi dari Video itu mulai terdengar, yang merupakan suara merdu dari Erna. Setelah Arwan menonton Video tersebut, dia langsung mengomentarinya.


“Kang Nata sudah bertemu dengan kang Andi mengenai proposal ini ?”


“Belum sih, namun terlebih dahulu justru saya ingin Bang Arwan yang terlebih dahulu menyaksikan Video presentasi ini, mungkin nanti ada beberapa perubahan untuk melengkapi presentasi proposal ini. Aku sampaikan terlebih dahulu kepada Bang Arwan karena nantinya kami akan mempercayakan langsung pembangunan resort tersebut yang memang ada kaitannya dengan pembangunan Kampus ini.” Jawab Nata berusaha untuk menjelaskan kepada Arwan.


“Ahh Kang Nata bisa saja. Hehehe. Baiklah nanti akan saya dampingi Kang Nata untuk menemui Kang Andi, secara pribadi sih saya sanggup untuk mengerjakannya, namun biar bagaimana pun saya hanya sebagai Direktur Pelaksana Pembangunan, semua harus atas dasar persetujuan dari Kang Andi sebagai Komisaris Utamanya.”


“Alhamdulillah, saya sudah mendengar secara langsung pendapat dan kesanggupan dari Bang Arwan, nanti juga saya akan menghadap Kang Andi, kami berdua memang sudah bersepakat untuk bekerja sama, hanya saja saya memang belum memaparkan lokasi baru yang berkaitan dari pembangunan Kampus ini.” Ungkap Nata sambil tersenyum lebar.


“Kami juga disini sesuai dengan saran dari Kang Nata sudah membangun secara permanen sebuah rumah makan yang menjadi suplai logistik dan konsumsi bagi para pekerja kami disini.”


“Ohh warung yang dulu sebuah gubug itu ? Si Teteh penjaga warung yang menyajikan makanannya ?”


“Iya benar kang.”


“Hehe ternyata Charlie melaksanakan amanah dari saya, saya sudah hampir sebulan tidak kemari.”


“Benar kang, sampai sekarang si Teteh itu masih menganggap Charlie sebagai boss besar lho. Mari kita ngopi disana.” Ajak Arwan.


“Bagus lah kalau begitu, hehehe.” Kekeh Nata. Yadi dan Erna yang mendengarkan obrolan tersebut, saling berpandangan dan mengerutkan keningnya. Mereka lalu mampir di sebuah bangunan yang tidak jauh dari direksikeet tersebut. Bangunan semi permanen yang dibangun oleh Arwan atas petunjuk dan arahan dari Nata. Bangunan semi permanen itu kini menjadi lebih luas daripada sebelumnya, juga bukan dinding bilik bambu lagi sebagai dindingnya, disebelah warung nasi itu juga didirikan sebuah mushola dan beberapa unit toilet dengan menggunakan sumber air yang berasal dari sumur pompa air yang sangat jernih. Lantai warung tersebut juga dilapisi dengan keramik, tidak berlantai tanah lagi seperti sebelumnya.


“Assalamualaikum Teh damang ?” Tanya Nata kepada seorang ibu muda yang sedang sibuk melayani para pekerja yang baru saja selesai makan siang.


“Waalaikumsalam, Alhamdulillah pangestu, aeehh geuning aya Aa, parantos lami teu kadieu, kamana wae atuh ?”


“Iya teh baru sempat kemari lagi, maaf saya memang sedang sibuk di kantor, kalau Yadi tentunya sering kesini yaa ?”


“Ohhh iya Cep Yadi mah tiap hari kesini, ngopi dan jajan disini kalau hari sudah mulai sore, sekarang mah datang sama Aa yaa ?” Tanya Teteh tersebut yang masih saja belum menyadari bahwa Nata lah sebagai pemilik dari tanah dan proyek yang sedang dibangun itu.


“Apalagi kalau Pak Mandor, setiap hari ngopi dan makan disini.” Ucap Teteh itu menyangka Mandor kepada Arwan. Arwan pun hanya tersenyum saja mendengar hal itu.


“Teh tolong buatkan kopi tanpa gula untuk saya dan tamu saya ini, kopinya masih ada kan ?” Ucap Arwan.


“Baik Pak Mandor, masih banyak atuh kopi dari Pak Mandor mah, kan tiap tiga hari selalu ditambah sama Pak Mandor. Kalau neng ini siapa ?”


“Ini adik saya teh, namanya Erna.” Jawab Yadi.

__ADS_1


“Eleuuh meuni geulisnya orang kota mah.” Jawab Teteh itu sambil tangannya dengan cekatan menyeduh kopi.


“Tolong buatkan teh manis saja untuk saya teh.” Ucap Erna.


__ADS_2