Tangguh

Tangguh
Bab 27 Duo Chief Cantik.


__ADS_3

“Kita mau kemana kang ?” Tanya Jessy yang berada duduk disebelah Nata yang sedang mengemudikan kendaraan itu.


“Aku mau cari mesin printer untuk mencetak banner dan spanduk, kamu ada info Jess ?”


“Ada dong, tapi ga akan ada di Bandung yang jual mesin seperti itu, harus ngorder ke Jakarta kang, apa saja spesifikasinya ?.”


“Hmm baiklah tolong cari mesin untuk mencetak foto ukuran besar atau banner indoor untuk x-banner, kedua mesin printer spanduk atau banner yang ukuran paling besar, kalau bisa dengan resolusi yang paling tinggi.”


“OK dicatat semua, nanti dikabari secepat mungkin.” Jawab Jessy sambil mengetik spesifikasi big printer  tersebut.


“Cocok tuh kang kalau nanya ke Jessy dia kan jualan komputer, printer dan aneka asesoriesnya.”


“Ohhh iya sekarang yang jualan di mall siapa Jess, kamu tinggal toko itu ?”


“Ada karyawan saya kang, dia sudah dipercaya olehku sejak membuka toko komputer itu, banyak juga pelanggan saya yang menanyakan saya kang, karena sudah hampir sebulan aku ga nongol ke toko, hehehe.”


“Tapi semuanya lancar kan urusannya ?”


“Alhamdulillah lancar semua kang, yang penting bisa untuk membayar gaji karyawan.”


“Kalau kamu bagaimana Sab. ?”


“Kalau aku bebas kang, semua apartemen yang disewakan lancar semua pembayarannya. Kan bisa dikendalikan dengan ponsel. Kalau untuk urusan tentang human resources atau sumber daya manusia, aku sedang menghubungi manager personalia Bank yang kita beli itu.”


“Syukurlah, nanti kalau gedung itu sudah selesai ditata interior dan furniture sesuai dengan yang kita rencanakan kita akan lakukan rapat bersama para direksi sebelumnya ditambah dengan beberapa perwakilan karyawan bank tersebut.”


“Saya minta bocoran jadwal rapatnya kang.”


“Agendakan saja dua minggu setelah hari ini, kamu juga Jessy harus hadir, karena kamu nanti yang akan menangani urusan dalam di bank kita nanti.”


“Siap Kang Boss.” Jawab Jessy dan Sabrina serempak.


“OK kita sekarang kembali ke Ruko saja dulu, kita lanjutkan diskusi disana.” Kemudian mobil sedan itu dengan kecepatan sedang menuju ke arah Ruko yang ditempati oleh mereka. Sesampainya disana mereka mendapati Mang Engkus. Mang Engkus yang penjual surabi itu sedang duduk di dekat pintu masuk menunggu kedatangan mereka.


“Jessy atau Sabrina kalian parkirkan kendaraannya, aku mau menemui Mang Engkus dulu.”


“OK kang.” Jawab Sabrina lalu turun dari mobil dan membuka pintu basement dengan aplikasi dari ponselnya, seperti yang sudah diajarkan oleh Nata. Lalu Sabrina memarkirkan kedaraannya masuk ke dalam basement Ruko itu bersama Jessy. Sedangkan Nata nampak sangat serius mendengarkan penuturan dari Mang Engkus.


“Jadi mang Engkus niat banget untuk buka dari pagi hari ?”


“Betul den, itupun kalau diijinkan oleh Aden.”


“Begini saja Mang Engkus, Mang Engkus kan lihat tuh. Ada bangunan yang terbengkalai persis di sebelah Ruko saya yang hanya terhalang dinding benteng. Coba tanyakan tanah dan bangunannya mau dijual ga ?”


“Waduh Mamang ga akan punya uang sebanyak itu untuk membeli tanah bangunan, rumah mamang saja masih ngontrak den.” Keluh Mang Engkus.


“Bukan Mang Engkus yang akan membelinya nanti saya yang akan membelinya, nanti juga mang Engkus ga perlu ngontrak lagi, pakai sekalian untuk rumah tinggal, sekalian tolong jaga ruko milik saya, setuju ga ?”


“hmmm terus Mamang harus bayar berapa ke Aden nanti ?” tanya mang Engkus semakin kebingungan.


“Itu bukan urusan Mang Engkus, tenang saja mang Engkus mah fokus jualan saja, kalau bisa buka sekalian dengan warung kopi, sekarang tugas Mang Engkus cari pemilik rumah di sebelah ruko saya ini, seperti perjanjian awal kita tempo hari.”

__ADS_1


“Baik den sekarang juga akan saya telusuri siapa pemilik rumah itu. Terima kasih sebelumnya Mamang bikin repot aden melulu nih.”


“Santai saja mang, nanti saya tunggu di dalam, kalau sudah ada informasinya.”


Kemudian Mang Engkus berlalu dari hadapan Nata, lalu terdengar suara pintu kaca Ruko itu dibuka oleh Sabrina.


“Ada apa kang dengan Mang Engkus ?”


“Ohhh itu Mang Engkus meminta ijin untuk berjualan mulai dari pagi.”


“Terus akang ijinkan?”


“Diijinjkan dengan syarat, mencari informasi tentang rumah yang ada disebelah ruko kita itu. Untuk selanjutnya nanti akan kita beli dan kita jadikan cafe shop surabi, hehehe.”


“Ihhh dasar azas manfaatnya langsung jalan. Akang-akang. Ck ck ck ck.”


“Iya dong harus begitu, nanti juga kalau sudah berjalan kita tidak perlu repot cari kopi yang enak dan surabi yang enak. Hehehe.”


“Dasar Genius otak bisnisnya.”


“Sabrina sayang, aku ingin siang ini kamu masak sesuatu untuk kita makan siang. Mau kan ?”


“Tuh kalau sudah ada maunya, rayuan mulai beraksi deh. Tidak perlu disuruh juga aku pasti siap dong untuk akang ku sayang. Hehehe.”


“Alhamdulillah bisa makan western food ‘ala chief Sabrina, jangan lupa ACDT nya harus terasa. Hehe.”


“Siap Kang boss. Aku sama Jessy mau ke Supermarket dulu kalau begitu, supaya bisa mendapatkan bahan makanan yang masih segar dan berkualitas tinggi.”


Tidak lama kemudian Sabrina dan Jessy nampak keluar dari Ruko itu dengan mendorong trolly yang tempo hari sudah dibelinya, Trolly itu kini sudah mempunyai ‘plat nama’ tersendiri agar berbeda dan tidak tertukar dengan Trolly milik Supermarket. Dengan penuh percaya diri Sabrina dan Jessy berjalan sambil mendorong trolly itu menuju ke Supermarket yang letaknya tidak jauh dari Ruko yang ditinggalinya itu, lalu memarkir Trolly itu di depan Kassa Swalayan itu. Kemudian memilih bahan makanan sesuai yang dibutuhkannya pada siang hari itu. Dalam jangka waktu tiga puluh menit Sabrina dan Jessy sudah selesai berbelanja, lalu dengan trolly yang tadi dibawanya mulai kembali menuju Ruko.


“Banyak juga yang kalian beli.” Ucap Nata saat membantu membuka pintu Ruko untuk Sabrina dan Jessy.


“Sekalian kita belanja bulanan kang, seminggu ke depan kita tidak perlu makan diluar, karena kami sudah menyusun menu untuk seminggu.” Jawab Sabrina.


“Iya menunya bisa bergantian biar tidak bosan. Misalnya hari ini western food, besok bisa Japanese Food, lusa bisa Indonesian traditional food dan seterusnya.” Tambah Jessy sambil mengusap keringat yang mengucur di wajahnya.


“Wah hebat dong, kalian bisa membuatku cepat gemuk dan betah dirumah, hehehe. Memangnya hari ini kamu mau masak apa Sab ?”


“Akang tunggu saja di ruang kerja, nanti kalau sudah selesai akan kami panggil. Duduk manis saja sambil bekerja akang mah.”


“Iya biar aku saja yang membantu Sabrina memasak.”


“Baiklah kalau begitu, enjoy your cooking, good luck.”


“Thanks.” Jawab Sabrina dan Jessy lalu mulai memilah bahan makanan yang berada didalam trolly itu, sebagian disimpannya kedalam lemari es, sebagai bahan makanan hari selanjutnya.


Jessy dan Sabrina tanpa banyak bicara langsung mengolah semua bahan makanan itu, sesuai dengan arahan dari Sabrina. Sedangkan Nata kini sedang asik membuat banner dan beberapa alat peraga lainnya yang nanti akan dipergunakan sebagai ornamen pelengkap dalam rangka lounching Bank yang sudah mereka ambil alih tersebut. Untuk tahap selanjutnya Nata juga membuat sebuah sketsa gambar tiga dimensi dari interior kantor pusat bank, juga gambar tiga dimensi untuk kampus atau sekolah yang nanti akan dibangun. Semua gambar desain itu nanti akan diserahkan kepada Kontraktor yang akan melaksanakan rehab dan pembangunan atas semua aset yang sudah dibeli oleh Nata CS tersebut. Saat semua gambar desain belum selesai digambarnya, Sabrina sudah memanggil Nata. Dia menghampiri Nata yang masih tekun bekerja itu.


“Kang makan siang sudah siap sedia, ayo kita makan bareng.” Ajak Sabrina.


“OK sip. Terima kasih Chief ku yang cantik, hehehe.” Nata lalu melangkah menuju meja makan yang sudah tertata rapi, Jessy pun terlihat sudah duduk di kursi meja makan itu yang menyambut kedatangan Nata dengan senyuman khasnya.

__ADS_1


“Apa nih nama hidangan mu saat ini Chief ?”


“Waghiyu Tenderloin Steak with brocolli mushroom carrots, yellow paprika seefood tiramisu sauce.”


“Amboy mantap nian nama makanannya. Duh jadi semakin ngiler dan lapar nih, mari kita berdoa dulu.”


Setelah berdoa, lalu Nata bersama Jessy dan Sabrina mulai menyantap hidangan diatas meja makan tersebut dengan lahapnya. Bahkan Nata meminta tambah.


“Tumben banget nih akang kita makan banyak, hehehe.” Ucap Sabrina sambil membantu Nata untuk menambah porsi makanannya.


“Salah sendiri kenapa makanannya enak banget, jadi aku pengen nambah deh. Kalau nanti aku jadi gemuk itu karena kalian semua nih.”


“Hehehe bisa aja akang kita mah yaa Sab.” Kekeh Jessy.


“Alhamdulillah kenyang banget.” Ucap Nata setelah selesai makan.


“Alhamdulillah masakan kita diterima oleh lidah akang yaa Jess.”


“Iya besok aku yang masak deh.” Ucap Jessy.


“Terima kasih yaa Sabrina dan Jessy. Muacchh. Muuacch.” Ucap Nata  lalu mencium pipinya Sabrina


dan Jessy bergantian.


“Sama-sama akang.” Balas Jessy dan Sabrina bersamaan, lalu mereka membereskan semua peralatan makan siang itu. Diluar sana terlihat Mang Engkos yang kembali ke ruko itu, setelah mengetuk pintu kaca dia lalu memasuki Ruko.


“Assalamualaikum Den, boleh mamang bicara lagi ?”


“Waalaikumsalam, boleh, ayo masuk ke ruangan saya.” Ajak Nata mempersilahkan Mang Engkus masuk. Mang Engkus pun nampak jelalatan matanya, melihat sekeliling ruangan, saat memasuki ruang kerja Nata juga demikian.


“Wah ruangannya bagus, tertata rapi, pantas saja aden betah disini.”


“Heheh, bisa aja Mang Engkus mah. Bagainamana sudah mendapatkan informasi tentang rumah di sebelah ruko ini ?”


“Alhamdulillah den sudah, bahkan tadi kebetulan yang punya rumahnya sedanga ada disini. Beliau memang berniat untuk menjual rumah dalam kondisi seperti itu.”


“Sudah ditanyakan harga penawarannya berapa ?”


“Sudah den, tapi dia bertanya untuk siapa katanya, kalau untuk orang lain akan dijual dengan harga tinggi.”


“Ohh begitu, bilang saja nanti untuk Mang Engkus.”


“Ahh aden mah suka bercanda, mana mungkin Mang Engkus punya uang sebanyak itu untuk beli rumah, aya-aya wae aden mah.” Jawab Mang Engkus sambil garuk-garuk kepalanya.


“Iya bilang saja untuk Mang Engkus, nanti aku yang bayarin semuanya.”


“Den jangan bercanda seperti itu dong.”


“Aku serius kok Mang, nanti Mamang kelola semua, aku titipkan tempat itu untuk ditinggali oleh Mang Engkus sekeluarga, dengan catatan tolong jaga juga ruko ini, sesuai dengan kesepakatan awal, nanti secara resmi biar Sabrina dan Jessy yang mengurus administrasinya semua.”


“Waduh, benar ini den ? Mamang seperti mimpi, Mamang tidak percaya.”

__ADS_1


“Sungguh Mang, saya panggil kemari yaa Sabrina dan Jessynya, tunggu disini.” Lalu Nata memanggil Jessy dan Sabrina yang baru saja selesai mencuci piring dan perabotan masak di dapur. Tak lama kemudian mereka bertiga masuk ke ruangan kerja Nata dan mulai berbicara dengan Mang Engkus, sambil membawa buku dan mencatat semuanya. Barulah Mang Engkus percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Nata itu benar adanya. Kemudian Mang Engkus dipersilahkan untuk menghadirkan sang pemilik rumah itu segera kehadapan Nata.


__ADS_2